*Museum Angkut*
…
“Lhah, wong kadar angkot wae kok yo ndadak dilebokke museum?”
“Hah? Angkote sinten, Eyang?”
“Lha kuwi jare cah-cah arep nonton museum angkot?”
“Oalaaah… Museum Angkut, Eyaaang… Sanes, angkot..hehe”
…
Itu sekelumit percakapan kami dengan si Eyang dalam perjalanan ke Museum Angkut. Rupanya beliau salah sangka, dikiranya yang mau dilihat adalah ‘angkot’ / angkutan / transportasi umum dalam kota itu..hehe..
Kota Batu sudah mulai terasa panas ketika kami meninggalkan Batu Secret Zoo menuju ke lokasi Museum Angkut di suatu siang pada akhir Bulan Desember tahun lalu. Berdasarkan informasi, Museum alat transportasi yang berlokasi di Jl. Terusan Sultan Agung Atas No. 2 Kota Batu Malang itu mulai buka jam 12.00 WIB hingga jam 20.00 WIB, namun belajar dari pengalaman di Jatim Park II yang sudah penuuuh pengunjung sebelum jam buka, maka kami pun bergegas meninggalkan lokasi jatim Park II sebelum pukul 12 di siang itu.
Betul saja, karena sedang high season, lalu lintas menuju lokasi-lokasi wisata di Kota Batu siang itu padaaaat oleh aneka kendaraan, baik bus-bus wisata maupun aneka jenis kendaraan pribadi. Walhasil sampai di lokasi Museum Angkut sekitar jam 13, sehingga setelah mencari parkir dan antri tiket masuk kami pun langsung menuju zona Pasar Apung untuk mengisi perut dulu.

Museum Angkut adalah salah satu wahana rekreasi yang dikelola oleh Jawa Timur Park Group, yang diresmikan pada 9 Maret 2014 lalu. Museum ini memamerkan koleksi alat-alat transportasinya secara outdoor maupun indoor pada lahan seluas 3,8 Ha dengan dibagi dalam beberapa zona. Jadi semacam theme park ya… Beberapa zona itu antara lain :
- Zona utama ( main hall ) seluas 900 meter persegi untuk memamerkan koleksi alat transportasi, baik dari daerah-daerah di negeri sendiri maupun dari manca negara.




- Zona edukasi ( education zone ) merupakan zona yang memberikan banyak informasi tentang alat-alat transportasi dan sejarahnya masing-masing.


- Sunda Kelapa & Batavia Warehouse Zone , di zona ini dapat dinikmati suasana Jakarta tempo dulu lengkap dengan jenis-jenis alat transportasi nya .


- Gangster Town & Broadway Street Zone, di mana pengunjung diajak untuk merasakan suasana era 70-an dan alat-alat transportasi yang terkenal pada masa kejayaan Al-Capone itu

- Europe Zone ; Buckingham Palace Zone ; Las Vegas Zone dan Hollywood Zone. Di masing-masing zona tersebut pengunjung tidak hanya disuguhi koleksi-koleksi alat transportasi yang terkenal di wilayah itu, namun juga seolah diajak untuk berkunjung langsung ke sana, dengan suguhan suasana dan tata letak yang khas di masing-masing wilayah itu.



- Zona Pasar Apung ( Floating Market Zone ). Di sini pengunjung bisa melepas lelah sambil menikmati camilan ataupun makan besar, atau sekedar menikmati sensasi belanja suvenir khas Museum Angkut di pasar apung.
Memang sungguh menyenangkan menikmati semua koleksi yang ada di sana, sambil mendapatkan tambahan pengetahuan tentang sejarahnya dan bonus suasana di berbagai penjuru dunia, seolah kita sedang benar-benar berkeliling dunia dalam satu kesempatan saja 🙂
Sayangnya, saat itu pengunjung amat sangat padat, sehingga di beberapa lokasi lebih terasa seperti nonton pasar malam saja, hehe… Senggol-senggolan, Oy… Belum lagi antrean foto pada beberapa koleksi yang keren ataupun lokasi yang memang ‘fotoabel’ . Huaaah…., terasa betapa Indonesia benar-benar padaaat…hahaha..


Oya, ada sedikit kekurangan dari loka wisata ini, yaitu letak / lokasi satu-satunya mushola yang nylempit di ujung area wisata serta luasnya yang tak seberapa, sangat tidak nyaman untuk beribadah! Jadi, pastikan anda sholat di awal waktu ( agar tidak kehabisan waktu sholat gara-gara antrean yang lamaaaa… ) dan lebih baik bawa peralatan sholat sendiri.
Nah, itu dia beberapa catatan momen kebersamaan kami di Museum Angkut waktu itu. Oya, bagi yang berminat mengunjungi wisata ini, tiket masuknya seharga Rp. 60.000 untuk Senin – Kamis dan Rp. 80.000 untuk Jumat – Minggu & hari libur lainnya. Bisa juga memilih tiket terusan Museum Angkut & D’Topeng, Rp. 70.000 untuk Senin-Kamis dan Rp. 90.000 untuk Jumat-Minggu / hari libur.
Bagi yang membawa kamera ( DSLR, Polaroid, Handycam, kamera digital, dsb ), jangan lupa beli tiket kamera Rp. 30.000 yaa…agar bebas melenggang masuk dengan kamera itu. Kalau tidak, ya hanya bisa mengandalkan kamera HP saja 🙂
Yuuk…berwisata sambil belajar tentang alat-alat transportasi…
aku sudah pernah kesana sama ayah
tapi lupa foto foto
hehehee
Nah… klo main ke sana lagi jangan lupa minta foto2 sama ayah ya Sayang…banyak tempat kece untuk foto2 tuh…hehe…
ini museum angkut keren banget, ya. Pengen kapan-kapan bisa ke sana 🙂
Terbayang Keke & Nai, asyik menikmati display maupun informasi2 yg tersaji di sana, Chi… Semoga segera bisa jalan2 ke sini dg anak2 yaa…
Saya sudah beberapa kali ke Batu tetapi belum pernah melihat-lihat kecuali Selekta.
Salam hangat dari Jombang
Diagendakan kopdar jalan2 di Batu napa, Pakde? Hehe…
Salam manget2 saking Kutha Batik, Pakde..
Pengunjung umpel-umpelan ya Jeng, kami berkunjung pk 17an, jelang tutup dan tidak panas. Banyak spot poto-potoan ya Jeng. Salam
Naah… Ini dia..mgkn ini salah 1 tips utk menikmati MA dg nyaman : berkunjung di sore hari. Maturnuwun, Bu.. 🙂
Wah… Saya juga pernah ke museum angkut ini September lalu.. Tapi karena lelah baru turun dari Bromo, jadinya gak semangat…
Waah… sayang sekali… Ayo, diagendakan lagi ke sana saat fresh 🙂
duhhh kapan aku bisa kangen2an sama ngalam, wes suweee ndak ke sana
Ayo Ev, diagendakan…pasti jagoan kecilmu suka melihat aneka alat angkut itu.. 🙂
Sayang kmrn g sempat foto2 pas di zona pasar apung mb.. Zona itu dibuat semacam bangunan kios2 di tengah danau, begitu.. Mboten napa, mba Ely..saya juga sdg blm bs bnyk BW ni..hehe..
Wah, ternyata bayar tiket kamera lagi ya, mba? Aku rencana mau ke sana senin, tapi ga tahu nih jadi ga. Huhu
Moga2 jadi, Ila.. Asyik sebenernya.. Iya, kamera kena tiket, tp klo kamera HP nggak..hihi…
Itu yang ada dalam renkek waloh beneran ya, Mbak?
Sanes, pak.. Waluh2an..hehe..
Wah boleh naikin?
Kalau di museum mobil sentul..ga bisa..dan di sana kurang terawat, sayang banget
Ada beberapa yg boleh dinaiki, Nay.. Jadi deh yg ngantri banyak, hehe… Museum ini relatif msh baru ya, mg2 sj ttp terawat mskpn sdh lama nantinya..
Haha..iyaa.. Pastikan saja memori & baterai mencukupi, krn banyaaaak yg ingin kita abadikan di sana ya mb Eda.. 🙂
Naah..saya jg pengen ke sana lg kapan2..pas ngga long weekend, kali2 saja bs lebih menikmati.. 🙂
Wiih..kayaknya rame banget ya pengunjungnya. Pengen deh, suatu hari bawa anak-anak kesini…
Klo bisa jangan pas long weekend / libur panjang, mb Ika..bisa2 kita cuma nonton orang, hihi…
Jatuh cinta banget deh sama museum angkuy. Keren banget ya mbak. Andaikan museyum2 lain di indonesia laya gini pasti bakalan rame deh
Nah, aku sebenarnya sangat tertarik pas di zona edukasi itu.. Banyak informasi yg bs kita dapat di sana, sayang ruangnya lebih sempit (atau hanya perasaanku sj ya?) sehingga sangat terganggu dg membludaknya pengunjung..
foto aja antre mbak?aku males tuh yang antre2 he..he..tp bagus ya pemandangannya
Nah itu dia,mba…asli males sebenarnya..tp demi senyum para ABG itu, males2 ya dilakoni..hehe
Waduhh, enggak cuma numpang foto yang antri, shalat pun mesti antri kalo long weekend ya
Betul mbak Wati… Umpel-umpelan ra nggenah…hiks..
Museum Transportasi ini emang keren banget ya Mbak Tanti. Betah berlama-lama di dalamnya. Sayang aja kalau bawa DSLR mesti bayar hehehe..
Oh iya mba Evi… Lupa belum kutuliskan ttg tiket kamera itu.. 🙂
Padahal kalau ke sana ga bawa kamera sama juga bo’ong, hehe…