LALANG UNGU

Ruang berbagi pengalaman dan manfaat

Menjelang Ulang Tahun Mayang

| 57 Comments

[Fiksi] Lalang Ungu.  Malam terasa sepi, meski belum begitu larut. Suara hujan di luar terdengar samar, ditingkah suara penyiar televisi yang sedang memberitakan dimulainya pemberian vaksin baru kepada beberapa pejabat dan tokoh masyarakat. Setelah menyimak berita itu beberapa saat, wanita yang sebelumnya bersandar nyaman sambil menonton televisi itu beranjak dari sofa, mematikan televisi, lalu melangkah menuju kamar terdekat.

Perlahan diketuknya pintu kamar itu, menunggu sejenak, lalu membukanya masih dengan perlahan. Di dalam, lampu kamar masih menyala terang, sehingga mudah baginya menemukan sosok mungil yang duduk di depan meja belajar, yang hanya menoleh sebentar menyambut kedatangannya, lalu kembali bertopang dagu dan menatap ke dinding kosong di depannya.

“Kenapa, Sayang? Bunda kira kau buru-buru masuk kamar setelah makan malam tadi karena ada PR atau sudah mengantuk..” tanya wanita itu sambil mendekat lalu mengelus lembut rambut putrinya.

Nggak papa kok, Bun.. Lagi suntuk saja,” jawab gadis kecil itu enteng. Sejenak kemudian dia berdiri dan menggandeng bundanya ke arah tempat tidur. “Temani aku sebentar, ya Bun..” pintanya.

Sang ibu mengangguk, sambil tersenyum kecil menuruti permintaan putrinya, berdua mereka kemudian merebahkan diri di atas tempat tidur berseprei bunga-bunga nuansa merah muda khas kesukaan sang gadis.

“Bun, punya hari ultah yang paling berkesan nggak?”

“Hmm, ada banyak lah…”

“Yang paling, Buuun.. Cuma satu laaah,” jari-jari mungil gadis itu menggelitik pinggang ibunya.

“Yeey, jangan sewot dong, Yang. Ni bunda lagi mengingat-ingat nih..” jawab si bunda sambil tertawa kegelian. “Hari ultah sweet seventeen tuh yang paling berkesan, Yang..” tuturnya kemudian.

“Naah..sudah kutebak loh, Bun. Pasti itu jawabannya. Mainstream banget tuh..”

“Halaaah, gayamu itu lho, Yang. Memang mainstream itu apaan coba?” tanya Bunda yang merasa geli dengan gaya bicara gadis kecil menjelang remajanya.

“Yaa..biasa-biasa saja, begitu kan? Aku sering kok baca kata itu di sosmed, hehe..”

“Hehe..iyaa.. Memang rata-rata gadis merasa ulang tahunnya ke-17 itu spesial. Tapi, coba tebak lagi alasan lainnya. Yang anti mainstream yaa..”

“Hmm, kalau alasannya karena mulai masuk masa dewasa, itu umum ya? Atau, karena mulai boleh pacaran? Ah..itu umum juga… Nah, pasti karena punya KTP baru, ya Bun?” si gadis menerka-nerka dengan gayanya yang khas. Menyebabkan ibunya tertawa lepas dan mengacak-acak rambut putrinya.

“Salah semuaaa… Itu semua masih masuk kategori umum menurut Bunda, Mayang..”

“Lalu…apa alasannya, Bun?” rupanya si gadis makin penasaran.

“Hmm, Bunda merasa saat itu spesial, karena itu ultah pertama Bunda yang tidak dirayakan bersama”

“Maksudnya, Bunda sedih karena saat itu tidak mengundang teman-teman sekelas di perayaan ultah 17 Bunda?”

“Eh..sebentar… Yang Bunda maksud perayaan itu, bukan mengadakan pesta mengundang teman-teman begitu lho, Mayang.. Sejak kecil kami terbiasa merayakan ulang tahun secara sederhana, makan bersama seluruh keluarga lengkap : nenek, bapak, ibu, kakak dan adik. Wis, gitu aja, tapi sangat membahagiakan.”

“Iya Bun, seperti yang selama ini kita lakukan. Merayakan ultah bersama ayah dan bunda, keluarga nenek dan juga sahabat Mayang, sangat membahagiakan. Tapi, apa yang terjadi saat itu?” tanya Mayang yang merasa makin penasaran.

“Jadi, itu pertama kalinya Bunda tidak bisa merayakan ultah tepat di harinya, bersama keluarga secara lengkap. Saat itu Tatung*mu dinas luar kota, hingga beberapa hari setelah tanggal ultah Bunda. Yangti**mu sih sudah merencanakan tetap memasak makanan-makanan kesukaan Bunda untuk acara makan bersama keluarga tepat di tanggal itu, tapi Bunda menolak.”

“Jadi, akhirnya tak ada perayaan sweet seventeen buat Bunda?”

“Ada sih.. Acara tumpengan dan syukuran bersama keluarga itu akhirnya bisa terlaksana menunggu Tatung  pulang..”

“Oh..syukurlah.. Bunda jadi tetap punya kenangan manis sweet seventeen..” kata Mayang sambil tersenyum.

“Iya, Alhamdulillah.. Semoga nanti saat kamu sweet seventeen akan punya kenangan yang lebih indah, Sayang..”

“Aamiin.. Tapi sayangnya, ultahku bulan depan saja tak akan sebahagia sebelumnya, Bun” suara Mayang lirih.

“Lho, kenapa tidak? Oh, karena pandemi sehingga kita tak bisa mengundang keluarga, juga Lana dan sahabat-sahabat dekatmu?”

“Itu juga.. Tapi yang paling bikin sedih karena ayah tak ada di sini pas aku ultah. Tanggal 10 bulan depan itu kan hari Rabu, Bun.. Ayah baru bisa pulang setiap Jumat sore kan.. Ah, sejarah Bunda terulang padaku, meski bukan di ultah ke-17 ku..” ujar si gadis sambil manyun.

“Tidak hanya kejadian itu yang akan berulang, tapi perkataan Yangti pada Bunda saat itu juga akan Bunda ulang untukmu, Mayang..”

“Apa itu, Bun?”

“Tuhan sedang mengajarkan padamu, bahwa dalam hidup ini tidak semua yang kita inginkan dapat terpenuhi, namun itu tidak boleh menjadi penghalang bahagia kita. Juga bahwa kasih sayang sejatinya tidak akan terpisahkan oleh jarak. Meski tidak hadir secara nyata di sisi kita, orang-orang yang menyayangi kita akan tetap hadir melalui doa-doa mereka.”

Sejenak hening tercipta di antara mereka. Mereka berbaring miring saling berhadapan, dan keduanya bertatapan dalam diam. Tangan sang ibu menepuk-nepuk lembut lengan putrinya yang sedang termangu.

“Jangan lupa, Sayang.. Kita tetap bisa merayakannya di tanggal 12 atau 13, setelah ayah bersama kita. Dan Bunda yakin, Eyang, Pakdhe-Budhe, Oom-Tante, mas-mbakmu, juga Lana dan sahabat-sahabatmu lainnya pas hari H itu akan menyibukkanmu dengan video call sepanjaaang hari. Kita juga bisa mengirim kue / tumpeng mungil untuk berbagi bahagia dengan mereka,” ujar Bunda kemudian.

Seulas senyum terbentuk di bibir Mayang, ada rona bahagia dan matanya berbinar cantik. “Kalau boleh, Bunda buatkan juga kue atau tumpeng kecil untuk adik-adik panti juga ya?” pintanya kemudian.

Sang ibu tersenyum lebar, lalu memeluk putri kecilnya yang beranjak remaja dengan tubuh mungil namun berhati besar itu. “Iya sayang, kita tentu tak akan melupakan adik-adik panti yang diasuh Tante Rima.”

“Terima kasih, Bunda. Aku nggak akan sedih lagi. Aku bahagia, punya kalian semua yang sangaaaat menyayangiku…” bisiknya sambil menghujani pipi bundanya dengan ciuman. Keduanya tergelak bersama kemudian.

“Sudah malam…kita tidur yuk.. Berani tidur sendiri, atau harus Bunda keloni?”

“Berani sendiri laaah… Selamat malam, Bunda..”

“Selamat malam, sayang…”

Foto : pixabay

***

*Tatung : panggilan sayang (di keluarga penulis) dari cucu kepada Kakek, berasal dari kata ‘Eyang Kakung’

*Yangti : panggilang sayang cucu kepada Nenek, berasal dari kata ‘Eyang Putri’

Cerita ini adalah fiksi yang diikutsertakan dalam Lomba Blog Menulis Fiksi “Ulang Tahun” yang diselenggarakan oleh Komunitas Blogger Semarang Gandjel Rel

57 Comments

  1. Terus terang yang paling kutunggu saat ulang tahun adalah: hadiah

  2. wah keren nih gandjelrel kayaknya beberapa kali ngadain lomba nulis cerpen ya? semoga menang yaa mbaa.. cerpennya bagus

  3. aku baru tahu ada istilah tatung, tahunya mbahkung, akung, hehehe. btw makasih sudah ikutan ngefiksi, memang benar harus mengenalkan kepada anak bahwa hidup tidak selalu sesuai keinginan

    • Hihi..mungkin hanya di kelg kami saja. Harusnya sih Kakung / Akung tapi karena cadel anak2 biasanya nyebutnya Tatung..

  4. wah, asik bgt nih gandjel rel bikin lomba cerpen. Blogger sana aktif semua ya mba. seneng lihatnya. btw, ttg ulang tahun emang sering dinantikan anak2. mereka senang dg hari bahagianya yg setahun sekali itu. Aku sih dikasih ucapan aja udah senang. kalau anak2 pasti berharap sesuatu yg membahagiakannya.

  5. Aku juga Dari kecil kalo ultah ga ada rame2 cuma makan2 sekeluarga..itu aja udah bahagia bangrt. Sampe skr anak2 juga gitu ga tak biasakan party2 toh yang penting bersyukur ya mbak. 🙂

  6. iya mbaaa… alhamdulillaah ya menambah usia dan keberkahan. Anak – anak biasanya ingin yang istimewa yaa

  7. Suka dengan pesan Bunda Ke Mayang bahwa “dalam hidup ini tidak semua yang kita inginkan dapat terpenuhi, namun itu tidak boleh menjadi penghalang bahagia kita. Juga bahwa kasih sayang sejatinya tidak akan terpisahkan oleh jarak. Meski tidak hadir secara nyata di sisi kita, orang-orang yang menyayangi kita akan tetap hadir melalui doa-doa mereka.”

    Manisssss banget pesannya.

  8. Daebak mba Tanti juara, upload pertama nih hehehe
    cerita yang manis sekali mba. Aku jadi kangen di kado hahaha

  9. Menginspirasi sekali mba, saya suka penjelasan yang ini “Tuhan sedang mengajarkan padamu, bahwa dalam hidup ini tidak semua yang kita inginkan dapat terpenuhi, namun itu tidak boleh menjadi penghalang bahagia kita. Juga bahwa kasih sayang sejatinya tidak akan terpisahkan oleh jarak. Meski tidak hadir secara nyata di sisi kita, orang-orang yang menyayangi kita akan tetap hadir melalui doa-doa mereka.”

    Ceritanya bagus dan inti sarinya dapet. Mantap

  10. Huhu berhasil bikin aku ngenak. Selaamat ulang tahun, Mayang.
    Gpp sih yaa telat yang penting masih berkesan.

    Dan quotesnya setuju banget, jangan jadikan ketidakhadiran mereka membuat kita tidak bahagia, masih ada hari esok. Nice!

  11. Aku bacanya semyum-senyum sendiri seakan flasback waktu dapat kado ultah yang ke 17th hehe.

  12. Cerpennya bukan makanan sih, tapi abis baca ini, di kepalaku muncul kata ‘manis’. Aku suka karakter Mayang yang cerdas dan lucu. Rasanya gemes baca dialog antar anak dan ibu yang lagi curhat-curhatan kayak gini. Perayaan ulang tahun tanpa kehadiran orang tersayang emang rasanya agak kurang ya, tapi ya diberkahi umur yang panjang rasanya sudah lebih dari cukup juga, hihi. Selamat ulang tahun, Mayang.

    Oh ya, ini hadiah lombanya ternyata cukup menggiurkan. Aku jadi pengen bisa nulis cerpen kayak gini juga biar bisa ikutan huhu.

    Semoga menang ya, Kak! Best of luck.

  13. Bagi anak usia remaja, aku masih ingat juga sangat menantikan pergantian usia 17 tahun. Sampai-sampai, aku inget betul siapa orang yang pertama kali mengucapkan waktu itu.
    Duuh, jadi malu.

