Pengalamanku Mengikuti Festival Tanah Tua Semedo 2019
Flyer Festival Tanah Tua Semedo 2019
Apa itu Festival Tanah Tua?
Apa itu Semedo?
Itulah pertanyaan-pertanyan yang langsung muncul di benakku ketika ada teman yang mengirim flyer itu di grup dan mengajak untuk ikut meramaikannya.
Terus terang Semedo adalah kata yang asing terdengar di telingaku. Panganan opo, kuwi? Hehe.. Rasa penasaran itu lah yang akhirnya menuntun langkahku mengikuti acara ini, dan berikut adalah catatan pengalamanku mengikuti Festival Tanah Tua Semedo 2019.
Apa itu Semedo?
Ternyata Semedo adalah nama sebuah desa yang terletak di wilayah Kabupaten Tegal Jawa Tengah, bagian dari wilayah Kec. Kedungbanteng, tepatnya di perbatasan Kab Tegal dan Kab Pemalang. Nah, desa yang letaknya cukup mlosok inilah tempat diselenggarakannya Festival Tanah Tua Semedo. Rute ke Semedo dari Kota Tegal maupun Slawi dapat teman-teman baca ditulisanku tentang Rumah Vernakular di Semedo ya..
Apa itu Festival Tanah Tua Semedo?
Kepala Desa Semedo menyatakan bahwa Festival Tanah Tua Semedo (tahun ini penyelenggaran ke-2) diselenggarakan dengan tujuan untuk semakin memperkenalkan Desa Semedo dengan kearifan lokal dan potensi-potensi pariwisatanya, untuk mendukung terwujudnya Desa Semedo sebagai salah satu Desa Wisata di Kab Tegal.
Info dari salah satu anggota Pokdarwis Semedo, bahwa tahun ini jumlah peserta adalah 115 orang, terdiri dari umum maupun media (termasuk blogger). Sedangkan pada penyelenggaraan sebelumnya, jumlah peserta memang lebih banyak (sekitar 800 orang) namun hanya terdiri dari kalangan sekolah (SD, SMP, SMA dan Mahasiswa). Selain itu, bentuk penyelenggaraan tahun ini juga berbeda dari sebelumnya, di mana pada tahun sebelumnya festival berlangsung selama 1 minggu tapi tanpa menginap sedangkan di penyelenggaraan kedua ini berlangsung selama 2 hari 1 malam.
Ka Dinas Pariwisata Kab Tegal & Kades Semedo
Kepala Dinas Pariwisata Kab Tegal dalam sambutan pembukaan acara ini menyatakan bahwa pemerintah daerah sangat mendukung penyelenggaraan acara ini yang juga menjadi salah satu syarat dalam penetapan suatu desa menjadi Desa Wisata.
Mengapa disebut sebagai Tanah Tua?
Penyebutan ini terinspirasi dari adanya penemuan-penemuan benda purbakala berbentuk fosil-fosil di wilayah Desa Semedo. Fosil-fosil dan penemuan purbakala ini kemudian diteliti oleh Tim peneliti purbakala dan memberikan bukti panjangnya rentang sejarah kehidupan di tanah Semedo ini.
Kegiatan-kegiatan dalam Festival Tanah Tua Semedo
Tengah hari di tanggal 14 September 2019 sudah lewat ketika akhirnya aku dan Ila -teman blogger dari Tegal- sampai di tempat registrasi peserta. Setelah mendaftar dan membayar Rp. 25.000,- / orang, kami mendapat rundown acara dan peta sederhana Desa Semedo, lalu kami pun di antar ke rumah penduduk yang akan menjadi tempat bermalam kami malam itu.
No 10 homestay untuk kami
Homestay no 10 yang menjadi tujuan kami adalah milik Bu Harniti, sebuah rumah berdinding kayu khas rumah pedesaan, namun sudah dipermodern dengan lantai keramik dan kamar mandi + toilet di dalam rumah. Di ruang depan ada seperangkat meja-kursi kayu di sisi kiri pintu masuk dan di sisi kanannya dihamparkan kasur dan tikar tempat kami ber-5 (aku, Ila, Noorma, Nyi & Hadi) melepas lelah.
Berpose di depan Homestay No 10. (Ka : Ila, Ki : Sisi & ayahnya)
Eksplor Desa Semedo
Setelah sholat dan beristirahat di temani teh hangat buatan Bu Harniti, sekitar lepas Ashar kami berkumpul di Bukit Pelangi untuk diberi pengarahan kegiatan-kegiatan selanjutnya pada sore hingga malam itu.
Kegiatan pertama adalah eksplor Desa Semedo sekaligus hunting foto untuk lomba foto menggunakan Smartphone yang menjadi salah satu rangkaian acara.
