LALANG UNGU

ruang ekspresi sepotong hati

Lana, Kau Tidak Sendiri…

| 82 Comments

Ilustrasi by Pixabay

[Fiksi Lalang Ungu]. Lana, kau tidak sendiri. Mayang meletakkan novel anak yang sedang dibacanya ketika HP di meja sebelahnya berbunyi singkat, menandakan ada pesan masuk.

Sejurus kemudian ia terlihat asyik berbalas pesan melalui HP itu, sementara wajahnya terlihat serius dan sesekali tampak geram. Tak disadarinya Bunda yang sedang melakukan hobi kristiknya di dekat sana sejenak menghentikan kegiatannya dan memperhatikannya.

“Ada apa, Yang?” tanya Bunda halus ketika kemudian Mayang meletakkan HPnya, lalu menghela nafas panjang.

“Lana, Bun” jawab Mayang singkat.

Hm, ada apa dengan sahabat Mayang di sekolah itu? Sambil menunggu Mayang siap bercerita, Bunda teringat sosok Lana. Gadis mungil manis dengan rambut ikal dan sifatnya pemalu. Setidaknya itulah kesan yang Bunda peroleh ketika Mayang memperkenalkan sahabatnya itu saat kunjungan orang tua murid di sekolah mereka suatu waktu dulu.

Ilustrasi by Pixabay

“Lana baru cerita, bahwa selama ini ada teman kami yang bersikap buruk padanya, Bun. Dia jadi tak nyaman di sekolah, selalu merasa cemas, tapi takut ketinggalan pelajaran kalau sering tak masuk,” akhirnya Mayang memulai ceritanya. Bunda meletakkan kristiknya di pangkuan dan memberikan perhatian penuh pada Mayang.

“Bagaimana bentuk sikap buruk yang diterima Lana?” tanya Bunda

“Awalnya ejekan-ejekan. Bunda kan tahu Lana gimana, meski cuma celetukan-celetukan iseng anak-anak tentang rambutnya, atau kulitnya, atau sikap pemalunya yang disalah artikan sebagai penakut oleh anak-anak lain, semua itu bisa membuat Lana menangis lama di toilet lho, Bun.”

Ada rasa tak nyaman merayap di hati Bunda mendengar cerita Mayang. Hm, itu sudah masuk ranah verbal bullyingNak.. 

“Lana sudah cerita sebelumnya tentang ini, Bunda. Tapi barusan dia cerita bahwa akhir-akhir ini anak itu tidak hanya mengejek dia..”

“Apakah Lana mendapat kekerasan fisik dari anak itu, Yang?” Bunda bertanya dengan prihatin.

“Tidak Bun. Eh, setidaknya dia belum cerita sudah dipukul atau apa. Mudah-mudahan jangan sampai terjadi, ya Bun..” Mayang menjawab dengan raut khawatir di wajahnya. Lalu melanjutkan, ” tapi diancam akan dipukul.  Tadi dia nulis kalau anak itu suka minta dengan paksa bekal makannya, atau uang jajan dan mengancam akan memukul kalau tidak diberi”.

“Siapa sih anak itu? Sudah berapa lama kejadian itu berlangsung?” tanya Bunda beruntun kepada Mayang.

“Kakak kelas, Bun. Anak itu memang terkenal bandel di sekolah kami. Kalau diejek-ejek itu sih sudah agak lama Lana cerita, dua atau tiga bulan ini lah..”

“Kalian sudah lapor ke Bu Wati?” Bunda bertanya namun sudah meraba jawabannya.

“Belum, Bun. Lana tidak berani, takut justru kelakuan anak itu makin menjadi bila dimarahi guru gara-gara laporan dia. Itu pula sebabnya ia juga tak berani cerita ke orang tuanya, karena takut bapaknya melabrak ke sekolah.”

Bunda menghela nafas panjang. Ah, benar dugaannya bahwa Bu Wati wali kelas mereka belum tahu cerita ini. Sayang sekali, justru Bunda yakin kalau Bu Wati tahu beliau akan berusaha menghentikan peristiwa bully ke Lana tanpa berkepanjangan, karena wali kelas mereka itu guru baik hati yang sudah berpengalaman dalam dunia pendidikan. Dalam hal ini, wali kelas adalah pengganti peran orang tua di sekolah.

“Kasihan Lana ya Bun. Aku ingin membantu Lana tapi jangan sampai malah bikin keadaan makin parah untuknya,” kata Mayang perlahan

Hm, Bunda teringat sebuah tulisan tentang bullying pada anak yang pernah dibacanya beberapa waktu lalu. Ketidak-beranian korban untuk menceritakan pada orang lain tentang perundungan yang diterimanya merupakan salah satu hal yang bisa membuat bullying atau perundungan itu tak berkesudahan. Untunglah Lana sudah mau terbuka kepada sahabatnya, dan sekarang perlu mendorong keberaniannya untuk terbuka kepada orang dewasa yang berwenang di sekitar mereka, yang merupakan salah satu upaya memutus rangkaian perundungan itu.

“Yang paling penting saat ini adalah terus mendampingi Lana, Mayang. Libatkan dia dalam kegiatan-kegiatan dengan teman lain. Jangan biarkan ia sendiri. Besarkan hatinya hingga tak ambil pusing dengan ejekan-ejekan usil itu. Kalau pas kamu di sana dan dengar langsung ada yang mengejeknya, tegur pengejek itu. Ingatkan bahwa itu perlakuan buruk dan tidak pantas kepada teman.”

“Apakah boleh aku yang lapor kepada Bu Wati, Bun? Aku yakin Bu Wati pasti punya jalan keluar yang tak akan mempersulit Mayang.”

” Hm, menurut Bunda sebaiknya Lana sendiri yang bercerita ke Bu Wati agar beliau bisa mendengar langsung dari Lana. Kau bisa meyakinkan Mayang akan perlunya Bu Wati tahu agar bisa menghentikan perundungan yang diterimanya. Tawarkan untuk mendampinginya bila ia tak nyaman menghadap Bu Wati sendiri..”

“Selain mendampingi Lana menghadap Bu Wati, apa lagi yang bisa kulakukan untuk Lana agar lepas dari masalah ini, Bun?” 

Bunda merasa besar hati mendengar nada tulus dalam pertanyaan Mayang. Khas Mayang. Putrinya itu memang lembut hati, pasti tak tega mengetahui sahabatnya bermasalah dan ingin membantu menyelesaikan atau paling tidak meringankan beban hati sahabatnya.

“Usahakan selalu bersamanya saat istirahat atau di waktu-waktu rawan gangguan anak itu. Selain itu yakinkan Lana bahwa ia harus berani melawan atau melapor ke guru bila diejek / diancam lagi. Anak bandel itu akan berpikir ulang untuk mengganggu Lana bila Lana tak lemah lagi.”

“Iya ya Bun, mungkin anak itu berani mengganggu karena selama ini Lana terlihat takut ya Bun.. Ah, atau kuajak dia ikut latihan silat saja sekalian ya?” Mayang terlihat bersemangat dengan ide mengajak sahabatnya ikut ekstra kulikuler bela diri yang juga ditekuninya beberapa bulan belakangan.

“Ide bagus kalau dia memang mau, Yang . Berlatih bela diri tidak hanya untuk jaga diri tapi juga penting untuk meningkatkan rasa percaya diri,” jawab Bunda

“Oya Mayang, perlu diingat bahwa kebiasaan saling ejek itu tidak baik. Mungkin awalnya cuma bercanda, tapi saat penerima candaan itu merasa tak nyaman atau terganggu maka itu sudah termasuk jenis perundungan verbal. Jadi kalian harus hati-hati dan lebih baik hindari melakukannya kepada teman.”

“Ya Bunda, insya Allah aku akan selalu ingat hal itu dan akan ingatkan teman-teman juga tentang hal itu. Ngomong-ngomong, Bunda masak apa hari ini? Aku sudah lapaaar..”

“Tenang bos kecil, mari bantu Bunda siapkan meja sementara Bunda ambil lauk kesukaanmu, ya?” jawab Bunda sambil tersenyum kecil dan beranjak ke dapur.

Sementara Mayang mengambil sikap tegap dan memberi hormat ala tentara. “Siap, Jendral!”

