Waspadalah… waspadalah…

Hai Sahabat Lalang Ungu..apa kabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.. Alhamdulillah akhirnya aku sempat nulis lagi di sini, setelah beberapa waktu kemarin blog ini nganggur..hehe..

Sahabat, kali ini aku ingin bercerita kejadian yang menimpa salah seorang rekan kerja, sambil mengingatkan tentang pentingnya kita tetap waspada saat berinteraksi di sosial media.

Penipuan Digital (Gambar oleh teguhjatipras dari Pixabay)

Cerita bermula ketika ada salah seorang staf  melaporkan kejadian pagi itu, yaitu adanya rekan kami yang tampak agak emosi saat berkali-kali menanyakan keberadaan seorang rekan lainnya. Usut punya usut, ternyata rekan itu -sebut saja Si A (tentu saja bukan inisial nama sebenarnya)- mencari rekan yang sedang absen itu -kita sebut Si B- untuk menagih hutang.

Aku pribadi agak kaget ketika mendapat laporan itu, karena sepengetahuan kami Si B itu bukan orang yang suka ingkar janji apalagi terkait hutang piutang. Nah lebih kaget lagi ketika ia menyebutkan adanya laporan dari rekan lain -Si C- dengan kasus yang sama tapi nominal berbeda.

Waduuh..ada apa dengan Si B ini? Nggak biasanya dia begini, betul-betul di luar perkiraan kami. Ohya, hari itu Si B tidak masuk juga tanpa pemberitahuan/izin kepada atasan langsungnya sebagaimana biasanya.

Kronologi Penipuan

Keesokan harinya, kami menerima kedatangan keluarga B yang menyampaikan surat izin B tidak masuk kerja dan menceritakan bahwa B saat ini sedang shock akibat terkena penipuan yang mengakibatkan kehilangan dana yang relatif besar.

Penipuan itu terjadi melalui sebuah grup di Telegram. Kronologisnya, Si B mengikuti sebuah grup di WhatsApp yang anggotanya mendapatkan tugas terkait iklan salah satu produk, lalu mendapatkan komisi atas jasa tersebut.

Nominal jasa/komisi tersebut aku kurang tahu (tidak dijelaskan oleh keluarga B) namun mungkin cukup baik sehingga B dan anggota grup itu tidak hanya melakukan 1x tugas itu saja. Nah.. setelah beberapa tugas, ada penawaran tugas lain dengan janji nominal komisi yang lebih besar, namun harus bergabung pada grup lain di Telegram.

Setelah masuk dalam grup Telegram tersebut, rupanya untuk menjalankan tugas diminta mentransfer sejumlah dana terlebih dahulu, baru setelah itu melaksanakan tugas dan akan mendapat komisi + pengembalian modal awalnya.

Di sinilah penipuan itu terjadi. Dana modal sudah ditransfer, tugas telah dilaksanakan, tapi uang modal yang telah masuk dan juga komisi yang ditawarkan tidak dapat diambil begitu saja, harus ditebus dengan sejumlah dana lain yang lebih besar! Begitu berulang-ulang.

Anehnya, pada awalnya B tidak merasa ini penipuan, dia sangat yakin akan mendapatkan kembali uangnya + komisi yang dijanjikan, itu sebabnya dia terus menjalankan permintaan transfer dari Koord grupnya yang selalu menterornya melalui telepon apabila tidak segera mentransfer.

Kondisi ini di luar pengetahuan keluarganya, dan keluarganya baru tahu ketika ada tagihan-tagihan dari orang-orang yang dipinjam uangnya dengan total nominal yang cukup besar. Kagetlah sekeluarga. Saat itu pun Si B belum sadar telah tertipu dan masih meyakinkan keluarganya bahwa uang itu akan segera kembali.

Keluarga nya tentu saja berusaha mati-matian menyadarkannya, termasuk melalui pendekatan dari tokoh spiritual. Sayangnya ketika akhirnya B sadar telah tertipu kondisi psikisnya tak kuat bahkan hingga mempengaruhinya secara fisik pula! 😔

Alhamdulillah update kondisi terkini B, masih dalam masa pemulihan fisik dan mental, dan alhamdulilah juga kewajiban pengembalian pinjaman-pinjaman tersebut sudah bisa diupayakan melalui kerjasama keluarga. Mohon doa semoga permasalahan ini segera selesai dan kondisi kesehatan B segera pulih kembali. Aamiin..

Hikmah Kejadian

Sahabat Lalang Ungu, ada hikmah yang dapat kita ambil dari kejadian ini. Hikmah pertama yaitu kita harus selalu waspada saat berinteraksi di Dunia Maya. Bahkan yang pada awalnya tampak wajar dan baik-baik saja, bisa saja merupakan jebakan suatu penipuan.

Unggahan 6 Tanda Penipuan Digital yang dibagikan oleh akun IG Mr Bert

Ohya, beberapa waktu lalu lewat di beranda instagramku, ada akun instagram Mr Bert (realmrbert) juga telah membagikan 6 Tanda Penipuan Digital, yaitu :

  1. Ada grup Tele ajak bisnis
  2. Investasi website baru Crypto/barang murah
  3. Tahu semua datamu : nama, No KTP, alamat, NPWP, dll mengatasnamakan lembaga resmi
  4. SMS / WhatsApp dg link , isi formulir, install aplikasi, minta no OTP
  5. Kerja sampingan/ part time job
  6. Tawaran kartu kredit tanpa BI Checking 

Sedihnya..dalam unggahan tersebut disebutkan juga bahwa salah satu ciri khusus yang hampir selalu disebut dalam modus penipuan digital ini adalah adanya kata ‘amanah’. Sebuah kata yang secara psikologis membuat korban merasa aman bahkan yakin bahwa itu bukan penipuan 😔

Hikmah kedua dari kasus ini adalah pentingnya komunikasi dalam keluarga dan keterlibatan anggota keluarga dalam pengambilan keputusan-keputusan penting. Mungkin apabila pada awal B mendapat tawaran itu dia mendiskusikan terlebih dahulu dengan keluarganya, kejadian ini bisa terhindarkan karena adanya pendapat/cara pandang dari sisi lain.

Sahabat Lalang Ungu, itulah sedikit sharing pengalaman pahit temanku, semoga saja bisa meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian kita sehingga kejadian ini tidak menimpa kita maupun keluarga kita dalam kehidupan kita sehari-hari.

Adakah teman-teman yang pernah mengalami/tahu tentang kasus serupa? Yuk sharing juga di kolom komen ya…

32 thoughts on “Waspadalah… waspadalah…”

  1. Aku pernah ngalamin sndiri nih tau2 dimasukin grup tele berkedok kerjaan lalu ada juga tawaran kerja sampingan dll duh kita kudu waspada deh

  2. Semakin ke sini, para penipu itu memang semakin canggih juga memanfaatkan sisi psikologis calon korbannya. Untuk itu kita pun perlu terus waspada dan saling mengingatkan saat ada hal-hal yang kira-kira ganjil terjadi di sekitar kita. Sebisa mungkin hindari tawaran-tawaran yang terlalu muluk, apalagi jika hanya dilakukan lewat media online atau telepon.

  3. Modus penipuan sekarang berkembang seiring perkembangan teknologi. Benteng pertama please jangan oversharing dan gampang kasih data pribadi. Jangan gampang tergiur juga soal uang.

  4. sering banget nih dapet tawaran via part time job, ujung-ujungnya suruh isi data lengkap sampai selfie pula untuk proses pencairan komisi katanya, mencurigakan banget, jadi langsung diblok aja modelan bagini kuatir kenapa-kenapa

  5. Aduh, serem banget ya! Penipuan model begini memang bikin orang keblinger. Semoga B cepat pulih dan kita bisa makin waspada deh.

  6. Penipuan spt ini sering bgt terjadi, terutama bg mereka yg literasi keuangannya masih kurang. Jadi ada informasi terima hadiah/sejenisnya dan hrs transfer2 malah langsung diiyain. Padahal di situ celah masuk hacker utk menguras dana kita.

    Ada lagi yg modus menyelesaikan tugas. Ntr kita dibayar. Satu dua tugas akan dibayar, tp utk bs mendapatkan bayaran lbh tggi, disuruh transfer sejumlah uang. Satu dua kali msh bs balik modal. Eh pas transfer selanjutnya, duit kita ga balik. Amsyong deh.

    Mknya hati2 ya semua terhadap beragam penawaran di sosmed. Bnyk penipuannya.

  7. Emang ngeri sih sekarang, penipuan secanggih itu dan bisa terjadi dalam waktu yang begitu cepat. Apalagi kita yang kerjanya di ramah digital seperti ini. Mereka mulai memanfaatkan keadaan.

  8. Duh, jauh-jauh deh kejadian kayak di atas

    Tanpa penipuan pun, hal-hal yang melibatkan pinjam meminjam uang rentan menimbulkan masalah di pertemanan. Manalah lagi sampai menipu

    Na’udzubillah.
    Semoga kita dijauhkan dari kasus semacam ini
    Aamiin

    1. Aamiin.. Betul mba, kita harus tamengi diri juga dg doa karena kadangkala berhati-hati saja tak cukup..hehe…

  9. Aku juga pernah ikut skema “kerja” model begini, ka Tanti.
    Dan saat kita menolak, biasanya mereka terus mengejar dengan ancaman HARUS dikerjakan karena sebelumnya uda dapat ‘gaji’ dari like and capture doank kaan..

    Makin ama, skema kerjanya makin aneh nih.. dan makin banyak uang yang harus kita ‘investasi’kan.

    Aku STOPnya pakai alasan, aku habis kena scam ((dan memang)) sampai aku kirim bukti scamming apa lewat SS.

    Akhirnya sampai skarang, aku uninstal tele.
    Males banget.

    Tapi semepet untung sekitar 260rb dari kerjaan like and capture itu.

    1. Terima kasih sharing pengalamannya Teh.. kadangkala kalau belum ‘ketanggor’ sendiri kita blm percaya ini berujung penipuan ya… Semoga ke depannya kita semakin waspada dan hati2.

  10. Aku juga sering banget dapat tawaran pekerjaan. Tapi aku berpikir logis aja. Sekarang nyari kerjaan susah, kok ada orang yang secara cuma-cuma nawarin pekerjaan. Gak makes sense banget. Semoga kita semua terhindar dari hal-hal buruk.

  11. karena saya team cuek orangnya sama hal-hal yang baru dikenal, jadi kalau ada chat-chat atau telepon aneh dan tidak dikenal ebih banyak diabaikan atau langsung block mengingat kejadian kejahatan digital semakin aneh-aneh, pernah juga dimasukin di group-group ga jelas, tanpa ba bi bu saya angusng leave, kita memang wajib banget waspada ya mba, agar terhindar dari hal-hal beginian

  12. Miris sekali kak, menjadi korban penipuan itu tidak hanya merugi finansial, tapi juga dampak emosional. Apalagi jika nominalnya besar.
    Bahkan, bisa mengganggu hubungan sosial dan kekeluargaan juga, malah nyawa loh.
    Kejadian nyata 1, terjadi di kerabat saya. Sebutlah Ibu A menerima telepon penipu pura2 jadi polisi yang meminta trf sejumlah uang karena anaknya yang sedang merantau terkena kasus narkoba. Uang itu dikatakan sebagai jaminan kebebasan si anak.
    Malangnya, si ibu malah percaya dan hampir saja trf sejumlah uang yang lumayan besar. Meskipun “hampir” tapi saat diceritakan ke si anak lewat telepon (karena anak di rantauan), justru yang ada si anak kecewa berat ke ibu A. Kecewa bukan karena kena tipu, tapi kenapa bisa percaya kalau anaknya terlibat kasus semacam itu.
    Padahal begitu sulitnya bertahan hidup di tempat yang jauh bahkan menahan diri dari godaan pendapatan haram. Ini ibunya sendiri malah percaya penipu kalau anaknya bisa masuk dunia gelap seperti jual beli narkotika. Miris sih ini. Anaknya marahan sampai sekarang, alasannya karena sulitnya di perantauan malah dituduh yang tidak2 katanya.

    Kejadian nyata 2, terjadi pada tetangga jauh di desa saya. Kejadian menimpa ibu muda, sebut Ibu B, ditelepn penipu yang meminta tebusan (entah kasus apa modusnya) tapi Ibu B tidak bisa berpikir panjang sehingga mentrasfer uang hingga belasan juta.
    Padahal, baginya, uang itu hasil tabungan susah payah selama ini sebagai seorang istri. Karena shock, ibu B meninggal setelah 2 hari kejadian.

    Miris kan ya efek penipuan itu? Hmmm, semoga kita bisa lebih waspada dan bisa dijauhkan dari keburukan orang-orang tidak bertanggungjawab.

    1. Ya Allah.. sedih sekali ya mba.. Semoga kita semua terhindar dari kejadian penipuan begini. Aamiin..

  13. Saya juga sering dimasukan ke grup telegram sama orang tidak dikenal. Mereka tiba-tiba ngasi testimonial kalau komisi sudah ditransfer, dll. Beberapa orang yang aku kenal ada yang ikut misi tugas ini, tetapi dia pintar… setelah disuruh top up, dia langsung berhenti. Jadi nggak sampai rugi jutaan rupiah. Penipuan seperti ini memang rawan terjadi kepada orang-orang yang memiliki sifat serakah.

  14. Penipuan dengan modus kayak si B tuh emang lagi ramai banget dah sekarang. Aku juga udah sering banget mendapat penawaran soal kerjaan mudah berbayar lewat grup tele gitu.
    Ada yang menawarkan dulu lewat chat WA. Banyak juga yang langsung nyulik ke grup Telegram.
    Beruntungnya, aku sudah sering baca cerita teman-teman soal penipuan dengan motif ini. Jadi, begitu ada tawaran lewat chat WA, ya nomornya langsung kublokir. Begitu juga kalau langsung diculik ke grup Tele. Aku langsung out dan report grupnya.
    Memang kudu waspada sih jaman sekarang tuh.

  15. Benar, kemajuan teknologi informasi ini memang menguntungkan banyak hal, tapi di sisi lain kita juga tetap selalu harus waspada terutama yang ada kaitannya dengan data pribadi.

Leave a Reply to RIFQI FAUZAN SHOLEH Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *