Baca Buku Pulih : Memetik Hikmah di Tiap Kisah

Antologi Pulih dari IIDN

Baca Buku Pulih : Memetik Hikmah di Tiap Kisah. Suatu siang beberapa waktu lalu, di beranda Grup FB Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN) aku mengucapkan selamat pada dua orang teman yang menjadi penulis terbaik pada review acara Launching Buku Pulih yang dilakukan secara online pada bulan Oktober lalu. Beberapa waktu kemudian baru sempat membuka WA grup IIDN, dan menemukan namaku terselip di post pengumuman pemenang tersebut.

Oalaah…aku tidak teliti membaca post di grup sebelumnya. Alhamdulillah…ternyata tulisanku yang ini mendapat apresiasi juga dari IIDN sebagai salah satu dari 3 pemenang hiburan dan akan mendapatkan Buku Pulih. Senangnyaaa…

Dan lebih senang lagi ketika Jumat kemarin, pulang kantor sudah ditunggu sebuah paket dari Jawa Timur yang setelah kubuka, ternyata itulah Buku Pulih yang menjadi hadiah. Wah..terima kasih IIDN, cepat sekali hadiahnya sampai 👍 Tak sabar keesokan harinya langsung kubaca, dan kesanku setelah membacanya, akan kutuliskan berikut ini.

Antologi Pulih dari IIDN
Pulih : Perjalanan Bangkit dari Masalah Kesehatan Mental

Tentang Buku Pulih

Sebelumnya, kuingatkan kembali tentang buku Pulih ini ya.. Pulih adalah antologi IIDN yang tulis bersama oleh 25 orang kontributor yang keseluruhannya merupakan anggota IIDN, dengan penyunting Fitria Rahma, desain cover,tata letak dan penerbitan oleh Wonderland Publisher.

Antologi dengan sub judul “Perjalanan Bangkit dari Masalah Kesehatan Mental” dengan ketebalan 292 halaman ini diawali dengan 3 tulisan pengantar yaitu dari Ketua Umum IIDN Widyanti Yuliandari, S.T., M.T dan para pendamping kontributor dalam proses penulisan antalogi ini, yaitu Intan Maria Halim, S.Psi, CH selaku  founder Ruang Pulih dan dr. Maria Rini Indriarto, Sp.KJ, M.Kes.

Buku ini dimaksudkan sebagai kontribusi IIDN di ranah penulisan untuk turut peduli dan berbuat sesuatu terkait dengan isu kesehatan mental yang terus mengemuka, sebagaimana yang dituliskan oleh Ketua Umum IIDN dalam pengantarnya.

Adapun founder  Ruang Pulih dalam pengantarnya antara lain menyatakan “Selain kecantikan fisik, kecantikan psikologis dan kesehatan mental perlu dirawat dan diperhatikan oleh wanita. Seseorang dengan kesehatan mental yang baik akan mempunyai kesadaran untuk memutuskan jalan hidupnya, berani gagal dan berani berhasil serta belajar dari kesalahan, kemudian berani bertanggung jawab terhadap kehidupannya.”

Sedangkan dr Maria Rini menekankan bahwa luka jiwa -sekecil apapun- bila tak segera disembuhkan akan kembali menggangu dan menggoyahkan jiwa. Para kontributor ini berani belajar mengenali rasa, menggali dan menemukan akar masalah untuk kemudian mengelola dan membentuk diri dengan pribadi baru ke depan. Proses pulih inilah yang dibagikan oleh para kontributor dalam buku ini.

Kesanku Setelah Membaca Buku Pulih

Beragam Kisah Bermacam Luka

Membaca ke-25 kisah yang tersaji di buku ini, aku seperti melihat bermacam luka. Ada luka jiwa akibat pola pengasuhan yang tak semestinya, akibat kejadian pedih di masa lalu, akibat perundungan oleh sebaya, akibat tekanan ekonomi, akibat KDRT, akibat kehilangan pasangan jiwa, dll. Beragam luka dengan penyebab berbeda yang mempunyai kesamaan akibat : terganggunya kesehatan mental si korban.

Tak hanya mengenali beragam luka dan penyebabnya, kita bisa mengambil pelajaran untuk menghindari hal-hal yang menjadi pencetus luka itu. Tidak hanya agar tidak menjadi korban juga, namun juga jangan sampai kita menjadi penyebab luka jiwa pihak lain, terlebih orang-orang yang kita sayangi, karena ternyata beberapa pihak penyebab itu tidak sengaja atau tidak menyadari bahwa dirinya menjadi penoreh luka!

Menyadari diri bermasalah adalah langkah awal proses pulih

Tidak hanya mengenali beragam luka jiwa akibat bermacam penyebab, melalui buku ini aku bisa mengetahui proses yang harus dilalui mereka untuk pulih. Dan yang menjadi kunci pertama adalah kesadaran bahwa kesehatan mentalnya bermasalah dan berniat kuat untuk mencari solusi masalah kesehatan mentalnya tersebut.

Proses kesadaran diri ini ternyata tidak selalu mudah atau cepat, dipengaruhi oleh masing-masing individu dan lingkungannya. Ada yang berasal dari diri sendiri -setelah berkontemplasi- ada juga kesadaran yang tumbuh setelah ada masukan dari pihak lain. Kesadaran diri inilah yang selanjutnya memacu langkah mencari jalan untuk sembuh.

Beragam Cara Ditempuh Untuk Sembuh

Dari buku ini aku jadi tahu bahwa jalan menuju sembuh mereka sungguh berliku. Ada beragam cara yang harus mereka tempuh untuk sembuh, ada beberapa cara yang sama, namun tak sedikit pula yang berbeda. Tentunya itu sesuai dengan kondisi mereka masing-masing. Melakukan hal-hal yang disukai sesuai minat masing-masing adalah salah satu upaya yang berhasil menjadi jalan kesembuhan bagi beberapa diantaranya.

Perjalanan bangkit yang mereka tempuh ini sungguh tak mudah, tergambar dengan baik dalam rangkaian kata di setiap kisah. Membuatku angkat jempol pada mereka semua yang tetap kukuh menempuh setiap langkah yang tak mudah, ada yang telah berhasil ada pula yang masih dalam proses. Semoga semua berhasil!

Pentingnya Dukungan Keluarga dan Pendampingan Profesional

Yang juga menjadi benang merah dari beragam kisah di buku ini adalah pentingnya dukungan keluarga dan pendamping profesional dalam proses menuju pulih. Dan buku antologi ini menjadi istimewa karena dalam penyusunan tulisan ini para kontributor didampingi langsung oleh ahli dan profesional dalam pemulihan kesehatan mental ini.

Memetik Hikmah dari Tiap Kisah

Catatan Pulih
Salah satu Catatan Pulih yang tertulis di akhir setiap kisah di Buku Pulih

Hal yang paling kusukai dari buku ini adalah ada hikmah yang dapat kupetik dari setiap kisah yang tertulis di sini. Adanya ‘catatan pulih’ yang ditulis oleh mbak Intan (penafsiranku terhadap inisial IMH) di akhir setiap kisah ini, mempermudahku untuk menarik mutiara hikmah dari kisah-kisah itu. Bravo!!

Di dalam hidup, tidak semua hal dapat kita mengerti. Beberapa hal dapat lebih mudah dihadapi dengan penerimaan. Jika sudah menerima, kita dapat menata langkah baru untuk bergerak maju. IMH, Catatan Pulih. (Buku Pulih, hal. 157)

 

Sahabat Lalang Ungu, demikianlah cerita pengalamanku membaca Buku Pulih, sebuah buku antologi yang istimewa dari IIDN. Kalian sudah membaca juga kah? Yuk bagi ceritanya di kolom komen ya..

Atau ada yang belum membaca dan merasa tertarik untuk mengadopsi buku ini? Silakan langsung berhubungan dengan komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis atau para kontributor buku ini 🙂

PULIH
Buku antologi IIDN (foto milik grup FB IIDN)

39 thoughts on “Baca Buku Pulih : Memetik Hikmah di Tiap Kisah”

  1. Salut dengan inisiatif IIDN untuk membuat buku, yang selain bisa menjadi media curahan hati penulisnya, juga bisa membantu mereka untuk memulihkan luka hati yang pernah dialami. Saat mengikuti webinarnya aku sampai terkesan banget ketika tau proses penyusunan buku ini.

  2. Memang selalu ada hikmah di setiap kisah. Nggak banyak orang mau menceritakan bagaimana mereka mengatasi luka batinnya. Dan buku ini benar-benar keren. Kutipan yang mbak sampaikan di sini juga menarik. Jadi, ingin membaca juga.

  3. Turut berbangga dan bahagia, tulisan mbak terpilih menjadi salah satu inspirasi di buku ‘Pulih’.
    Semoga, setiap pesan baik di buku tsb, menjadi penyemangat siapa pun di luar sana.
    Luka selalu punya kesempatan untuk sembuh.
    Tentu jika kita memang mau. Bismillah, aamiin

  4. Selamat ya mbak terpilih jd salah satu penulis terbaik..buku pulih inspiratif bgt ya mb..tentu bermanfaat buat bacaan org2 yg selama pandemi telah kehilangan suami Krn Corona atau Krn kehilangan pekerjaan

    1. Terima kasih mba..Alhamdulillah, kebetulan pas dengan selera juri, meski blm jadi yg terbaik hehe..

  5. Orang Indonesia biasanya menyepelekan luka batin dan mental ya mbak bahkan cenderung menutupi atau setiap padahal nk serius banget kalo ga segera diatasi bisa gawat kedepannya. Memang bener sih tahap awal kita harus akui kalo ada masalah.
    Jadi pengen baca nih aku mbak

  6. Salut sama IIDN dan kontributor buku ini menuliskan kisah mereka adalah bagian dari proses self healing ya mbak Tanti..selamat ya dapat buku keren…

  7. Keren ya inisiatif membuat tulisannya, karena setiap orang punya luka yang ingin disembuhkan, rasanya buku ini bisa saling menginspirasi pembacanya ya Mba… Mba Mechtaa ikut berkontribusi juga kah di sini?

  8. Aku beneran ingin mengadopsi buku ini nih. Ingin menimba ilmu juga dari pengalaman para kontributornya. Boleh dibantu mba linknya untuk membeli? Atau aku bisa menghubungi siapakah? Tidak jelas foto bukunya yg berisi nama kontributornya.

  9. Belajar dari literatur emang keren banget, berobat itu belum tentu semua orang cocok. Dukungan keluarga juga penting banget, karena menanggung beban mental juga.

  10. Buku yang mewakili siapa saja yang mengalami jatuh mental dan menjadi sebuah inspirasi. Suka deh sama kalimat quote dari IMH itu, menyalahkan terus pola asuh ortu dan mewarisi ke anak-anak kita, nggak akan putus mata rantai luka jiwa itu.

  11. Baca reviewnya isinya pasti bagus bngt ya mba cerita tentang orang2 yang bsa mengatasi akan kisah sedih mereka di masa lalu trauma yg dalam pada masa lalu dengan baca buku ini kita bsa beljar untuk bangkit kembali

  12. Duh halaman 201 mak deg banget bacanya. Beberapa tahun lalu saat aku mulai paham tentang mengasuh anak dan tipe apa aku ini. Jadi mulai mikir, kayaknya ada yg salah pada saat mengasuhku.
    Tapi ya udah, gitu aja. walau memang deep down masih belom legowo. Tapi untungnya sekarang udah baik2 saja 🙂

    Buku pulih sepertinya menarik buatku

  13. Aku ikut webinar launchingnya mba. Menarik memang. Pas banget dengan aku yg sedang mendalami art theraphy. Untuk membantu teman2 yg memerlukan healing. Sila mampir untuk update info art theraphy.

  14. Aku belum baca buku ini mba, padahal udah punya. Jadi pengin segera melahapnya biar ikut merasakan bagaimana para penulis berjuang mengatasi segala permasalahan hidupnya. Quote yang disampaikan Mba Intan bagus-bagus ya, memberikan support bagi kita semua untuk bisa berdamai dengan diri sendiri, mencari jalan keluar selain menyalahkan orang lain, terutama orangtua kita.

  15. Saya malah ga berani baca buku pulih ini. Takut kl nanti malah saya nemu sesuatu yg salah dg diri saya. Eh kok gitu? Haha…

    Tapi saya suka sama quotenya ruang pulih. Berani gagal dan berani berhasil.

    Terima kasih review bukunya, mbak

Leave a Reply to Dedew Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *