LALANG UNGU

ruang ekspresi sepotong hati

Menulis Ekspresif, Self Healing Ku Saat Lelah Hati

| 60 Comments

Menulis ekspresif, self healing ku saat lelah hati. Hai Sahabat Lalang Ungu, pernah berada di kondisi jiwa yang sangat labil, moody, sering sedih tanpa sebab jelas, marah-marah meski hanya dengan pemicu yang sepele, dll? Aku pernah tuh.. Rasanya suntuk banget, ada beban di hati yang tak tahu bagaimana melampiaskannya. Nah, kali ini aku akan berbagi pengalamanku tentang hal ini ya..

ilustrasi : Pixabay

Saat merasakan kondisi itu, biasanya aku lebih memilih untuk menjauh dari keramaian, menyepi, agar tak mudah terpicu emosiku oleh hal-hal sepele dan melakukan hal-hal yang kelak bisa kusesali.

Pada dasarnya aku jarang curhat meski tak kekurangan sahabat, entah kenapa aku lebih nyaman mencari solusi atas masalahku sendiri. Eh, kecuali saat terasa tak sanggup lagi menahan beban, baru deh memilih kakak atau sahabat terdekat untuk cerita. Nah, waktu itu aku mencoba membaca-baca untuk mencari solusi dari masalahku.

Alhamdulillah, kutemukan beberapa artikel yang membahas tentang masalah yang tak jauh dari apa yang sedang kualami saat itu. Salah satunya adalah 5 tanda lelah hati yang bisa berdampak pada kesehatan mental. Hm..apa saja tanda lelah hati itu?

Lelah hati ( ilustrasi : Pixabay)

5 Tanda Lelah Hati

Ini lah ke-5 tanda lelah hati, yaitu : (1) Lebih sensitif dan mudah tersinggung meski dengan hal-hal sepele; (2) Sulit tidur, menjurus kepada insomnia; (3) Mudah merasa sedih, meski disebabkan hal-hal sepele / sederhana; (4) Merasa lelah dengan akitifas yang monoton; (5) Membenci situasi yang sedang dihadapi namun tak mampu keluar dari situasi tersebut. (Sumber : artikel Popmama, Februari 2020).

Ok, jadi yang kualami itu adalah lelah hati, yang harus segera kuatasi agar tidak memberikan dampak pada kesehatan mentalku. Lalu bagaimana caraku mengatasinya? Untuk itu, aku kembali mencari info dari beragam artikel kesehatan yang tersebar di dunia maya. Memilah dan memilih yang paling sesuai untuk kuadopsi sebagai langkah-langkah menyembuhkan luka hatiku. Inilah rangkuman beberapa artikel yang kubaca itu.

Lelah Mental

Adapun Lelah Mental  (fatigue) adalah kondisi di mana tubuh selalu merasa lelah, letih, kurang tenaga, tak dapat berkonsentrasi, tidak memiliki motivasi dan merasa kekurangan energi. Merubah gaya hidup antara lain memperbaiki pola konsumsi dan pola istirahat adalah salah satu upaya yang disarankan untuk mengatasi kelelahan mental ini. Ada 3 golongan orang yang rentan dengan fatigue ini yaitu : (1) usia 40 th ke atas; (2) wanita; (3) stress. Nah loo..mesti waspada nih. Aku ada di golongan ini.. ☹️

Self Healing

Pengertian Self Healing

Oya, pencarianku di artikel-artikel kesehatan itu membawaku mengenal istilah self healing yaitu suatu proses sederhana membantu penyembuhan luka batin dengan melibatkan kekuatan diri secara penuh agar dapat beranjak / bangkit dari penderitaan (Sumber : pijarpsikologi dot com )

8 Metode Self Healing

Nah dalam salah satu artikel di Liputan 6 dot com (Juli, 2018) kubaca setidaknya ada 8 metode dalam self healing yaitu : (1) Me time; (2) Berdialog dengan diri sendiri; (3) Berdamai dengan keadaan; (4) Mindfulness (berpikir dengan kesadaran penuh); (5) Meningkatkan self compassion (kemampuan memahami kondisi emosi diri sendiri, respon emosi atas penderitaan yang dialami disertai keinginan untuk menolong diri sendiri); (6) Jadikan penyesalan sebagai kekuatan; (7) Tempatkan masa lalu pada tempatnya; (8) Menulis ekspresif.

Menulis Ekspresif

Nah, aku paling tertarik dengan menulis ekspresif yang disebutkan di sana. Menulis ekspresif di sini adalah upaya yang dilakukan untuk mengungkapkan segala emosi yang dilakukan saat stress datang. Menulis untuk mengeluarkan segala perasaan yang dirasakan saat itu tanpa memperhatikan aturan-aturan yang berlaku seperti ejaan, tata bahasa, tanda baca, dll. Ah, ini sih aku sering melakukannya!

Aku ingat, saat suntuk biasanya aku menuliskan /mencorat-coretkan apa yang kurasakan di selembar kertas. Kuisi penuh kertas itu dengan segala yang lewat di benakku saat itu. Tumpang tindih tak beraturan. Kadang tak hanya tulisan, kusertakan pula coretan-coretan gambar tak berbentuk bertumpuk juga di sana. Lalu setelah puas kupenuhi lembaran kertas itu, kusobek kecil-kecil sebelum kubuang. Apa yang kurasakan kemudian? Plong rasanya.

Corat-coret di kertas (ilustrasi : pixabay)

Nah, baru kali ini aku tahu bahwa apa yang kulakukan saat itu adalah bagian dari apa yang disebut menulis ekspresif ini!

Menulis ekspresif itulah yang kemudian kulakukan (kembali) saat ini ketika merasakan kondisi amat sangat suntuk yang ternyata bernama lelah hati itu. Tak selalu menggunakan media lembaran kertas, sekarang aku lebih sering menuliskannya di catatan pada HP atau draft blog. Jika telah puas mengeluarkan uneg-uneg, tinggal hapus saja, tak perlu menyobek-nyobek kertas lagi! Haha.. Ya meskipun aktivitas menulis dengan tangan dan merobek-robek kertas itu kurasakan lebih cepat meredakan emosi. 😁

Menulis Ekspresif di draft Blog ( ilustrasi : Pixabay)

Tak jarang pula tulisan tak beraturan itu setelah kubaca lagi justru memunculkan suatu ide untuk kutuangkan dalam tulisan lain yang lebih terstruktur, entah itu puisi ataupun fiksi, yang kemudian bisa menjadi konten blog. Alhamdulillah.. Tapi itu tak sering sih, yang lebih sering adalah kuhapus karena tak layak tayang tentu saja..haha..

Sahabat, demikianlah caraku mengatasi lelah hati yang tak kupungkiri kadang datang tanpa diundang (alhamdulillah sekarang tak terlalu sering sih), selain melakukan menulis ekspresif itu, aku juga mencoba menerapkan ke-7 metoda self healing lainnya. Tidak semuanya kulakukan dalam satu waktu (karena keterbatasanku tentunya), tapi beberapa di antaranya yang kurasa paling cocok dengan kondisiku saat itu dan mampu kulakukan. Me time selalu kuupayakan juga.

Bagaimana denganmu, teman? Apakah kalian pernah mengalami lelah hati seperti ini, dan bagaimana cara kalian mengatasinya? Yuk, bagi ceritanya di kolom komen ya.. Terima kasih..

60 Comments

  1. Kalo sedang lelah hati, aku juga meluapkannya melalui tulisan mba. Tulisan buat dibaca sendiri. Kalo sudah lelah sekali biasanya udah ga mampu dituliskan. Bisanya aku curhat sama Allah dengan sholat, setelah itu nangis sampe puas.

  2. Sama … kalau udah sumpek banget, aku tulis di kertas. Sengaja tulis tangan supaya capeknya lebih berasa, hahaha. Setelah itu ga ku robek-robek, biarin aja di situ. Palingan nanti suamiku yang buang, dipikir kertas bekas.

  3. Setiap jiwa akan merasakan lelah hati Mba, tugas kita belajar mengelolanya. AKu pun sama, dari awal ngeblog tujuanku me time, healing. Lama2 belajar mindfulnees, sekarang bars dan senang akhirnya bisa kontribusi ssama mentemen yang mengalami lelah hati, depresi, anxiety dll.

    Seruu banget menggeluti dunia baru, dan lagi mulai menulis sharing tentang kesehatan mental. Semoga kita semua bisa mengendalikan diri sendiri ya Mba.

  4. Aku juga setuju writing is healing. Menulis adalah sarana untuk menjaga kewarasan hati semangat ya Mba semoga berbahagia selalu

  5. aku juga jarang curhat gitu mba.. lebih memilih untuk menulis aja sbg sarana ku kencurahkan hati. terasa lebih plong setelahnya deh..

  6. Yap mba. TErkadang lelah hati ini mau tak mau harus tteap diterapi biar ngak larut larut. Aku blm nyoba secara khusus sih self healing begitu mba. Tapi ntar aku coba 🙂 Makasih

    • Dari ke-8 metode itu mgkn bs dicoba & temukan mana yg dirasa paling pas mba..karena masing2 kita kan beda ya..

  7. Aku sering gak bisa tidur kalau malam, kak..
    Ternyata termasuk lelah hati dan aku gak menyadarinya.
    Haturnuhun kak…tipsnya.

    Langsung praktek.
    Paling seneng kalau disuruh curhat.

  8. Waktu aku masih menganggur aku sering banget nulis ekspresif mba terlebih aku saat itu merasa sudah putus asa, barunsaja kemarin kutemukan potongan surat2ku hahaha malu sendiri bacanya

  9. Aku pernah mbak lelah hati dan memang kalau lelah hati akan berpengaruh ke semua kegiatan. Pernah sesekali menulis ekapresif mbak dan kalau dibaca suka refleksi lagi.

  10. Saya pernah banget bebrapa kali mengalami gejala lelah hati. Persis seperti yang Mbak sampaikan di atas. Tapi seiring berjalannya waktu Alhamdulillah sembuh. tentu dengan melakukan self healing, berdamai dengan diri sendiri dan berdoa.

  11. Bener pisan iya mbak menulis ekspresif cocok bagi saya dan berdoa pada Allah

  12. Aku rasa kita semua pasti pernah yang namanya lelah baik hati, mental maupun pikiran. Kalo aku sedang ngalamin itu semua biasanya aku berdoa, curhat sama teman, melakukan aktivitas lain di luar rutinitas. Menulis juga salah satunya. Meski akhirnya kertas itu cuma disobek-sobek biar nggak ada yang baca semua coretanku, hi, hi.

  13. Benar sekali mba, kalau sudah mood naik turun kok rasanya saya sendiri pun ingin ngomel2 saja entah kepada siapa. Biasanya sya diam sepanjang hari. Mungkin orang2 sekeliling sya jadi heran kali ya.

  14. Ah, menulis ekspresif namanya tho. Yuni kadang-kadang juga begitu. Kalau lagi suntuk sih, tanpa sadar ambil kertas dan pena. Kemudian menulis apa saja di kertas itu. Entah nama orang, gambar abstrak (coretan nggak jelas) atau apa saja terkait pemikiran hati. Biasanya sih ketika kertasnya udah penuh coretan kadang terbuang, sesekali menjadi tulisan cerpen di blog. #eh. Hehehe

  15. Iya mb usia 40 keatas rentan yg namanya fatique alias lelah mental..menulis bisa jd self healing y mb

  16. Sama! Ternyata namanya menulis ekspresif ya. Untuk curahan hati yg tanpa sensor aku masih mengandalkan nulis di buku sih mba. Kadang full bahasa Inggris kalo pas kesel bgt hahaha

  17. Saya sering banget nih mbak, susah tidur sampai jam 24.00 bahkan lebih. Padahal seharian sudah kerja, sampai rumah belum sempat istirahat. Rasanya capek sekali tapi tetap nggak bisa tidur. Mungkin stress yaa.

    Paling sering menumpahkan kekesalan/kemarahan dengan menulis, tapi hanya sementara saja kemudian dihapus lagi. Tapi kalau sudah menumpahkan perasaan rasanya legaa.

  18. Jaman dulu pernah ngalami lelah hati karena masalah di tempat kerja. Udah curhat dengan teman kantor yang satu ruangan, adiknya bos, teman kerja dari konsultan, hahahaa. Pokoknya yang punya hubungan kerja deh, akhirnya mentog maju ke pakbos. Karena memang masalahnya bukan di aku nya mbak, tapi teman kerja yang pakai duit, hihiii malah curhat di sini. Alhamdulillah ancaman aku yang mau resign kalo teman yang korupsi enggak ditindak lebih lanjut didengar pakbos. Ya karena aku diteror waktu itu, sempet nangis juga di tempat kerja. Adiknya bos dan kepala cabang lainnya sampai ngasih semangan, minta aku jangan keluar kerja.

    Kalo masalah yang lebih ringan dari masalah di atas itu paling aku alihkan dengan membaca novel favorit, atau nonton film. Masalah terberatku cuma itu aja sih, alhamdulillah solusinya waktu itu ya emang kudu ngganti ya yang korupsi, jangan neror auditornya alias aku.

    • Alhamdulillah masalah berat itu terpecahkan dg baik ya mba.. Melakukan hobi memang salah satu cara self healing yg tepat juga ya mba..

  19. Berdasarkan pengalaman pribadi jaman pindahan ke Sidoarjo pas lagi lelah hati dan sedih banget obat yg ampuh ya nulis. Somehow abis nulis tuh hati jadi enteng gitu ya mbak beban terangkat

  20. Cara seru ni, buat self healing Lelah Hati atau Lelah Mental.

    Endingnya malah jadi tetap produktif menulis ya. Asyik ^^

  21. sayapun kadang suka menulis sambil dicorat coret kalau lg kesel atau ketika ingin mengeluarkan uneg2 yg tersimpan, dan rasanya mmng lega ya mba bs mengeluarkan perasaan yg kdang nggk tersampaikan dngan berecrita/curhat ke orang lain

  22. Aku sempat ikut self healing dengan writing di kota lama, rasanya memang lega ya abis curhat dengan kertas begitu..harus rutin dilakukan biar terhempas stres..

  23. Mbak, aku ini tipe borok, tibo ngorok, ada masalah apapun, perkara tidur ya gampang. Aku kudu banyak bersyukur, ya.

    Lelah hati? Pastilah, Mbak. Ada beberapa. Salah satunya sama teman di masa kecil. Alhamdulillah, sudah kelar semua dan happu ending. Jadi, rasa bersalahku sudah berkurang.

  24. Menulis ekspresif memang Paling Joss. Bikin cepet release emosi negatif. Kalau sekarang aku kadang suka smulean saat lagi lelah hati.. hehe.. habis nyanyi2.. jadi semangat lagi wkwk.

  25. writing is healing ternyata benar ya mbak, kebtulan saya belum pernah merasakan kesal sampai merobek kertas tulisan saya mbk untuk meluapkan emosi, sy justru hobi banget ngumpulin kertas sisa tulisan itu dalam bilangan tahun bahkan

    • Aku krg suka lupan emosi itu terbaca org lain..jadi sblm dibuang kupastikan kertasnya sdh terobek-ribek..hihi..

  26. Aku pun kalau lelah hati blass tidur jadi ga berkualitas rasanya, selelah apapun klo yg lelah bukan badannya, tidur gabisa jadi obat, makanya kudu ada saluran self healing yg lain

  27. Itulah yang kulakukan ketika postingan Bahasa Jawa keluar di blogku mba hehehe… Hampir sebagian besar tulisan itu publish ketika sedang kzl dan butuh ditularkan ke orang lain tanpa yang baca tau kalau aku sedang lelah hati. :)) Malah kata orang tulisanku itu menghibur, padalo iku sing nulis sedang stres. 😀

  28. Aku pinginnya nulis2 . Tp saat ini sepertinya tidur jd pelampiasan biar lupa masalah. Tp waktu bangun..inget lagi…huwaaa

  29. Kayaknya aku sekarang lelah hati, deh mbak. Pengennya sabtu minggu ngedrakor. Hehehe, tapi betul ya, menulis itu bisa juga buat katarsis. Thanks ya

  30. Menuangkan sebagian isi kepala (baik ekspresif maupun tidak) sepertinya memang mengurangi beban ya. Seolah ada kepenatan yang berkurang. Menulis ekspresif mungkin bisa dibilang semacam terapi juga. Terlepas nanti ada yang baca atau tidak, atau hanya untuk disimpan sendiri, yang penting bebannya udah sedikit pindah hehe.

Leave a Reply

Required fields are marked *.