LALANG UNGU

ruang ekspresi sepotong hati

Terketuk Bocah Penjual Getuk

| 68 Comments

Salam Jumpa, Sahabat Lalang Ungu. Apa kabar? Semoga sehat selalu di Ramadan ini ya.. Kali ini aku ingin bercerita tentang hatiku yang terketuk bocah penjual getuk beberapa hari yang lalu.

***

“Getuuuk…getuuuuk… Getuuuukeeee….” terdengar suara nyaring memecah suasana Jumat pagi itu, di antara suara motor yang lalu lalang di jalan depan rumah. Kutajamkan pendengaran ku. Dan kembali kudengar suara itu berulang-ulang dengan jeda beberapa saat, suara melengking khas bocah.

Bergegas aku membuka pintu dan beranjak ke ujung teras, tepat lewatnya bayangan punggung dua orang bocah menjinjing keranjang di tengah mereka. Kutepukkan tangan dan menyerukan kata ‘getuk’ cukup keras sehingga keduanya berhenti dan menoleh. Ada senyum di bibir mereka ketika mereka kemudian berbalik arah menuruti lambaian tanganku memanggil mereka.

Penjual Getuk

“Ibu kersa getuk?” tanyaku kepada ibu yang baru keluar dari kamar beliau pagi itu.

“Getuk apa, ta?”

“Pohung kadose..”

“Yo kena..” jawab ibu sambil berjalan ke teras, mendekati dua orang anak yang sekarang berjongkok di dekat keranjang mereka.

Kembali aku bergegas ke dapur mengambil piring, lalu sambil lalu mengambil HP di meja ketika kembali ke teras dengan membawa piring.

Dua bocah penjual Getuk

Dua bocah penjual Getuk

“Getuk opo, Le..?”

“Po’ong” jawab salah satu bocah itu dengan singkat. Maksudnya, getuk itu berbahan Ketela Pohon atau sering kami sebut ‘pohung‘ atau ‘po’ong‘ sebutannya di daerah Pekalongan dan sekitarnya.

“Kok beda, Le..?” tanyaku sambil mengamati dua bungkus kecil yang disodorkan anak itu.

“Siji Klapa bakar, sijine Klapa biasa” jawabnya. Oh, ternyata ada dua jenis dagangannya : getuk dengan kelapa bakar dan getuk dengan kelapa parut biasa. Keduanya sama-sama dibungkus dengan daun pisang, namun dengan model pembungkusan yang berbeda.

“Iku pironan, Le?” Ibuku menanyakan harganya.

“Sewunan..”

Getuk Kelapa

Getuk Kelapa …hm, nyam-nyaaam..

Hm, jadi kedua jenis getuk itu harganya sama, Rp1.000,-/bungkusnya. Murah sekali.. Aku pun mengambil beberapa bungkus dari kedua jenis getuk itu dan menaruhnya ke atas piring yang kubawa. Lalu mengulurkan uang pembayaran.

“Ora sekolah, Le?” tanyaku iseng sambil menunggu dia memberikan kembalian.

“Prei” jawabnya sambil mengangsurkan uang kembalian. Oh iya, di Pekalongan hari Jumat biasanya sekolah swasta Islam meliburkan siswanya, sebaliknya hari Minggu mereka masuk.

“Lha, omahmu ndi?” aku masih penasaran dengan kedua penjaja kecil itu. Salah satu dari mereka menyebutkan nama sebuah daerah yang cukup jauh dari daerah tinggal kami.

“Wah..adoh juga.. Numpak apa mrenene mau?” aku semakin penasaran. Masa iya mereka jalan kaki dari rumah ke daerah perumahan kami ini? Ternyata tidak. Mereka diantar ke sini dan (mungkin) nanti dijemput kembali. Aku tidak sempat ‘mengorek’ cerita lebih jauh, tangan-tangan kecil itu telah selesai membenahi keranjang mereka dan merekapun kembali mengayunkan langkah meneruskan pekerjaan mereka.