    Baca cerita kak Tanti, jadi ingat zaman remaja duluuuu…kala.

  14. Lombanya kereen…. Aku belum berani ikutan karena ngga pinter bikin bahasa yg indah.

  15. Makan bersama keluarga besar, memang selalu menyenangkan.
    Semoga Mayang juga mendapatkan momen tersebut dan menjadi kenangan perayaan ultah terbaiknya juga ^^

  16. Ultah tanpa kehadiran org yg kita sayangi memang berasa beda ya mbak..smoga pandemi lekas berakhir. Sukses ya mbak ngefiksinya ^^

  17. Membaca kisah ini mau tak mau membuatku terlempar ke masa ulang tahunku yang ke 17 dulu

  18. Aku tim yang nggak pernah ngrayain ultah mbak hahaha karena dari kecil memang nggak dikenalin sih, tapi aku suka sama pesan yg disampaikan ibunya Mayang

  19. Ultah paling berkesan tu yang ketujuh belas tahun. Sweet seventeen katanya. Peralihan ke remaja.

  20. waktu kecil sih yang paling ditunggu kadonya hahaha, kalau sekarang didoaian aja sudah sangat berarti :))

    btw, baru ingat juga kalau mau ikutan lomba ini hehehe

  21. Di usia menginjak 17 tahun aku apa ya kok lupa heheheh. Terlalu banyak kenangan yang tumpang tindih. Sweet mba Tan. Fiksimu masih selancar tol.

  22. Waaah, tatung. Kek panggilan anak kami ke simbahnya yg dikampung mbaaa. Btw, gudlak ya mbaaaa. Aku lagi ngumpulin ide biar ndak ketinggalan ultah GR nih

  23. Aku tim ga pernah merayakan ultah
    Tapi khusus pas switsepentin diberi sangu spesial utk traktir teman2 dekat. Alhamdulillah pernah merayakan sesekali.

  24. Terharu bacanya..benar banget…tak semua yang inginkan bisa terpenuhi tapi tak boleh jadi penghalang bahagia kita..

  25. Pernah pas kelas 2 SD dirayain ultahnya di sekolah. Tp setelah itu nggak pernah ada perayaan apalagi sweet seventeen hahaha…tapi ini jg mulai membiasakan ga perlu ada perayaan. Cukup ucap syukur dan doa. Kalau ada rejeki ajak makan2 sekeluarga.

  26. Jadi teringat ultah 17 ku, disuruh ortu undang tiga teman makan-makan di rumah yang datang sekompi hihi..mumet…

  27. Jadi menginginkan ulang tahun sweet seventeen, nih Mbak. Hihi.

    Dulu udah kelas 3. Biasanya aku ngga pernah ngerayain ultah even makan2 atau yg lain.
    Tapi pas kelas 3 itu tiba2 Kepikiran ntar nggak ketemu temen2 lagi sampai lama, jadinya ngajakin temen2 makan nasi kuning di rumah. Wkwkwkwk
    Trus dapat kiriman buku dari sahabatku SMP. Ini yg paling berkesan

  28. Aku nggak pernah merayakan ultah secara khusus. Bahkan keluarga terdekat juga lupa kapan tepatnya aku dilahirkan. Hanya tanggal yang selalu tertulis berdasarkan tanggal lahir di KTP saja sebagai penanda bahwa telah bertambah usiaku di dunia. Dan mulai mendekati kehidupan setelahnya.

    Apa pun, semoga usia kita selalu berkah ya Mayang…

  29. Aku jadi pengen mengulang sweet 17 ku lagi hehe. Nggak ngundang orang banyak juga, cuma sama sahabat2 terdekat, terus ditraktir sama bulik nonton AADC hahhaa.

  30. Ucapan Yangti pada bunda yang diulang kembali pada Mayang sebuah pesan yang bagus banget.

    Aku ngajarin anakku kalo ultah untuk bersyukur, berbagi rejeki, meski pernah dirayakan saat mereka usia balita. Tapi begitu udah sekolah paling makan bersama aja.

  31. Jadi deja vu, pernah ngerasa begitu disayang sama Mbah Kakung dan Mbah Uti. Waktu kecil ulang tahun dirayain, bikin kue bolu dikasih bunga-bunga, pakai baju baru, ngundang tetangga kiri dan kanan. Jadi kangen ih 🙂

Leave a Reply

Required fields are marked *.