Suatu pagi di sekitar Brug Loji Pekalongan

Brug Loji

Pagi belum beranjak siang, ketika kami beristirahat setelah bersama-sama mengikuti acara kerja bakti -di lahan bekas lokasi Pasar Sentiling Pekalongan- yang merupakan salah satu kegiatan pada puncak acara Bulan bakti Gotong Royong Masyarakat ( BBGRM) di Kota Pekalongan pada akhir bulan lalu.

Sambil beristirahat di tepi Kali Loji, pandangan kami tertuju pada lalu lintas yang sudah mulai ramai melintasi kedua jembatan di atas sana. Ya, saat ini memang terdapat 2 buah jembatan yang melintang diatas Kali Loji / Kali Kupang dan menghubungkan Kawasan Jetayu (alun-alun utara Kota Pekalongan) dan Jl. Sultan Agung Pekalongan. Nah, tahukah teman, salah satu dari kedua jembatan tersebut, merupakan salah satu bangunan cagar budaya di Kota Pekalongan, lho….

Tepatnya adalah jembatan yang tampak lebih ringkih dan berada di sebelah kanan ( dari arah Lap Jetayu ). Konon, Brug Loji ( Jembatan Loji ) tersebut dibangun pada sekitar tahun 1908 pada masa kolonial Hindia-Belanda, merupakan sarana penyeberangan sepanjang sekitar 90 m yang menghubungkan kawasan pemerintahan saat itu dengan kawasan Loji ( Lodge ) yang terletak berseberangan dibatasi Kali ( sungai ) Loji / Kali Kupang tersebut. Continue reading “Suatu pagi di sekitar Brug Loji Pekalongan”

SUKUN Malang, bukan Sukun biasa …

Ada apa dengan motor ibu ini ?

Ada apa dengan motor ibu itu ? Apakah kehabisan bensin, atau ban-nya kempes?

Ya, mungkin itu pertanyaan yang hinggap di benak kita ketika melihat seorang wanita menuntun sepeda motor-nya sepanjang gang, alih-alih mengendarainya.

Itu pula sekelumit tanya yang sempat terbersit di hati kami ketika hari minggu pagi menjelang siang kemarin, kami menyaksikan kejadian itu.  Tanya di hati makin mengemuka ketika tak hanya ibu itu seorang yang kami lihat menuntun motornya sepanjang gang pagi itu.  Ada pula seorang bapak, ibu-ibu lainnya bahkan beberapa anak muda yang melakukannya.  Tak mungkin ada kejadian ‘bocor ban berjamaah’ saat itu bukan??? Continue reading “SUKUN Malang, bukan Sukun biasa …”

Sebuah puisi tentang Kali

KALI ASEM BINATOER

Di kala jiwa anak

mengendap merayap

menggapai cita kelak dewasa

Kali Asem Binatoer

adalah teman bercanda ria

teman berenang bersama udang

teman menyelam bersama ketam

Tiada sampah tiada limbah

air mengalir menyapa sawah

agar padi menguning menjadi berkah

Kali Asem Binatoer

walau katanya kau punya makna asam yang hina dina

tapi duka tak pernah kau rasa

bersama sampan dan ikan sebagai teman setia

Kali Asem Binatoer

kini engkau telah tertipu oleh manusia-manusia dungu

yang membuang sampah, membuang limbah

tapi mereka katakan membawa berkah

Kali Asem Binatoer

kini airmu yang mengalir menyusuri depan istana raja

telah berubah warna

bersama racun yang kelak bisa membawa bencana…

( Muchsin – Tepi Asem Binatoer, 26-2-2015 )

*** Continue reading “Sebuah puisi tentang Kali”

Dua produk olahan Mangrove : Sirup dan Sabun.

Hijaunya Mangrove, menjanjikan keteduhan
Hijaunya hutan Mangrove, menjanjikan keteduhan

Ketika berkunjung ke kawasan Pekalongan Mangrove Park beberapa waktu lalu, sebenarnya ada yang kurang kurasakan, yaitu tidak sempat melihat secara langsung hasil pengolahan buah Bakau.

Ya, memang dari penjaga yang ada di Pusat Informasi Mangrove (PIM) itu kami mendapat informasi bahwa buah mangrove ini dapat diolah baik sebagai makanan, minuman maupun produk non pangan.

Sirup, dodol, kripik dan tepung mangrove adalah beberapa jenis olahan buah mangrove yang dapat dikonsumsi.  Adapun produk non pangan dari buah mangrove antara lain : sabun dan bahan pewarna alami. Continue reading “Dua produk olahan Mangrove : Sirup dan Sabun.”

Jalan-jalan ke (calon) Pekalongan Mangrove Park

Pada tahun 2013 yang lalu, Menteri Kehutanan RI telah meresmikan Pusat Restorasi dan Pengembangan Mangrove (PPRM) yang merupakan bagian dari pembangunan kawasan agrowisata yaitu Pekalongan Mangrove Park.  Sudah cukup lama kami berkeinginan untuk mengunjunginya, namun kesempatan itu baru datang pada Sabtu, 28 Pebruari 2015 kemarin.

Berlokasi di Kelurahan Kandang Panjang Kec Pekalongan Utara Kota Pekalongan, kawasan ini semula adalah lahan tambak udang milik Dinas Pertanian Perikanan dan Kelautan Kota Pekalongan yang sudah tak produktif lagi dan akhirnya dikembangkan sebagai kawasan konservasi sekaligus tempat edukasi & wisata alam.

Sampai saat ini Pekalongan Mangrove Park memang belum selesai dibangun sehingga belum dibuka secara resmi. Namun masyarakat sekitar maupun pengunjung dari luar kota sudah diperbolehkan masuk ke lokasi agrowisata ini.

Ada apa di Pekalongan Mangrove Park ?

AIR

Continue reading “Jalan-jalan ke (calon) Pekalongan Mangrove Park”

Berkreasi dan Berbagi

Sejak duluuu… ketrampilan tangan bukanlah hal yang kukuasai dengan baik.  Aku ingat, saat pelajaran ketrampilan di SD, menyulam, menjahit, membuat kerajinan tangan seperti asbak, pigura, dll selalu saja menjadikanku merasa deg-degan… Berhasil kukerjakan memang -meski dengan susah payah- namun aku sadar betul itu bukan keahlianku. Nilai yang kuperoleh pun gak jauh-jauh dari angka 6! hehe…

Padahal sebenarnya aku tak asing dengan hal itu.  Di rumah, ibu sangat suka menjahit, merenda, menyulam… demikian juga kakak-kakak perempuanku, tapi tidak denganku. Tanganku seolah tak pernah luwes mengerjakan hal-hal itu.  Pernah di masa remaja kami, sedang ‘demam’ kristik, maka hampir setiap hari kami sibuk membuat kristik beramai-ramai. Ya, kami memilih suatu pola dengan ukuran yang cukup besar dan dikerjakan bertiga, aku dan 2 orang kakak perempuanku.  Nah..itu bisa?? mungkin demikian katamu… Eh, jangan salah.. aku memang bisa kok, tapi ya sekedar bisa dan hasilnya tak sebaik kakak-kakakku, oleh karenanya bagianku adalah….ngeblok! Itu lhooo, membuat bagian yang hanya satu warna merata, misalnya bagian awan, tanah, atap rumah, dll… 🙂

Sampai sekarang, kerajinan tangan tetap bukan keahlianku.  Mungkin itu sebabnya, aku selalu kagum dengan orang-orang yang pandai membuatnya. Aku sangat menikmati hasil karya mereka.  Ketika ibu senang membuat renda-renda untuk alas almari, aku yang memasangnya, saat kakak keduaku menghasilkan tas-tas cantik, aku lah penggunanya! haha… Continue reading “Berkreasi dan Berbagi”

Bertanam Terong dalam pot

Masih meneruskan informasi yg kudapat melalui leaflet yg dibagikan saat pelatihan pendamping KRPL kemarin dulu yaa…. kalau kemarin sudah menulis tentang bertanam seledri, kali ini tentang Budidaya Terong dalam pot.

Siapa yang belum mengenal Terong? Hm, tampaknya sebagian besar dari kita sudah mengenal salah satu jenis sayuran ini ya, atau bahkan mungkin menjadikannya sebagai sayuran kegemaran. Ya, Terong memang sudah umum dikonsumsi di masyarakat kita.

Selain dikonsumsi sebagai sayur, ada pula yang mengkonsumsinya sebagai obat wasir, bahkan karena kandungan senyawa solasodinnya, terong dikenal juga sebagai pencegah kehamilan.

tabulapot4 Continue reading “Bertanam Terong dalam pot”

Oil drop speck method

Tadi pagi, saat membuka dasbor blog ini, kutemukan komen dari Pakde yang makjleb banget : ‘sudah 5 hari kok masih mimpi ‘  Buat yg kurang faham, itu sindiran Pakde untuk tulisanku yg panceeet ae, padahal hari telah 5x berganti… hihi… ampuuun, Pakde…, ponakan njenengan satu ini memang sering angot-angotan nulisnya.. hehe…

Nulis 1 tema…macet di tengah jalan…simpan di draft.  Nulis tema lain, macet lagi… parkir lagi di draft… akhirnya tempat ngedraft penuuh, sedangkan berandanya sawangen alias penuh sarang laba-laba… *tidak untuk ditiru! 🙂

So.., setelah tertohok komen Pak Kumendan itu, akhirnya akupun ngubek-ubek simpanan draft, dan menemukan salah satu diantaranya, yaitu tentang metode rembesan tetesan minyak.  Apakah itu? Continue reading “Oil drop speck method”

Kawasan Rumah Pangan Lestari

Apa itu  Kawasan Rumah Pangan Lestari atau yang seringkali disingkat KRPL?

