“Selama umrah lanjut ke Turki kemarin, bagaimana makanannya? Enak-enak mestine yo?”
Itu adalah salah satu dari banyak pertanyaan yang kami terima dari keluarga/ teman-teman setelah sampai lagi di tanah air.
Pertanyaan sederhana, tapi jawabannya ternyata jadi panjaaang… Memang menu makanan yang disajikan enak-enak sih…tapi…terus terang tidak semua bisa dengan mulus diterima oleh ilat ndeso kami 🤭
Aku dan adikku sebenarnya bukan termasuk orang yang pemilih dalam hal makanan, tapi tetap saya lidah kami yang sudah sangat terbiasa dengan nasi dan masakan berbumbu lokal ini lumayan kaget dengan menu/citarasa baru selama perjalanan kemarin. Tapi alhamdulilah kami sudah siapkan antisipasi nya ..
Mau tahu tipsnya? Ada di bagian akhir tulisan ini ya ..
Saat di Madinah dan Mekah alhamdulilah kami masih bisa ketemu nasi 3x sehari, meski dengan sayur / lauk a la Indonesia tapi dengan citarasa yang tetap tak bisa 100% sama. Telur dan daging melimpah berbanding terbalik dengan tahu tempe..hehe..

Agak lucu rasanya ketika mendapati menu makanan ada tahu/tempe, dijaga oleh staf restonya. Dijatah/diambilkan untuk masing-masing orang, berbeda dengan lauk telur atau daging yang bebas ambil semaunya. Kenapa begitu? Ternyata kata mas-mas yang jaga : Tempe lebih mahal dari telur/daging!😂
Tapi kami tetap bersyukur dan berusaha tetap makan dengan baik karena itulah sumber energi kita untuk beribadah atau aktivitas lainnya. Jadi mindset kita adalah ‘makan untuk tenaga’ bukan makan untuk wisata rasa 🙂
Nah, gegar budaya kuliner kami makin terasa ketika di Turki. Nasi tidak selalu tersedia, kami hanya ketemu nasi saat makan siang / makan malam saja. Saat sarapan resto hotel-hotel di sana hanya menyediakan roti dan teman-temannya, kentang serta buah-buahan dan sayuran bahan salad.

Memang ketika kita berwisata ke lain daerah, itulah saat kita mengenal budaya daerah tersebut dan salah satunya adalah melalui kulinernya. Mencicipi kuliner lokal adalah satu hal, tapi menjaga tetap bugar dengan asupan makanan yang bisa diterima oleh lidah dan perut kita adalah hal lain yang tak kalah penting juga, bukan?

Beruntung aku pribadi suka buah dan salad sayur. Jadi setiap pagi tak sulit membiasakan diri sarapan dengan itu, ditambah roti atau kentang dan juga mencoba jenis-jenis sup krim yang disajikan. Di antara aneka sup krim yang telah kucoba di sana, yang paling bisa diterima oleh lidahku adalah sup krim sayur (brokoli /wortel /tomat) dan sup krim Lentil.

Nah yang sedih adikku nih…dia tuh anti sayur mentah begitu. Kalau buah masih ok dia, tapi untuk salad sayur (yang hampir selalu ada saat waktu makan) sama sekali tidak bisa diterima lidahnya. Demikian juga dengan sup krim nya. Walhasil dia tiap kali sarapan hanya memilih roti dengan aneka selai dikombinasi dengan susu+sereal dan buah-buahan..hehe..

Bagaimana kami mengantisipasi gegar budaya kuliner ini?
Jawabannya adalah membawa bekal makanan/lauk kesukaan untuk meningkatkan selera makan kita! Nah, berikut ini beberapa bekal yang kami bawa dan berhasil mengatasi permasalahan makanan yang tidak/ kurang cocok dengan lidah kita itu.
Bekal Makanan/Lauk yang Bisa Dibawa Saat Bepergian
1. Lauk kering
Ada aneka jenis lauk kering yang bisa kita bawa untuk meningkatkan selera makan kita. Aneka abon adalah pilihan yang paling mudah. Kering kentang, kering teri-kacang, kering tempe pedas, bisa menjadi pilihan juga. Jenis keripik atau kerupuk juga bisa menjadi pilihan, sesuai dengan selera kita. Tentunya pilih ukuran dan kemasan yang mudah dan aman saat traveling.
Oya kemarin itu kami membawa abon sapi, kentang Mustafa dan keripik tahu. Alhamdulillah laris manis dan menjadi solusi saat kurang selera akibat lauk kurang cocok dengan lidah kami.
2. Sambal dalam kemasan
Nah ini nih yang jadi primadona saat makan bersama dan kebetulan menunya kurang cocok dengan lidah kita. Sambal yang kita bawa pasti banyak penggemarnya, bisa-bisa langsung beredar dari tangan ke tangan..hehe . Sepertinya kemasan sachet lebih cocok, bisa kita selipkan di tas sebagai pertolongan pertama saat dibutuhkan 🙂
3. Mi instan
Mi instan yang kita bawa bisa menjadi pilihan makan saat kuliner yang tersaji sama sekali tidak bisa masuk ataupun malam-malam kita lapar dan malas keluar hotel cari makan. Yang paling praktis tentunya yang sudah ada cup / gelasnya, sehingga tinggal tuang air panas saja. Tapi jadi tidak praktis mengingat kebutuhan ruang di koper saat membawanya. Itu sebabnya pilihan mi instan yang tanpa cup lebih mudah dibawa kemana-mana.
4. Minuman bubuk dalam kemasan
Ini perlu juga kita bawa, meskipun rata-rata di hotel ada teh/kopi di kamar dan saat sarapan pasti ada. Minuman bubuk dengan rasa kesukaan kita bisa menjadi alternatif terutama saat di luar hotel dan bosan dengan air putih yang disediakan sementara untuk segelas teh/kopi/coklat/sirup lumayan juga harganya hehe..

Kenapa harus bawa, apakah di sana tidak ada yang jual?
Ya tentunya alasan ekonomis menjadi yang utama, di samping jenisnya yang dijual di sana belum tentu sesuai dengan yang biasa kita konsumsi.
Untuk lauk kering kesukaan relatif sulit kita dapat di sana, sedangkan untuk mi instan banyak / cukup mudah ditemui bahkan saat di Turki. Tapi ya itu…jangan kaget dengan harganya yaaa.. 🤭

Sahabat Lalang Ungu, demikian ceritaku kali ini, tentang lidah yang kaget dan belum bisa menerima kuliner lokal saat umrah lanjut ke Turki beberapa waktu lalu dan cara kami mengatasinya. Eh, kalau ada istilah ‘gegar otak’ ada juga gak sih istilah ‘gegar lidah‘ untuk kasus seperti ini? Hehe…
Apakah kalian juga pernah mengalaminya? Apa bekal makanan favorit kalian saat bepergian? Yuk bagi ceritanya di kolom komen ya.. Terima kasih…
Cerita sebelumnya: Menikmati Cappadocia tanpa balon udara
abon ini bener-bener penyelamat saat kita berada di luar negeri, kadang memang ada beberapa makanan lokal yang rasanya hambar atau nggak bisa diterima sama lidah kita
aku dulu pernah ditawari sambal taburnya kobe pedas, makanan hotel yang aku pesan yaitu nasi goreng bener bener cuman nasi putih ga ada rasa yang lain selain telur dadar aja, dan sambal tabur jadi penyelamat
Persis seperti mama mertua, ka Tanti.
Pas bepergian selalu membawa “bekel” karena katanya lebih baik jaga-jaga, mau digunakan atau tidak.
Tapi ya, rasanya kalaupun gak untuk keperluan diri sendiri dan keluarga, juga bisa dimanfaatkan untuk jamaah lain.
Alhamdulillah-nyaudah terbiasa dengan salad ya Bu Tanti. Jadinya gak kagok suasana hati maupun dalam sistem pencernaan bisa lebih bersahabat
Akupun juga kurang biasa menyesuaikan makanan saat pergi ke suatu tempat baru makanya harus bwa makanan yang bisa dimkan supaya bsa jadi solusi saat disana
Ibu mertuaku kemarin pas umrah juga agak susah adaptasi dengan makanannya apalagi nasinya, tapi ya begitulah namanya juga pergi ke negara lain pasti budaya dan makanannya beda di lidah kita. Bagus juga tips-nya bawa beberapa lauk dari Indo yah hehe
pernah bekerja di travel umroh dan melayani para jemaah yang berbagai macam karakter dan budayanya yang membuat pribadi bisa lebih banyak bersabar dan belajar. semoga bisa menyusul aamiin
Aku belum pernah ke luar negeri. Dan sering kepikiran soal makanan kalau di luar negeri. Aku jadi kepikiran kalau bawa² bekal gitu biar nggak pusing soal makan.
Habis makan baca tulisan ini jadi auto laper lagi gak sih. Keknya hidangannya semua saya suka deh
Menarik sekali cerita berkuliner di Turki kak. Terbayang banget ketika menunya sangat asing, pasti lidah tiba-tiba harus menyesuaikan diri. Haha.
Tapi jadi pengalaman tak terlupakan. Jangan2 malah ada yg di lokasi terasa aneh, pas di tanah air malah kangen sama kuliner tersebut. Ada nggak kak?
meski kata orang kuliner negara A, B, C itu enak tapi yang namanya lidah asli nggak bisa dibohongi ya, mbak pastinya nyari menu negara asal. heu
Meski ketinggalan, izin menyimak dari teranyar mundur nggih Diajeng. Terima kasih tuk oleh2 dari Umrah plus Turki.
Salam hangat dan sehat.
Baca postingan ini jadi keingat umroh kemarin nggak bawa jajan, makanan kering, mi instan…..kalo beli disana mahalnya masyaallah….yah maklum kami berangkat umroh serba dadakan hehe
Waaah sisi positifnya lidah kita jadi mengenal citarasa baru ya, tapi ya memang mungkin butuh penyesuaian. Btw.. kalau pagi gak ada kang nasgor apa nasi uduk gitu ya? 😀
Pengen liburan yang jahu dari indo. Tapi masih kepentok dananya. Apalagi untuk belanja harian atau bulanan