“Getuuuuk…getuuuuuk… Getukeeeee..” lengking suara itu terdengar kembali, lalu semakin sayup, seiring dengan langkah kaki-kaki kecil mereka menjauhi rumah kami.

***

Dua bungkus getuk kubawa ke kantor untuk menjadi sarapanku pagi itu. Namun ketika menyantapnya, aku kembali terbayang wajah mereka. Ya Allah…Jumat itu Kau mengirimkan anak-anak istimewa itu untuk menjadi bahan perenungan ku.

Bocah penjual Getuk

Semoga laris manis daganganmu, Nak …

Ya, bagiku mereka istimewa, karena tidak semua anak diberkati dengan tempaan yang cukup keras dalam hidupnya. Insya Allah tempaan itu akan membuat mereka semakin kuat dalam menjalani hidup mereka menuju kesuksesan mereka. Bukankah sudah cukup banyak contoh orang-orang sukses dalam perjalanan hidupnya mengalami tempaan demi tempaan yang menjadi salah satu kunci sukses mereka? Semoga demikianlah adanya anak-anak penjual getuk yang kujumpai tadi. Aamiin…

Melihat usaha anak-anak itu membantu orang-tuanya, mungkin untuk biaya hidup mereka, atau biaya pendidikan mereka…atau untuk apapun itu, merupakan ketukan cukup keras ke hati kecilku. Tidakkah engkau malu pernah merengek atas beberapa kesusahan yang kau terima dalam hidupmu yang relatif aman dan nyaman dibanding mereka yang harus berjuang di usia dini itu, Tan?? Mungkin mereka tidak sendiri. Mungkin masih banyak di sekitar kita, yang harus berjuang untuk sekedar bisa makan.

Ya Allah …sungguh aku malu. Betapa kurang rasa syukurku atas segala nikmat dari-MU selama ini. Satu-dua air mata ku mungkin tak ada artinya dibanding peluh yang mereka cucurkan atas kerja keras mereka. Ya Allah..ampuni kekerdilan jiwaku.. Ya Allah, semoga Engkau memberi kekuatan, kesabaran dan kemudahan bagi mereka dalam perjuangan hidup mereka. Aamiin..

Jumat pagi sebelum Ramadan nan suci menjelang, Allah telah membuka mata hatiku dengan sebuah pertemuan kecil itu. Alhamdulillah…semoga cermin kecil ini membuatku ingat untuk selalu bersabar dan bersyukur dalam hidup ini. Insya Allah…

Selamat menjalankan puasa di pekan ke-2 Ramadan teman-teman… Semoga Allah melimpahkan berkah & rahmat-NYA kepada kita semua.. Aamiin..

68 Comments

  1. Aku terharu mbak. Kemarin lihat ig nya udah bikin mbrebes mili. Makin bersyukur…

  2. Semoga dilancarkan mencari rejeki yang halal. Aku kalau lihat anak2 kecil udah jualan gini di satu sisi kasian, di sisi lain bisa menjadi jalan sukses mereka. Bisa jadi mereka akan lebih kuat dan sukses dari sebelumnya. Semoga mereka selalu diberikan keikhlasan jualan, kesehatan, & kelancaran rejeki. Dan semoga kita dilunakkan hati oleh Allah membantu anak-anak ini. Aamiin

  3. Inspiratif. Selalu ada hikmah dan pelajaran jika kita bisa merenungi atas apa yang ada di depan kita. Dengan pelajaran kecil ini ada yang merasa tergugah, tapi banyak yang abai pula.

  4. Terharu banget deh, Mbak. Jadi suka malu sendiri kalau melihat semangat anak-anak ini. Sedangkan saya kadang-kadang masih suka malas-malasan

  5. Getuknya bikin ngiler, mbak. Belum pernah makan yang pakai kelapa bakar

  6. Ya Allah mbak saya terharu sekali dengan cerita dua bocah ini. Ternyata masih ada anak-anak yang rela mengorbankan waktu bermainnya demi membantu orang tuanya. Semoga kelak mereka bisa menjadi anak yang sukses dunia akhirat kebanggaan orang tuanya…aamiin

  7. Ya ampun aku terharu banget mbak, jadi inget jaman aku masih kecil jualan es. Haha membantu mama untuk bayar sekolah adek-adek dan tabungan buat kuliah. Puji Tuhan dananya terkumpul dan bisa kuliah. Memang ada perjuangan yang harus lebih untuk memperoleh sebuah kebaikan dan akan ada orang2 baik juga menemani kita.

