LALANG UNGU

ruang ekspresi sepotong hati

Pengalamanku Berobat dan Menjalani Rawat Inap di Masa Pandemi

| 57 Comments

Hai Sahabat Lalang Ungu, apa kabar? Semoga senantiasa sehat dan bahagia ya. Setelah beberapa hari absen dari Dunia Maya, kali ini aku akan tuliskan pengalamanku berobat dan menjalani rawat inap di masa pandemi.

Ya, penyebab absenku dari kegiatan keseharian pada beberapa hari lalu adalah karena sakit yang menyebabkanku harus mendapatkan tindakan medis dan menjalani rawat inap di sebuah RS di kotaku.

Bagaimana rasanya sakit di masa pandemi ini?

Amat sangat tidak nyaman!

Itulah yang kurasakan. Ya, tentu saja Sahabat pasti merasakan ketidaknyamanan di saat sakit bukan? Namun sakit di masa pandemi seperti ini seolah berkali-kali lebih besar rasa tak nyaman itu.

Saat kita sakit, selain rasa tak nyaman yang kita rasakan di badan kita akibat kondisi itu, juga tentunya banyak hal yang harus kita pikirkan terkait kondisi kita tersebut. Misalnya pengaruhnya terhadap rutinitas keseharian kita, keluarga kita, tugas dan tanggung jawab kita, pengaruh ke dompet kita dan masih banyak lagi. Nah, di masa pandemi ini segala pikiran dan kekhawatiran itu masih ditambah lagi dengan kekhawatiran terkait penyebaran Covid-19 tentunya ☹️

Di saat kita dihimbau untuk tetap di rumah saja, kondisi kita membutuhkan kunjungan ke pusat kesehatan -yang mana ditakutkan menjadi salah satu pusat penyebaran virus itu- tentu saja wajar bila kita khawatir bukan? Tapi, kita mau tak mau harus melakukannya. Duuh, seperti makan buah simalakama saja … 😢

Sayangi Tubuhmu

Tentunya kita sering mendengar kalimat ‘sayangi tubuhmu’ ini. Menyayangi tubuh kita adalah bagian dari merawat diri yang merupakan salah satu ungkapan / bentuk self love

Bagaimana cara kita menyayangi tubuh kita?  Ada banyak cara tentunya, antara lain dengan memberikan hak tubuh kita.

Berikan Hak Tubuh Kita

Apa saja sih hak tubuh kita itu?

Tentu saja ada banyak hak tubuh kita, beberapa di antaranya adalah sebagaimana yang pernah kubaca dalam suatu tulisan “Cara Mewujudkan Kesehatan bagi Umat Muslim” ada 3 macam kegiatan memberikan hak tubuh yaitu : (1) Senantiasa memelihara kesehatan; (2) Menjaga diri agar penyakit tidak semakin parah; (3) Menghilangkan hal-hal yang membuat sakit.

Menyadari ketiga hak tubuhku sebagaimana tertulis di atas, maka ketika merasakan sesuatu yang tidak beres dengan tubuhku, aku berusaha untuk mendapatkan kepastian penyebabnya dan mengupayakan solusi penanganannya.

Kebetulan salah satu rekan kantorku berlatar belakang kesehatan, sehingga ketika aku berdiskusi dengannya mengenai hal ini, ia sangat mendorongku untuk segera mengunjungi pusat kesehatan dan memastikan kondisiku, tentu saja dengan tetap menjalankan protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah di masa pandemi ini.

Berobat ke Puskesmas di masa Pandemi Covid-19

Ya, itulah yang selanjutnya kulakukan yaitu mengunjungi Puskesmas yang merupakan Layanan Kesehatan Dasar di mana aku tercatat sebagai peserta BPJS Kesehatan, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang telah ditetapkan.

Apa Saja Protokol Kesehatan yang telah diterapkan di Puskesmas?

  1. Pengunjung harus mengenakan masker. Sebagaimana anjuran untuk mengenakan masker setiap keluar rumah, begitu pula yang kulakukan saat mengunjungi Puskesmas yaitu tak lupa menggunakan masker kain secara benar (menutup hidung DAN mulut). Oya di Puskesmas terdapat spanduk besar bertuliskan hanya pengunjung bermasker yang boleh masuk dan diperiksa di Puskesmas tersebut.

