Lebaran telah berlalu, bulan Syawal telah memasuki pekan ke-2.Β Namun kemeriahan belum lagi usai, di beberapa daerah, bahkan acara Syawalan ataupun bada kupatΒ tak kalah meriah sebagai rangkaian perayaan Lebaran itu sendiri.
Salah satu daerah yang merayakan momen Syawalan dengan meriah adalah di Pekalongan, baik di Kota maupun Kabupaten Pekalongan.
Jumat pagi tanggal 8 Syawal 1436 H atau 24 Juli 2015 yang lalu, terasa benar kemeriahan perayaan Syawalan di Kota Pekalongan.Β Sejak sekitar jam 6 pagi, suara-suara petasan besar terdengar bersahut-sahutan, namun arahnya dari atas. Ya, pagi itu banyak warga yang keluar rumah dan mendongakkan kepalanya menikmati balon-balon raksasa yang bertebangan di langit Pekalongan, dan sesekali mengeluarkan suara menggelegar ketika petasan yang dibawa balon-balon itu meletus di atas.


Ngeri-ngeri sedap menyaksikan pembuatan & penerbangan balon-balon raksasa itu.Β Menyenangkan melihat kebersamaan warga bergotong-royong membuat dan menerbangkan balon-balon raksasa itu, namun was-was juga karena proses itu melibatkan petasan-petasan yang jumlahnya banyak dengan ukuran yang relatif besar .. π

Ada puluhan balon raksasa yang dibuat dan diterbangkan oleh warga Kota Pekalongan setiap perayaan Syawalan tiba. Ya, pembuatan & penerbangan balon raksasa sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Tradisi Syawalan di Kota Pekalongan.
Konon, tradisi pelepasan balon ini diadopsi dari kebiasaan bangsa Eropa yang tinggal di Pekalongan sedangkan kebiasaan membunyikan petasan / mercon diadopsi dari kebiasaan Tionghoa.
Balon-balon raksasa itu ada yang dibuat dari kertas minyak, ada pula yang berbahan plastik kresekΒ yang disambung-sambung. Kreatifitas para pemuda banyak berperan pada proses pembuatan balon-balon raksasa itu.
Tradisi Syawalan itu sendiri konon bermula dari kebiasaan tokoh agama setempat yang selalu melakukan puasa syawal sejak setelah hari raya (tanggal 2 – 7 syawal), yang tentu saja diikuti warga sehingga setelah Lebaran masyarakat tidak merayakan secara berlebihan dan justru setelah selesai puasa syawal ( tgl 8 syawal ) barulah kemeriahan itu dimulai.
Puncak dari acara Syawalan di Kota Pekalongan adalah di Kelurahan Krapyak ( Kec. Pekalongan Utara ) yang setiap tahun membuat Lopis Ageng secara bergantian untuk kemudian dipotong oleh Walikota dan dibagikan kepada masyarakat yang datang ( yang mencapai ratusan bahkan ribuan pengunjung dari Kota Pekalongan sendiri ataupun dari Kabupaten Pekalongan, Kab Batang, dll ).
Konon, tradisi pembuatan dan pemotongan Lopis Ageng / lopis raksasa ini terinspirasi dari pidato Presiden Soekarno pada th 1958 di Kebon Rodjo Pekalongan, yang mengimbau masyarakat Pekalongan untuk bersatu padu sebagaimana sifat makanan Lopis ( makanan khas Pekalongan ) yang bertekstur lengket dan kuat.
Pada tahun ini, acara lebih meriah karena tidak hanya 1 Lopis Ageng yang dibuat sebagaimana tahun-tahun sebelumnya ( bergantian antara Krapyak Lor dan Krapyak Kidul) namun bahkan 2 Lopis Ageng, masing-masing 1 di Krapyak Lor dan Krapyak Kidul.
Lopis Ageng di wilayah Krapyak Kidul seberat 1.320 kg, tinggi 203 cm dan berdiameter 87 cm, sedangkan Lopis Ageng di Krapyak Lor beratnya sekitar 1,7 ton, dengan tinggi 190 cm dan berdiameter 75 cm.Β Wiii…. besar-buesaaar bukan? π