Tidak hanya siap membantu bundanya, dalam hati Mayang berjanji ia siap mendampingi Lana sahabatnya. Tenang Lana, kau tidak  sendiri…

***

Sumber bacaan : Bullying : Penyebab, Dampak, Jenis, Cara Mengatasi, dll. (Web Dokter sehat)

#ObrolanMayangdanBundanya lainnya : Obrolan sore Mayang dan Bundanya

82 Comments

  1. Iya benar sekali Mbak, salah satu menyebab bullying karena si korban tidak berani melaporkan kepada guru atau orangtuanya, mungkin karena takut. Semoga Lana akan menjadi gadis pemberani dengan bantuan Mayang yaa 🙂

  2. Baca ini memori saya kembali ke masa SD. Pernah diejek dan diancam sama teman sampai ga mau sekolah. Akhirnya dijenguk oleh kepala sekolah dan wali kelas, beberapa kali dibujuk dan didamaikan dengan anak yg mengancam. Barulah saya mau masuk kembali.

    Saya ngalamin bullying krn sifat pendiam, nggak pede dan terkesan lemah sama spt Lana.

    Walau sudah beberapa tahun berlalu traumanya masih ada. Duh, semoga tidak ada anak-anak lain yg mengalami kejadian seperti Lana.

  3. Semoga Lana baik-baik saya ya. Tidak ada pembuly lagi. aamiin

  4. anak pemalu sering jadi mangsa utama paraa pembully. saya juga sempet kesel. karena anak saya termasuk pemalu dan sulit cerita ke orangtua. cara yang saya gunakan selama ini harus lebih komunikatif dengan walikelas dan bertanya banyak ke teman-teman dekatnya.

  5. Cerita sederhana, namun sering terjadi dikalangan masyarakat saat ini, Anak yang sering mendapatkan bullyan memang harus punya teman dekat, yang siap mendengarkan curhatnya, agar anak tersebut bisa kuat dan mungkin akan punya keberanian untuk membela dirinya sendiri

  6. Jaman sekolah aku juga suka lihat teman-teman yang pada main ejek-ejekan mbak, ternyata itu termasuk bullying juga ya. Bullying jarus dihentikan tapi masalahnya banyak orang seperti Lana yang takut untuk melapor. Kalau tidak melapor malah akan berlanjut terus & membahayakan ya

  7. Langsung memoriku inget kejadian waktu kelass 2 SD pas jadi murid baru, aku takut sekolah, karena sering diejekin, dijahilin, sementara ku diem.

    Ah Lana, kamu ga senidri, banyak Lana2 yang lain mengalami sepertimu. Untungnya kamu punya temen seperti mayang yang peduli. Sementara aku tidaak, ku sendiri melawan rasa kesedihanku.

    • Peluuk… Klas 2 y Teh, aku dulu klas 3 awal jadi anak baru yg sempat dibully jg..untung ada kakakku cowo di klas 5 dan ada teman2 baru cewek yg baik..

  8. Mayang baik banget sih, penuh perhatian kepada Lana. Semoga banyak anak yang kayak Mayang ini, bisa memberikan bantuan kepada temannya yang seperti Lana, yang sekiranya lemah saat menerima perundungan. Penginnya sih di lingkungan sekolah itu zero bullying ya mba.

    • Beruntung duluuu..kupunya sahabat2 sebaik Mayang, Dik..sehingga tidak menjadi korban bully berkepanjangan saat jadi anak baru dari udik..haha..

  9. bener banget nih, bullying ini sesuatu yang wajib banget di lawan dan dilaporkan ke pihak guru, biar nggak banyak korban yaa

  10. Anak2ku dulu jadi korban bullying. Karena sering pindah, jadi anak baru terus, nggak ada yg belain. Alhamdulillah mereka bisa bertahan. Kalau si kakak memang tangguh, tapi si adik jadi super pendiam. Cara mereka melawan dengan jadi juara kelas terus. Tapi sebenarnya aku lebih senang anak2 melewati masa itu dengan gembira & banyak teman, bukan belajar terus menerus. Bullying memang perampas kebahagiaan anak2.

    • Haha..cara yg sama kulakukan saat jadi anak baru di klas 3 dulu. Memang ampuh, jadi tidak diremehkan lagi. Tapi adanya teman2 baru yg baik jg sangat mendukung. Trmksh sharing pengalaman ananda, mba Lusi..

  11. Anak saya juga pernah dibully temannya, syukurnya dia cerita ke kami, ortunya, jadi abinya hubungai ortu anak ybs, memberitahu agar menegur perilaku anaknya. kemudian naik kelas eh terjadi lagi, kali ini wali kelasnya cukup tegas, jadi beliau yang negur anak ybs. Alhamdulillah kini ga dibully lagi. Sedih banget kalau anak sampai jadi korban Bully. Thanks ya Mbak, bully ini emang peer besar kita bersama.