    • Salut mba…mba sudah melampaui tempaan hidup juga..dan pasti sekarang sudah memetik hasil keteguhan waktu itu ya mba..

  8. Salut bgt sama bocah2 yg mau jualan bantu orang tua kyk gini. Semoga selalu dlm jalan Allah ya dek

  9. Lihat anak-anak jualan itu membuatku teringat saat masih kecil dulu yang jualan roti keliling kampung untuk bantuin mama

    • Salut mba..salah satu ujian hidup sudah mba lalui dan insya Allah sekarang mbak sudah memetik hasil ketegaran mba waktu itu ya..

  10. Ya Allah … Semoga dilancarkan rezekinya, disehatkan jiwa dan raganya aamiinnn …
    Benar-benar harus banyak bersyukur ya mba …

  11. Renungan yang adem mbak. Memang untuk bersyukur, kita cukup melihat hal-hal di sekeliling ya, termasuk sama adek-adek penjual gethuk yang giat menjajakan gethuk enak ke pembelinya.

    Duh mbak, aku kok pengen gethuknya.

  12. MasyaAllah aq terharu mbak… Mana getuknya keliatan enak banget ya

    • Aku juga nggregel lho baca artikel ini. Sungguh kiranya masih banyak manusia yang kurang bersyukur ya atas semua nikmat yang didapat. Baru deh ketika melihat bocah ini yang harus bekerja untuk mencari sesuap nasi, kita baru tersadar bahwa hidup kita jauh lebih nikmat. Ya itu termasuk aku mba.

    • Enaaak mba.. asli!

  13. Terharu banget liat anak-anak itu, semoga getuknya laris manis dan menjadi anak yang sukses ya . Soale kabanyakan anak seumur gitu lagi suka main dan mereka malah membantu ortu.

  14. Aku kalau lihat mereka jadi suka menyesali momen aku mengeluh menghadapi hidup
    Toh ada orang orang seperti bocah penjual gethuk yang jauh lebih tegar dibanding aku

  15. Memang bener yaa, kak…
    Allah mengijinkan siapa saja yang kita ketemui untuk kita ambil hikmahnya.
    Dan mashaAllah~
    perjuangan hidup anak-anak luar biasa.

  16. Di satu sisi ga tega ya lihat anak2 kecil sudah berjualan tapi di sisi lain mereka mungkin memang niat bantu perekonomian keluarga. Ada anak2 yang mau ga mau harus kerja (jualan) supaya keluarganya bisa survive. Teman saya bilang belum aqil baligh harusnya belum boleh jualan. Tapi apalah daya saya cuma bisa membantu membeli barang dagangannya. Mudah2an sesama Muslim lebih banyak tergerak salurkan bantuan supaya anak2 seperti ini bisa fokus belajar dulu

  17. Di perkampungan betawi rawa belong jakarta barat juga masih ada mba anak kecil jualan. Biasanya lewat jam jam tiga gitu, jualannya putu mayang sama pempek. Kasihan tapi salut aku krn ga malu jualan anaknya.

  18. Terharu mbak kalau melihat anak-anak yang berjuang kaya gini, sementara anak lain sedang asyik bermain ya. Semoga mereka masih tetap sekolah juga. Di sini adanya getuk pakai kelapa biasa mbak

  19. Masya Allah ..terharu liat anak2 seperri ini..semoga jd bekal mereka utk bermental baja utk jd sukses…

  20. Salut dengan adik-adik penjual getuk ini, nggak semua anak mau seperti itu. Ada juga anak yang tempaan hidupnya kayak mereka tapi gengsi untuk bekerja. Semoga kedua anak ini mandiri dan sukses masa depannya.

