“Mungkin tidak setiap hari baik, namun ada sesuatu yang baik di setiap hari. Dan tarian adalah kegembiraan gerakan dan hati kehidupan”
Aku lupa pernah membaca quote tentang tarian itu di mana, namun aku setuju dengan petikan itu karena pada dasarnya aku memang penikmat tari. Sejak kecil kami telah diperkenalkan dengan tari, mengikuti latihan tari Jawa adalah salah satu rutinitas menyenangkan di masa SD-SMP kami. Ah…kangen juga dengan masa-masa itu!
Meskipun sudah lama tak lagi aktif menari, namun masih selalu suka menikmati gemulai para penari dalam aneka tarian yang tersaji, baik melalui sebuah tontonan langsung ataupun melalui video / film. Itu sebabnya, aku langsung mengiyakan dengan senang hati ketika beberapa waktu lalu seorang sahabat mengundangku mengikuti acara private film screening Dancing Joy Movie.
Menikmati tarian dari 14 negara dalam satu sajian film? Wow..pasti asyik! Nah..melalui tulisan ini akan kubagikan keasyikan itu pada kalian 🙂
Tentang Dancing Joy Movie

Apa itu Dancing Joy Movie?
Sebelum kucerita lebih lanjut, ada baiknya ku perkenalkan dulu tentang film yang kutonton kemarin ini ya..
Dancing Joy Movie adalah sebuah film dokumenter berisi tari-tarian yang merepresentasikan budaya dari 14 negara yang berbeda yang keseluruhannya terjalin dalam satu musik klasik yaitu Beethovent’s Ninth Symphony.
Simponi no 9 atau terkenal juga sebagai “Ode to Joy” ini merupakan karya terakhir Sang Legendaris Ludwig Van Beethoven yang digubah pada tahun 1824 dan pada gerakan keempat / terakhirnya menggunakan choral symphony -paduan suara dan penyanyi solo- dengan menggunakan lirik dari puisi ciptaan Friedrich Schiller.
Kate Tsubata -produser film ini- dalam konferensi pers di Hotel The Sidji Pekalongan pada 21 Juni 2018 lalu menyatakan bahwa pembuatan film ini adalah untuk perdamaian. Menurutnya, seni tari yang ditampilkan dalam film mempunyai kekuatan untuk menyebarkan pesan-pesan perdamaian.
Oya, tim kreatif Dancing Joy Movie ini ada 4 orang, yaitu : Kate Tsubata (producer), Lan Tsubata Lee (director), Henrik A Meyer (director cinematography) dan Yousake Kiname (camera operator). Sedangkan unit producer dari Indonesia ada Isman Habibillah dari Global Peace Foundation (Jakarta) dan Jachinta Chandrasari selaku koordinator di Pekalongan.

Partisipasi Pekalongan Menari dalam Dancing Joy Movie
Apa sebenarnya keistimewaan film ini, terutama bagiku (dan warga Pekalongan)?
Film ini terasa lebih istimewa bagi kami (dan mudah-mudah juga untuk Indonesia) karena ada keterlibatan kreasi anak Bangsa khususnya dari Pekalongan!
Adalah Pekalongan Menari, sebuah kelompok tari dari Pekalongan yang terlibat dalam pembuatan film ini melalui partisipasi 11 penarinya dalam sebuah tarian yang terpilih mewakili Indonesia sebagai salah satu dari 21 negara yang tariannya diseleksi dan akhirnya menjadi salah satu dari 14 negara yang menjadi bagian dari Dancing Joy Movie ini.

Tari kontemporer dari Pekalongan Menari yang lolos audisi ini merupakan koreografi karya bersama Cahya Ari Safira dan Arief Rachman Hakim, keduanya dari Pekalongan. Tari SINTREN adalah sumber inspirasi dari tari kontemporer tersebut. Adapun para penari dilatih oleh Sanggar Tari Surya Budhaya Pekalongan dengan iringan musik tradisional dari Kelompok Seni Suma Budhaya Pekalongan. Kolaborasi para seniman keren, dengan hasil yang keren byanget! 😍
Oh ya, shooting tarian untuk part Indonesia dilakukan di 2 lokasi yaitu di Museum Batik Pekalongan dan di Pendopo Kabupaten Pekalongan. Dua lokasi cantik yang mewakili keindahan budaya Pekalongan khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Penghargaan yang Diperoleh Dancing Joy Movie
Oya teman, film dokumenter ini memang bukan ditujukan untuk keperluan komersil semata, melainkan untuk keperluan edukasi kebudayaan dan diikutkan dalam festival-festival film dunia.
Dan ternyata, hasilnya sangat menggembirakan, mendapatkan berbagai penghargaan dari festival-festival film tersebut, antara lain :
- 2020 IndieDance Film Festival : best choreography / gold; best cinematography / silver; best director / bronze; best producer / bronze; best future documentary / bronze.
- 2020 Doc Without Border Film Festival : outstanding excellence; excellence in editing.
- Lady Filmmakers Festival : best dance future film.

Wiii…banyak penghargaan ya.. makin semangat deh untuk nonton filmnya!
Private Film Screening Dancing Joy Movie di Pekalongan

Nah, pada hari Sabtu 10 Oktober 2020 kemarin, aku berkesempatan mengikuti acara private film screening Dancing Joy ini. Waah..seruuu…
Acara berlangsung sejak sore hingga malam hari, bertempat di Berkomunikasi Coffee and Tea -sebuah Kedai Kopi dengan nuansa Jepang- yang berlokasi di daerah Poncol Kota Pekalongan, diselenggarakan oleh Pekalongan Menari bekerjasama dengan Cinta Pekalongan dan Berkomunikasi Cinema.