    Antrian masuk Puskesmas

    Antrian masuk di teras Puskesmas

  2. Pengunjung wajib mencuci tangan dengan sabun atau menggunakan hand sanitizer sebelum masuk Puskesmas. Di luar pintu masuk Puskesmas terdapat tempat cuci tangan portable yang menggunakan pedal kaki untuk membuka keran airnya, dan tersedia sabun cair untuk cuci tangan. Demikian pula di dalam Puskesmas terdapat beberapa botol hand sanitizer  yang di tempatkan dengan mudah terlihat dan terjangkau oleh pengunjung.
  3. Menjaga jarak aman minimal 1 meter dan tidak membuat kerumunan. Ada yang berbeda dengan suasana di Puskesmas kemarin itu, dibandingkan kondisi sebelum pandemi. Kalau dulu tempat pendaftaran dan ruang tunggu pasien ada di ruang dalam Puskesmas, saat ini berbeda. Antrian pendaftaran di teras Puskesmas dengan bangku-bangku berjarak, pengunjung dipanggil masuk sesuai nomor antrian per 10 nomor. Sehingga saat di dalam Puskesmas pengunjung menunggu antrian periksa tidak dengan berjubel.
  4. Pemeriksaan Suhu Badan Pengunjung Puskesmas. Sebelum masuk Puskesmas semua pengunjung diperiksa suhu badannya. Petugas yang menggunakan APD + faceshield & masker medis.

    Cek suhu tubuh di Puskesmas

    Pengunjung no 1-10 dicek suhu tubuh sebelum masuk Puskesmas

Nah, berdasarkan pemeriksaan di Puskesmas tersebut, aku mendapat rujukan ke RS untuk pemeriksaan lanjutan.

Berkunjung ke Rumah Sakit di Masa Pandemi Covid-19

Sebagaimana di Puskesmas, protokol kesehatan pandemi Covid-19 juga telah diterapkan di RS yang kutuju keesokan harinya, antara lain sbb:

  • Sebelum masuk RS setiap pengunjung diperiksa suhu badannya dan membersihkan tangan dengan hand sanitizer yang sudah disediakan di depan pintu masuk.
  • Kursi-kursi yang ada diberi tanda untuk pengaturan jarak pengunjung.

    R Pendaftaran RS Bendan

    Social distancing di ruang pendaftaran Poli RS Bendan

  • Semua petugas menggunakan APD dan masker, dan para petugas yang berhubungan langsung dengan pengunjung RS menggunakan face shield sebagai pelindung tambahan.
  • Pada meja petugas yang langsung berhubungan dengan pengunjung RS terdapat tambahan plastik pembatas, termasuk di meja dokter di ruang poliklinik.
  • Tidak semua poli dibuka setiap hari dan dilakukan pembatasan jumlah pengunjung pada poli yang buka.
  • Setelah jam pelayanan poli selesai (jam 12 siang) pintu utama RS ditutup dan pintu yang dibuka adalah di UGD dan di TPPRI (tempat pendaftaran pasien rawat inap)

    Pintu masuk RS Bendan setelah jam 12 siang

Menjalani Rawat Inap di Masa Pandemi

Hasil pemeriksaan dari dokter di Poli Bedah waktu itu, aku harus menjalani tindakan medis di RS tersebut. Waktu itu aku diberi kesempatan seminggu untuk berpikir dan berembug dengan keluarga terlebih dahulu.

Memesan Kamar Perawatan

Seminggu kemudian setelah berdiskusi dengan keluarga aku pun memutuskan untuk menjalani tindakan medis / operasi tersebut, namun ketika itu tidak bisa langsung opname / rawat inap karena kondisi kamar yang penuh. Rupanya saat itu belum semua kamar perawatan dioperasionalkan sebagaimana biasa sehingga harus melakukan inden / pemesanan kamar terlebih dahulu.

Hari kedua setelah memesan kamar, Alhamdulillah aku mendapat telepon dari RS tersebut berupa pemberitahuan bahwa sudah ada kamar yang dapat dipergunakan sesuai kelas yang kupesan. Maka hari itu juga aku masuk ke ruang perawatan dan bersiap untuk menjalani operasi keesokan harinya.

Pendaftaran Rawat Inap

Mendaftar di TPPRI sebelum rawat inap

Aturan Penjaga dan Pengunjung Pasien Rawat Inap

Salah satu aturan baru di RS terkait kondisi pandemi ini adalah bahwa untuk pasien rawat inap hanya diperbolehkan dijaga oleh 2 orang secara bergantian dan TIDAK BOLEH ada kunjungan pasien / besuk.

Hm, Alhamdulillah pasien masih diperbolehkan untuk dijaga keluarga meski hanya 1 orang, karena pasien akan sangat kesulitan bila hanya mengandalkan dukungan penjagaan dari perawat karena keterbatasan personilnya. Sebagai gambaran di kelas tempat aku menginap kemarin tiap shift perawat 2-3 orang sementara jumlah maksimal pasien di kelas tersebut 11 orang.

Pengalaman Operasi dengan Anestesi Separuh Badan

Keesokan harinya, sekitar jam 9 pagi aku mulai menjalani operasi dimaksud, yang ternyata sebagian prosedurnya berbeda dari operasi yang pernah kujalani sebelumnya.

Baca Juga : Pengalaman Opname Yang Pertama

Jika pada operasi yang pernah kujalani sebelumnya (sekitar tahun 2013) aku mendapatkan anestesi / bius total, pada operasi kali ini hanya bius sebagian (pinggang ke bawah) mungkin karena operasi kali ini termasuk operasi sedang saja.

Bagaimana rasanya operasi dengan bius sebagian saja?

Aneh!

Haha..iya, buatku aneh dan lebih membuat deg-degan karena selama tindakan medis berlangsung di ruang operasi itu, aku sadar sepenuhnya, meskipun ada sekat kain yang membuatku tidak bisa melihat langsung tindakan tersebut. Maka akupun membaca dalam hati segala macam doa yang kuketahui untuk menenangkan hati selama pelaksanaan operasi itu.

Sekitar 1 jam operasi berlangsung, sesudahnya aku langsung dijemput untuk diantar kembali ke ruang perawatan. Tidak perlu menunggu siuman di ruang pemulihan seperti operasi sebelumnya.

Nah, di situlah aku merasakan perbedaan lagi dari pasca operasi sebelumnya, yaitu mati rasa di tubuh bagian pinggang ke bawah. Aneh sekali rasanya menjalani 4-5 jam berikutnya dengan separuh tubuh mati rasa begitu. Tak bisa tidur, tapi juga tak bisa ngapa-ngapain. 😢

Saat itulah aku merasa benar-benar bersyukur kondisi itu hanya sementara. Ya sudah jamak ya bila kita  baru merasakan nikmat sehat di kala sakit, merasakan nikmat tubuh utuh dikala sebagian tubuh kita tak terasa utuh. Benar-benar suatu pelajaran yang dapat ku petik hikmahnya.

Alhamdulillah aku tidak perlu berlama-lama di RS. Hari kedua pasca operasi (atau hari keempat rawat inap) aku sudah diperbolehkan pulang. Pemulihan selanjutnya di rumah saja. Syukurlah.

Dan saat menuliskan pengalaman ini sekali lagi aku bersyukur atas nikmat sehat selama ini, bersyukur atas kelancaran operasi kemarin, bersyukur punya keluarga yang berfungsi sebagai support system terbaik dan tentunya juga bersyukur atas doa dan perhatian yang banyaaaak sekali kudapatkan dari sahabat-sahabat. Maturnuwun sahabat-sahabat tersayangku 😘 Alhamdulillah.. Sungguh karunia berharga dari-NYA.

Salah satu bentuk syukurku adalah janji pada diri sendiri untuk lebih pandai merawat diri, menjaga kesehatan jiwa raga dan juga menerapkan self love dengan benar. Self love di sini  bukan semata mencintai diri sendiri lebih dari orang lain namun mencintai diri sendiri dengan lebih melibatkan aspek menyadari diri sendiri, menghargai diri sendiri, percaya diri dan peduli pada diri sendiri.

Self Love
Pic by Pixabay

Cara Mengasah Self Love

Dalam artikel di Kompas(.)com yang kubaca kemarin, disebutkan juga cara mengasah self love yang dapat kita terapkan dalam keseharian kita, yaitu :

  • Berkesadaran. Dengan berkesadaran memperhatikan diri sendiri, kita jadi lebih mengenal dan tahu apa yang terbaik bagi diri kita sendiri.
  • Kebutuhan bukan keinginan. Berikan yang terbaik bagi diri sendiri, apa yang kita butuhkan bukan apa yang diinginkan.
  • Rawat diri dengan baik. Penuhi kebutuhan dasar dan berkualitas untuk diri sendiri, a.l : nutrisi yang baik, olahraga teratur, istirahat yang cukup dan rawat juga relasi sosial.
  • Tegas pada batasan. Perlu tegas dalam menetapkan batasan, berlaku dalam pekerjaan, cinta ataupun kegiatan lain yang dapat mempengaruhi fisik dan mental kita.
  • Lindungi diri sendiri. Lindungi diri kita dari orang atau lingkungan yang membuat kita merasa tidak nyaman.
  • Maafkan diri sendiri. Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Dengan memaafkan diri sendiri kita justru dapat tumbuh dan belajar dari kesalahan yang pernah kita buat
  • Punya tujuan hidup. Dengan adanya tujuan hidup realistis yang sudah kita tetapkan, kita lebih nyaman menjalani hidup dan ada semangat untuk mewujudkan tujuan tersebut.