  12. Kalau saya yg jadi bundanya Mayang, saya bakal WA Bu Wati. Ceritakan masalah ini dan minta bantuan pihak sekolah untuk turun tangan, krn kejadiannya di sekolah.

    Teman sy ada yg jadi wali kelas. Dia sering menangani masalah murid, bahkan meski itu tdk tjd di sekolah, tapi pelaku dan korban satu sekolah.

    Bahkan katanya dia pernah terlibat dlm pengusutan kasus penculikan anak. Muridnya dibawa kabur bapaknya ke luar pulau. Bapaknya sdh cerai dr ibu si murid. Ibu si murid minta tolong kpd teman saya itu.

    Saya sampe heran, ternyata sampe sejauh itu fungsi guru/wali kelas.

    Oiya, itu kasusnya di SD, ya, jd murid-muridnya masih kecil semua.

  13. ceritanya inspiratif banget bun.
    thank you atas sharing hikmah lewat ceritanya ya… <3

  14. Ini tentang bullying yang dikemas dalam fiksi ya mbak? Setuju banget sama nasehat2 ibunya Mayang dan sikap Mayang

  15. kakak kelas memang bisanya suka gitu sih, semena-mena..
    suka ngebully krn merasa berkuasa..
    sepertinya di setiap sekolah selalu ada anak yang kelakuannya seperti itu yaa..

    seharusnya segera dilaporkan biar jera.. huhu

    • Iya..semoga bila ada anak yg bermasalah begini korban berani untuk cerita / lapor agar segera tertangani

  16. anak saya termasuk pemalu mbak, dia pernah di bully pas TK sama temannya, dibilang gendut 🙁 padahal yang pernah liat anak saya tuh bingung, gendut darimana hahahaa karena aslinya kurus, tapi emang chubby, dan yang bully tu anaknya lebih kurus lagi dari anak saya

  17. Kalau semua anak pemberani dan peduli sama temannya, tidak akan ada lagi kasus bully di sekolah ya, mba.
    Tapi memang agak2 ribet orang lain masuk dalam kasus seperti ini, korban harus benar2 siap untuk diselesaikan. Pendampingan pd korban memang pilihan tepat.

  18. saya korban bullying sewaktu sekolah, Mba. Akibatnya sampe sekarang masih gak percaya diri dengan bentuk tubuh sendiri (dibully karena terlalu kurus, hiks )

  19. Bullying itu dampaknya memang luar biasa yaa mba..makanya sejak awal kita harus sudah bisa mengidentifikasinya dan mengatasinya dengan baik. Lewat cerita ini bisa memberikan banyak pesan baik ya mba

  20. Bullying sedari kecil sudah ada dari jaman dulu sampai sekarang ya mbak. Apalagi untuk anak kecil rasanya bahaya sekali. Aku juga pernah di bully mbak di masa SD cuma karena dekat dengan Ibu jadi langsung di healing sama Ibu setiap hari.

  21. Bullying menyebabkan anak-anak jadi minder, penakut, dan tidak percaya diri. Harus secepatnya diatasi sehingga anak-anak tidak trauma.

  22. baca ini jadi inget anakku usia mau 4 tahun, dia sering sebel kalo diejek, meskipun hanya bercanda tapi bagi dia itu nggak banget 😀

  23. Dari dulu bullying ini udah ada sebenarnya ya, makin ke sini makin parah aja. Kalo zaman dulu kupikir hanya semacam becandaan aja, padahal itu termasuk dalam kategori bulliying

    • Iya..anak2 kadang tahunya itu becandaan dan ikut2an saja padahal itu pun menyakitkan hati pemerimanya ya.. Tapi kalau sudah ancaman / pemerasan itu lebih parah sih ya

  24. Suka ngga habis pikir deh sama anak yang suka ngebuli.. itu kenapa deh bisa jahat sama temannya sendiri hiks, anak aku termasuk yang suka di jailin sama temannya dan Alhamdulillah saat ini sudah tidak, karena walikelasnya langsung gercep dan kami minta solusinya

  25. Aku cenderung rame dan aktiv waktu SD tuh tapi tetep ada cowok yang ngebuly juga bilang aku si hideung. hahaha…sekarang aku sama dia item an dia jauh..xixiixi tapi udah ga ngebuly sekarang mah… kita se SD hampir kumplit kumpul di grup WA..mantaps ya hahaha..