Selain menyaksikan pemotongan dan pembagian Lopis Ageng tersebut, masyarakat yang datang juga bisa menikmati Lotis buah dan jajanan pasar yang banyak dijual di sepanjang jalan Jlamprang Kel Krapyak, dilanjutkan dengan berwisata di Pantai Slamaran yang lokasinya tak jauh dari lokasi pemotongan Lopis Raksasa tersebut.
Nah… itu dia kemeriahan tradisi Syawalan di Kota Pekalongan. Yang penasaran, silakan agendakan kunjungan ke Kota Pekalongan pada 8 Syawal 1437 H yang akan datang yaa…
jadi bisa dibilang tradisi ini mengawinkan banyak budaya ya mba, dari Eropa nya ada, Tionghoa nya ada, nah tradisional khas Pekalongannya juga ada. Meriah banget pastinya ya, aku kalo deket juga pasti dateng sih mba hehehe
Meriah mba…pesta rakyat..hehe..
Wah seru banget mbak lihat acara seru seperti ini. Seumur-umur belum pernah lihat secara langsung balon raksasa gitu. Keren, semoga tradisi ini semakin berkembang dan terjaga.
Semoga ya mba.. Aamiin..
Lopis raksasa gimana rasanya yaa? Dikasih gula jugakah mbak?
Seru banget acara tradisi lebaran di Pekalongan ya. Contoh keberagaman budaya Indonesia
Gulanya terpisah mba.. karena ada yg suka ada yg tidak. Selain lopis raksasa ini, di sekitar lokasi juga banyak penjual lopis-lipis ukuran biasa..dengan gula atau dengan parutan kelapa saja..
Syawalan di pekalongan memang legendaris banget ya. Inget jaman kecil kalo main ke rumah nenek pas lebaran seneng banget kalo diajakin syawalan
Hayuuk..ajak duo cantiknya Syawalan ke Pekalongan, Say…agar mereka juga punya kenangan indah seperti mamanya…
Belum pernah makan lopis. Jadi penasaran dengan rasanya soalnya saya suka makanan tradisional. Makanan warisan nenek moyang kita adalah yang terbaik karena telah dibuktikan dengan masa yang telah bertahan lama.
Pekalongan maju secara tradisi. Yang utama adalah rasa kebersamaan. Lebaran dapat acara istimewa.
Terbuat dari ketan mba.. rasanya tawar agak gurih. Dimakan dengan potongan2 kecil yang ditaburi kelapa parut dan ada pula yang lebih suka diberi gula merah cair..
Seru ya tradisinya. Tahun ini bakal ada lagi dong.
Btw, itu balon raksasanya ntar turunnya di mana? Moga2 nggak nyasar ke laut dan jadi makanan hewan laut.
Ada, Dini..tanggal 12 Juni nanti. Utk yg di festival balonnya tidak terbang sehingga jelas tak akan ke mana-mana mengganggu alam. Sedangkan yg diterbangkan secara legal ya..Wallahu alam..hehe…
Biasanya kalau mudik ke Tegal selalu mampir Pekalongan. Sayangnya aku udah ga Lebaran di Tegal lagi beberapa tahun terakhir semenjak Mbah Kakung meninggal. π
Wah..semoga kapan2 tetap bisa mampir Pekalongan ya mba..
Udah lamaaa banget pengen lihat Syawalan dengan lopis raksasa. Tapi nggak pernah ada yang nganter kesana, hahahaa.
Kalo untuk Lopisannya memang agak sungkan karena PASTI berdesak-desakan mbak..hihi.. Musti siap2 uyel2an sih..
Tapi jadi makin mupeng loh baca artikel mbak Tanti ini, hihii
Dicatat dulu deh tanggalnya, 12 Juni kan yang lopis itu? Siapa tahu ada yang tertarik nemeni kesana
Iya mba..tanggal 12 Juni ada beberapa agenda acara Syawalan di Pekalongan
balon balon raksasanya udah mirip hot air baloon di turkey nih, asiknya bisa menyaksikan acara seperti ini :*
Bedanya yg ini tidak bisa membawa penumpang spt yg di Turki mba..hehe..
Lopis ageng seperti apa rasanya, Mbak? Sama gak ya kayak kue lupis yang jajanan pasar itu?
Sama..karena bahan dan cara pembuatannya sama. Hanya ukurannya saja yg super jumbo..haha..
Selalu senang melihat budaya tetap lestari hingga kini. Pekalongan pancen sakpore.
Sayang gegara harus berangkat nguli, aku melewatkan momen Syawalan di Pekalongan ini untuk ke sekian kali.
Kangen lopis intine…hehe!
Andai bisa, ingin kukirimkan rasa Lopis via post ini mbak..hehe… Semoga Syawalan yg akan datang bisa menikmati Lopis ya mba…
Menarik banget ini, Mbak, ada puluhan balon raksasa yaa. Jadi teringat masa kecil dulu pernah melihat balon besar yang diterbangkan. Tentu ini daya tarik tersendiri bagi Pekalongan yang bisa mempertahankan hal ini π Duh…, lopisnya jugaaa…
Lopis yg ‘lengket’ bikin yg pernah mencoba terlengket selalu akan kenangan di Kota Pekalongan..hehe…
Foto lopisnya mana auntiiiieeee? hehehe
khusus buat Neng Orin deh ntar ditambah penampakan lupisnya..hehe..
Wah ternyata model balonnya hampir sama dengan daerah Magelang. Salam
ada yg cantik warna-warni spt itu tp bnyk jg yg sederhana dr kresek hitam / putih π
Pekalongan ternyata asyik ya, ada tradisi keren macam balon raksasa gini
hayuu…maen2 ke Pekalongan.. π
Wuih, gede banget yak lopisnya Mba. Itu lopis apa sofa raksasa hehehee…
Belum pernah liat balon dan lopis raksasa mba, kapan2 traktir aku ke sana yaaaa *pait banget buntute hahahaa…
ayooo…naik kereta api ke sini pasti anak2 suka, dik Uniek.. π
Kalau sering dilakukan seperti ini, semoga tradisi Syawalan akan bertahan cukup lama di Pekalongan ya Mbak. Biar tambah banyak asset budaya kita π
insya Allah mba Evi…kolaborasi apik Pemkot & masyarakat diperlukan utk melestarikan tradisi ini…
Woii lopis makanan khas Pekalongan nggih suka legitnya dococol kelapa parut. Ooh diiris dan dibagikan ya Jeng, siip lebih bisa dimakan semua daripada sistem berebut beberapa terbuang ya. Sukses di lomba blog ya Jeng, berbagi keelokan event budaya lokal.
dibagi-bagikan Bu..tp pada proses pembagiannya masih sj terjadi rebutan… π Trmksh supportnya Bu Prih..mencoba belajar jd ‘duta’ daerah sendiri..hihi..
Aku mau dikirimin lopis nya lah mbak π
takut basi…maen sini saja, Say π Oya, sdh ikutan yg periode ini? Semarang kan banyak event budaya ya..