Beberapa hal yg tak kami temukan di kota 🙂
Berbekal peta desa yang sudah dibagikan kami berkeliling desa memotret suasana dan kehidupan masyarakat desa, terutama keberadaan Rumah Vernakular yang menjadi salah satu sasaran di lomba foto. Rumah-rumah di Semedo tidak semua berdinding kayu namun sudah banyak pula yang berdinding tembok. Demikian pula lantainya, sebagian besar sudah tidak lagi berlantai tanah. Dari segi kesehatan, ini adalah salah satu syarat rumah sehat, bukan?
Lingkungan desa terlihat panas di sore itu. Jalan lingkungan bervariasi antara jalan tanah, makadam, paving dan sebagian besar plester. Pepohonan Jati tampak meranggas karena kemarau yang panjang, namun tanaman dan pepohonan di halaman rumah warga terlihat masih tumbuh bahkan berbuah.
Menikmati suguhan alam Semedo
Pertunjukan Ronggeng
Senja di Semedo
Senja yang mulai turun di Desa Semedo menghentikan aktivitas kami jalan-jalan sore di Semedo. Bergegas kembali ke homestay, mandi dan ishoma sebelum kembali naik ke Bukit Pelangi untuk acara malam itu.
Peserta dan warga membentuk setengah lingkaran di depan panggung di mana para pemain musik tradisional sudah siap mengiringi 2 orang penari ronggeng.
Pemain Karawitan KSP Budoyo dari Desa Semedo siap mengiringi Sinden dan Ronggeng
Setelah seremonial pembukaan oleh Kadis Pariwisata Kab Tegal, pertunjukan Ronggeng pun dimulai. Dua orang penari wanita bergerak gemulai di tengah arena dengan diiringi tembang-tembang yang dilantunkan oleh Sang Sinden. Malam makin larut tapi suasana masih ramai. Penari mulai mengajak beberapa pengunjung ke tengah arena, menari bersama diakhiri dengan memberikan saweran kepada penari.
Dua Ronggeng Desa Semedo
Penonton mulai request lagu sementara sebagian lain ribut menyemangati beberapa pengunjung yang malu-malu ketika menari di tengah arena, meski ada seorang bapak sepuh yang dari awal hingga akhir terus di tengah arena memberikan sawerannya.. hm, mungkin Simbah itu habis panen..haha..
Pertunjukan Ronggeng di Festival Tanah Tua Semedo
Ziarah ke Makam Bupati Kaloran
Kegiatan Festival Tanah Tua Semedo malam itu diakhiri dengan ziarah ke makam Bupati Kaloran. Yang dimaksud Bupati Kaloran ini adalah Bupati Tegal ke-10 yang dimakamkan di Desa Semedo ini.
Ziarah ini diikuti oleh peserta laki-laki bersama warga desa didampingi tokoh masyarakat / pemuka agama Desa Semedo. Aku tidak bisa menceritakan detil kegiatan ini karena aku bersama-sama peserta perempuan lainnya langsung pulang ke homestay untuk istirahat sekitar pukul 11 malam itu.
Membuka hari di Bukit Pelangi
Keesokan harinya, Minggu 15 September 2019, jam menunjukkan pukul 05.15 ketika kami meninggalkan kenyamanan homestay dan menuju ke Bukit Pelangi (lagi).
Rencananya peserta akan melihat mentari menyingsing di Bukit Sripit yang bersebelahan dengan Bukit Pelangi. Namun sayangnya langit mendung dan Sang Mentari enggan menampakkan diri dari balik awan mendung.
Pagi yang mendung di Semedo
Tak apalah…kami tetap riang mengawali pagi di Semedo dengan hiking tipis-tipis ke puncak Bukit Sripit, menapaki jalan setapak yang berkelok dan turun naik, di antara hamparan rerumputan yang kuning mengering serta ladang-ladang bera dan tanah pecah-pecah (Bhs Jawa : nela).
Olah raga pagi, mendaki Bukit Sripit Semedo
Usai naik-turun bukit kami pun kembali duduk manis di bangku bambu panjang depan panggung, menikmati sarapan dengan menu khas ‘Ponggol Purba’ Sambel Sege diiringi lagu-lagu dan musik akustik dari panitia. Ahaay..mantab jiwaaa..mameeen..
Iyaaa…keren sekali ya desa ini. Ada bangunan megah yang kelak akan segera diresmikan sebagai Museum Situs Semedo yang dibangun oleh Pemerintah Pusat. Nah, selain menikmati kuliner, budaya dan kearifan lokal Desa Semedo, peserta juga mendapat kesempatan untuk melihat ke dalam calon Museum Situs Semedo itu.
Museum Situs Semedo
Tuuh..keren ya gedung museumnya. Bagaimana dengan isinya? Tak kalah keren tentunya…tapi akan kutuliskan tersendiri ya..hehe..
Nah, Sahabat Lalang Ungu.. itulah cerita pengalamanku mengikuti Festival Tanah Tua Semedo pada 14-15 September 2019 lalu. Acara yang sangat berkesan! Salut untuk penyelenggara yang telah bekerja keras mempersiapkan acara ini. Terima kasih juga kepada Keluarga Bu Harniti untuk keramahan, masakan yang lezat dan tempat istirahat yang nyaman.
Kami bersama Bu Harniti dan Dik Ira putrinya
Sedikit masukan untuk penyelenggaraan selanjutnya, mungkin bisa ditambahkan sesi penjelasan sejarah Tanah Tua Semedo misalnya dari Sesepuh Desa setempat atau kisah penemuan fosil-fosil purbakala secara langsung oleh para penemu yang saat ini masih ada, dll. Dengan demikian lebih kumplit ‘oleh-oleh’ peserta dari Festival ini yang pada gilirannya dapat disebarluaskan dan akan makin memperluas pengenalan masyarakat akan Desa Semedo ini.
Teman-teman ingin ikut merasakan keseruan acara Festival Tanah Tua Semedo juga? Jangan ketinggalan di tahun depan yaa…
62 thoughts on “Pengalamanku Mengikuti Festival Tanah Tua Semedo 2019”
Saya tomi asal kota Tangerang. Banyak kenangan Indah yg gk bsa saya lupakan hingga akhir hayat sy. Dari Tangerang ke Tegal naek motor. Cari alamat ds semedo. Nyasar dari ujung ke ujung… Demi seseorang pujaan hati perempuan yg saya cintai dan sampe saya nikahkan. Kini desa tsb tinggal kenangan. Istri tercinta telah meninggal dunia dan di makamkan di semedo gk jauh dari makam embah semedo. Kangen rasanya dgn desa tersebut. I love u istri tercinta DASTI MULKHATUN…. semedo akan selalu ku kenang. Dunia Maya memang luar biasa…
Wuah mau ada situs sejarahnya juga. Alternatif selain sangiran kalau mau belajar peninggalan purbakala. Alhamdulilah, perhatian pemerintah makin baik ya Mbak.
Prepare tahun depan nih, buat ikutan lagi ya Mba hahaah
semoga juga yang ikutan nambah banyak, karena keren tanah tua ini ada museumnya juga. Nggak sabar liat museumnya jadi
Tahun depan, kalau ada lagi pengin ikutan ah. Menarik banget tempatnya. Siapa tahu juga museumnya udah jadi…eh atau sebenernya memang sudah bisa dikunjungi oleh masy.umum ya, Mba
Aku baru dengar nih tentang nama Semedo.
Kalo lihat dari foto-foto mbak Tanti, kesannya tempatnya panas, bernuansa coklat, dan pepohonannya berupa ranting-ranting aja.
Waktu denger kata “Semedo” aku kira ini dari daerah luar jawa gitu. Eh ternyata di Tegal. Asikk, bisa jadi pilihan destinasi wisata nanti kalo mudik hihihi
Menarik juga ya wisata di Semedo Tegal ini, sekarang memang banyak tempat wisata yang mengangkat kearifan lokal dan budaya juga kuliner lokal ya mbak Tanti. Jadi gak bosen deh eksplore seluruh desa wisata di Indonesia karena banyak banget yang bisa dikunjungi nih 🙂
Pengadaan Festival memang dipercaya bisa lebih mengenalkan wisata di daerah di mana festival itu diadakan. Dengan diadakan acara begini diharapkan lebih banyak orang tahu kalau daerah tersbeut memiliki tempat wisata wajib kunjung.
Baru-baru ini di deket rumahku juga ada Mina Festival. Mina = Laut, karena Bali isinya pantai Festival yang diadakan di tepi pantai.
Saya tomi asal kota Tangerang. Banyak kenangan Indah yg gk bsa saya lupakan hingga akhir hayat sy. Dari Tangerang ke Tegal naek motor. Cari alamat ds semedo. Nyasar dari ujung ke ujung… Demi seseorang pujaan hati perempuan yg saya cintai dan sampe saya nikahkan. Kini desa tsb tinggal kenangan. Istri tercinta telah meninggal dunia dan di makamkan di semedo gk jauh dari makam embah semedo. Kangen rasanya dgn desa tersebut. I love u istri tercinta DASTI MULKHATUN…. semedo akan selalu ku kenang. Dunia Maya memang luar biasa…
Salam kenal Kak Tommy.. Alfatihah utk almh isteri tercinta..
Iyah kak salam kenal kembali… Aamiin allahuma aamin
Aku kira tanah tua semedo ada di pulau sumatra gt, tyata tegal astaga…
Keren ya pemandangan langitnya…
Wah … Di Tegal ya? Aku tuh kalau berkunjung ke rumah tanteku pasti bingung mau main kemana. Semedo bisa jadi alternatif wisata nih kalau next ke Tegal
Ya mba..mudah2an akses jalan ke museumnya sdh lebih bagus
Mba, jadi acara ini nih peserta dilepas sendiri untuk eksplore tanah tua Semedo atau gimana mba? Ngumpulnya hanya pas malam hari aja ya kelihatannya.
Bener tuh, sebaiknya memang ada penjelasan ya dari sesepuh desa tentang lokasi ini, jadi ada pengantar dari penduduk setempat gitu ya istilahnya.
Utk eksplor sore itu iya..dibekali peta + tanya2 ke penduduk setempat hehe
Museumnya kereeen!
Akhirnya terjawab sudah rasa penasaranku dengan festival Tanah Tua Semedo yang kapan hari ramai di medsos teman2 blogger
Iya..baguuus gedungnya..
Waah lengkap banget sih mbak..pemandangannya juga kece banget kapan ya bisa kesana ajak anak-anak..tunggu agak gedean kali ya?
Iya mba..sambil tunggu pembukaan museumnya hehe..
Wuah mau ada situs sejarahnya juga. Alternatif selain sangiran kalau mau belajar peninggalan purbakala. Alhamdulilah, perhatian pemerintah makin baik ya Mbak.
Iya mba..bisa jadi alternatif selain yg Sangiran Solo
Prepare tahun depan nih, buat ikutan lagi ya Mba hahaah
semoga juga yang ikutan nambah banyak, karena keren tanah tua ini ada museumnya juga. Nggak sabar liat museumnya jadi
Iya Nyi..aku penasaran apakah nanti akan ada semacam guide di museumnya
Suka pemandangan desanya yang tentram, juga rumah antiknya…museumnya keren pisan ya bangunannya, Mbak..
Iya mba..dalamnya juga asyik lho..
Menarik ya kegiatannya. Konsepnya beda ternyata dari tahun lalu. Kalau pakai cara begini, kesempatan untuk tersebar secara online jadi lebih luas
Iya mba..harapan dari pelaksana memang seperti itu..
Tahun depan, kalau ada lagi pengin ikutan ah. Menarik banget tempatnya. Siapa tahu juga museumnya udah jadi…eh atau sebenernya memang sudah bisa dikunjungi oleh masy.umum ya, Mba
Saat ini boleh dikunjungi tapi blm boleh masuk mbak..(cuma foto2 di luar gedung saja..hehe)
Suka banget ada info seperti ini, sekarang makin kreatif dan variatif ya pengelolaan daerah, karena setiap tempat itu unik banget
Betul..harapannya makin tersebar infonsehingga kunjungan wisatawan semakin banyak
Aku baru dengar nih tentang nama Semedo.
Kalo lihat dari foto-foto mbak Tanti, kesannya tempatnya panas, bernuansa coklat, dan pepohonannya berupa ranting-ranting aja.
Trus penasaran, kenapa disebut tanah tua ya?
Iya..karena suasana kemarau. Aku penasaran, mungkin kalau pas musim hujan pemandangan akan berbeda, Dini..
Waktu denger kata “Semedo” aku kira ini dari daerah luar jawa gitu. Eh ternyata di Tegal. Asikk, bisa jadi pilihan destinasi wisata nanti kalo mudik hihihi
Iya, Lulu.. ini masuk wilayah Kab Tegal
Menarik juga ya wisata di Semedo Tegal ini, sekarang memang banyak tempat wisata yang mengangkat kearifan lokal dan budaya juga kuliner lokal ya mbak Tanti. Jadi gak bosen deh eksplore seluruh desa wisata di Indonesia karena banyak banget yang bisa dikunjungi nih 🙂
Iya mba Vita, pemerintah memberdayakan Pokdarwis setempat
Mbaaa, aku sering ke pemalang tp ga tau lho sama desa semedo ini. Jd penasaran main main deh
Pengadaan Festival memang dipercaya bisa lebih mengenalkan wisata di daerah di mana festival itu diadakan. Dengan diadakan acara begini diharapkan lebih banyak orang tahu kalau daerah tersbeut memiliki tempat wisata wajib kunjung.
Baru-baru ini di deket rumahku juga ada Mina Festival. Mina = Laut, karena Bali isinya pantai Festival yang diadakan di tepi pantai.