Lalang Ungu. Hai teman, apa kabar? Tampaknya, peralihan musim dari penghujan ke kemarau sudah mulai berlangsung ya.. Cuaca sering labil, pagi cerah ceria…eh tiba-tiba sore mendung dan hujan, atau sebaliknya. Tak apa, kita nikmati saja ya.. karena memang sudah saatnya musim berganti. Pergantian musim tetap harus kita sambut dengan bahagia, seperti juga pergantian hari.
Ya, pergantian hari memang seringkali membawa keindahan tersendiri, sehingga tak heran bila banyak orang yang sangat menikmati momen pergantian hari, baik sunrise maupun sunset. Begitupun denganku. Aku sangat suka dengan kedua momen ini, dan seringkali berharap bisa lebih sering mendapatkan kemewahan dapat menikmati dan mengabadikan momen-momen pergantian hari itu. Nah, kali ini aku akan berbagi kenangan akan momen pergantian siang menuju malam : SENJA di 3 pantai.
Lalang Ungu. Selamat pagi, sahabat… Akhir pekan sudah datang lagi. Mau jalan kemana nih? Bagaimana kalau ke Jogja? Daerah Istimewa Yogjakarta memang terkenal akan budaya dan seninya yang selalu terjaga. Berjalan-jalan atau menikmati tempat wisata di Yogyakarta seakan mengajak kita untuk selalu mencintai budaya kita sendiri. Jika selama ini kamu ke Jogja dan hanya datang ke Malioboro atau tempat-tempat populer saja, maka tak ada salahnya jika kamu mencoba untuk berkunjung sekaligus belajar seni di Museum Nasional Jogja.
Museum Nasional Jogja sendiri adalah sebuah museum seni yang memamerkan seni kontemporer dari berbagai seniman-seniman lokal yang berada di bawah Yayasan Yogyakarta Seni Nusantara. Seperti yang kita sudah tau, Jogja memang menyimpan berbagai ragam budaya jawa dengan nuansa yang kental di setiap sudutnya. Dengan mengunjungi Museum Nasional Jogja, kamu bisa belajar tentang seni kontemporer langsung di sana. Banyak sekali karya terkenal yang bisa kamu lihat di sana, beberapa di antaranya adalah karya dari Ugo Untoro, S. Teddy D, Agus Suwage, dan seniman lain. Continue reading “Belajar Seni Semakin Menyenangkan Di Museum Nasional Jogja”
Lalang Ungu. Selamat pagi, teman… Alhamdulillah, Minggu pagi ini cerah, setelah seharian kemarin hujan membasahi bumi Pekalongan dan sekitarnya. Yah, memang cuaca masih tak tentu beberapa hari ini. Tapi, tetap tak boleh terlalu mempengaruhi suasana hati kita, bukan? Semoga tetap bahagia ya teman-teman.. 😀
Oya, pekan kemarin rupanya adalah salah satu pekan heboh di kantor kami. Beberapa kegiatan yang insidentil menyeruak di antara rutinitas yang biasa, semua membutuhkan energi dan konsentrasi lebih..sehingga akhir pekan ini aku memang berniat di rumah saja memulihkan energi, hehe.. Nah, sambil beristirahat, kutuliskan tentang kunjungan singkat kami ke Pantai Depok Indah Pekalongan beberapa waktu lalu ya…
Lalang Ungu. Hai teman…apa kabar? Semoga tetap sehat dan bahagia di minggu ke-2 Bulan Maret ini yaa… Meskipun hujan masih rajin berkunjung dan langit lebih sering mendung, mari kita nikmati saja dengan senyum …
Namun kadangkala suara rintik hujan seolah menjadi backsound yang syahdu saat kutarikan jari-jemariku merangkai kata. Oya, sore berhujan seperti ini juga mengingatkanku pada sebuah sore yang basah beberapa waktu lalu di sekitar Klaten, yang tak mampu mencegah kami untuk mampir ke Umbul Ponggok.