Nah Sahabat Lalang Ungu, itulah sedikit catatan tentang self love.  Bagaimana dengan kalian sahabat, sejauh mana kalian terapkan self love kepada diri kalian? Yuk bagi kisahnya di kolom komen ya.. Terima kasih ..

***

Sumber bacaan :

  1. Dalil dan hadits tentang kesehatan dan cara menjaganya menurut Islam [Brilio(.)net, 13Mei 2020]
  2. Apa itu self love? [Kompas (.) com, 8 Maret 2020]

57 Comments

  1. Sehat sehat sehaaat ya mbakku…

  2. Stay safe dan lekas sehat ya mbak Mee. Peluk jauuuh

  3. Jadi menyadari pentingnya sehat dimasa sekarang ini yah kak, semangat selalu untuk sembuh dan sehat.

  4. Alhamdulillah operasi berjalan lancar dan pemulihannya juga lancar. Terbukti mba Tanti bisa nulis artikel ini dengan baik.

    Makasih udah menuliskan cerita pengalaman berobat saat pandemi ya mba, Semoga diberikan kesehatan, aamiin

    • Aamiin..
      Harapanku, catatan kecil ini bisa menjawab keraguan bila ada yang terpaksa harus berobat atau sampai rawat inap di pelayanan Kesehatan..

  5. sepertinya memang sifat manusia ya mba,suka lalai. klo udah sakit baru terasa deh. semoga kita semua tetap sehat

  6. Aku bisa merasakan masa2 dimana sehat itu nikmat banget, apalagi kayak Mbak yang harus operasi. Kadang kita kurang bersyukur msh bisa beraktivitas. Semoga Mbak Mechta selalu sehat. Terima kasih sudah berbagi mengenai self love 🙂

  7. Kebayang deh gimana nggak nyamannya harus diopname apalagi dioperasi saat masa pandemik begini. Kalau aku pasti dipenuhi rasa khawatir. Tapi rasa khawatir berlebihan juga nggak baik. Malah bikin daya tahan tubuh menurun, kan?

    Soal self love, aku masih suka sulit menentukan batasan, nih. Memang ya, self love itu penting banget dan hanya kita sendiri yang bisa menilai dan mengaturnya sesuai kondisi.

    Lekas pulih dan semoga sehat-sehat terus ya, Mbak …

  8. Mba Tan kuat dan strong yakin.
    Alhamdulillah lega aku baca kisahmu, pasti kamu sudah merasakan baik-baik saja dan langsung launching artikel. Keren suer wkakakak
    mba sakitmu tersebab oopo, makasih ya udah kasih tips untuk menyayngi diri sendiri dan memberikan hak kepada tubuh. Lekas pulih kangen sue ga temu

  9. Paling takut memang saat ini klo ke rumah sakit ya mba… Alhamdulillah nya semua bisa terlewati ya lengkap lagi pelindungny semoga selalu sehat2 y

  10. Alhamdulillah tidak butuh waktu lama ya, Mbak rawat inapnya. Semoga sehat terus setelah ini.

  11. Saya masih belajar dan terus belajar untuk selalu mencintai diri sendiri mbak. Semoga kita selalu bersyukur dengan kesehatan yang kita miliki saat ini. Bukan bersyukur ketika sudah sakit ya mbak.. terimakasih muhasabah nya.. ^^

  12. kebayang ya mbak 🙂 pasti deg2an banget, sehat2 selalu ya mbak, disaat seperti ini jadi lebih menghargai kesehatan ya

  13. Wah kak cepet sembuh yah. Sakit di masa pandemi ini pasti jadi serba sulit dan was-was yah. Tetap jaga kesehatan ya kak :33

  14. Iya, Mbak. Sekarang ke rumah sakit rasanya was-was. Kalau bisa selama pandemi gak usah sakit. Semoga lekas pulih dan sehat selalu ya, Mbak

  15. Memang mengkhawatirkan ya mba rasanya harus opname di masa pandemi gini. Aturannya ketat juga kudu cek ini itu ya?

    Semoga sehat selalu ya mba pasca operasi ini. Banyak istirahat dulu mba agar luka operasinya cepat sembuh.

