Lana, Kau Tidak Sendiri…

Ilustrasi by Pixabay

[Fiksi Lalang Ungu]. Lana, kau tidak sendiri. Mayang meletakkan novel anak yang sedang dibacanya ketika HP di meja sebelahnya berbunyi singkat, menandakan ada pesan masuk.

Sejurus kemudian ia terlihat asyik berbalas pesan melalui HP itu, sementara wajahnya terlihat serius dan sesekali tampak geram. Tak disadarinya Bunda yang sedang melakukan hobi kristiknya di dekat sana sejenak menghentikan kegiatannya dan memperhatikannya.

“Ada apa, Yang?” tanya Bunda halus ketika kemudian Mayang meletakkan HPnya, lalu menghela nafas panjang.

“Lana, Bun” jawab Mayang singkat.

Hm, ada apa dengan sahabat Mayang di sekolah itu? Sambil menunggu Mayang siap bercerita, Bunda teringat sosok Lana. Gadis mungil manis dengan rambut ikal dan sifatnya pemalu. Setidaknya itulah kesan yang Bunda peroleh ketika Mayang memperkenalkan sahabatnya itu saat kunjungan orang tua murid di sekolah mereka suatu waktu dulu.

Ilustrasi by Pixabay

“Lana baru cerita, bahwa selama ini ada teman kami yang bersikap buruk padanya, Bun. Dia jadi tak nyaman di sekolah, selalu merasa cemas, tapi takut ketinggalan pelajaran kalau sering tak masuk,” akhirnya Mayang memulai ceritanya. Bunda meletakkan kristiknya di pangkuan dan memberikan perhatian penuh pada Mayang.

“Bagaimana bentuk sikap buruk yang diterima Lana?” tanya Bunda

“Awalnya ejekan-ejekan. Bunda kan tahu Lana gimana, meski cuma celetukan-celetukan iseng anak-anak tentang rambutnya, atau kulitnya, atau sikap pemalunya yang disalah artikan sebagai penakut oleh anak-anak lain, semua itu bisa membuat Lana menangis lama di toilet lho, Bun.”

Ada rasa tak nyaman merayap di hati Bunda mendengar cerita Mayang. Hm, itu sudah masuk ranah verbal bullyingNak.. 

“Lana sudah cerita sebelumnya tentang ini, Bunda. Tapi barusan dia cerita bahwa akhir-akhir ini anak itu tidak hanya mengejek dia..”

“Apakah Lana mendapat kekerasan fisik dari anak itu, Yang?” Bunda bertanya dengan prihatin.

“Tidak Bun. Eh, setidaknya dia belum cerita sudah dipukul atau apa. Mudah-mudahan jangan sampai terjadi, ya Bun..” Mayang menjawab dengan raut khawatir di wajahnya. Lalu melanjutkan, ” tapi diancam akan dipukul.  Tadi dia nulis kalau anak itu suka minta dengan paksa bekal makannya, atau uang jajan dan mengancam akan memukul kalau tidak diberi”.

“Siapa sih anak itu? Sudah berapa lama kejadian itu berlangsung?” tanya Bunda beruntun kepada Mayang.

“Kakak kelas, Bun. Anak itu memang terkenal bandel di sekolah kami. Kalau diejek-ejek itu sih sudah agak lama Lana cerita, dua atau tiga bulan ini lah..”

“Kalian sudah lapor ke Bu Wati?” Bunda bertanya namun sudah meraba jawabannya.

“Belum, Bun. Lana tidak berani, takut justru kelakuan anak itu makin menjadi bila dimarahi guru gara-gara laporan dia. Itu pula sebabnya ia juga tak berani cerita ke orang tuanya, karena takut bapaknya melabrak ke sekolah.”

Bunda menghela nafas panjang. Ah, benar dugaannya bahwa Bu Wati wali kelas mereka belum tahu cerita ini. Sayang sekali, justru Bunda yakin kalau Bu Wati tahu beliau akan berusaha menghentikan peristiwa bully ke Lana tanpa berkepanjangan, karena wali kelas mereka itu guru baik hati yang sudah berpengalaman dalam dunia pendidikan. Dalam hal ini, wali kelas adalah pengganti peran orang tua di sekolah.