  21. Hmm…ini bisa jadi pembelajaran buat anak-anakku juga mbak, supaya mereka tahu banyak anak-anak yang harus berjuang keras untuk membantu orangtuanya mencari nafkah

  22. Terharu aku bacanya Mbak…. Salut aku, jaman sekarang masih ada anak-anak yang mau jualan ideran ya Mbak. Jaman saya dulu, saya jualan juga si, tapi di warung keluarga…. Tantangannya lebih kecil. Semoga adik-adik tadi lancar rejekinya ya….

    • Tetap saja mbak sudah melewati salah satu ujian hidup dg baik ya mba..dan sekarang sedang memetik hasilnya..insya Allah..

  23. MashaAllah.. pemandangan yang membuat hati tersadarkan bahwa anak anak aja sudah bisa mencari rezeki, kenapa kita yang dewasa terkadang masih malas dalam menjemput rezeki.. semoga niat baik mereka menjual getuk, bisa seimbang dengan banyak yang membeli ya.. semoga juga kebutuhan hidup mereka tercukupi

  24. aku selalu bilang dengan anak-anakku untuk tidak lupa bersyukur atas segala kenyaman dari Allah SWT. Jangan lupa berbagi kepada yang lain yang masih harus berjuang keras dalam hidup ya mba. Insya Allah mereka menjadi anak-anak yang kuat!

  25. Mba, artikel ini akan kutunjukkan pada anak2ku, biar dibaca dan diresapi. Meski tidak serta merta mengubah perilaku yang kadang menggampangkan apa2 yang udah disediain orang tua, siapa tau memori saat membaca artikel ini akan bermanfaat bagi mereka di kemudian hari. Bahwa tak semua orang seberuntung dia, yang apa2 udah tersedia meski kadang terlupa ucap syukur.

  26. Semoga rezeki berlimpah tercurah ke anak-anak tersebut, keluarganya dan mbak Tanti yang sudah menuliskan kisahnya. Semoga kita semua terinspirasi positif. Aamiin

  27. Aku baca ini mendapatkan insight dari sisi lain, yaitu soal kepekaan penulis. Belum tentu orang yang tidak terbiasa menulis bisa sepeka ini melihat kejadian singkat, kemudian menjadi cerita yang apik semacam ini. Tentunya tulisan ini akan menginspirasi banyak orang yang membacanya. Itu artinya amal yang tak akan pernah putus. Selamat, Mbak.

  28. Masya Allah, satu bungkus harganya cuma seribu, murah banget ya mba. Orang tua dan kedua anak lelaki itu benar-benar dipilih menjadi cermin orang seperti kita, yang tercukupi kebutuhannya agar senantiasa bersyukur dalam susah dan senang

  29. Aku jadi teringat dulu ada yg jualan bakso keliling, usianya segituan juga kakak adek. Mudah2an kelak jadi anak yg berguna bagi nusa bangsa, tercapai semua cita2nya yaa.

  30. salut sama anak2 yang berjuang keras seperti itu mba..
    semoga kelak nanti jadi anak yang sukses dan masa depannya bagus.. Amiinn..

    semoga jualannya laris terus ya dek.. huhhu.. ku terharu 🙁

  31. Luar biasa ya Mbak. Kelak mereka akan menjadi pengusaha yang sukses. Jarang lho ada anak yang bermental kuat begini.

  32. Ya Allah..aku jadi teringat dulu punya teman yang memiliki 13 sauadara. Kalau masak satu dandang besar, kalau membuat sayur 1 kuali gede. Karena ortunya pekerja serabutan buruh, makannya seadanya dari nanam di kebun lauknya, mulai sayur daun singkong, sayur nangka muda,kacang toro dll. Ini di Jakarta loh, dan anal2nya termasuk temanku jualan getuk keliling kompleks2

Leave a Reply

Required fields are marked *.