LALANG UNGU

ruang ekspresi sepotong hati

Kenangan Mudikku, dari Waktu ke Waktu.

| 34 Comments

Hai Sahabat Lalang Ungu…sudah siap-siap mudik, atau malah sudah mudik? Pagi ini ketika membuka sosmed, satu kata yang kulihat kerap berseliweran di TL saat ini : Mudik.

Ada berita-berita tentang mudik bersama yang difasilitasi pemerintah, ada cerita dan foto-foto teman-teman yang mudik dengan kereta wisata yang nyaman difasilitasi sebuah perusahaan besar, banyak pula cerita-cerita mudik personal yang tak kalah asyiknya dan diperlancar dengan telah dioperasionalkannya jalan-jalan tol baru. Banyak lagi cerita mudik lainnya…

Menjelang pintu tol Ngemplak Solo

Alhamdulillah..dengan adanya Jalan Tol mudik makin asyik

Menikmati cerita-cerita mudik itu, aku jadi teringat dengan salah satu ritual lebaran itu yang dulu juga kujalani dengan senang hati, namun akhir-akhir ini tidak lagi.

Ya, ketika aku mendefinisikan mudik sebagai pulang menemui orang-tua, maka tidak perlu lagi mudik bagiku yang sejak beberapa tahun terakhir ini nyanding Ibu alias kembali serumah dengan ibu, satu-satunya orang-tuaku saat ini. Sebaliknya, tugas kami saat ini adalah menerima para pemudik : kakak-kakak dan keluarga mereka yang mudik ke rumah kami menjumpai ibu.. 😃

Tapi…membaca cerita-cerita mudik, aku kok jadi kangen suasana dan kehebohan mudik juga nih.. Tak apa ya, jika dalam tulisan ini aku ingin bernostalgia sejenak dengan romantika mudik yang pernah kulalui.. Inilah kenangan mudikku, dari waktu ke waktu..

Saat kami masih kecil-kecil dan tinggal di Semarang, tujuan mudik bagi keluarga kami ada dua, yaitu Salatiga dan Karanganyar Solo. Salatiga adalah tempat kelahiran kami berlima kakak beradik sekaligus kota tempat mukim sanak saudara dari ibu kami, sedangkan Karanganyar Solo (tepatnya Desa Sedayu) adalah tempat kelahiran alm bapak di mana ada Bude dan kerabat bapak yang tinggal di sana.

Kami menikmati suasana mudik di kedua tempat itu. Kalau di Salatiga kami bisa bertemu keluarga besar, menikmati kuliner kesukaan (Bakso Babat, Sate Suruh, Wedang Ronde, Bubur Jangan, dll), di nDayu kami lebih menikmati suasana pedesaan yang sehari-hari jarang kami temui. Main ke sawah, mandi di belik / sumber air, memanjat pohon yang sedang berbuah, dll.

Menikmati alam saat mudik

Sampai sekarang, mudik ke nDayu selalu menyenangkan..menikmati pemandangan sawah ladang 😊

Fase mudik berikutnya yang penuh kenangan adalah saat kuliah di Kota Hujan. Pengalaman pertama jauh dari orang-tua dan keluarga membuat saat mudik menjadi sangat kunantikan. Begitu ada kepastian waktu libur lebaran, langsung ‘terbang’ ke Tajur, ngantri tiket bus untuk pulang.

