30 Agustus Kelabu di Kotaku

Semarang, 30 Agustus 2025, 11.30

Aku baru saja merebahkan tubuh di sofa panjang ruang tamu kakakku, sambil membuka HP yang sepanjang perjalanan tadi anteng di dalam tas.

“Waduh.. Lap. Mataram rusuh!” suara adikku yang duduk di depanku, sambil tak lepas matanya dari HP di tangannya.

Sementara itu deretan pesan masuk di HP ku satu demi satu terbuka: foto-foto dan video demo yang rusuh terkirim di beberapa grup yang kuikuti.

Otomatis aku segera bangkit dari posisi rebahanku dan menyimak satu demi satu pesan yang terkirim itu. Mencerna pesan mengerikan berisi kenyataan pahit. Ya Allah…sebagian kota kami membara!! Bagian yang sangat dekat dalam keseharianku, luluh lantak dimakan api!! Innalillahi wainnailaihi rajiun..

Sabtu pagi itu aku bangun dengan badan yang tak sehat. Sedari Jumat sore sebelumnya, flu parah memenjarakanku di atas tempat tidur saja. Aku berusaha mengumpulkan energi untuk menjalani hari itu.

Sebenarnya pagi itu aku ada tugas menghadiri acara Pembukaan Jambore PAUD yang diselenggarakan di halaman kantor Sekretariat Daerah kota kami. Sementara itu, ada acara keluarga yang harus kuhadiri pula di kota lain. Itu sebabnya, rencana semula aku akan berangkat ke Setda dengan motor, lalu sekitar jam 9-an dijemput adik langsung ke Semarang sementara motor kutinggal di parkiran Setda sore harinya sepulang dari Semarang.

Tapi sepertinya rencana itu harus gagal. Kondisi tubuh ku tak memungkinkan. Demam dan sakit kepala yang masih hilang-timbul pagi itu membuatku memutuskan izin dari tugas, dan langsung ke Semarang dari rumah. Sepanjang jalan hanya tidur saja..

Kejutan besar siang itu kudapati begitu kami sampai di rumah keluarga di Semarang. Via WA kami mendapat kabar dari rumah bahwa di halaman Sekretariat Daerah kota kami siang itu ternyata ada demo yang berakhir rusuh. Kantor DPRD dan kantor Sekretariat Daerah kota kami (yang terletak dalam 1 kawasan) luluh lantak dibakar, dirusak dan dijarah oleh massa yang tak bertanggung jawab!

Ya Allah…gemetar badanku meski hanya melihat foto-foto dan video yang dikirimkan itu. Bagaimana dengan mereka yang saat itu langsung melihat kejadiannya? Bagaimana dengan anak-anak PAUD yang ada di sana pagi itu?? Syukurlah kemudian ada berita bahwa tak ada korban jiwa dalam kerusuhan itu.

***

Pekalongan, 7 September 2025

Delapan hari telah berlalu. Kerusuhan sudah usai, meninggalkan kesedihan yang mendalam dan juga trauma di hati. Kompleks kantor yang dibakar dan dirusak itu memang bukan kantorku sehari-hari, namun tetap saja ada rasa sedih dan sakit yang mendalam melihat kondisinya saat ini, karena itu adalah bagian tak terpisahka. dari 32 tahun pengabdianku. Gedung-gedung kantor DPRD, Walikota, Wakil Walikota, Sekda, 7 Bagian Sekretariat Daerah, Inspektorat…semua tak lagi bisa digunakan. Barang-barang inventaris rusak atau hilang dijarah. Lingkungan yang tadinya asri dan hijau, kini tinggal puing-puing berserakan.

Ya Allah.. Kuatkanlah fikiran kami, untuk dapat mengambil hikmah dari peristiwa ini. Kuatkanlah hati kami, untuk kembali bangkit bersama, membangun kembali kota kami tercinta. Aamiin…

8 thoughts on “30 Agustus Kelabu di Kotaku”

  1. Innalillahi
    Baru tersadar, saya begitu sibuk dengan rutinitas harian dan tdk terlalu mengikuti update terkait demo-demo di banyak kota.
    Semoga pemulihan kondisi kantor yang rusak bisa secepatnya dan tak ada lg demo yang merusak seperti ulasan mbak Tanti di atas.
    Aamiin

  2. Satu hal yang saya sesali dari aksi demonstrasi kemarin itu adalah pembakaran beberapa gedung di Surabaya, di Semarang dan di Makassar dan juga di beberapa tempat lain termasuk pembakaran fasilitas umum seperti halte busway, dan lain-lain yang pastinya akan merugikan masyarakat luas karena gedung dan fasilitas ini dipakai oleh masyarakat dan kerusakannya pastinya akan merugikan anggaran negara dan harus dilakukan perbaikan apalagi gedung yang rata sama tanah gara-gara dibakar seperti ini sayang sekali

  3. dari sebelum kejadian demo ini, kalau ada yang marahnya sampai ga bertanggung jawab, kebablasan, atau bentuk marah lainnya yang kurang align sama permasalahannya, aku jadi pernasaran apa sebenarnya mereka sudah ada amarah lain tersendiri yang mereka miliki. bisa jadi masalah pribadi? ketambahan sama pemicu emosi yang ada saat ini jadinya marahnya berkali-kali lipat. aku takutnya kemarahan publik yang sekarang ditunggangi untuk melampiaskan amarah pribadi mereka yang kita belum tau apa.

    kaalau kejadiannya di kota sendiri gini paniknya berasa banget ya mba, rasanya campur aduk apalagi ada anak-anak paud yang ada di lokasi tadi. masih pada kecil-keciil 🙁

  4. Semoga gak ada lagi kejadian buruk seperti ini di Indonesia-ku.
    Sedih mendengarnya, ka Tanti.
    Rasanya ikut geram, tapi juga sekaligus bersimpati dengan rakyat yang “berusaha” menyampaikan kesusahannya, memang dengan cara yang salah.

    Berharap kita sama-sama belajar atas keburukan yang terjadi.
    Tentu gak ada akibat tanpa sebab.
    “Allahumma waffiq wulat umuurinaa limaa tuhibbu wa tardha.”

  5. Sedih menyaksikan semua ini. Kenapa harus merusak, membakar fasilitas umum? Toh, yang rugi rakyat juga. Rakyat kecil yang semakin hari semakin berat bebannya karena para penguasa yang hati nuraninya sudah tumpul. Semoga ada titik terang untuk Indonesiaku menjadi lebih baik..Amin

  6. duuh miris banget ya Mbak Agustus kemarin itu bulan kemerdekaan tapi malah banyak kejadian yang tragis terjadi di beberapa daerah, apalagi di daerah Mbak sendiri salah satunya.

  7. Aku nggak bisa berkata-kata dengan semua berita ini. Demo yang berakhir dengan ricuh. Beberapa pendapat mengatakan itu adalah ulah para provokator. Entahlah. Semoga Indonesiaku kembali utuh dan bersatu kembali di tengah kerumitan yang ada.

Leave a Reply to Radiani Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *