
Ketika kemampuan mengemudi menjadi suatu kebutuhan, maka aku pun harus berjuang keras menghapuskan trauma-trauma yang selama ini membelenggu dan kembali menguatkan hati untuk belajar mengemudi.
Ada beberapa momen yang membuat kebutuhan itu muncul. Ketika harus menjalankan tugas malam hari (saat lebih aman dan nyaman mengendarai mobil daripada bermotor-ria) atau ketika tiba-tiba hujan deras dan harus segera pergi ke suatu tempat, ataupun ketika ingin mengajak ibu pergi berdua ke suatu tempat. Itulah beberapa saat di mana saat ini aku masih harus tergantung pada pihak lain dalam hal ini keluargaku, dan tak bisa sat-set pergi sendiri.
“Mbok belajar nyetir lagi to mbak, biar nggak bingung kalau ada keadaan darurat begini..” begitu seringnya adikku mengingatkan, karena memang sudah pernah beberapa kali belajar nyetir, tapi lalu terhenti setelah ada kejadian-kejadian yang membikinku gamang.
Ya, seperti telah kusampaikan di awal tulisan ini, ada trauma yang harus kuhilangkan. Mungkin dengan membahas beberapa kejadian itu bisa membuatku lebih mudah melepaskan rasa takut itu. Setidaknya ada tiga kejadian yang membebani pikiranku.
Yang pertama kecelakaan ‘kecil’ dalam perjalanan pulang dari Semarang, kalau tidak salah di daerah Mangkang. Kami baru saja terlepas dari sebuah antrean panjang kemacetan, mobil sedang berjalan perlahan ketika tiba-tiba terdorong keras ke samping disertai suara benturan. Masih dalam kondisi kaget kami kemudian berhenti di bahu jalan, menyaksikan truk besar yang menyenggol kami melenggang pergi, meninggalkan lekukan tajam di bagian kanan-belakang body mobil dan perasaan campur-aduk pada aku, ibu dan adikku yang mengemudi. Di jalan raya, mobil-mobil kecil seperti mobil kami memang seringkali harus ‘tahu diri’ melawan bus-bus raja jalanan ataupun truk tronton yang bagai raksasa itu.
Kejadian berikutnya yang membekas di hati tepat terjadi di suatu siang, sepulang kami belajar mengemudi. Di kompleks perumahan, beberapa ratus meter dari rumah, seorang pengendara motor menyalip kami dari kiri dan terjatuh tepat di depan mobil kami. Jika dirunut kembali memang murni bukan karena kesalahan kami, namun seringnya pada kejadian seperti itu, pengguna kendaraan yang lebih besar tetap dituntut untuk bertanggung jawab. Membawa korban ke RS terdekat, menunggunya hingga selesai operasi jempol kakinya yang patah, dan menanggung biayanya cukup membuat perasaanku -dan juga dompet- amburadul.
Kejadian berikutnya tidak kualami sendiri, seorang teman mengalami kecelakaan saat belajar mengemudi dan menyebabkan mobilnya rusak meskipun -alhamdulillah- tidak ada korban jiwa. Nah, itu beberapa kejadian yang membuatku berhenti belajar mengemudi. Entah kenapa, susah sekali membesarkan nyali yang sudah kadung menciut karenanya.
Alasan-alasan tak logis yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh adikku yang sebelumnya juga menjadi mentorku dalam latihan mengemudi. “Kejadian-kejadian itu memang harus membuat kita waspada, tapi tidak lantas membuat kita berhenti untuk maju,” ujarnya selalu, setiap kali membujukku. Bahkan ia mengingatkan juga bukankah kami telah berupaya melindungi diri juga melalui asuransi-asuransi?
Ah ya, jadi ingat bahwa setelah kejadian itu kami menyadari pentingnya asuransi, tidak hanya bagi jiwa kami namun juga bagi mobil kesayangan. Beruntung mendapat info tentang Futuready yang memberi banyak kemudahan dalam berasuransi. Oya, teman-teman sudah kenal kan dengan Futuready?
Awalnya dulu kukira itu adalah salah satu perusahaan asuransi, namun ternyata bukan. Futuready adalah broker asuransi, sebuah supermarket asuransi online berlisensi OJK. Sebagaimana halnya konsep supermarket di mana kita bisa memilih beragam jenis produk di suatu tempat, begitu pula halnya dengan Futuready yang bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan asuransi terpercaya dan menawarkan produk-produknya untuk dapat kita pilih sendiri sesuai kebutuhan.
Untuk mencari asuransi mobil yang bagus misalnya, kini tak sulit lagi. Ada beberapa asuransi mobil yang dapat kita pilih, antara lain produk asuransi AXA, ACA, SImas Net, Adira, Avrist dan Malacca. Tidak hanya asuransi mobil saja, ada pula jenis-jenis asuransi kecelakaan, asuransi perjalanan dan asuransi kesehatan yang dapat kita pilih.

Kita tinggal memilih sesuai kebutuhan kita, setidaknya dengan 4 keuntungan yaitu : (1) Mudah, baik dalam penjelasannya, perbandingannya maupun klaimnya. (2) Praktis. Terjangkau di manapun kita berada dan kapanpun kita mau. (3) Sesuai, dengan kebutuhan dan kemampuan kita. (4) Aman. Terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Ah iya…iya.. Adikku benar. Memang sudah saatnya aku move on dari kejadian-kejadian di masa lalu itu dan kembali bersemangat untuk belajar mengemudi lagi.

Apakah teman-teman bisa membantuku membangkitkan semangat? Mungkin dengan berbagi pengalaman mengemudi yang menyenangkan? Yuuk..bagi kisahnya di kolom komentar ya.. Terimakasih..
Entah kapan saya bisa berani nyetir, bahkan naik motor saja saya jerit2 sendiri apalagi mobil yang ga keliatan ban nya dari dalam mobil hahaha
Asuransi mobil dan kecelakaan buat yang baru belajar nyetir itu wajib kayaknya. Aku dulu pas baru belajar, dalam 3 tahun masuk bengkel 10x, 9 tabrakan/keserempet 1 kemalingan. Hahaha. Alhamdulillah ga pernah sampai luka. Membantu banget sih asuransi itu
Dulu berani, sekarang belum punya nyali mbak. Entahlah setelah punya anak kok jadi agak takut gitu ya, hehehe
Hehe ..ya ada juga yg begini mba..
Pengen belajar nyetir biar bisa punya mobil walau cara kredit asal sesuai dengan prosedur
Yuk yuuuk..semangat belajar setir ..
Kok mirip dengan kisah traumaku naik mobil, Mba. Dulu aku udah sampai punya sim A loh. Suatu hari pas lagi nyetir srempetan dengan truk, body mobil sampe tergores parah, pintu depan pas pengemudi sampai dekok. Habis itu trauma kalau mau nyetir lagi, Mba. Setiap kali duduk di belakang setir, telapak tanganku langsung keringatan.
Kemampuan mengemudi ini jadi paling utama banget. Kadang kita hati-hati dan resikonya ada orang yang ga hati-hati, banyak yang nyetir serampangan.
Aku ngga suka nyetir di yang crwoded, milih pake ojol, apalagi klo di jakarta. Hehehe
Ya ampun mba smoga suatu saat kemampuan menyetirnya terasah kembali ya. Aku pun meraakan bahwa sebaiknya menyetir ini wajib kita miliki tapi ya apa daya kadang masih trauma, Hehhee
Aku bisa setir mobil tapi ga pernah nyetir ya tetep kagok & ga berani. Jadi kemana2 mengandalkan motor atau disupirin suami aja 🙂
Aku udah 2 tahun punya SIM mobil, tapi bisa dihitung pakai jari di satu tangan berapa kali aku bawa mobil Soalnya di Jakarta itu nggak nyaman banget bawa mobil, seringnya bikin emosi.
Kalo aku ga bisa nyetir krn akunya emang disorientasi arah terus
Ibuku juga dulu pernah mengalami trauma nyetir gara2 ga sengaja nabrak orang
Aku lagi mau ambil kursus nyetir. Ga mau belajar sama suami pasti grogi huehehehe
Alhamdulillah aku dah bisa mengemudi mbak, tapi pas pindah jkt simku hangus krn waktu itu mau ngurus kok ribet ma bayi, hiks.
Pengen banget punay sim lagi, tapi aku semenjak di jkt cemen gak berani nyetir2 lg, apalagi blm ada mobil sendiri, trus jd nyaman banget kemana2 naik krl atau kendaraan onlen haha
Kalo aku pengalaman buruk jaman masih sering traveling, bbrp kali kecopetan. Sejak saat itu jd lbh aware dan beli asuransi perjalanan.
Jangankan nyetir mobil, bawa motor saja saya tidak tahu, beuh
Sebenarnya pernah juga bawa motor, tapi sejak kecelakaan dan motor saya meluncur ke bawah jembatan jadi trauma de.
Emang ya, namanya di jalanan mah, apapun bisa terjadi, wajar sih klo kecelakaan gitu bikin trauma, tapi kita jg bisa selalu memilih untuk mengatasinya kan yaa
bener banget mba. sayangnya sampai sekarang aku belum bisa nyetir moil sendiri. mau belajar kok masih takut
Aku pernah belajar nyetir waktu kuliah. Udah bisa bawa mobil ke kampus lewat jalan tol. Lha kok habis nikah ketemu suami yang ga bolehin nyetir karena takut aku kenapa napa, haha.