Meskipun saat itu hujan sedang mengguyur Pekalongan dengan cukup deras, namun para peserta acara tetap enjoy menikmati acara ini. Rupanya dari sekitar 15-an peserta kemarin, didominasi oleh mereka yang terlibat langsung yaitu para penari dan tim kreatif, juga pemerhati seni Kota Pekalongan.


Senang rasanya menikmati film ini sambil mendengarkan nostalgia mereka saat latihan hingga pelaksanaan shooting film di 2 lokasi itu. Terbayang kehebohan mereka yang dandan sejak subuh pada hari H shooting, dan melakukan tarian beberapa kali pagi-siang untuk keperluan pengambilan gambar itu. Kerempongan yang berbuah manis!
Saat bagian yang mereka tarikan tampil di layar, seruan-seruan gembira terdengar dan tampak wajah-wajah bahagia dan bangga melihat hasil karya mereka dinikmati orang banyak, bahkan dunia internasional. Sungguh, akupun turut merasa bangga karenanya. Gemulai tarian kita, tak kalah menariknya dengan dinamika tarian lain. Kostum khas tradisional kita melengkapi keindahan yang tersaji dari penampil-penampil lainnya. Bangga Pekalongan, Bangga Indonesia! 😘

Secara keseluruhan aku merasa sedang piknik ke berbagai negara dan mengenal bagian budayanya saat melihat film berdurasi sekitar 90 menit ini, karena para penari menampilkan gerakan tarian didukung dengan kostum nan unik khas masing-masing negara, dan juga shooting-nya di lokasi-lokasi cantik. Benar-benar memanjakan mata dan hati! 😍

Penasaran dan ingin menonton film ini juga? Capcus merapat ke akun-akun sosmed Dancing Joy Movie deh..ada FB, YouTube, IG dan juga blog Dancing Joy Movie. Saat ini film dapat ditonton melalui DVD berbayar yang dapat diakses melalui link yang ada di sana. Mudah-mudah nantinya ada akses yang lebih bebas untuk menikmati film keren ini. Semoga 🙏
Oya di akun FBnya saat ini ada link yang bisa diakses untuk nonton sampai dengan hari Minggu 11 Oktober 2020 ini lho.. Cek ke sini deh…
Nah, Sahabat Lalang Ungu, itulah sekelumit ceritaku setelah nonton bareng (istilah kerennya film screening) Dancing Joy Movie. Ada yang suka menari / menikmati tari-tarian juga? Nonton juga deh..dijamin gak nyesel wis to! 🙂
Masyaallah komen2 dan pujian bertubi tubi dari tulisan mbak Tanti yg indah dan lengkap ini… Maturnuwuuun mbak… Terhura jadinya…
maturnuwun apresiasinya, mbakSay..
Yang kemarin malah aku ketinggalan mba Tant, ikutnya yang dulu tok
aku keleewat informasinya. Seu banget ya Mbak.
Seru Nyi, nonton bareng di Berkomunikasi
Kalau jenis tariannya kolosal seperti tari Saman aku suka mungkin karena kekompakan nya ya,
KLO lebih dari 1 orang penarinya, kekompakan memang salah satu daya tarik utama ya
aku baru tau film dokumenter ini, mbak. makasi rekomendasinya yaa, sangat menarik. karena aku dulu pun juga penari tradisional weheheh jadi melihat2 gambarnya serasa nostalgia
Tos dulu mba…sesama penari di masa lalu..hihi..
Huaa aku baru tau nih film dokumenter ini kayaknya seru ya dan seakan kita juga bisa menjelajah ke berbagai negara lewat tarian khas mereka.
Iya..serasa jalan2 mba..
Aku seneng mba lihat film tari-tarian gini, apalagi tarian dari berbagai negara yaaa… Wah banggane pol ini Pekalongan masuk ke dalam film ini. Selamat yaaa untuk Pekalongan.
Iya dik..senaaang rasanya. Trmksh, akan kusampaikan ke tmn2 Pekalongan Menari..
wuahh..salut sama Pekalongan Menari yang mewakili Indonesia di tayangan Dancing Joy Movie ini 🙂
Terima kasih..insya Allah teman2 dari Pekalongan Menari juga membaca penghargaan dr teman2 lewat komen2 ini..
Aih iya yaa..semoga pada baca yaa..
pokoknya sukses selalu buat Pekalongan Menari. Terus berkarya 🙂
Senangnya kalau ada film dokumter yang berkualitas seperti ini. Tak mudah dan tak banyak yang memilih tari sebagai jalan hidupnya. Dan harus kita apresiasi
Iya mba..keren semangatnya tim.kreatif maupun talent2nya..
Seneng banget ada film buatan lokal yg mendunia, isinya tentang kebudayaan daerah pula, keren nih filmnya, wajib tonton
Maaf ini bukan film lokal mba. Tim kreatif semua dari AS, kita (Pekalongan Menari) berpartisipasi sebagai talent penari..
baca ceritanya aja bikin pengen nonton banget nih filmnya, keren dan salut buat film ini atas penghargaan yang diraih
Iya..keren mba. Menyatukan 11 tarian berbeda dalam satu rangkaian berdasarkan 1 music tertentu, sudah terbayang effort-nya ya..
Aku juga suka menari, kak Tanti.
Dulu SD ikut menari tradisional, SMP modern dance dan kuliah, aku ikutan mempelajari tarian yosakoi Jepang.
Seru sekali yaa…
ada acara manarik begini, kak Tanti….ikutan happy.
Hear the Music dan let’s dance~
Waa..toss dulu Teh. Aku juga SD tari Jawa, hehe..
Pekalongan tariannya bisa dikenal duniaa..
Keindahan dan kelokan gerakannya juga falsafahnya.
Semoga daerah2 lain demikian juga nantinya ya..