Lalang Ungu. Â Hai, teman-teman… Jumpa lagi di awal bulan baru ya.. Alhamdulillah kita memasuki bulan ketiga di 2018, insya Allah tetap sehat dan bahagia yaa.. Aamiin…
Nah, kali ini aku mau melanjutkan cerita tentang jalan-jalan kami ke Desa Wisata Samiran Boyolali beberapa waktu lalu bersama rekan-rekan Blogger Deswita dan FK Deswita Jawa Tengah. Setelah sebelumnya merasakan nikmatnya ‘muncak tipis-tipis’ ke Gancik Hill Top dan serunya icip-icip jajanan khas di Pasar Tiban Duit Batok, maka jalan-jalan penutupannya adalah ke destinasi wisata yang bernama Alam Sutra.
Hari telah mulai beranjak siang ketika kami meninggalkan Joglo Pengilon -sekretariat Dewi Sambi di Desa Samiran- menuju lokasi Alam Sutra dengan menggunakan (lagi) ‘pajero’ alias mobil bak terbuka (panas njobo njero). Sebagian peserta telah siap sedia membawa payung (terutama mbak-mbak & buibu-nya..) atau minimal menggunakan topi untuk mengantisipasi panas mentari siang hari. Dan aku memilih menggunakan topi saja agar tidak ribet namun tetap terlindung dari panas..hehe..
Selamat Datang di Alam Sutra Samiran Boyolali
Sesampainya di Dukuh Pojok yang menjadi lokasi Alam Sutra, kami pun kembali dihadapkan pada pilihan antara jalan kaki atau naik ojek. Oya, kalau ngojek di Gancik Rp 10.000/org sekali jalan, maka di sini hanya separuhnya saja. Hm, berarti medannya nggak terlalu ekstrim seperti di Gancik kali, ya? begitu pemikiran kami waktu itu, sehingga kemudian kami pun memutuskan untuk berjalan kaki menuju gardu pandang.
Oya, sama seperti di bukit Gancik, obyek wisata Alam Sutra Boyolali ini juga menawarkan pengalaman soft treking dan pemandangan alam dari gardu-gardu pandang yang sekalian berfungsi sebagai spot pepotoan nan kekinian.. Setelah menetapkan pilihan kami pun mulai mengayunkan langkah menyusuri jalan setapak menuju lokasi gardu pandang Alam Sutra.
Pemandangan di Alam Sutra Samiran Boyolali
Dan ternyata, pilihan kami untuk berjalan kaki tidaklah salah. Sinar matahari -sekitar jam 11 waktu itu- di kawasan Dukuh Pojok Boyolali tidak terlalu menyiksa. Mungkin karena cukup banyak angin nan sejuk di daerah ini sehingga panas mentari tak begitu terasa dan kami pun tetap nyaman melangkah menyusuri trek yang tidak terlalu menanjak.
Pemandangan hamparan kebun sayur nan hijau segar berpadu dengan suasana langit yang cerah di Alam Sutra Boyolali
Dengan berjalan kaki, kami pun semakin leluasa menikmati pemandangan di kanan-kiri jalan setapak yang merupakan lahan pertanian penduduk. Hijaunya hamparan tanaman Wortel, Sawi, daun Adas dan Selada berkolaborasi dengan birunya langit berhiaskan awan seputih kapas sungguh merupakan vitamin mata yang menyehatkan jiwa! 😃
Berinteraksi dengan petani di Alam Sutra Boyolali
Oya, kita dapat pula berinteraksi dengan para petani yang sedang beraktivitas di kebunnya. Ada yang sedang mengolah tanah, menyiangi tanaman ada pula yang sedang panen. Eh, ada pula teman yang nempil membeli selada langsung dari petani di sana lho.. Yang ngobrol dengan petani untuk mengetahui keseharian mereka ada, dan tentunya ada pula yang tak melewatkan kesempatan untuk pepotoan demi konten blog / IG! *nunjukdirisendiri 😆 Semua itu boleh kok.. yang tidak boleh adalah merusak tanaman petani, baik itu sengaja maupun tidak sengaja.. catat ini ya..hehe..