Packing untuk mudik selalu kujalani dengan senang hati. Tidak banyak baju kubawa pulang, sebaliknya oleh-oleh untuk orang rumah yang dengan hati-hati kukemas dan memenuhi tas! Selanjutnya perjalanan malam Bogor-Pekalongan kutempuh dengan berusaha menahan kantuk karena takut ketiduran dan kebablasan kelewat Pekalongan! Haha… Kenangan paling indah adalah saat turun di depan terminal sekitar jam 1 dini hari, sudah ada bapak yg setia menanti dengan senyum lebarnya! Aaah…kangen (alm) bapak..hiks…

Hidangan lebaran

Hidangan lebaran yang bikin kangen rumah

Ketika bapak-ibu pensiun dan menetap kembali di Semarang, maka perjalanan mudikku menjadi Pekalongan-Semarang. Relatif lebih mudah dan cepat. Tanpa drama karena banyak jadwal bus maupun kereta yang bisa membawaku dengan mudah ke Semarang. Suasana yang penuh kenangan adalah saat kakak-kakak kumpul, bersama-sama membantu ibu menyiapkan hidangan lebaran. Wangi kue-kue kering yang sedang dipanggang, harum masakan dalam panci dan wajan besar, ataupun hangatnya kebersamaan merangkai janur membuat ketupat, masih selalu terkenang hingga kini… Semakin membuat rindu saat kusadari anggota keluarga kami semakin berkurang dari tahun ke tahun.. T_T

Oya, jalur mudikku sempat beralih menjadi Pekalongan-Jogja, ketika bapak sudah tiada dan ibu memutuskan untuk tinggal bersama keluarga kakak di Jogja. Sedikit lebih sulit karena harus memesan travel akibat belum ada jalur kereta ke Jogja dan naik bus Pekalongan-Jogja harus berganti kendaraan.

Lalu ketika kakak yang di Jogja kembali ke pangkuan-NYA sekitar 3 tahun lalu, ibu memilih untuk menetap di Pekalongan kembali. Alhamdulillah, sejak saat itu aku kembali merasakan tinggal bersama ibu dan mulai merasakan nikmatnya mempersiapkan lebaran sebagai tuan rumah..hehe..

Baca juga : Hasil Silaturahmi

Sungkeman Bani Kasijo pada Lebaran 1439H

Begitulah, nostalgia mudik yang sempat kualami dari waktu ke waktu. Alhamdulillah aku selalu menikmati masing-masing fase itu, lengkap dengan kerempongannya terlebih dengan adanya ceria kebersamaan dengan keluarga. Ya, inti dari perjalanan mudik menurutku adalah kebersamaan kembali dengan keluarga.

Beragam upaya dijalankan, aneka alat transportasi digunakan, sejauh apapun jarak ditempuh, semua untuk menuntaskan kerinduan akan kebersamaan dengan orang-orang terkasih, melalui MUDIK. Tak ada penyesalan atas biaya yang harus disiapkan, karena kebersamaan itu tak ternilai, kenangannya kemudian akan selalu dapat menghangatkan hati saat jarak memisahkan.

Reuni saat mudik

Mudik sekalian reunian dengan sahabat

Baca juga : Kumpul-kumpul di Libur Lebaran

Nah..bagaimana dengan kalian, teman-teman..berencana mudik kemana? Semoga selamat di perjalanan dan salam untuk keluarga ya…

34 Comments

  1. Mudik selalu punya kisah yang menyenangkan untuk dikenang ya Mbak

    • Betul mba..
      Semacam, mengumpulkan kenangan sebagai bekal penghangat hati saat jarak memisahkan..hehe…

  2. Wah ternyata kisah mudiknya banyak ya Mbak. Aku sedih bagian cerita semakin lama jumlah anggota keluarga semakin berkurang =(

  3. MashaAllah.. mudik memang menjadi tradisi unik tersendiri ya buat orang Indonesia.. berangkat dari kota ke kampung halaman, menembus kemacetan lalu berkumpul bersama keluarga tersayang.. itu menjadi momen yang tidak bisa terganti dengan apapun ya..

  4. Saya tidak musik karena tinggal di kampung, he he. Musik itu asyik jika jarak dekat kayak Bandung-Blubur Limbangan, tinggal naik kereta dan angkot lalu ojek.
    Baca ini bikin saya jadi nostalgia masa musik dulu.
    Terakhir mudik ke Bandung lebaran tahun kemarin. Silaturahim ke keluarga besar almarhum bapak dan ke keluarga besar suami. Alhamdulillah, nanti bisa jadi bahan tulisan.