KRPL  adalah pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan, dalam suatu kawasan, untuk :

  1. Pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi keluarga;
  2. Peningkatan pendapatan keluarga;
  3. Meningkatkan kesejahteraan melalui partisipasi masyarakat.

Latar-belakang diadakannya Model KRPL ini adalah karena adanya 2 permasalahan, yaitu :

  1. Realisasi konsumsi masyarakat masih di bawah anjuran pemenuhan gizi;
  2. Perhatian terhadap pemanfaatan lahan pekarangan relatif masih terbatas.

Adapun tujuan pengembangan KRPL adalah :

  1. Memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan secara lestari.
  2. Meningkatkan kemampuan keluarga & masyarakat dalam pemanfaatan lahan pekarangan untuk budidaya tanaman pangan, buah, sayuran, tanaman obat, ternak, ikan, pengolahan hasil dan kompos.
  3. Mengembangkan sumber benih / bibit untuk menjaga keberlanjutan pemanfaatan pekarangan.
  4. Melestarikan tanaman pangan lokal untuk masa depan.
  5. Mengembangkan ekonomi produktif keluarga, hingga mampu meningkatkan kesejahteraan dan menciptakan lingkungan hijau, bersih dan sehat secara mandiri. Continue reading “Kawasan Rumah Pangan Lestari”

Kupu Hias dari Daun Kupu-Kupu

Teman, tahukah apa nama daun ini ?

DAUN_KUPU

Kalau di daerahku sering disebut Daun Kalibangbang, ada juga yang menyebutnya Daun Kupu-kupu.  Ketika aku tanya mbah Google, tentang Daun / Pohon Kalibangbang, tak ada hasil pencarian yg mengena, namun ketika kuganti kata kuncinya dengan Daun Kupu-kupu, hasilnya adalah sejenis pohon yang nama latinnya  Bauhinia purpurea.

Ternyata, oleh tangan-tangan kreatif, daun tersebut dapat ‘disulap’ menjadi kupu-kupu hias yang cantik lho…. Bahkan sayapnya bisa digambari motif batik juga.. jadilah Kupu Batik yang cantik & ber nilai ekonomi 🙂

Warna-warni kupu hias dari Daun Kupu-kupu
Warna-warni kupu hias dari Daun Kupu-kupu
Yang bermotif batik pun tak kalah cantik
Yang bermotif batik pun tak kalah cantik

Ketika kutanya pada Mas Beni  -yaitu salah seorang pengurus Pos Pelayanan Teknologi ( POSYANTEK ) Mitra Pantura Kec. Pekalongan Utara- cara pembuatan kupu hias dari daun ini tak terlalu sulit.  Awalnya daun direbus dengan air yang telah ditambahi soda api & tawas, lalu setelah itu dicuci dengan air biasa sambil menghilangkan khlorofil dari daun yang telah berubah warna itu.  Setelah dikeringkan, maka daun pun siap untuk di potong sesuai pola sayap kupu-kupu yang diinginkan.  Untuk mempercantik si kupu-kupu, maka ditambahkan warna-warni & motif indah… termasuk juga motif batik.  Setelah dirangkai, maka siaplah kupu-kupu hias nan cantik itu.

Pada pameran hasil Teknologi Tepat Guna (TTG) yang lalu, mereka menjual hiasan cantik ini secara satuan maupun ‘paket’ berisi 3 / 4 / 5 model kupu-kupu.  Harganya relatif terjangkau kok.. paket berisi 4 kupu warna-warni, hanya Rp. 40.000,- saja, sedangkan sebuah Kupu Batik agak besar dalam pigura diberi harga Rp. 300.000,-an.

Stand POSYANTEK Mitra Pantura di pameran kemarin itu...
Stand POSYANTEK Mitra Pantura di pameran kemarin itu…

Selain Kupu hias dari Daun Kupu-kupu itu, dipamerkan pula beberapa produk TTG yang dihasilkan kelp. masyarakat ini, antara lain Kerupuk Sayuran, Septictank apung (yang cocok untuk daerah yg sering banjir / rob), alat fermentasi mikro organik cair,  dll.  Mereka memang orang-orang yang kreatif.  Tak heran jika kelp ini juga mewakili Prop. Jawa Tengah dalam Lomba POSYANTEK  Tk Nasional yang diadakan dalam rangka Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HARTEKNAS) yang penilaiannya di Jakarta awal bulan ini.  Mudah-mudahan saja hasilnya bagus, sehingga makin menambah semangat mereka…

Bagaimana teman, ingin mencoba membuat Kupu Hias-mu sendiri? 🙂

Edit 28 Sept 2013 :

Alhamdulillah… Posyantek Mitra Pantura berhasil membawa Jawa Tengah menjadi Juara I Lomba Posyantek Tk Nasional Th 2013..   😀

Edit 23 Januari 2015 :

Jika ada teman yang berminat memesan kupu hias cantik ini, silakan langsung menghubungi Sdr FIRMAN di 085842378372.