Sekitar 20 menit kemudian kami pun sampai di lokasi gardu pandang Alam Sutera yang ditandai adanya loket pengunjung. Oya HTM di sini murah meriah kok, cukup Rp 5.000 saja per orangnya. Terdapat beberapa gardu pandang yang terbuat dari bambu. Ya, memang sekilas terlihat sederhana dan rapuh, namun jangan takut…, tentunya pengelola sudah memperhitungkan kekuatannya demi keselamatan pengunjung.. hehe
Gardu-gardu pandang di Alam Sutra Samiran Boyolali
Jika dibandingkan dengan kondisi gardu di Gancik Hill Top, memang penampilan gardu pandang di Alam Sutera terkesan lebih sederhana. Â Namun, jangan khawatir..pemandangan yang dapat kita nikmati dari atas sana sama indahnya kok 😃
Seseruan dengan Blogger Deswita di Alam Sutra Samiran Boyolali (Foto by Gus Wahid)
Pose-pose manis juga laah… (Foto by : Gus Wahid)
Setelah naik ke gardu, menikmati pemandangan sekitar yang menghijau sambil dibelai angin sepoi-sepoi nan sejuk, dan tak lupa berfoto-ria baik sendiri-sendiri atau bersama (ups..kalimat ini seperti iklan apa ya?? 🤔) maka kami pun mulai berkemas meninggalkan lokasi, turun kembali ke tempat parkir. Sekali lagi perjalanan pulang disejukkan dengan pemandangan hijau segar kebun sayur yang kami lewati…
Mengenal jenis-jenis sayuran di Alam Sutra Samiran Boyolali, a.l : Selada, Wortel, Sawi, Adas.
Hm, bagiku yang paling berkesan dari perjalanan ke Alam Sutera ini adalah nuansa hijau segar dari hamparan kebun sayur + pengalaman mengamati aktivitas petaninya. Mungkin pengelola bisa menambahkan sesi berinteraksi dengan petani dan mengenal jenis-jenis sayuran di kebun sebagai salah satu daya jual dari obyek wisata ini, selain tentunya pemandangan alam dan spot pepotoan yang instagramable sebagaimana obyek-obyek wisata kekinian. Pengalaman berkunjung ke kebun sayur bila dikemas dengan bagus dapat menjadi bagian yang menarik dari sebuah paket eduwisata, bukan?
Nah, itulah cerita jalan-jalan kami ke Alam Sutera di Dukuh Pojok Desa Samiran Boyolali, sekaligus penutup rangkaian tulisan catatan perjalanan bersama FK Deswita di Desa Wisata Samiran Boyolali ini. Oya, teman-teman juga dapat membaca tulisan teman-teman Blogger Deswita lainnya tentang kunjungan ke Alam Sutra ini, antara lain tulisan dari mas Wahid dan Mia.
Lalang Ungu. Hai..haii… Apa kabar, teman? Tetap sehat dan bahagia, bukan?Tak terasa sudah pertengahan minggu, sebentar lagi weekend..horeee… 😄
Oya, kali ini aku akan meneruskan cerita tentang jalan-jalan kami beberapa waktu lalu ke Dewi Sambi alias Desa Wisata Samiran Boyolali. Jam tubuhku mengisyaratkan waktu sarapan telah lewat ketika kami pulang dari Gancik Hills Top pagi itu, perut keroncongan adalah salah satu tandanya, hehe..
Syukurlah, ternyata mobil ‘pajero’ yang kami tumpangi kembali menuju Sekretariat Dewi Sambi melaju dengan mantab menuruni jalan berliku itu dan tak lama kemudian berhenti di salah satu pertigaan di Desa Samiran. Lho, kenapa kami tidak berhenti di Sekretariat? Dan, ada keramaian apa di depan sana??
Lalang Ungu. Sore akan segera beranjak menuju Maghrib namun kami masih menyusuri jalan berkabut di kawasan Kec Selo Boyolali, pada hari Jumat 9 Pebruari 2018 kemarin.
Ya, saya bersama 6 orang teman blogger sore itu sedang menuju Desa Samiran untuk memenuhi undangan dari Forum Komunikasi Desa Wisata (FK Deswita) Jawa Tengah yang akan mengadakan pertemuan ke-14 di desa tersebut. Kami ber-6 berangkat dari Semarang sekitar jam 3 sore, karena sudah diwanti-wanti rekan-rekan FK untuk tiba di sana sebelum Maghrib agar tidak terjebak kabut di perjalanan.
