Ada apa sih dengan kebaya merah? Itulah sekelumit tanya di benakku ketika baru aktif lagi di sosmed setelah sekitar 2 minggu kemarin fokus di perjalanan ibadah kami. Nah ketika buka WAG 1 week 1 post Gandjel Rel, terbacalah tema periode ke-7 tentang Kebaya Merah dan aku sempat nge-blank tentang tema itu.
Lalu setelah baca-baca chat teman lain dan cari-cari info di google, ternyata eh ternyata beberapa waktu lalu sempat jadi trending topic tentang hal itu yang mengarah ke tontonan berkategori asusila.. Duuh..
Syukurlah video asusila berdurasi 16 menit yang bikin heboh itu kini sudah tak ada lagi dan kabarnya yang berwajib telah menahan tersangka pemeran dalam video tersebut. Namun sepertinya kata ‘kebaya merah’ sudah terlanjur berkonotasi buruk akibat video itu ya.. Sediih..
Yah, semoga saja hal itu tidak berimbas buruk selamanya, karena sebagaimana kita ketahui bahwa kebaya adalah salah satu jenis busana wanita Indonesia yang khas. Sayang sekali bila bagian dari budaya negeri kita ini jadinya tercemar atau pudar ‘pamor’nya gara-gara hal seperti itu, bukan?
Kebaya Dan Kenangan Tentang Ibu
Ngomong-omong soal kebaya, selalu mengingatkanku kepada almh ibu kami yang merupakan salah satu pecinta jenis busana ini. Dulu, tiap kali menghadiri acara resmi terutama saat kondangan manten, ibu kami hampir selalu mengenakan kain kebaya lengkap dengan tatanan rambut gelungan alias bersanggul Jawa (sebelum berhijab).
Ada banyak ragam jenis kebaya di negeri kita, rasanya masing-masing daerah punya ciri khas kebaya masing-masing ya.. Nah, yang paling suka dipakai oleh ibu kami adalah kebaya Jawa dengan kutubaru di bagian dada.

Ibu kami memiliki banyak kebaya dengan beragam warna, polos ataupun bermotif. Kebaya-kebaya itu beliau pakai bersama kain batik ber-wiru sebagai bawahan, selendang angkin penutup bagian perut dan tak lupa selendang panjang sebagai pemanis tersampir di bahu. Aah..kangeen pemandangan cantik ibu kami saat berkain-kebaya begitu..

Bagaimana dengan aku dan kakak-kakak perempuanku? Apakah akrab dengan kain kebaya juga?
Hmm…kami memakainya juga sih sesekali dalam acara-acara resmi atau acara dinas yang mencantumkan dress code kain-kebaya, tapi tak sesering ibu. Oya untuk jenis kebaya, berbeda dengan ibu yang lebih suka kebaya ber-kutubaru, aku lebih memilih jenis kebaya ‘kartini’ dengan bagian depan yang lebih tertutup.

Kalau ibu kami lebih senang berkebaya dengan menggunakan kain batik panjang berwiru, maka aku lebih suka memadukan kebaya dengan kain model sarung. Dalam beberapa kesempatan, kami memadukan kebaya dengan rok panjang, kulot atau bahkan celana panjang, ternyata tetap ok juga lho.. Tetap bisa tampil feminin tanpa harus menggunakan kain panjang terlilit ketat sebagaimana ‘rumusan’ berkebaya dahulu kala..hehe..

Komunitas Pecinta Kebaya
Oya, masih tentang kebaya, aku jadi teringat salah seorang temanku yang juga pecinta kebaya yaitu Drh. Fitria yang cantik dan energik. Selain aktif sebagai ASN dan sibuk praktek di klinik hewannya, ternyata dia juga aktif sebagai pengurus Komunitas Kain dan Kebaya Indonesia sebagai salah satu bukti kecintaannya terhadap kain kebaya.
Komunitas Kain & Kebaya Indonesia (KKI) itu sendiri adalah komunitas perempuan yang berbasis pada pelestarian budaya dan pemberdayaan perempuan di berbagai strata sosial. Salah satu tujuan pembentukannya adalah membangkitkan kembali semangat perempuan untuk menggunakan dan mencintai kebaya yang merupakan salah satu simbol dari budaya Bangsa Indonesia.

