LALANG UNGU

ruang ekspresi sepotong hati

Lebaran kami di 1440 H kali ini

| 34 Comments

Hai Sahabat Lalang Ungu… Selamat Idulfitri 1440 H bagi sahabat yang merayakannya…dan mohon maaf lahir batin untuk semua sahabat, atas segala khilaf kata maupun lakuku dalam silaturahmi kita selama ini ya… Masih  dalam suasana Lebaran, maka izinkanku kali ini menuliskan tentang suasana lebaran di keluarga kami pada tahun ini ya…

Seperti telah kutuliskan beberapa waktu lalu, sejak 3 tahun terakhir ini aku tidak mudik namun mendampingi ibu kami menerima kakak-kakak yang mudik.  Ya, meskipun kedua keluarga kakakku itu tahun ini tidak bisa mudik dalam waktu bersamaan, sehingga suasana rumah memang terlihat relatif lebih sepi dibanding suasana Lebaran di tahun-tahun lalu.

Karena hanya akan ada kami berempat (Ibu, aku, adik & iparku) pada Hari H Lebaran tahun ini, maka persiapannya pun santai-santai saja. Untuk persiapan kue-kue kering tidak pernah menjadi masalah karena adikku menerima pesanan kue kering menjelang Lebaran, jadi bisa sekaligus membuat untuk keperluan keluarga sendiri ..hehe..

Kue kering Lebaran

Kue kering  buatan adik

Jenisnya pun tak jauh berbeda dengan persediaan kuker Lebaran di keluarga lainnya, berkisar antara Kastengel, Nastar, Lidah Kucing, Dahlia/Kue Semprit, Puteri Salju…dan tentu saja tak ketinggalan kue kesukaan cucu-cucu Ibuku yaitu Cochochips alias Kue Dua Mata Bola.. 😋

Baca Juga tentang Sepasang Mata Bola

Begitupun dengan menu Lebaran kami, sangat biasa-biasa saja : Ketupat – Opor Ayam – Gudeg – Sambal Goreng Hati-Kentang. Sangat mainstream, bukan? Hehe.. Itu memang menu Lebaran yang selalu terhidang di meja makan keluarga kami sejak masa kecil kami…herannya, kami tak pernah bosan! Dan demi bisa terhidangnya menu itu saat Lebaran, aku niat banget belajar membuat sendiri 3 menu wajib itu sejak ibu tidak bisa lagi memasakkannya untuk kami.

Oh ya, menjelang Sidang Isbat tahun ini yaitu di hari ke-29 Ramadan yang baru lalu, aku sempat khawatir juga karena ada beberapa teman yang memperkirakan Ramadan kali ini hanya 29 hari alias Lebaran akan jatuh di tanggal 4 Juni, sementara masakan belum siap, baru Gudeg saja yang sudah jadi! Apakah kelakon kami Lebaran dengan menu Nasi-Gudeg-Telur Ceplok saja??? 🤔

Haha…untunglah itu tak perlu terjadi. Tanggal 1 Syawal 1440 H diputuskan jatuh pada Hari Rabu 5 Juni 2019… Jadi masih ada waktu 1 hari untuk ngebut masak ketupat, Opor dan Sambal Goreng. Menu wajib Lebaran kami pun amaaan… 😃

Subuh 1 Syawal 1440 pun kami sambut dengan  sukacita. Waktu menunjukkan pukul 6 pagi ketika beriringan kami menuju ke Masjid Al Bina di dekat rumah, dengan berjalan kaki dan perlahan mendorong kursi roda ibu. Bertukar senyum dan salam dengan tetangga kanan-kiri yang sama-sama menuju masjid untuk Sholat Idulfitri berjamaah.

IdulFitri 1440 H

Bersama ibu & adik2, IdulFitri 1440 H

Sepulang dari masjid, kami pun sungkem kepada ibu dan bersalaman saling memaafkan dengan adik-adikku. Setelah itu, menunggu rombongan ‘ujung-ujung’ sampai ke rumah kami. Ya, di lingkungan tempat tinggal kami ada tradisi ‘ujung-ujung‘ yaitu saling mengunjungi rumah tetangga sebelah-menyebelah, untuk bersalam-salaman mengucapkan Selamat Lebaran dan mohon maaf lahir dan batin. Diawali dari keluarga yang paling ujung dekat masjid, mengunjungi tetangga di sebelahnya..lalu bersama-sama kedua keluarga itu mengunjungi tetangga di sebelah lagi..lalu ke sebelahnya lagi… Demikian seterusnya hingga pada keluarga yang paling ujung dekat pertigaan perbatasan lingkungan kami. Seru dan guyub…

Biasanya, setelah ‘ujung-ujung‘ itu selesai dan masing-masing keluarga kembali ke rumah, barulah mereka melakukan aktifitas keluarga masing-masing. Ada yang bersiap silaturahmi ke kerabat di daerah lain, atau wisata, atau di rumah saja… Bebas sesuai rencana masing-masing.

Demikian pula di keluarga kami, setelah ‘ujung-ujung‘ itu, kami menikmati menu wajib Lebaran, lalu adikku dan isterinya nyekar ke makam ayah mertuanya dan bersilaturahmi ke keluarga mereka di daerah Panjang, sementara ibu istirahat dan aku menyiapkan keperluan perjalanan kami nyekar ke Semarang & Salatiga siang harinya.

Sekitar jam 11 siang di hari Lebaran kemarin, kami berempat memulai perjalanan ziarah ke makam alm Bapak dan Kakek-Nenek. Alhamdulillah perjalanan siang itu lancar -sedikit tersendat di tol menuju Salatiga- hingga kami bisa melaksanakan semua acara sesuai rencana.

Ziarah kubur

Nyekar / Ziarah kubur

Yang pertama adalah menuju makam Mbah Buyut (kakek-nenek Ibu) di Makam Jati Salatiga (Pasar Sapi Lawas), lalu menuju rumah keluarga di Semarang, beristirahat sebelum sorenya ke makam alm Bapak di Makam Cantung Tegalsari dan ziarah ke makam alm/almh Simbah Kakung-Puteri di Makam Gunung Brintik Semarang, dan menempuh perjalanan kembali ke Pekalongan hari itu juga.

Hari kedua kami istirahat di rumah paginya, sebelum siangnya mulai kerja bakti bertiga, mempersiapkan rumah untuk acara Halalbihalal Bani Kasijo di rumah kami pada H+3, keesokan harinya.

Wuuiih…lumayan juga persiapan untuk menyelenggarakan acara HBH di rumah begini. Mulai dari bersih-bersih hingga menata ruangan dan persiapan peralatan makan-minum, kita lakukan sendiri. Khusus makanannya kami tidak masak sendiri…disamping tidak sanggup masak untuk orang banyak, peralatan masak ukuran besar tidak ada! Haha… Alhamdulillah ada tetangga dan kenalan yang bisa kami mintai tolong untuk menyiapkan masakan, kami tinggal menata penyajiannya saja 😉

Oh ya, kali ini aku bertekad untuk berpartisipasi mengurangi sampah plastik dengan tidak menyediakan air minum dalam kemasan sebagaimana biasanya. Tahu sendiri kan, biasanya orang tidak menghabiskan minuman kemasannya, sebelum mengambil yang baru, walhasil sampahnya akan makin menumpuk!

Pada awalnya keluargaku agak keberatan, merasa akan lebih banyak memerlukan gelas dan tentu saja lebih banyak yang harus dicuci nantinya. Alhamdulillah aku berhasil meyakinkan keluargaku bahwa itu bukan masalah, dan memang betul…tidak terlalu masalah banyaknya gelas kotor yang harus dicuci setelah acara itu selesai. Toh kami bisa bergotong-royong mengerjakannya.

HBH Bani Kasijo

Sebagian anggota Bani Kasijo

Alhamdulillah acara HBH Bani Kasijo (keluarga dari pihak ibu) dapat berjalan dengan lancar. Dari dua orang kakak-beradik (ibu dan adik lelakinya) telah berkembang menjadi 11 cabang keluarga dengan keseluruhan anggota keluarga sekitar 37 orang. Kami berkumpul tiap tahun di awal Syawal, bergantian di rumah Ibu atau di rumah Oom di Tegal, menautkan silaturahmi agar tidak tercerai-berai meskipun kami tinggal di kota-kota (bahkan pulau) yang berbeda. Memang tidak semua bisa hadir setiap pertemuan, dan Alhamdulillah tahun ini sekitar separuh dari anggota bisa hadir.

Setelah acara selesai, maka kegiatan bersih-bersih dimulai lagi. Oh ya, cucian peralatan makan-minum menumpuk yang dikhawatirkan semula ternyata bukan masalah besar.  Kami memutuskan untuk mencuci di halaman dengan menggunakan dua ember besar dan selesai dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sedikit becek di halaman pada akhir pencucian bukanlah masalah besar. Hanya mungkin tetangga / orang lewat yang agak heran melihat kami beramai-ramai mencuci piring gelas di halaman depan! Hahaha…

Demikianlah, setelah 3 hari pertama di Bulan Syawal tahun ini kami lalui dengan cukup heboh, 2 hari berikutnya (sekaligus 2 hari akhir cuti Lebaran) kami lalui dengan bersantai di rumah, ngluruske boyok alias memulihkan tenaga..sebelum kembali bekerja esok hari dan juga bersiap menyelenggarakan HBH Keluarga PATRAP ( Paguyuban Trah Pontjowigati ) yaitu keluarga dari pihak ayah kami, yang  direncanakan pada Minggu 16 Juni y.a.d di Semarang.

Bani Kasijo 2019

Bani Kasijo di HBH 1440 H / Th 2019

Nah..itulah cerita Lebaran kami kali ini, bagaimana dengan cerita lebaranmu, teman-teman? Yuk, bagi kisahnya di kolom komen yaaa…

34 Comments

  1. Tradisi ujung ujung nya unik ya. Mungkin kalau kampung saya rumahnya berderet sudah rapi menghadap jalan utama, bisa jadi tradisi ujung ujung ini kami lakukan juga. Hanya karena kampung kami ini melingkar, gak beraturan gitu rumahnya. Numplek dikelilingi sawah jadi seperti tidak ada ujung. Hehehe. Akhirnya kami silaturahmi mulai dari kami yang rumah di depan, ke belakang, ke tengah kampung sampai ujung mentok di rumah dekat persawahan.

    Alhamdulillah ya lebaran bisa kita lalui dengan sukacita. maaf lahir batin ya. Sungkem pula buat Ibu Tercinta itu

  2. Mbaa, aku pun berencana buat menulis tentang lebaran saya tahun ini. Sangat berkesan karena bisa terhindar juga dari macet mba. Dan kumpul dengan keluarga besar. Alhamdulillah 🙂

    Smoga tahun-tahun depan kita bisa lebaran lagi ya mba. Aamiin

    • InsyaAllah… Aamiin… Ayok ditulis mba..saya penasaran juga dg cerita lebaran mba Alida kali ini. Di Kudus, Solo..mana lagi mba? Pasti seru..

  3. Tradisi ujung-ujung itu unik da baru kali ini saya tahu. Di kampung saya mah tidak ada, habis gangnya penuh cabang, melingkar-lingkar pula, ha ha. Dan begitu dari masjid, warga akan berhamburan ke berbagai arah. Jadinya salaman yang dilakukan keluarga saya dengan tetangga dekat rumah dulu. Saya tidak sempat shalat Id apalagi keliling, harus jaga rumah dan periksa pipa air apakah ngocor atau tidak. Mana semalam kurang tidur da terganjal masalah air yang kerap ngocor pada jam yang tidak manusiawi padahal kami belum punya tangki air. Lelahnya. Mada 2 hari lebaran saya habiskan dengan tidur siang ditambah sakit perut gara-gara makan kacang bawang dan usus tidak kuat ka faktor usia. Barulah hari ketiga bisa silaturahim ke rumah sahabat di Cibiuk. Tak ada yang istimewa soalnya saya dan suami adalah cabang keluarga utama.
    Makanya salut pada keguyuban keluarga besar Mbak Tanti. Seru dan mengharukan.
    Selamat lebaran juga, mohon maaf lahir batin jika ada yang salah dari komen saya di grup maupun blog.

    • Maaf lahir batin juga ya mba Rohyati.. Semoga segera ada tangki air ya mba, agar salah satu masalah segera teratasi.. Semangat, mbaaa…

  4. Wah model jaman kita kecil ya ujung-ujung itu mbak. Kalo di rumahku yang sekarang, diganti dengan ngumpul di depan rumah ibuku. Yang sepuh disediakan kursi, ada 2 orang yaitu bapakku dan tetangga, usianya udah di atas 80 tahun jadi kasihan kalo berdiri lama.

    Trus nanti mulai yang agak tua bersalaman, berjajar, hingga urutannya sampai usia termuda. Rame dan penuh kesan karena tiap tahun udah ditradisikan seperti ini. Baru deh nanti bubar jalan ke kegiatan masing-masing.

    Selamat berlebaran ya mbak, eh mungkin udah masuk kerja juga ya. Maaf lahir dan batin. Semoga bisa dipertemukan ramadhan dan lebaran tahun 1441 H

    • Nah iya mba..tradisi ini sdh ada sejak kita kecil ya.. Jaman dulu sih masuk tiap rumah dan cicip2 kue lebaran, kalau yg sekarang hanya bersalam-salaman saja di teras masing-masing rumah..hehe..
      Selamat lebaran juga mba Wati.. iya mba, sudah habis cutiku hehe..

  5. Sidang isbat tahun ini betulan bikin heboh ya.. hehe. untung Lebaran tetap tanggal 5 Juni. Ada waktu untuk bersiap-siap.

  6. Seru ya mbak kegiatannya dalam Lebaran kemarin, dan aku salut deh karna rela repot2 untuk ngurangi sampah *bravooo
    Salam utk Ibu ya mbak, sehat2 dan panjang umur

  7. Alhamdulillah ya Mbak, Ibunya masih sehat dan berkumpul bersama anak2nya di saat lebaran.

    Maaf lahir bathin ya Mbak 🙂

  8. Lebaran memang selalu penuh dengan cerita yaaa mba. Senang bisa bareng keluargaaa

  9. Mba Salfok sama keinginan mengurangi plastik dan menggunakan gelas *salut banget ini bergotong royong bersihin gelasnya..aku masih belum komit nih masih setia sama air kemasan plastik huhuhu

  10. Wah cerita lebaran selalu asyik ya..yg paling kunikmati makan ketupat plus lauknya..hahaha…tp.aku ga pernah pke.gudeg nih..

    • Hehe..iya mba..kebetulan di keluarga kami kebiasaannya pakai gudeg juga. Selamat lebaran & maaf lahir batin y mba..

  11. Masih banyak cerita lebaranku tapi belum sempat ditulis karena koneksi di kampung untup-untup.
    Suatu saat saya akan bagikan cerita seru anak saya.

  12. MashaAllah senangnya ya mba, lebaran bisa berkumpul bersama keluarga tersayang, jadi momen indah bersama khususnya dengan Ibu.. semoga mbak selalu diberikan kesehatan dan rizki untuk senantiasa merawat ibunda ya.. aamiin

  13. Mirip sebutannya kyk di rumahku tapi ada “N” – nya yaitu “Unjung-unjung” dr kata saling berkunjung kali ya. Tradisi yang unik yang patut dilestarikan utk menjalin silaturahni antara tetangga dan kerabat ya

  14. Tradisinya unik banget mbaaa. Kalo aku sih cuma kumpul aja sama keluarga. Soalnya di komplek banyak yg mudik makanya sepi banget. Jadi paling sesekali kalo ketemu tetangga yg ga mudik ya maaf maafan gitu hehe

  15. masyaAllah seru banget foto2nya
    senang baca tulisannya mbak
    minal aidin walfaidzin ya
    maaf lahir bathin dari saya di makassar hehe

  16. Taqabalallahu minna wa minkum, kak..
    Senangnya bisa unjung-unjung ke rumah saudara.
    Rindu makan ayam yang langsung di tangkep dari kandang sendiri…

  17. Alhamdulillah lebaran bersama keluarga lebih hangat dan ramai ya…
    apalagi kalau keluarga lengkap begini..

Leave a Reply

Required fields are marked *.