Benar saja, di sore nan gerimis itu, kabut sudah mulai turun di kawasan Selo meskipun jam tangan belum menunjukkan pukul 5 sore. Pemandangan pepohonan hijau di  kiri-kanan jalan tak  dapat kami nikmati sepenuhnya karena terselimuti kabut. Setelah sempat bertanya arah pada penduduk sekitar akhirnya kami sampai di Sekretariat Desa Wisata Samiran Boyolali (Dewi Sambi) menjelang pukul 6 sore itu. Alhamdulillah… Continue reading “Berkunjung ke DEWI SAMBI (1) : Gancik Hills Top”
Lalang Ungu. Hai, teman… Tak terasa sudah masuk di bulan ke-2 Tahun 2018 ini ya.. Tetap semangat dan bahagia, bukan? 🙂
Kebetulan juga lagi week end niih, jadi kali ini ku akan menulis tentang pengalamanku berwisata bersama keluarga ke salah satu tempat asyik, yaitu Agrowisata Pagilaran.
Sebenarnya, bukan baru pertama kali kuberkunjung ke daerah perkebunan teh yang berlokasi di Desa Keteleng Kecamatan Blado Kab. Batang ini. Ya, beberapa kali ada kegiatan kantor yang berlokasi di area wisata yang dikelola ole PT Pagilaran ini, namun memang belum pernah khusus berwisata ke sana, sehingga kesempatan libur akhir tahun lalu merupakan salah satu momen yang tepat bagi keluarga kami untuk berkunjung ke tempat cantik ini. Continue reading “Kenangan Liburan di Pagilaran”
Lalang Ungu. Hai teman… Januari sudah sampai di pertengahan niih.. Semoga teman2 tetap sehat dan bahagia yaa.. 🙂
Hm…hari minggu, hari pasaran. Ke Pasar Karetan asyik niih… Oya, teman-teman sudah tahu / mendengar tentang Pasar Karetan? Eh jangan salah yaaa… Ini bukan nama pasar yang menjual segala jenis karet-karetan lhooo.. Haha…
Ok deh, biar nggak kelamaan bingungnya, ku kasih tahu saja niih… Pasar Karetan adalah satu dari tujuh Destinasi Digital yang sudah ada di Indonesia, merupakan bentuk kegiatan digital sociopreneurship yang menggabungkan community online & offline juga sebagai pertemuan netizen (GenPI) dan masyarakat selaku pelaku ekonomi.
Lha…apa pula itu Destinasi Digital?
Menurut Menteri Pariwisata Bp Arief Yahya, yang dimaksud dengan Destinasi digital (digital destination) adalah destinasi wisata yang instragamable atau bagus bila diunggah ke media sosial. Target dari destinasi digital ini adalah kaum milenial ( 19-40 th) yaitu untuk memenuhi self esteem / kebutuhan untuk diakui.
Lalang Ungu. Matahari telah cukup terik ketika kami selesai trekking mangrove Pandansari di siang itu. Sudah masuk waktu dhuhur, maka sambil menunggu makan siang, kami pun sholat di mushola kecil dermaga Dewi Mangrovesari tersebut. Selesai sholat, ternyata baru kutahu bahwa kami akan melanjutkan perjalanan menuju Pulau Cemara. Hah, di Brebes ada pulau? Atau aku yang salah dengar?
Eh, aku tak salah dengar kok. Â Ternyata Brebes memang punya banyak lokawisata. Selain Dewi Mangrovesari alias Desa Wisata Pandansari, ada banyak destinasi-destinasi wisata baru yang sedang dikembangkan oleh masyarakat setempat melalui Kelompok-kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), di antaranya adalah Pulau Cemara.
Naah..tentu saja aku penasaran ingin segera mengunjungi Pulau Cemara…tapi…ada juga rasa was-was timbul dalam hatiku. Apa pasal?
Rasa khawatir memang sempat terselip di hatiku ketika Pak Auki -salah satu pendamping kami di Famtrip Brebes-menyampaikan bahwa kami akan berperahu melewati laut sekitar 30 menit. Perahunya relatif kecil lhooo…aman gak siiih??? Itulah kekhawatiranku.
Namun rupanya kekhawatiran itu tak perlu bertahan lama. Pak Auki dan kawan-kawan dari Pokdarwis setempat meyakinkan kami bahwa perjalanan kami insya Allah aman, pengemudi perahunya sudah berpengalaman, perahu kami tidak berlebihan muatan -10 – 15 orang- dan cuaca juga sedang bersahabat.
Maka akupun kemudian dengan mantab mengikuti instruksi untuk menaiki perahu itu bersama sebagian rekan perjalananku kali itu -rekan-rekan blogger dan media- didampingi beberapa rekan dari Pokdarwis setempat.