Lalang Ungu. Hai teman… Januari sudah sampai di pertengahan niih.. Semoga teman2 tetap sehat dan bahagia yaa.. 🙂
Hm…hari minggu, hari pasaran. Ke Pasar Karetan asyik niih… Oya, teman-teman sudah tahu / mendengar tentang Pasar Karetan? Eh jangan salah yaaa… Ini bukan nama pasar yang menjual segala jenis karet-karetan lhooo.. Haha…
Ok deh, biar nggak kelamaan bingungnya, ku kasih tahu saja niih… Pasar Karetan adalah satu dari tujuh Destinasi Digital yang sudah ada di Indonesia, merupakan bentuk kegiatan digital sociopreneurship yang menggabungkan community online & offline juga sebagai pertemuan netizen (GenPI) dan masyarakat selaku pelaku ekonomi.
Lha…apa pula itu Destinasi Digital?
Menurut Menteri Pariwisata Bp Arief Yahya, yang dimaksud dengan Destinasi digital (digital destination) adalah destinasi wisata yang instragamable atau bagus bila diunggah ke media sosial. Target dari destinasi digital ini adalah kaum milenial ( 19-40 th) yaitu untuk memenuhi self esteem / kebutuhan untuk diakui.
Lalang Ungu. Matahari telah cukup terik ketika kami selesai trekking mangrove Pandansari di siang itu. Sudah masuk waktu dhuhur, maka sambil menunggu makan siang, kami pun sholat di mushola kecil dermaga Dewi Mangrovesari tersebut. Selesai sholat, ternyata baru kutahu bahwa kami akan melanjutkan perjalanan menuju Pulau Cemara. Hah, di Brebes ada pulau? Atau aku yang salah dengar?
Eh, aku tak salah dengar kok. Â Ternyata Brebes memang punya banyak lokawisata. Selain Dewi Mangrovesari alias Desa Wisata Pandansari, ada banyak destinasi-destinasi wisata baru yang sedang dikembangkan oleh masyarakat setempat melalui Kelompok-kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), di antaranya adalah Pulau Cemara.
Naah..tentu saja aku penasaran ingin segera mengunjungi Pulau Cemara…tapi…ada juga rasa was-was timbul dalam hatiku. Apa pasal?
Rasa khawatir memang sempat terselip di hatiku ketika Pak Auki -salah satu pendamping kami di Famtrip Brebes-menyampaikan bahwa kami akan berperahu melewati laut sekitar 30 menit. Perahunya relatif kecil lhooo…aman gak siiih??? Itulah kekhawatiranku.
Namun rupanya kekhawatiran itu tak perlu bertahan lama. Pak Auki dan kawan-kawan dari Pokdarwis setempat meyakinkan kami bahwa perjalanan kami insya Allah aman, pengemudi perahunya sudah berpengalaman, perahu kami tidak berlebihan muatan -10 – 15 orang- dan cuaca juga sedang bersahabat.
Maka akupun kemudian dengan mantab mengikuti instruksi untuk menaiki perahu itu bersama sebagian rekan perjalananku kali itu -rekan-rekan blogger dan media- didampingi beberapa rekan dari Pokdarwis setempat.
Semoga di penghujung Bulan Desember ini, teman-teman tetap semangat yaa… Iyalaah…kan habis liburan jilid 1, hehe… Eh, itu sih aku yang liburannya terbagi 2 bagian, yaitu bagian 1 tanggal 23-27 Desember sedangkan bagian keduanya nanti tanggal 30 Desember 2017 – 1 Januari 2018.
Nah, sambil bersiap tuk liburan akhir tahun nanti, maka kali ini kutuliskan dulu beberapa perjalanan ‘piknik tipis-tipis‘ yang beberapa waktu lalu kami lakukan, yaitu treking / susur mangrove.
Hai, temaaan…, apa kabar? Menjelang penghujung Bulan Desember ini, semoga teman-teman dan keluarga sehat-sehat selalu yaaa…
Oya, mungkin teman-teman juga sedang menikmati liburan ya, mengingat hari ini sudah tanggal 24 Desember dan sebagian besar anak sekolah sudah menerima rapor dan memasuki masa liburan sekolah.
Nah, berbincang tentang liburan, sudah adakah rencana liburan akhir tahun, teman-teman? Mestinya sih sudah ya, karena akhir tahun tinggal beberapa hari lagi dan perencanaan awal merupakan salah satu kunci keberhasilan liburan.
Etapi, kalau ternyata belum dapat lokasi tujuan liburan akhir tahun, aku punya informasi asyik lhooo… Cobain ke DEWI MANGROVESARI atau Desa Wisata Mangrove Pandansari Brebes, dijamin nggak akan nyesel deeh..
Sebagai gambaran, akan kuceritakan apa  saja yang dapat kita lakukan saat berlibur ke Hutan Mangrove yang ada Dukuh Pandansari Desa Kaliwlingi Kec Brebes Kab Brebes Jawa Tengah itu.
Melakukan Tracking Hutan Mangrove
Menuju ke Desa Wisata Pandansari sekilas memang terlihat tak berbeda dengan desa-desa nelayan lainnya. Terdiri dari rumah-rumah penduduk dengan tambak-tambak di kanan-kiri jalan -yang tak terlalu lebar- dan ada perahu-perahu yang tertambat di beberapa bagian sungai.
Memasuki Dukuh Pandansari baru terasa bedanya. Ada Joglo Mangrove yang menjadi pusat edukasi dan ruang pembelajaran untuk memahami tentang ekosistem mangrove, dll. Ada pula Sanggar Seni tempat pertemuan ide-ide kreatif warga berupa karya seni, dan juga penampilan tradisi / budaya baik itu tarian, musik, seni lukis maupun teater.
Tak perlu takut nyasar untuk menuju Hutan Wisata Mangrove, karena ada papan-papan petunjuk arah menuju lokasi ini, dan penduduk yang ramah pun akan memberi petunjuk dengan senang hati bila ditanyai.
Memasuki lokasi Hutan Wisata Mangrove ada gerbang dengan loket tiket masuk di sebelah kanan, dan posko Desa Wisata di sebelah kirinya. Oya, untuk memasuki kawasan ini pengunjung dipungut biaya Rp. 15.000 (orang dewasa) dan Rp. 5.000 (anak-anak) di hari kerja dan Rp. 20.000 (dewasa) dan Rp. 10.000 (anak-anak) di hari libur.
Memasuki gerbang kita akan melewati tempat parkir, warung & tempat makan serta kios-kios penjual cendera mata maupun oleh-oleh khas Brebes, langsung menuju dermaga.
Inilah dermaga menuju lokasi susur mangrove Pandansari
Lalang Ungu. Â Teman, jika disebut kata ‘DIENG’ , kata-kata apa yang langsung muncul di benakmu? Kalau aku, ada 3 kata yang muncul. Dingin dan kabut. Itu dua kata pertama yang langsung terpikir olehku setiap kali mengingat Dieng. Ya, beberapa kali mengunjungi daerah wisata nan elok ini, selalu saja disambut dengan rintik hujan, hawa sejuk cenderung dingin…dan kabut -tipis ataupun tebal- yang menyapa…
Namun dua kata itu tak serta merta menepis kata lain yang tercipta di benakku mengenai Dieng : mempesona. Ya, meskipun dingin dan berkabut, Dieng selalu saja mempesonaku dan membuatku mau dan mau lagi untuk mengunjunginya.. Hm, jangan-jangan ada mantera pemanggil di antara kabut itu?? Haha…
Lalang Ungu. Suara gamelan Jawa yang cukup rampak menyambut kedatangan rombongan kami di Desa Gumelem Wetan Kec Susukan Kab Banjarnegara siang itu. Oya, setelah kunjungan kami ke Sentra Keramik Klampok, maka Desa Gumelem adalah tujuan kunjungan Famtrip selanjutnya.
Ternyata saat kedatangan kami, di halaman Balai Desa Gumelem yang terlihat semarak siang itu sedang dipentaskan sebuah tarian Kuda Lumping oleh para remaja putera, setelah itu juga tari-tarian oleh gadis-gadis kecil di atas panggung. Meriah sekali 😀 Rupanya sedang ada acara peringatan ulang tahun Desa Gumelem, yang juga dihadiri oleh perwakilan dari Kasunanan Surakarta. Setelah mendengarkan sambutan dari Kades, kami pun langsung menuju pinggir arena tempat ibu-ibu memajang aneka macam kain batik.
Lalang Ungu. Sabtu, 11 Nopember 2017 merupakan hari ke-2 kegiatan Famtrip Banjarnegara yang kuikuti bersama dengan rekan-rekan blogger, GenPI, pekerja media dan sosial media.
Kecamatan Purworejo Klampok dan Kecamatan Susukan menjadi tujuan kunjungan kami hari kedua. Di Kecamatan Purworejo Klampok kami langsung menuju ke sentra kerajinan keramik yang merupakan salah satu produk unggulan Banjarnegara.
Banjarnegara. Bila mendengar kata itu, apa yang langsung terbayang olehmu, teman? Dawet Ayu, Tempe Kemul, Dieng, Keramik, Batik, rafting?
Ya, memang banyak sekali potensi yang ada di Kabupaten Banjarnegara ini, sangat menarik untuk dieksplor satu persatu ya… Itu sebabnya aku sangat senang dan semangat ketika beberapa waktu lalu mendapat tawaran untuk ikut Famtrip Blogger dan Media ke Banjarnegara pada 10-12 Nopember 2017.
Semangat sekali sehingga dibela-belain ambil cuti sehari di kantor karena acara itu akan dimulai pada hari Jumat pagi yang notabene bukan hari libur kami, hehe… Alhamdulillah izin cuti disetujui dengan mudah, sehingga aku berhasil ikut acara keren ini. Sungguh tak menyesal karena benar-benar seruuuu…
Lalang Ungu. Bandungan. Apa yang terlintas di benakmu saat mendengar kata itu, teman?
Pasar?
   Bunga?
        Buah?
             Villa?
                    Daerah sejuk?
                         Kabupaten Semarang?
Yak…semua benar! 😀
Menurut Wikipedia, Bandungan adalah nama sebuah wilayah di Kabupaten Semarang, yang merupakan kecamatan baru, pemekaran dari sebagian wilayah Kecamatan Ambarawa dan Kecamatan Jambu.
Bandungan terkenal dengan pasar tradisionalnya yang berlokasi strategis yaitu di pinggir jalan utama Bandungan, di mana pengunjung dapat membeli aneka buah maupun makanan khas Bandungan seperti Tahu Serasi, Kerupuk Opak maupun Torakur alias Tomat Rasa Kurma.
Selain aneka buah -yang paling sering dicari orang adalah Kelengkeng dan Alpukat- bagi pecinta bunga hias Bandungan adalah surganya. Deretan kios-kios penjual bunga hias ini ada di sepanjang trotoar jalan utama. Warna-warni yang sangat menyegarkan mata!
Sebagaimana daerah beriklim sejuk lainnya, ada banyak hotel, motel maupun villa-villa yang bertebaran di Bandungan ini. Pilih saja yang paling sesuai dengan kebutuhan dan ketebalan dompet anda! Hehehe..
Nah, itu dia sekilas info tentang Bandungan, yang menjadi lokasi pengalaman belanjaku yang anti mainstream dan akan kutuliskan kali ini.
Memangnya bisa belanja apalagi di Bandungan selain yang sudah disebutkan sebelumnya?
Lalang Ungu. Sebagaimana telah sering terjadi di keluarga kami, susah sekali merencanakan pergi bersama. Seringkali rencana yang sudah dibuat gagal terlaksana karena satu dan lain hal, dan bahkan pengalaman membuktikan bahwa acara mendadak justru seringkali berhasil! 😀
Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu. Tiba-tiba saja ibu ngersake diantar ke Salatiga -kota kelahiran kami- karena merasa kangen dengan satu-satunya eyang yang masih ada dan juga karena pada libur lebaran yang lalu kami tidak sempat bersilaturahmi ke Salatiga seperti tahun-tahun sebelumnya.
Nah, ketika sampai di rumah Semarang, tiba-tiba saja aku kok pengen jalan-jalan bareng dan mengusulkan untuk jalan-jalan dulu ke Bandungan, atau sekalian ke Gedong Songo saja yang sudah cukup lama tidak kami kunjungi…dan usul itu diterima oleh semua! Ahay…asyiknya…
Akhirnya pada hari Sabtu 2 minggu yang lalu, kami sekeluarga pun menuju salah satu lokawisata di Kab. Semarang itu. Alhamdulillah perjalanan dari Semarang – Bandungan lancar, mungkin karena masih pagi sehingga lalu lintas tak terlalu padat. Sekitar 1 jam dari Semarang kami sampai di Pasar Bandungan, terus naik lagi ke atas menuju Gedong Songo.
Sekitar jam 9 pagi kami sampai di kompleks candi hindu yang terletak di Dusun Darum Desa Candi Kec. Bandungan Kab. Semarang itu, namun pengunjung sudah terlihat banyak. Mobil sudah tidak dapat parkir di area wisata, namun di tepi jalan beberapa puluh meter sebelum gerbang lokawisata… Ok, uji kaki sudah dimulai dari sini..hehe…