Sahabat Lalang Ungu, itulah sekelumit ceritaku tentang kebaya. Oya, apakah kalian juga suka berkebaya? Kebaya tradisional atau kebaya modern kah pilihan kalian? Yuk bagi ceritanya di kolom komen yaa.. Terima kasih..
artikel yang sangat bagus
Aku juga sejujurnya suka banget sama baju kebaya.
Menggambarkan keanggunan seorang wanita dan bisa jadi identitas bahwa orang Jawa, gitu..
Kalau cewek Jawa, menurutku kudu banget belajar anggunly dengan pakai kebaya. Dan agak kurang suka dengan kebaya modif, meski kesannya trendy, tapi jadi mengikis budaya dan falsafah kebaya itu sendiri.
Kalau ditanya suka mana antara kebaya tradisional atau modern, aku suka semuanya mbak. Gak cenderung pula pada satu model dan warna, selama ada akan aku pakai ke acara-acara yang sesuai, apalagi mengharuskan pakai kebaya.
Dulu zaman gadis hingga menikah dan baru punya anak kecil-kecil, aku rajin bikin kebaya di penjahit langganan. Setelah belasan tahun berlalu, bahkan udah 20 thn lebih, kebaya itu masih ada semua. Dan kini, anak remaja gadisku yang sering pakai kebaya-kebayaku itu, biasanya untuk acara-acara di sekolah 😀
Suka banget sih kalau liat orang pake kebaya, cantikk banget.. Apalagi kalau melihat berbagai macam acara yang menggunakan kebayar gitu seru banget, ternyata ada banyak jenis dan macamnya ya kebaya ini.
Aku dulu dapat kaon beludru mbak. Sebagai salah satu dresscode mantenan dari saudara. Kala itu aku gak paham. Kain tersebut untuk apa.
Rupanya dipakai untuk dijadikan kebaya dengan model kutu baru hanh aku ketahui setelah aku menjahitkannya model outer panjang hwkakaka.
Ya sudahlah. Efek anggota baru dalam keluarga besar suami. Sehingga gak tanya-tanya sih hihi.
Tapi sejak saat itu aku jadi suka dengan kebaya meski tak memakainya setiap hari. Ada satu koleksi kebayaku untuk wisuda suami yang aku request khusus
Dan aku suka. Bentuknya kutu baru dengan khas kain kebaya.
Ulasan tentang kebaya memang nggak ada habisnya. Sayang, sekarang ini, kebaya benar-benar hanya untuk momen khusus saja.
Padahal pernah di kehidupan sehari-hari dimana almarhumah nenek berkebaya hampir di rutinitas keseharian beliau.
Wah, kali seru ya mengulang begitu, walau pasti bakal dilihat aneh sendiri oleh orang-orang. Wkwkwkwk..
Selalu suka dengan kebaya, kita jadi terlihat lebih anggun dan feminim. Kalau saya juga lebih suka kebaya Kartini, Mbak yang lebih simple dan tertutup sih.
Ohya baru tau lho ada komunitas kebaya gitu. Tapi belum tersebar ke seluruh Indonesia kayaknya ya.
Kayaknya kalau dalam benakku itu kebaya pasti identik dengan penerima tamu di kondangan pernikahan, atau acara-acara resmi lainnya. Sekarang pun, kebaya juga dipadupadankan dengan beragam model ya Mbak. Waktu aku menikah dulu juga pakainya kebaya modern sih, dengan bawahan yang mekrok, bukan lagi yang dililit kayak lepet, hehehhehehe
Sejak para perempuan berkebaya – sepertinya negeri ini jadi hidup lagi deh mbak Mechta, seneng aja liat para anak muda juga berkebayaan.
Aku kemaren diundang ikutan Komunitas Perempuan Pelestari Budaya Nusantara yang lebih ke baju baju adat sih, tak hanya kebaya Jawa
Apapun itu, mari kita sukseskan kebaya goes to UNESCo yajangan sampe diakui negara lain lagi!
Beneran baru tahu sempet ada yang viral berkaitan dengan kebaya merah. Sedih juga ya, kalau pakaian tradisional jadi terkenal karena stigma negatif.
Padahal kebaya jadi pakaian yang hampir dipakai ke mana-mana oleh ibu-ibu jaman dulu. Karena saya termasuk generasi muda, ibu-ibu yang saya ingat sering menggunakan kebaya adalah nenek dari ayah dan ibu. Sayang sekali, sekarang penggunaan kebaya jadi lebih terbatas untuk acara khusus saja.
Semoga generasi muda lebih banyak yang mempopulerkan kebaya (dalam lingkup yang positif)