“Kasihan Lana ya Bun. Aku ingin membantu Lana tapi jangan sampai malah bikin keadaan makin parah untuknya,” kata Mayang perlahan

Hm, Bunda teringat sebuah tulisan tentang bullying pada anak yang pernah dibacanya beberapa waktu lalu. Ketidak-beranian korban untuk menceritakan pada orang lain tentang perundungan yang diterimanya merupakan salah satu hal yang bisa membuat bullying atau perundungan itu tak berkesudahan. Untunglah Lana sudah mau terbuka kepada sahabatnya, dan sekarang perlu mendorong keberaniannya untuk terbuka kepada orang dewasa yang berwenang di sekitar mereka, yang merupakan salah satu upaya memutus rangkaian perundungan itu.

“Yang paling penting saat ini adalah terus mendampingi Lana, Mayang. Libatkan dia dalam kegiatan-kegiatan dengan teman lain. Jangan biarkan ia sendiri. Besarkan hatinya hingga tak ambil pusing dengan ejekan-ejekan usil itu. Kalau pas kamu di sana dan dengar langsung ada yang mengejeknya, tegur pengejek itu. Ingatkan bahwa itu perlakuan buruk dan tidak pantas kepada teman.”

“Apakah boleh aku yang lapor kepada Bu Wati, Bun? Aku yakin Bu Wati pasti punya jalan keluar yang tak akan mempersulit Lana.”

” Hm, menurut Bunda sebaiknya Lana sendiri yang bercerita ke Bu Wati agar beliau bisa mendengar langsung dari Lana. Kau bisa meyakinkan Lana akan perlunya Bu Wati tahu agar bisa menghentikan perundungan yang diterimanya. Tawarkan untuk mendampinginya bila ia tak nyaman menghadap Bu Wati sendiri..”

“Selain mendampingi Lana menghadap Bu Wati, apa lagi yang bisa kulakukan untuk Lana agar lepas dari masalah ini, Bun?” 

Bunda merasa besar hati mendengar nada tulus dalam pertanyaan Mayang. Khas Mayang. Putrinya itu memang lembut hati, pasti tak tega mengetahui sahabatnya bermasalah dan ingin membantu menyelesaikan atau paling tidak meringankan beban hati sahabatnya.

“Usahakan selalu bersamanya saat istirahat atau di waktu-waktu rawan gangguan anak itu. Selain itu yakinkan Lana bahwa ia harus berani melawan atau melapor ke guru bila diejek / diancam lagi. Anak bandel itu akan berpikir ulang untuk mengganggu Lana bila Lana tak lemah lagi.”

“Iya ya Bun, mungkin anak itu berani mengganggu karena selama ini Lana terlihat takut ya Bun.. Ah, atau kuajak dia ikut latihan silat saja sekalian ya?” Mayang terlihat bersemangat dengan ide mengajak sahabatnya ikut ekstra kulikuler bela diri yang juga ditekuninya beberapa bulan belakangan.

“Ide bagus kalau dia memang mau, Yang . Berlatih bela diri tidak hanya untuk jaga diri tapi juga penting untuk meningkatkan rasa percaya diri,” jawab Bunda

“Oya Mayang, perlu diingat bahwa kebiasaan saling ejek itu tidak baik. Mungkin awalnya cuma bercanda, tapi saat penerima candaan itu merasa tak nyaman atau terganggu maka itu sudah termasuk jenis perundungan verbal. Jadi kalian harus hati-hati dan lebih baik hindari melakukannya kepada teman.”

“Ya Bunda, insya Allah aku akan selalu ingat hal itu dan akan ingatkan teman-teman juga tentang hal itu. Ngomong-ngomong, Bunda masak apa hari ini? Aku sudah lapaaar..”

“Tenang bos kecil, mari bantu Bunda siapkan meja sementara Bunda ambil lauk kesukaanmu, ya?” jawab Bunda sambil tersenyum kecil dan beranjak ke dapur.

Sementara Mayang mengambil sikap tegap dan memberi hormat ala tentara. “Siap, Jendral!”

Tidak hanya siap membantu bundanya, dalam hati Mayang berjanji ia siap mendampingi Lana sahabatnya. Tenang Lana, kau tidak  sendiri…

***

Sumber bacaan : Bullying : Penyebab, Dampak, Jenis, Cara Mengatasi, dll. (Web Dokter sehat)

#ObrolanMayangdanBundanya lainnya : Obrolan sore Mayang dan Bundanya

83 thoughts on “Lana, Kau Tidak Sendiri…”

  1. SD masih pemanasan, bullyingnya. SMP baru jagonya.
    Meski gitu, memang nyata ada Mbak.
    Si tengah ku juga selalu diganggu. Kebetulan salah satu namanya Lana.
    Malah terbalik ya.

