LALANG UNGU

ruang ekspresi sepotong hati

Kenangan Suasana Ramadan dan Persiapan Lebaran di Masa Kecilku

| 59 Comments

Kenangan Suasana Ramadan dan Persiapan Lebaran di Masa Kecilku. Salam jumpa, Sahabat Lalang Ungu. Memasuki pekan kedua Ramadan, semoga masih tetap semangat ya… Ramadan kali ini memang berbeda dari Ramadan-ramadan kita sebelumnya, namun kita harus tetap semangat menjalaninya, bukan? Dan kali ini aku ingin menuliskan nostalgia tentang suasana Ramadan dan persiapan Lebaran yang sangat berkesan untukku, di masa kecil kami.

Oya, kami lima bersaudara lahir di Salatiga Jawa Tengah dan sebagian masa kecil kami lewatkan di kota kecil nan sejuk di kaki Gunung Merbabu tersebut, sebelum kemudian pindah ke Semarang saat aku kelas 3 SD. Jadi mohon dimaklumi bahwa kenangan masa kecil yang tersimpan di benakku seputar dua kota itu ☺

Nah..berikut ini adalah beberapa kenangan indah itu :

Suasana Ramadan di Masa Kecilku

1. Pakai Mukena Jarit

Rumah masa kecil kami di Salatiga terletak di sebuah kampung bernama Jetis Rekesan, di belakang lapangan NU dan dibatasi sungai kecil. Eh, sekarang sih sungainya terlihat kecil, kalau dulu sih itu sungai besar (dari sudut pandang anak kecil) hehe ..

Bapak-bapak biasanya tarawih di lapangan NU itu sementara anak-anak dan perempuan berjamaah di rumah saja. Entah kenapa, mungkin dianggap berbahaya malam-malam menyusuri tepi sungai..hehe..

Seingatku aku mulai ikut sholat tarawih di rumah itu sejak sekolah SD, dan mbak sulungku yang sering menjadi imam kami.  Eh, saat kecil aku nggak pakai mukena seperti sekarang saat sholat lho..melainkan kain batik panjang –jarit sebutannya- yang dililit-lilitkan menutup kepala hingga ujung kaki. Ada yang pernah pakai begini juga? ☺ Kalau anak laki-laki sih pakai sarung, yang sehabis sholat bisa berubah jadi pakaian tempur dengan dikerudungkan menutup kepala lalu diikat ke belakang menyisakan bagian mata ☺️

2. Bergembira Menunggu Dhul

Meski saat kecil belum ikut puasa secara penuh, suasana menjelang Maghrib di Bulan Ramadan merupakan saat-saat yang kunantikan bersama kakak-adik. Rapih dan wangi setelah mandi sore, kami duduk bersama di teras rumah, menunggu Dhul. Eh, yang duduk manis sih aku dan kedua kakak perempuanku, sementara kakak dan adik laki-laki ku biasanya sibuk lari-larian bersama sepupu-sepupu kami di halaman.

Dhul yang dimaksud di sini bukan nama orang ya..melainkan suara dentuman / mercon besar yang dibunyikan dari halaman Masjid Kauman sesaat sebelum adzan Maghrib berkumandang. Suara itu menandakan waktu berbuka telah tiba, sebagaimana suara sirine yang saat ini dibunyikan sebelum adzan Maghrib.

Bila sudah terdengar “Dhuuul” itu maka kami pun bersorak, berebut masuk rumah menuju meja makan tempat ibu dan nenek sudah menyiapkan hidangan berbuka. Seiring kumandang adzan Maghrib satu persatu hidangan di piring-piring itu akan tandas beralih mengisi perut-perut kecil kami. Alhamdulillah..nikmatnyaa.. 😋

3. Tarawih berjamaah di Masjid

Tarawih berjamaah di masjid baru kuikuti setelah kami bermukim di Semarang. Rumah tinggal kami di kampung Tegalsari, Alhamdulillah tidak jauh dari lokasi sebuah masjid yaitu Masjid Hadil Amin.

Nah, di masjid inilah kami melakukan sholat tarawih berjamaah. Lucunya, meskipun kami berangkat awal begitu adzan Isya terdengar, belum tentu kami dapat shaf terdepan, karena di deretan shaf terdepan sudah berbaris rapi sajadah / mukena yang ditinggal / diantrikan duluan (meskipun orangnya datang belakangan) hehe..

Di masjid ini tarawihnya panjang..jadi kadang-kadang aku kecil kecapaian dan medhot beberapa rakaat di antaranya, beristirahat / duduk manis melihat mbak-mbakku melanjutkan sholat..

Mulai mendapat tugas mencatat kultum setelah kelas 5 (sampai SMP kalau tak salah ingat), sehingga setiap selesai tarawih aku berkumpul bersama teman-teman kecilku, antri minta tanda tangan / stempel masjid di buku catatan. ☺

Nah, itulah beberapa kenangan suasana Ramadan di masa kecilku. Dan berikut ini kenangan tentang persiapan lebaran yang kami lakukan di masa kecil.

Persiapan Lebaran di Masa Kecilku

1. Baju baru, Alhamdulillah..

Ilustrasi by Pixabay

Tentu saja, bagi kami saat kecil yang paling mengasyikkan adalah mempunyai baju lebaran. Alhamdulillah kami mempunyai seorang ibu yang pintar menjahit, baju-baju lebaran kami berlima selalu dijahit sendiri oleh beliau. Ibu kami memang juara 😘

Tentu saja baju kami berlima itu kembaran! Haha.. Entah di warna atau pun motif. Minimal  3 anak perempuan kembaran dengan ibu sementara 2 anak laki-laki kembaran dengan bapak. Oya, sebagai anak perempuan paling kecil, aku selalu dapat baju lebih banyak.. Terima kasih untuk badan mungilku waktu itu sehingga sisa-sisa bahan kakak-kakak bisa membuat lebih banyak baju untukku! Haha..

2. Membantu ibu memasak kue kering

Nah, mungkin ini sama ya dengan keluarga-keluarga lainnya. Persiapan lebaran tentu saja tak lepas dari masak aneka kue kering, begitu juga di keluarga kami.

Karena dulu sekolah libur panjang saat bulan puasa, maka hari-hari kami bertiga selalu diramaikan dengan acara membantu ibu memasak aneka kue kering. Kue Semprit adalah salah satu jenis kue kering yang selalu ada. Mendorong adonan melewati cetakan kue berbentuk corong kecil dengan ujung bergerigi yang beda-beda, atau mencetak adonan dengan menggunakan aneka bentuk cetakan-cetakan kecil berbahan alumunium, sungguh menyenangkan!

Mencetak Kue ( Pic by Pixabay)

3. Membuat Selongsong Ketupat

Nah ini kegiatan yang paling kukangeni saat ini. Kami sudah diajarkan untuk membuat selongsong ketupat sendiri sejak kecil oleh Simbah maupun Bapak-Ibu, dan ketika SMP ada pelajaran ketrampilan merangkai janur (daun kelapa), maka ketrampilan ini pun kian berkembang.

Satu-dua hari menjelang lebaran, ibu membeli sepelepah janur ini sebagai bahan pembuatan selongsong kupat / ketupat, dan setiap kami kemudian asyik memainkan jari jemari membuatnya. Biasanya kami akan duduk lesehan sambil ngobrol ngalor-ngidul sementara tangan-tangan kami asyik merangkai selongsong ketupat ini.

Awal pelajaran biasanya kami ‘menguatkan / merapatkan’ selongsong yang sudah setengah jadi hingga membentuk selongsong jadi yang rapat jalinannya. Lalu berlatih membuat sendiri dari awal hingga akhir. Tentunya dibawah bimbingan bapak-ibu atau kakak-kakak yang sudah lebih dahulu terampil. Kebersamaan dalam membuat selongsong ketupat inilah yang sungguh merupakan kenangan indah bagi kami..

Ketupat Lebaran

Bangga rasanya makan ketupat hasil karya sendiri 🙂

4. Potong rambut

Rutinitas persiapan lebaran di masa kecil terakhir yang menjadi kenangan adalah potong rambut di pagi hari Lebaran. Yang dimaksud di sini bukan potong rambut ke salon untuk merapikan diri ya..melainkan hanya memotong ujung-ujung rambut kami, dilakukan oleh nenek.

Jadi pada pagi hari Lebaran sebelum kami pergi ke lapangan untuk sholat Ied, ritual potong rambut ini dilakukan. Sehabis mandi dan menggunakan baju baru, kami akan berbaris rapi sejak kakak sulung hingga adik bungsuku, menghadap nenek yang sudah siap duduk dengan membawa gunting kecil.

Lalu satu demi satu kami akan berdiri di depan nenek dengan membelakangi beliau, lalu beliau mengelus kepala basah kami, menggunting sedikit ujung rambut lalu mencium kepala kami sambil mendoakan keselamatan kami.

Begitulah ritual potong rambut di hari lebaran yang seingatku berlangsung hingga nenek tak ada. Secara pribadi aku belum pernah menanyakan kepada beliau ataupun ibu kami tentang maksud dari ritual ini, namun mungkin itu adalah cara beliau mendoakan kami seraya buang sial di hari Lebaran.

Nah Sahabat Lalang Ungu, itulah beberapa kenangan tentang suasana Ramadan dan persiapan Lebaran di masa kecilku. Bagaimana dengan kalian, apakah ada kenangan khusus tentang hal ini? Yuk, bagi kisahnya di kolom komen ya…

59 Comments

  1. Kangen ya dg suasana Ramadan masa kecil. Apalagi kumpul dg sodara yg kini merantau kemana2.

  2. Jadi kangen sama suasana Ramadhan sebelum-sebelumnya ya, mba. Tapi Alhamdulillah masih diberi kesempatan bertemu Ramadhan tahun ini.
    Aku yang paling berkesan itu, di bulan Ramadhan pasti jadi tim ngecat pagar rumah sama almarhum bapak.

  3. Bahagia banget ya momen ramadan masa itu. Paling syahdu tuh habis tarawih lanjut tadarus di mesjid trus pulang ke rumah seraya dengerin suara orang yang masih tadarus di mesjid. Unik juga ya mau berbuka ada bunyi si dhul, hehe

  4. syukurnya kit abisa ketemu ramadhan lagi ya mbak, walau saya nggak merayakan tapi ikut senang melihat teman2 yang bahagia bisa ketemu ramadhan lagi tahun ini

  5. Selamat merayakan Ramadhan buat yang menjalankan. Pandemi ini sudah merubah seluruh kebiasaan masa ramadhan sebelumnya ya. Alhamdulillah saya di kampung ramadhan kali ini tidak memiliki banyak perubahan. Tetap beribadah di masjid, tetap bisa ngabuburit, dan menjalani puasa dengan maksimal. Insyaallah. Semoga daerah lain juga segera kembali jadi zona hijau ya… Aamiin…

  6. selamat menjalankan ibadah puasa ya mbak, meskipun ramadhan kali ini sedikit berbeda dengan tahun tahun sebelumnya, tetep semangat hihihi

  7. Mbaa, jadi ingat ramadhanku juga di masa kecil mba. Alhamdulillah bisa merasakan momen yang sangat berkesan ya. Semoga kita slalu bisa bersyukur ya

    • Betul mba..sangat bersyukur bisa sampai di Ramadan kali ini dan mudah2an di Ramadan2 berikutnya. Aamiin..

  8. aku ingat masa kecil di bulan Ramadan sepulang tarawih bersama keluarga sampai rumah main lilin yang di bakar terus ditaruh dalam batok kelapa, taruh di atas pagar semakin banyak semakin bagus hehe..kangen masa kecil jadinya

  9. Aku diajari bapak bikin selongsong ketupat gak bisa-bisa mbak 😀 duh kangen masa-masa kecil dulu jadinya. Depan rumahku itu mushola (skr sudah jadi masjid) kaang aku sama teman-teman sholat ke masjid yang lebih jauh hehehe, biar bisa main trus di masjid rakaatnya lebih seidkit

    • Hihi..kebetulan selain diajari di rumah, di sekolah kami diajari juga mba. Jadi lumayan bisa deh bikin selongsong kupatnya

  10. aku dulu sewaktu kecil, kalau jelang lebaran paling senang bantuin ibu bikin kue nastar.. terus tarawih dan solat subuh di masjid bareng temen2.. duh, jadi kangen masa kecil..

  11. Baca kisah ini seakan membawa diriku terlempar ke puluhan tahun lalu mbak, banyak kemiripan. Saat menunggu dhul dan bikin selongsong kupat sendiri itu terekam jelas. Tapi aku paling terharu saat baca bagian nenek memotong rambut lalu mencium kepala dan mendoakan itu mbak, yaampun meleleh banget atiku.

  12. Huaa jadi inget suasana Ramadhan tahun-tahun sebelumnya dimana kita tarawih bareng terus ngabuburit jalan2 ke luar juga huhu sekarang ga bisa ya.

  13. Ngomongin soal Salatiga, jadi ingat kampung halaman bapak. Duku waktu simbah masih ada, kami sering berkunjung ke sana.
    Dan kenangan yang paling gak bisa saya lupakan yaitu mandi di sungai. Dulu sungainya besar dan airnya bersih.
    Sayang sekarang sungainya mulai kering dan ada penambangan pasir. Sedih bangeet!

    • Ah..mandi di sungai itu impian masa kecil yg blm terlaksana hingga kini. Dulu karena arusnya dereees jd gak pernah dibolehin. Skg..ga ada lagi subgsinya..hiks

  14. aku juag jadi kangen masaaa kecil mba. SUka bantu mama buat kue kering dan lapis legiiit juga beberes rumah dan ziaraaah

  15. Bikin selongsong ketupat ini merupakan kenangan yang paling kuingat saat masih ada bapak. Beliau mengharuskan ibu masak sendiri ketupatnya. Beli selongsong ketupat pun bukan yang udah jadi, tapi masih berupa janur utuhan gitu, ntar anak-anaknya yang harus bikin selongsong sendiri. Diajarin tuh sampai bisa. Kenangan manis deh pokoknya.

    • Idem banget. Duluuu..saat bapak masih ada sering tak gelendotin sambil bareng2 bikin selongsong ini..

  16. Kangeeen…
    Iya, aku dulu kecil juga suka Lebaran karena pasti punya minimal 2 stel baju baru.
    karena aku gak ngerti uang, jadi malah happy kalau dikasih baju.
    MashaAllah~

  17. aku jaman cilik juga kayane kudu ada baju baru, dan mesti dua pasang ekwkkwk..

    kalo ketupat aku bisa bikin juga waktu kecil diajarin almarhum, makan ktupat itu enak, opornya yang pedes

    • Kalo di tempatku, ga usum opor pedes. Kuah kuning ada, putih ada, tapi pedes ga ada. Yg pedes Sambel Gorengnya

  18. Kalau di tempatku ga ada Dhul gitu, Mbak. Baik sirine atau mercon, ga pakai. Ya langsung azan aja. Paling suara beduk, itu pun di masjid beberapa aja. Untuk tarawih kadang sengaja ngeri alias terlambat. Modusnya, melipir ke tambak buat nunggu sampe tarawih dapet separuh. Biar ga lelah karena panjang 23 rakaat sama witir. Kalau lebaran sih ga pernah bikin kue kering, belum umum di tempat saya bahkan sampai sekarang. Paling bikin kue tradisional aja seperti serimping, keciput, klunthung, madumongso, dan banyak lainnya. Ketupatnya dibikin setelah lebaran, yaitu pas hari ketujuh Syawal. Wah, jadi kangen masa kecil….

    • Wah syawalan alias ‘ Bodo Kupat ‘ nggih..di kami 2x bikin kupatnya, Bodo dheng (1 Syawal) sama Bodo kupat..hehe

  19. Bru tahu nih klu ada tradisi potong rambut kala idul Fitri mb…masa ramadhan ketika kita kecil mmg tak terlupakan y mb

  20. Beda tempat beda tradisi. Tahun ini Ramadhan dan lebaran di Jawa, biasanya kalau di Jawa jarang ada makan ketupat. Mau buat juga gak pinter, Kalau ada yang jual nanti beli sajalah….

    • Jawa sblh mana yg susah nyari ketupat, mba? Hehe.. Setahuku di pasar-pasar banyak dijual selongsong ketupat deh

  21. Wah aku sudah lama nggak bikin kue kering mbak, sudah fakir waktu jadinya pesen ke temen-temen yang pada bikin dan rasanya enak

  22. Kebayang pada baris berjejer buat potong rambut. Tapi hasil potongannya oke kan mbak hehe? Rindu juga nih shalat tarawih di masjid. 2 ramadhan kmr absen ke masjid karena keumala masih bayi skr pas udah bisa dibawa eh malah ga ada terawih di masjid

  23. Dulu aku juga ngalami sholat pake jarik itu mbaa, hihi. Ternyata hampir sama ya kenangan masa kecil kita, hanya saja aku tetap tarawih di masjid rame2 bareng temen2. Trus pulangnya beli jajan, asiiik banget

  24. Dulu pas kecil, seminggu sebelum lebaran mudik ke Solo. Desek-desekkan naik bus. Biar capek tapi tetep aja happy. Trus bikin ketupat sendiri dari janur. Ya Allah, jadi kangen

    • Wah sama mba..dulu kami juga sering nyadran dan silaturahmi ke Solo dan sekitarnya juga, ke kelg alm Bapak.

  25. Mbak. .. cilikanku juga masih pake ‘mukena jarik’ gara2 mamakku belum bisa beliin mukena. Hihi.

    Trus suara ‘dhul’ itu juga selalu ramai dulu, mercon bumbung

  26. Woalaahhhh pake jarit untuk mukena, legend banget itu mbaaa…. Aku ya pernah diajari ibuku pake ini, tapi ga mau karena ribet banget. Medeni malah jadi kayak pocong hihiiii… Tapi at least aku pernah tau juga caranya mba. 🙂

  27. kok jd mrembes mili :'(, langsung kangen keluarga di kampung halaman, teringat kembali ttg kenangan lebaran bersama keluarga saat kecil dlu :’)

  28. Wah seru nunggue dhul… Semacam petasan raksasa ya Mba, klo di tempatku dulu pake bambu entah diisi apa, kayak meriam gitu jadinya

  29. Ya Allah, kenangan kita kok sama ya mbak, pakai jarik untuk mukena. Dulu cukup karena badannya masih kecil. Trus suara Dhul itu memories banget ya, jadi kangen dengan suasana ramadhan masa kecil dulu

  30. Jaman aku kecil aku paling aku suka tuh kalau diajak bebikin camilan buat lebaran sama mbahku. Ongko wolu, unthuk cacing, juga koyah (ada yang nyebut kue satru). Cetakannya masih dari kayu dan sabut kelapa.

Leave a Reply

Required fields are marked *.