Hari ini, lima tahun lalu
adalah saat terakhir ragamu bersama kami
sebelum akhirnya kami mengantarmu ke rumah terakhir mu
Hari ini, lima tahun lalu
adalah saat tak lagi dapat kami temui: senyummu, nasehat-nasehatmu, pelukan hangatmu, obrolan-obrolan kecil pengisi hari dan kasih sayang yang selalu penuhi hati
Semua surut ke dalam satu kata: kenangan
Hari ini, lima tahun lalu
satu lagi ruang kosong tercipta di hati
bersama duka yang tak terkatakan
Kekosongan yang masih terasa pedih hingga detik ini
dan sepertinya akan abadi
Hari ini,
rasa rindu begitu terasa
hanya mampu mengeja namamu dalam doa-doa terbaik untukmu
Ibuuk…kangeeen…
***
Ibuk, 10 Juli telah datang lagi. Tanggal kelabu buatku, tanggal yang selalu membuatku kembali menyadari betapa dalam rasa rinduku padamu yang tak akan pernah tergantikan.
Mau tak mau, ingatanku kembali pada dini hari di hari itu. Teringat beragam rasaku kala itu. Rasa panik ketika tak dapat temukan detak nadimu, meski telah coba cek di beberapa bagian tubuhmu. Rasa takut ketika tak lagi terlihat naik turun dadamu dalam tidurmu..dan akhirnya rasa pasrah yang pedih ketika tak lagi kurasakan hembus hangat nafasmu meski tubuhmu masih terasa hangat ketika kupeluk erat kala itu. Ibuk benar-benar telah pergi…
Ya, Sabtu 10 Juli 2021 dini hari itu aku dihantam kenyataan: ibuk benar-benar telah meninggalkan kami. Meninggalkan kehampaan dan duka yang mendalam. Bahkan rasa sakit dari tangis yang tersekat di tenggorokan, masih begitu nyata hingga saat kumenulis hari ini.

Ibuk, izinkan hari ini aku menjadi seorang perempuan bicara rasa yang memilih menuliskan rasaku padamu ini sebagai salah satu pengurai rinduku.
Ibuk, lima tahun telah berlalu. Meski begitu sulit pada awalnya, berita baik nya adalah pada akhirnya telah mampu ku ikhlaskan kepergianmu menyusul swargi bapak, Simbah dan juga mba Anik. Kalian semua telah bahagia berkumpul bersama di sisi-Nya kini, meninggalkan kami yang masih bergelut dengan perjalanan hidup kami masing-masing.
Ohya Buk, tahun ini aku sudah purna tugas. Tak lagi heboh dikejar dead line. Tak lagi banyak wira-wiri keperluan dinas. Sudah bisa menikmati hari-hari bebas di rumah, menjalankan hobi menulis dan berkebun. Memilih nyaman berkegiatan sendiri di rumah. Sayang sekali, tak ada lagi Ibuk yang bisa sepenuhnya kutemani menjalani hari-hari, sebagaimana yang duluuu sering kita impikan bersama.
Ibuk, akhir-akhir ini banyaaak waktu luang yang membuatku mengenang kembali kebersamaan kita. Kebersamaan yang baru kurasakan benar-benar nyata sejak ibu kersa tinggal bersama kami mulai pertengahan 2015 lalu, setelah sebelumnya ibu di Jogja bersama keluarga mba Nik dan hanya setiap liburan kita bisa kumpul bersama beberapa hari.
Aah..enam tahun terakhir kebersamaan kita itulah yang saat ini sungguh ku syukuri dan akan selalu kurindukan. Alhamdulillah cukup banyak kenangan indah yang pernah kita ukir di hari-hari lalu ya Bu. Hari-hari ketika tujuan utamaku adalah selalu mengukir senyum di wajah rentamu.

Ibuk maaf, jika hingga saat terakhirmu aku belum sepenuhnya dapat membahagiakanmu. Masih ada keinginanmu yang belum terwujud, salah satunya yaitu melihatku berkeluarga. Maaf ya Bu, untuk satu hal ini.. Allah tahu aku sudah berusaha, namun mungkin Allah mempunyai rencana lain bagiku. Maaf mengecewakan ibu dalam hal satu ini.
Ibuk, aku tahu yang kau inginkan sebenarnya hanyalah kebahagiaanku. Rasa khawatirmu akan ketidakbahagiaanku lah yang membuatmu seringkali seakan mendesakku, termasuk dalam perjodohanku. Hal-hal itulah yang dulu tak jarang memicu perdebatan dan ciptakan jarak antara kita, namun syukurlah di akhir-akhir kita berhasil bersepakat untuk tak lagi memperuncing masalah dan memasrahkan jalan hidupku pada takdir NYA.
Buk, beberapa hari lalu aku bermimpi. Dalam mimpi itu, kita piknik bersama keluarga. Ada bapak ibu, mas mba, dan para krucil alias para ponakanku. Seru sekali berkumpul bersama di kamar, berdesakan sambil saling cerita dan bersenda gurau. Saat bangun, aku merasa sedih karena itu semua hanya mimpi.

Aah..mungkin mimpi itu tercipta karena saking rindunya akan kebersamaan kita, Bu. Terus terang, akhir-akhir ini memang kadang muncul rasa sepi, mungkin karena lebih banyak sendiri di rumah, mungkin karena keluarga kita tersebar di beberapa kota dan tak sering bisa kumpul bersama.
Tapi Bu, aku janji tak akan kalah dengan rasa melankolis ini. Tak akan kalah oleh rasa sepi, karena aku yakin aku tak akan pernah sendiri : ada orang-orang baik di sekitarku, swargi bapak-ibu tersayang di hatiku dan tentunya ada Allah SWT menjagaku. Hanya sesekali saja merasa melankolis tak apa yaa.. Selebihnya aku akan kembali tegar dan selalu berusaha menjadi kebanggaanmu: perempuan berdikari yang menebar manfaat bagi orang lain. Doakan aku ya Buu…
#Journeyto6thIpedia #SuaraKitaCeritaKita #IpediaBeritaBaik