  5. Seru banget perjalanan mudiknya mbak, setiap masa atau waktu ada ceritanya sendiri ya. Bahagianya bisa berkumpul bersama dan bercerita tentang banyak hal.

  6. Selalu ada cerita di setiap mudik ya mbak. Aku yang nggak pernah pisah dari orang tua, kepengen menikmati suasana mudik. Dapat suami aja orang asli SEmarang. Jadi bisa merasakan mudik itu saat ngumpul keluarga besar ibu mertua. Rame, ketemu saudara yang jarang berjumpa, dan menikmati hidangan yang nggak sama dengan di Semarang

    • Nah ini seperti mbakku.. dari sekolah, kuliah sampai kerja di Semarang..sambat pengen juga ngerasain mudik.. Alhamdulillah akhirnya bisa mudik stlh dapat org Boyolali..hihi…

  7. Saya juga kangen masakan mama seperti kari, opor juga ketupat khas dari daun pandan.

  8. Aku nggak mudik kak. Di Bekasi aja lebarannya. Niatnya mau istirahat total karena kemarin kerja kerja terus. Alhamdulillah org tua juga memang sudah stay di Bekasi juga

  9. Aku ga punya kenangan mudik nih… Dari kecil tinggal di Bandung terus lahir di Bdg nikah di bdg skrg jg di sebelah bdg jd ga ada mudik2 an..hehe..

  10. Mupeng deh sama yang mudik, tahun ini aku sih ga mudik kak stay di Jakarta aja lagi banyak kerjaan juga huhu.

  11. Dulu waktu mbah kakungku masih sugeng, kami sekeluarga pasti ‘mudik’ ke Wates, Jogja mba. Tapi setelah beliau wafat, sudah tidak ada lagi kewajiban mudik. Alm bapak kan anak tertua di keluarganya, jadi harusnya paklik dan bulik2ku lah yang gantian sungkem ke beliau hehehee…

    Apalagi sekarang, mertua juga tinggal di Semarang. Jadi lengkap lah sudah gelarku sebagai anggota tim Ga Pernah Mudik (GPM) 🙂

    • Ah iya..dulu mba Atik sering cerita mudiknya ke Jogja. Nah, aku juga jadi tim penerima mudik sekarang..hehe..

  12. Aku selama ini mudik ke Kudus, mba. Kampung halaman suamiku. Karena mama udah meninggal dunia dan papa tinggal ikut aku 🙂

  13. Saya pernah mudik saat kuliah di Semarang. Biasanya sih menunggu arus mudik berubah, jadi saya mudik sebelum malam takbiran. Bernagkat malam sampai lagi, alhamdulillah selalu ada hikmah dalam setiap perjalanan

  14. Alhamdulillah aku sudah di kampung nih. Mudik itu memang menenangkan bisa ketemu keluarga besar setelah setahun terpencar-pencar.

  15. Aku sudah sampai di Lampung sejak Rabu lalu mba.. mudik ke kampung bersama dengan suamiku ke Lampung

  16. Mudik emang selalu ngangenin ya. Malah ada yang bisa mudik cuma pas lebaran gini aja. Atau malah pas Lebaran ga bisa mudik, mudiknya nanti di liburan yg lain. Tapi yang paling berkesan emagn mudik pas Lebaran. Semua saudara ikut kumpul. Sampai2 yang baru nikah dan punya anak pun, kita jadi lupa siapa namanya saking jarang ketemunya. 😀

    • Nah..adanya silaturahmi ini agar masing-masing anggota keluarga yg sudah berkeluarga juga…tidak menjadi asing satu sama lain.. istilah Jawa ‘kepaten obor’

  17. sama mba, kalo mudik akupaling seneng main di sawah, ya resikoya pulang jakarta jadi kucel dan item, ini selau terjadi setiap kali pulang kampung hehehe

Leave a Reply

Required fields are marked *.