  26. Sejak aku SD bullying emang ada mba dulu temenku diejek sampe.dikucilkan krn kulitnya maaf korengan sebadan2 kasian dia huhu makin bikin pendiam untung anaknya sabar

    • Iya mba..
      Sayangnya bullying ini ada dari SD hingga mungkin di setiap jenjang pendidikan.. sedih sekali..

  27. Duh sedihnya jika ada anak yang kena bullying ya mba. Dengan kisah cerita seperti ini semoga nggak ada kejadian lagi ya.

  28. Cerintanya bikin jadi refleksi, pelajarannya bisa kita ambil banget. Sedih ya di kenyataan bully itu memang dari anak-anak sekolah dasar udah banyak terjadi.

  29. Senang kalau ada teman yang mau bantu temanya yang dibully teman lainnya 🙁
    Aku tu agak protektif sama anak, semoga saja nanti kalau sekolah temannya baik2 dan anaknya mau cerita apa aja ke aku, semoga pihak sekolahnya jg ngawsin supaya tak ada bullying

  30. Bullying ini tidak boleh dilakukan sebab bisa menganggu kondisi psikis anak. Anak jadi kehilangan rasa percaya diri dan jadi pendiam. Sebagai orang tua kita harus bisa menasehati anak supaya jangan sampai menjadi pelaku bullying, sebaliknya jika anak kita menjadi korban bullying kita harus segera mencari solusi terbaik atas bullying yang dialaminya. Supaya tindakan bullying tersebut tidak mempengaruhi kondisi psikisnya.

  31. Karena karena penampilan fisik yaa…Lana mengalami bullying.
    Kalau boleh minta, semua orang pengen berpenampilan cantik dan sempurna.
    Sungguh aku turut emosi.

    Semoga masing-masing dapat konseling yang benar sehingga bisa saling memaafkan.

  32. Duh, perkara bully itu kadang ngeselin banget. Kalau ditelusuri biassnya si pembuly punya problem juga di rumahnya. Dia melampiaskan di luar rumah pada anak lain.

  33. Karena aku pernah merasakan sakitnya jadi korban verbal bullying, sekarang kalau nemuin hal tersebut, aku berani melawan, Mbak. Aku nggak mau jadi orang yang diem saja. Sakit rasanya. Terbayang-banyang pula sampai sekarang kalau tidak diselesaikan.

  34. sedih yah, tapi memang banyak sekali kejadian seperti ini . Bahkan dari kecil juga sudah banyak bullying ini .

  35. Bullying memang PR bgt untuk anak2 kita.
    Soale, kadang secara ga sadar, anak jadi korban, atau malah jadi pelaku.
    ortu memang harus lebih peka ya

  36. Benar sekali, Mbak Tanti.
    Saya pribadi tidak suka melihat anak satu mengecek teman lainnya. Biasanya lansgung syaa tegur. Tapi selalu ada pembelaan dari orang tua. Katanya.. Ah, namanya anak-anak. Aah.. anak-anak saja dipusingin dan Aah.. lainnya.
    Padahal dari kecil anak-anak diajarkan tidak membully. Enak yang membully, tapi menyakitkan bagi yang dibully.

  37. Kalau udah kena verbal bullying biasanya seseorang akan merasa tak percaya diri menurut saya. Butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa menyembuhkan luka batin. Mungkin karena pengalaman pribadiku juga, hehehe

  38. Masih banyak anak seperti kakak kelas si mayang ini mbak. Sayangnya mereka tidak sadar kalau perbuatannya itu bisa melukai perasaan temannya.

  39. Wah, Mayang kl ntar udah gedhe mau jadi pengacara gak, punya bakat tuh soalnya berani speak up tentang bullying yg diterima temannya

  40. SD masih pemanasan, bullyingnya. SMP baru jagonya.
    Meski gitu, memang nyata ada Mbak.
    Si tengah ku juga selalu diganggu. Kebetulan salah satu namanya Lana.
    Malah terbalik ya.

  41. Ini fiksi yang banyak banget memberi informasi tentang cara menangani perlakuan bullying, idenya bagus.

Leave a Reply

Required fields are marked *.