  16. Waduh mbak, serem ya protokolnya ketat banget. Semoga segera pulih, sehat wal afiat. nggak sakit2 lagi ya mbak. Aamiin.
    Kebayang RS lagi fokus ke pandemi, pasien2 lain bakal dicurigain semua. Hmmm
    Aku pernah bius separuh badan waktu melahirkan si sulung. Mana dokternya cowok tapi rocker, rambutnya panjang dikucir. Sepanjang operasi muter lagu & nyanyi2 & ngguyonin aku. Jadi santai, tapi habis operasi pas bius habis baru deh stres hahaaa.

  17. Banyak yang bilang, 2 nikmat yang sering dilalaikan itu kesehatan dan waktu luang memang benar adanya ya, Mbak. Terutama kesehatan, sangat penting untuk kita jaga apalagi di masa pandemi seperti sekarang.
    Syukurlah sudah melewati operasi dengan lancar ya, Mbak. Semoga lekas pulih kembali

  18. Sakit disaat pandemi sekarang ini kadang membuat khawatir akan tertular dg covid19. Syukurlah, bisa dilewati dengan lancar dan aman. sehat selalu ya mba….

  19. Halo mba, semoga nggak kejadian lagi ya mba. Sedihnya memang berada dalam kondisi seperti ini ya mba. Sehat sehat selalu ya. Terima kasih telah berbagi yaa

  20. Sekarang prosedur operasi & opname agak ketat selama pandemi ya. ini temanku lagi operasi juga mbak gak bisa ditunggui malah.
    Sehat selalu ya mbak buat kita semua

  21. Sehat sehat terus ya Mbak
    Jangan sakit lagi
    Aku ngeri kalau baca semua aturan di atas

  22. Mba Tanti leks pulih ya dan biar bisa beraktivitas seperti sedia kala
    jaman pandemi kemarin aku juga wara wiri RS pas emak sakit, alhamdulillah sekarang udah bisa jalan rembetan pelan-pelan.
    Segera pulih ya mba, udah di rumah belum?

  23. Alhamdulilah sudah boleh pulang ke rumah. Sehat terus Mbak semoga bekas operasinya makin membaik.

  24. Mbak e bisa merasakan betapa sangat tidak nyaman di situasi saat ini dan harus sakit. Doa kami yang terbaik dan semakin pulih ya mbak. Sehat selalu, Tuhan memberkati.

  25. Kebayang deh gimana rasanya rawat inap di masa pandemic. Waswas, gak nyaman, dek-dekan. Sebisa mungkin dihindarkan ya. Semoga kita semua sehat-sehat selalu. Btw, selflove-nya jadi reminder banget. Aku kadang suka abai dengan diri sendiri 🙁

  26. Bulekku ada nih, Mbak, emang sudah ada gula, sih, tapi diberi obat dokter ngak diminum. Malah minta rawat inap saja. Padahal pas pandemi kayak gini kan ya seperti yang Mbak Tanti ceritakan. Tapi, malah ngeyel mulu. Wong sebenarnya kalau beliau istirahat total di rumah, nggak jualan dulu, ki yo insyaallah masih bisa dicover.

    • Cova diberi pengertian Ika..dan juga dukungan. Mungkin beliau merasa bila diopnsm akan lebih diperhatikan kelg atau gimana.. Nah, dukungan kelg memsng sangat penting bukan?

  27. Kak Tanti…
    Syafakillahu.

    Laa ba’sa thohurun, in syaa Allah.
    Semoga Allah memudahkan kak Tanti sehat kembali seperti sedia kala.

  28. Pengalaman ke rumah sakit atau puskesmas saat pandemi tuh lebih banyak nelangsanya ya, Mbak. Beruntung masih boleh ada yg jagain meski satu, kebanyang kalau harus sndirian cobaa di ruang rawat. 🙁 Aku jadi ingat, pas antar Ibuku kemarin ke puskesmas ngga pakai masker tuh beneran ngga boleh masuk. Hahaha.

    Btw, baru tau kalau abis operasi. Sehat2 ya, Mbaakk.

  29. Pingback: Bila Dr Reisa Broto Asmoro Serukan New Normal Life, Sudah Siapkah Kita? |

Leave a Reply

Required fields are marked *.