LALANG UNGU

ruang ekspresi sepotong hati

Menyibak Rahasia Kelezatan Ayam Karangmenanci

| 4 Comments

Lalang Ungu. Salam jumpa, teman-teman… Apa kabar? Semoga tetap sehat dan bahagia menjelang pertengahan Bulan Kemerdekaan ini ya.. Oya, kali ini aku akan mengajak teman-teman untuk berkenalan dengan Ayam Karangmenanci dan menyibak rahasia kelezatannya. Karangmenanci, sebuah nama yang unik bukan?

Apa itu Ayam Karangmenanci?

Kalau aku menyebut nama Ayam Karangmenanci, teman-teman jangan salah paham dan mengira itu adalah nama jenis ayam / unggas ya.. Bukan samasekali! Meskipun masih berhubungan erat dengan ayam, karena Ayam Karangmenanci adalah nama menu andalan olahan ayam -tepatnya ayam bakar- di sebuah Resto di Kota Pekalongan yaitu Rumah Makan Panderasa.

Ayam Karangmenanci (Foto : Mechta)

Nama menu ini memang unik dan mengundang rasa penasaran untuk mencoba. Setidaknya, itu yang terjadi padaku ketika beberapa waktu lalu membaca nama menu itu di rumah makan yang berlokasi di Jl. Imam Bonjol 47 Pekalongan itu. Rasa penasaran yang membuatku memesan menu itu dan merasakan kelezatannya. Apakah rasa penasaranku tuntas sudah? Tidak. Aku justru makin penasaran dengan olahan ayam yang terasa unik di lidahku itu. Apa saja bumbunya? Kenapa dinamakan begitu? Siapa yang menciptakan resepnya?

Beragam pertanyaan itu muncul di benakku, dan Alhamdulillah akhirnya aku berkesempatan untuk menuntaskan rasa ingin tahuku itu, ketika aku bersama teman-teman Blogger Pekalongan berkesempatan mengikuti liputan Trans 7 untuk acara Eksis Abis, tentang Ayam Karangmenanci ini.

Sejarah menu Ayam Karangmenanci

Berdasarkan penuturan Trias Arditya yang mewakili manajemen RM Panderasa, resep Ayam Karangmenanci ini adalah resep turun-temurun keluarga, yang pertama kali diciptakan oleh Ibu Hj. Badriah pada sekitar tahun 1930 jadi saat ini pembuatan menu ini telah sampai pada generasi ke-4.

Awalnya olahan ayam dengan resep khusus ini menjadi salah satu menu yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Kampung Kauman Pekalongan setiap kali Lebaran, karena hanya pada waktu itulah masakan ini dibuat dan dapat dinikmati. Oya, kampung Kauman adalah tempat tinggal Ibu Hj Badriah dan keluarganya. Dengan berlalunya waktu dan karena banyaknya permintaan, baru sekitar tahun 2011 resep warisan keluarga ini menjadi salah satu menu di RM Panderasa yang dikelola oleh keturunan Hj.Badriah, dan akhirnya dapat dinikmati oleh khalayak ramai setiap hari, tidak hanya di Lebaran saja. 😀

Apa saja Bumbu Ayam Karangmenanci?

Saat pertama kali merasakan, lidahku dimanjakan oleh rasa uniknya. Agak pedas dan ada rasa khas rempahnya. Ternyata rasa unik itu berasal dari rempah-rempah yang menjadi bumbu dasarnya, yaitu : Jahe, Cengkeh, Merica dan Pala. Rasa pedas juga berasal dari Cabe, sedangkan kecap menimbulkan rasa manis dan penggunaan santan memperkaya rasanya. Kumplit yah..

Inilah bumbu Ayam Karangmenanci (Foto : Mechta)

Bagaimana cara pengolahannya?

Pertama, aneka bumbu yang sudah disebutkan di atas dihaluskan, dengan menggunakan cobek dan ulegan, meskipun ada beberapa bahan yang diblender dahulu sebelum diuleg agar lebih halus.

Ayam yang digunakan adalah jenis ‘ayam merah’ atau ayam kampung petelur. Satu ekor ayam dibagi menjadi 4 bagian, lalu diguyur dengan air mendidih, sambil menunggu untuk diungkep.

Proses Masak Ayam Karangmenanci (Foto : Mechta & Ayi)

Santan dimasak dengan bumbu-bumbu yang telah dihaluskan, kemudian ayam dimasukkan ke dalamnya. Masak selama sekitar 4 jam lalu api dikecilkan, panci / wajan ditutup dan dibiarkan selama semalaman. Oya tungku masak ini menggunakan grajen (serbuk kayu) sebagai bahan bakarnya, bukan arang, kayu ataupun minyak tanah..

Keesokan harinya, ayam yang telah diungkep ini siap untuk diolah lebih lanjut, yaitu dibakar hingga matang. Selanjutnya disajikan dengan disiram kuah kental yang digunakan untuk mengungkep. Nasi hangat dan lalapan menjadi teman makan ayam nan lezat ini…

Liputan Eksis Abis Trans 7 edisi Ayam Karangmenanci (Foto : Mechta)

Nah..itulah proses panjang memasak Ayam Karangmenanci. Pantas saja daging ayamnya empuk dan sama sekali tidak alot, rasanya pun meresap sempurna! Mau mencoba membuat? Silakan saja… Tapi kalau merasa kerepotan, mending capcus ke Panderasa saja, dengan uang Rp. 25.000,- kalian sudah bisa mencicipi kelezatannya. 🙂 Atau malas datang ke resto? Tak masalah, kan ada Go Food, hehe..

Oya, bila ingin membawa ayam ini sebagai oleh-oleh saat ke luar kota juga bisa lho, karena menu ini tahan 3 hari di kulkas. Nah, bagi yang penasaran dengan langkah-langkah pembuatannya, pantengin saja acara Eksis Abis di Trans 7 beberapa hari kedepannya ya..

Blogger Pekalongan, Manaj. Panderasa & Tim Eksis Abis Trans 7 (Foto : Blogger Pekalongan)

Terima kasih untuk RM Panderasa yang telah memberi kesempatan kami untuk menyibak rahasia kelezatan Ayam Karangmenanci pada #blusukanbloggerpkl kali ini.. Lain kali kita sibak rahasia kuliner lainnya yaa…

4 Comments

  1. Ya Allah aku jadi laper, pengen icipin ayam ini jadinya 🙂

  2. Nama menunya unik, Karangmenanci. Terbayang rasanya yang dari rempah dan cara memasaknya yang menggunakan tungku kayu. Rasa asapnya pasti meresap ya Mbak. Ngomong2 nama Karangmenanci itu nama apa ya Mbak, nama desa kah?

    • Ya mba Evi..selain lezat, terasa hangat di badan kita…
      Sayangnya perihal nama masih misteri mba..karena nama tersebut diberikan oleh almh eyang Hj Badriah dan keturunannya belum mengerti asal-usul nama itu..

Leave a Reply

Required fields are marked *.