LALANG UNGU

ruang ekspresi sepotong hati

Ke Dieng (lagi)

| 11 Comments

Dieng Plateau atau dataran tinggi Dieng yang masuk dalam wilayah Kab Banjarnegara & Wonosobo, memang tempat yang tak akan mboseni untuk didatangi. Meski telah beberapa kali ke sana, dan terakhir di akhir 2012 lalu, tetap saja aku bersemangat ketika ‘gank ngluyur’ ngajak jalan-jalan ke Dieng lagi.

Kalau pada perjalanan sebelumnyaΒ bersama keluarga kami lebih lama menghabiskan waktu di kompleks Candi, jalan-jalan di hutan sekitar telaga warna dan di Kawah Sikidang, maka kunjungan tanggal 29 mei 2014 kemarin bersama teman-teman hanya di seputar Candi, berlama-lama di Museum Kailasa dan di seputar Telaga Warna, tentunya.. πŸ™‚

Cuaca Dieng pagi menjelang siang itu cukup cerah, pengunjung sudah mulai banyak meskipun tak sampai berdesak-desakan… Dan, pengunjung pun asyik berfoto-foto ria di sekitar artefak diΒ Komplek Candi Arjuna itu.

KompleksArjuna

Tak ketinggalan berpose dengan Mas Hanoman, Cakil dan teman-temannya… Jadi ingat 2 tahun lalu juga berfoto ria bersama mereka & para krucilku.. Ini perbandingan 2 pose itu, hehe..

Mas Hanoman dkk yang selalu menggoda utk pose bareng..

Mas Hanoman dkk yang selalu menggoda utk pose bareng..

Puas berjalan-jalan & berpose-pose di Komplek Candi Arjuna maka kami pun menuju salah satu museum yang ada di sana, yaitu Museum Kailasa.Β  Tiket masuk cukup murah, hanya Rp. 5.000,- saja / orang.

Selamat datang di Museum Kailasa Dieng

Selamat datang di Museum Kailasa Dieng

Ruang museum terdiri dari 2 lokasi, salah satu diantaranya hanya merupakan semacam aula dengan benda-benda purbakala yang ditata sederhana sepanjang dinding & di tengah aula.Β  Rupanya itu tempat menyimpan benda-beda hiasan candi yang asli, agar tak raib dicuri orang bila diletakkan di tempat seharusnya yaitu candi-candi di luar sana. Sayang banyak sekali yang sudah tak utuh lagi bentuknya… Ih, sebel dengan para pemilik tangan-tangan nggrathil πŸ™

Beberapa artefak asli yang ada di ruang II Museum Kailasa

Beberapa artefak asli yang ada di ruang II Museum Kailasa

Ruang museum yang satu lagi lebih tertata dengan apik. Rupanya ini ruang utama museum yang diresmikan oleh Ir. Jero Wacik (MenBudPar kala itu) tahun 2008.Β  Ada satu pesan khusus dari beliau yang ada di dinding depan Museum ini.

Pesan MenBudPar Jero Wacik

Pesan MenBudPar Jero Wacik

Di dalam museum yang tak terlalu luas ini, tak hanya tersimpan arca-arca atau artefak warisan arkeologi lainnya, namun juga informasi-informasi tentang Dieng : masyarakatnya, budayanya, flora & faunanya, dan lain-lain.Β  Menurutku, sebaiknya berkunjung dulu ke museum ini sebelum berkeliling di situs-situs yang ada di DiengΒ  πŸ™‚

Penataan ruang di Museum Kailasa - Dieng

Penataan ruang di Museum Kailasa – Dieng

Sebagian info Sosial Budaya Dieng

Sebagian info Sosial Budaya Dieng

Sebagian info flora-fauna Dieng

Sebagian info flora-fauna Dieng

Sebagian info arkeologi

Sebagian info arkeologi

Sebagai penutup acara jalan-jalan kami ke Dieng siang itu, tentu saja menuju ikon wisata Dieng yang sudah terkenal itu : Telaga Warna.

Ramainya pengunjung Telaga Warna - Dieng

Ramainya pengunjung Telaga Warna – Dieng

Siang sudah semakin terik, namun para pengunjung kian banyak. Mungkin karena angin yang dingin-dingin sejuk membuat sinar mentari tak terasa terlalu panas di kulit, bahkan kehangatan hasil kolaborasi sinar matahari & angin sejuk ini justru membuat pengunjung betah berjalan-jalan di seputar telaga yang siang itu tampak makin cantik dengan gradasi warna pada permukaan airnya.

Telaga Warna

Panorama Telaga Warna – Dieng

Sisi-sisi Telaga Warna - Dieng

Pemandangan Telaga Warna dari beberapa sisi

Puas berjalan-jalan di sana -ditandai dengan betis yang terasa kencang & telapak kaki yang mulai sakit.. hihi.. – maka kami pun memutuskan mengakhiri jalan-jalan kami ke Dieng pada hari itu.Β  Dalam perjalanan pulang, tak lupa mampir ke kios oleh-oleh yang banyak tersebar di pinggir jalan, dan Kacang Dieng, Keripik Jamur serta -tentu saja- olahan Carica segera berpindah dari etalase ke bagasi mobil.. hehe..

Semangkuk Carica dingin

Semangkuk Carica dingin di siang yg panas… Mak nyesss… πŸ™‚

Ke dieng lagi? hayuuu… belum pernah menjadi saksi srengenge mlethek di Bukit Sikunir, je… Mudah-mudahan di lain kesempatan.. Kapan-kapan, pergi bareng-bareng yuuuuk… πŸ™‚

11 Comments

  1. aku dataaaang abis dicolek di fb he..he…
    udah ngajak anak2 ke sini tapiiii.. belum mau he..he..
    okelah aku kumpulin info sebanyak2nya dari Lalang Ungu dulu..
    trims auntie Mechta

    hihi… klo lihat museum, ingatan langsung lari ke mbak Monda πŸ™‚ sayang museumnya sederhana mbak… saat bawa anak2 ke Dieng mereka lebih semangat ke wisata luar ruangnya hehe….

  2. wah ngileer lihatnya, dari dulu pengen kesini, tapi kapan ya, nggak kesampean sampai sekarang πŸ™

    beluum… mudah2an suatu saat kesampaian yaa… trims sdh mampir di sini πŸ™‚

  3. kalau bawa anak kecil kesana minimum usia brapa mbak?

    eh, kaya’nya sih ga lihat peraturan tentang itu ya… beberapa pengunjung kulihat ada yg menggendong balita. tapi khusus balita klo ke Telaga Warna perlu penjagaan ekstra ya… telaganya ga ada pagarnya, takut nyebur…

  4. aku sekali aja belum pernaaah.. padahal udah pengen pake banget :'(

    semoga bisa segera kesampaian ke Diengnya yaa… *semangaaat.. πŸ™‚

  5. Aku udah pernah ke Dieng juga, Mbak, tapi enggak masuk ke museumnya.
    Carica-nya bagi to mbakyuuu hehehee….

    yg pertama aku juga ga ke museumnya, baru yg kedua ini mampir ke sana… waah.. wis entek dik, hehe…

  6. *Mupeng* O.o
    Dhe belum pernah ke Dieng tapi sudah pernah makan carica, rasanya kaya pepaya gt ya.

    ayoo…direncanain kesono.. hehe… iya, Carica ma pepaya kaya’nya sepupuan ya..rasanya mirip2 tapi carica enaknya diolah bkn dimakan segar.. πŸ™‚

  7. Wisata Dieng, ubek-ubek kenangan lah seperempat abad lalu pastinya jauh berbeda. Pengin Jeng kesana lagi apalagi saat acara potong rambut gimbalnya. Trim Jeng berbagi keelokan Dieng.

    Wah, inggih Bu… upacara potong rambut gimbal itu katanya menjadi tontonan budaya yang menarik… mudah2an suatu saat bisa menyaksikannya.. πŸ™‚

  8. saya malah blm pernah ke Dieng πŸ˜€

  9. kapan yah bisa ke dieng.. pengen bangeet

  10. Auntieeeeee, aku jg mau ke Dieng lagiiiii huhuhuhu. si batang pohon yg menjulur ke danau sudah tidak ada yah? πŸ™‚

    masih ada kok, Orin… pada ngantri foto2 di batang tumbang itu..hehe…

  11. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Mechta…

    Saya jarang dapat berwisata seperti tempat-tempat di atas, mbak. Melalui fotonya pasti tempatnya nyaman, dingin kerana berada di dataran tinggi. Pemandangan jua menarik dan menkagumkan. Banyak sekali tempat yan boleh dsinggah untuk menjadi pengetahuan dalam kronologi sejarah masa lalu buat penajaran kita generasi baru. Carica itu apa, mbak. apakah sejenis buah, ya.

    Salam manis dari Sarikei, Sarawak. πŸ™‚

    Betul, Kak… hawanya sejuuuk… Carica itu buah seperti pepaya tapi berukuran lebih keciil… tampaknya kurang disukai utk dimakan sbg buah segar sehingga diolah berbagai rupa utk meningkatkan nilai ekonomisnya.. salam hangat dari Kota Batik, Kak Fatimah πŸ™‚

Leave a Reply

Required fields are marked *.