  2. Kalau udah kena verbal bullying biasanya seseorang akan merasa tak percaya diri menurut saya. Butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa menyembuhkan luka batin. Mungkin karena pengalaman pribadiku juga, hehehe

  3. Benar sekali, Mbak Tanti.
    Saya pribadi tidak suka melihat anak satu mengecek teman lainnya. Biasanya lansgung syaa tegur. Tapi selalu ada pembelaan dari orang tua. Katanya.. Ah, namanya anak-anak. Aah.. anak-anak saja dipusingin dan Aah.. lainnya.
    Padahal dari kecil anak-anak diajarkan tidak membully. Enak yang membully, tapi menyakitkan bagi yang dibully.

    1. Nah..padahal apa yg terjadi pada anak2 itu seringnya ‘nancep’ hingga dewasa ya..

  4. Bullying memang PR bgt untuk anak2 kita.
    Soale, kadang secara ga sadar, anak jadi korban, atau malah jadi pelaku.
    ortu memang harus lebih peka ya

    1. Semoga anak2 juga sadar bhw ejek2an itu bkn hanya becanda dan tak melakukannya

  5. Karena aku pernah merasakan sakitnya jadi korban verbal bullying, sekarang kalau nemuin hal tersebut, aku berani melawan, Mbak. Aku nggak mau jadi orang yang diem saja. Sakit rasanya. Terbayang-banyang pula sampai sekarang kalau tidak diselesaikan.

  6. Duh, perkara bully itu kadang ngeselin banget. Kalau ditelusuri biassnya si pembuly punya problem juga di rumahnya. Dia melampiaskan di luar rumah pada anak lain.

  7. Karena karena penampilan fisik yaa…Lana mengalami bullying.
    Kalau boleh minta, semua orang pengen berpenampilan cantik dan sempurna.
    Sungguh aku turut emosi.

    Semoga masing-masing dapat konseling yang benar sehingga bisa saling memaafkan.

  8. Bullying ini tidak boleh dilakukan sebab bisa menganggu kondisi psikis anak. Anak jadi kehilangan rasa percaya diri dan jadi pendiam. Sebagai orang tua kita harus bisa menasehati anak supaya jangan sampai menjadi pelaku bullying, sebaliknya jika anak kita menjadi korban bullying kita harus segera mencari solusi terbaik atas bullying yang dialaminya. Supaya tindakan bullying tersebut tidak mempengaruhi kondisi psikisnya.

  9. Cerintanya bikin jadi refleksi, pelajarannya bisa kita ambil banget. Sedih ya di kenyataan bully itu memang dari anak-anak sekolah dasar udah banyak terjadi.

  10. Sejak aku SD bullying emang ada mba dulu temenku diejek sampe.dikucilkan krn kulitnya maaf korengan sebadan2 kasian dia huhu makin bikin pendiam untung anaknya sabar

    1. Iya mba..
      Sayangnya bullying ini ada dari SD hingga mungkin di setiap jenjang pendidikan.. sedih sekali..

  11. Aku cenderung rame dan aktiv waktu SD tuh tapi tetep ada cowok yang ngebuly juga bilang aku si hideung. hahaha…sekarang aku sama dia item an dia jauh..xixiixi tapi udah ga ngebuly sekarang mah… kita se SD hampir kumplit kumpul di grup WA..mantaps ya hahaha..

  12. Suka ngga habis pikir deh sama anak yang suka ngebuli.. itu kenapa deh bisa jahat sama temannya sendiri hiks, anak aku termasuk yang suka di jailin sama temannya dan Alhamdulillah saat ini sudah tidak, karena walikelasnya langsung gercep dan kami minta solusinya

  13. Dari dulu bullying ini udah ada sebenarnya ya, makin ke sini makin parah aja. Kalo zaman dulu kupikir hanya semacam becandaan aja, padahal itu termasuk dalam kategori bulliying

    1. Iya..anak2 kadang tahunya itu becandaan dan ikut2an saja padahal itu pun menyakitkan hati pemerimanya ya.. Tapi kalau sudah ancaman / pemerasan itu lebih parah sih ya

  14. Bullying menyebabkan anak-anak jadi minder, penakut, dan tidak percaya diri. Harus secepatnya diatasi sehingga anak-anak tidak trauma.

Leave a Reply to Nurhilmiyah Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *