
Lorong itu sepi lagi. Sesudah sesiang tadi ramai dengan kemeriahan hari pertama sekolah. Selalu senang menikmati keceriaan adik-adik yang baru saja resmi menjadi murid SMA Ternama ini dan sedang mengikuti MOS.
Rasa bangga terlukis jelas di wajah-wajah ceria mereka. Seragam putih-biru masih mereka kenakan, dilengkapi atribut khas masa yang dulu sering disebut masa perploncoan itu. Ah, melihat mereka mondar-mandir ceria di lorong kenangan itu, membangkitkan rasa haru di hatiku.
Ya… lorong itu, memang lorong kenangan bagiku. Kenangan ketika keadaanku persis sama dengan mereka : siswa baru SMA Ternama. Masih kuingat jelas rasa bahagia yang memenuhi dadaku ketika pertama kali menapakkan kaki menyusuri lorong itu, menuju ruang kelas X-C, yang akan menjadi kelasku.
Satu lagi kenangan indahku, di sudut lorong itu, dekat Mading. Tempatku pertama kali berkenalan dengan gadis manis berkuncir lima berpita ungu, yang sama-sama dihukum berdiri di sana.
“Hai… siapa namamu?” tanyaku
“Lolita. Eh, salah apa kau sampai dapat hukuman ini?”
“Itu… Kacang Panjang di Oseng-osengku tak semua pas 3 cm. Kau?”
“Seharusnya aku pakai lima warna, bukan hanya ungu…” jawabnya menunjuk pita di kuncirnya.
“Warna kesukaanmu?”
“Iyalaah…” jawabnya centil. Kami pun tertawa tertahan, takut dibentak lagi.
Sejak itu, hari-hari di masa MOS itu terasa cepat berlalu, dengan kedekatan kami : Oki dan Lolita, yang seolah tak terpisahkan. Namun pada akhirnya hal itu memancing kecemburuan dari teman lain. Bahkan tak hanya teman-teman seangkatanku, juga beberapa senior kami. Tentu saja, karena Lolita tak hanya cantik dan selalu ceria, ia pun pintar dan pandai bergaul.
Ah.. mengingat kecemburuan itu, membuyarkan semua kenangan indahku dan mengungkit kenangan pahitku di lorong itu. Ya, kenangan terakhirku di lorong itu begitu pahit : saat kelemahan fisikku tak sanggup menerima kebrutalan kakak-kakak senior dan nafas terakhirku terpaksa kuhembuskan di ujung lorong itu!
Hanya satu doaku selalu, semoga peristiwa MOS kelabu itu tak pernah terulang. Cukup aku saja korbannya…
korban MOS, trus jadi hantu gentayangan, ya 🙂
hehe..kira2 begitu…
Endingnya begituuu
hehe..
Oh, sedih sekali 🙁 Tulisannya singkat, tapi pesannya dapet. Pas banget ya sama situasi sekarang. Semoga gak ada lagi MOS yang pakai kekerasan fisik. Amen…
duniakecilindi.blogspot.com
Aamiin.. Trims apresiasinya, Indi 🙂
Balik, Jang! Elu puasa2 malah keluyuran, pake nostalgia segala! *kepalamalaikat
#twisteryouare
upps.. konangan pak bos niih.. siap, bos… sy mah cuma terkenang-kenang sajaaa…
Endingnya horor 🙁
Ssaya termasuk yang sangat setuju harus dihapuskan. Hampir tak ada manfaatnya.
Horor?..perasaan si oki ga nakut2in deh.. Malah ngedoain yg baik kan? Hehe…
Nice 😀
Trims mbak Carra 🙂
ceritanya kalau itu pas masa MOS dulu raupanya,tapi saya yakin pasti ada kenangan lain,yang pasti lebih manis,..hehehe
klo batasan katanya 3000 kata, mgkn semua kenangan manis itu bs terungkap 🙂
Hiks. sedihnya… 🙁
*nyodorin tisu…
Peri pita ungu menyeru halus kepada pengelola sekolah
Jan luar biasa ngetwistnya.
naah…komen Bu Prih mmg selalu mbombong ati… Suwun, ibu…
endingnya….nafas terakhir di lorong itu…ups…benar-benar mengagetkan….luarbiasa…
keep happy blogging always,,,salam dari makassar 🙂
ah, terima kasih apresiasinya, Pak Hari.. Jd semangat utk terus belajar miksi niih.. 🙂
Aduh akhir cerita yang kurang enak ya. Mudah2an anak saya nanti tdak ada MOS-MOS kayak yang sekarang sering kejadian..
Aamiin.. mudah2an ke depan semakin baik penanganannya ya..
masih ada yang senior2 kejam saat MOS
mudah2an tak ada lagi yaa…
hapus MOS!
😀
setujuuu.. 🙂
Iya bener. Stop Plonco2an.. 🙂
Setuju… 🙂