
“Bu, jadi ikut Ngubin?”
“Pagi ini? Di mana?”
“Ya, Bu.. Hari ini ada di Kecamatan Utara dan Timur, Bu”
“Ok.. Aku ikut yang ke Timur saja kalau begitu…”
…
Percakapan pagi itu terjadi antara aku dan koordinator penyuluh, sesaat setelah aku sampai di ruang kerjaku beberapa hari lalu. Memang sebelumnya aku pernah berpesan pada teman-teman penyuluh untuk bisa mengikuti kegiatan di lapangan agar aku semakin memahami seluk beluk tugas baruku. Nah, salah satu kegiatan di lapangan pada musim panen ini adalah NGUBIN.
Apa itu Ngubin?
Ngubin atau melakukan ubinan adalah salah satu kegiatan pengambilan sampel untuk mengukur produktivitas tanaman pangan dalam satu Masa Tanam (MT). Dinamakan ‘ubinan’ karena pengambilan sampel itu dalam suatu area tertentu -sering disebut 1 ubin- dengan luas 2,5 m persegi.
Nah, karena di daerah kami mayoritas tanaman pangan yang ditanam oleh petani adalah padi, maka dalam hal pengambilan sampel pengukuran produktivitas tanaman pangan di sini adalah panen padi. Jumlah dan lokasi sampel dari suatu wilayah dalam tiap MT telah ditentukan oleh BPS. Adapun pelaksanaan ubinan dilakukan oleh petugas (penyuluh pertanian) dan kelompok tani, dengan dimonitor oleh perangkat desa / kelurahan maupun unsur Koramil (dalam kaitannya dengan kegiatan UPSUS Swasembada Pangan).
Sokorejo adalah salah satu lokasi sampel yang telah ditetapkan BPS, dan ke sanalah kami menuju pagi itu untuk melakukan ubinan. Mengikuti rekan penyuluh yang memandu di depan, akhirnya kami sampai di lokasi tujuan.

Lhoo…kok ke Hutan Kota?
Ternyata, lokasi sawahnya ada di samping area Hutan Kota ini, dan akses terdekat adalah memintas melalui area tersebut.. Hm.., tentang HK itu akan kutulis tersendiri yaa..

Apa saja yang dilakukan saat Ngubin? Nah, ini tahapan-tahapan pelaksanaannya :
1. Pemilihan bagian sawah yang akan diubin.
2. Pengukuran luas ubin yaitu 2,5 m persegi dan ditetapkan batas-batasnya.
3. Pemanenan padi dalam ubin yang telah ditetapkan, lalu diangkut ke tempat proses selanjutnya.
4. Sisihkan 3 malai terpilih secara acak untuk dihitung bulir padi / malai kemudian dirata-rata.

5. Hasil panen dirontokkan dengan beberapa cara : dipukul-pukul, diiles-iles atau dipliriti. Hihi… bahasa ibu keluar deeh… 🙂

6. Padi yang telah dirontokkan kemudian dibersihkan dari bulir-bulir kosong dan sekam-sekamnya, lalu ditampung dalam wadah karung.

7. Penimbangan hasil panen yang telah dibersihkan lalu dihitung untuk mendapatkan angka produktivitas (ton / hektar).

8. Pelaporan hasil ubinan.
Oya, dalam kesempatan tersebut, aku kebagian tugas menghitung rata-rata bulir padi permalai, dengan hasil rata-rata 181 bulir / malai. Adapun hasil penimbangan rata-rata 4.770 kg sehingga setelah dilakukan penghitungan diperoleh angka produktivitas 7,5 ton / Ha.
Oya, aku sedang belajar membuat video niih… Maafkan hasilnya yang belum maksimal yaa… 🙂
Nah, demikianlah cerita tentang pengalaman pertamaku ikut kegiatan Ngubin. Mengasyikkan bagiku. Selain karena mendapat pengalaman & pengetahuan teknis baru di bidang kerjaku, juga karena dalam kesempatan itu bisa berkomunikasi langsung dengan petani, mengetahui kendala-kendala yang ada dan bersama-sama merencanakan kegiatan selanjutnya.
Oya terima kasih untuk Dik Panut & rekan-rekan dari Kel Kalibaros yang sudah meminjamkan beberapa foto dokumentasinya…
Teman-teman sudah pernah ikut Ngubin? Share pengalamannya di kolom komen yaaa…
Sampai jumpa di cerita-cerita berikutnya yaa…
Haha aku baru tau istilah “ngubin” ini hihihi
Naah…aku saja belum lama tahu kok..hehe…
tadinya saya pikir ngubin itu masang ubin untuk lantai, hahaa,,
rupanya cari produktifitas sampple yang se-ubin, mbak backgroundnya pertanian ya?
Hehe… Memang istilah yg unik ya..
Betul mas, sy baru bergabung di pertanian..
Alhamdulillah…punya kenangan indah masa kecil ya mas..
Oalaaahhh, ternyata kalau panen padi ada petugas yang bertugas ngecek kualitasnya ya Mbak. Baru tau saya..
Trus, ada Bapak TNI ngapain Mbak disana, ikut mantau juga? apa bantu Pak Tani memanen padi?
Assalamu Alaikum Mbak Mechta, pa kabarnya, lama saya gak BW kemari, ih hehe..
Waalaikumsalaaam… Pa kabar, Yuni?
Iya..itu pak ‘tangtara’ nya ikut mantau panen…
saya awalnya juga ngira masang ubin khusus pertama 🙂
Kalau ke sawah saat panen krn anak desa, dulu sering banget, bahkan setelah panen, sawah adalah area bermain layangan *kokcurcol?*
Hehe…istilahnya bias ya mba.. 🙂
Kirain ngubin itu masang ubin, ternyata ngambil sampel tanaman padi ya mba, hahahaa
Naah..rata-rata memang mengiranya ngubin = pasang ubin mbak..hehe…
Jadi inget almarhum nenek kakekku mbak, dulu suka ikutin ke sawah ikut makan dan ngawasin para pekerja, bahasa jawanya ngubin ya, kalau bahasa sundanya dibuat heuheu
Aah..jadi kalau ambil sampel di sana blg nya lagi dibuat gitu ya mbak.. Hehe.. Trmksh, wawasan bhs baru niih..
Mudah2an sekarang sudah bisa jawab klo muridnya tanya apa itu Ngubin ya Us.. Hehe..
hihi jadi inget ada praktikumnya nih jaman kuliah
Cm sak semester berabad lalu…ku sudah lufaaa…hihi