Menjelang sore di Pantai Tanjung Aan dan Bukit Merese. Hai Sahabat Lalang Ungu, tetap sehat, bahagia dan semangat, bukan? Kangen piknik? Waah..samaa.. Aku juga kangen banget piknik nih. Sebagai obat rindu, kubuka kembali album jalan-jalan. Dan kali ini kutuliskan kenangan jalan-jalanku ke Pantai Tanjung Aan & Bukit Merese.

Pantai Tanjung Aan
Pantai indah ini berlokasi di Desa Kuta Lombok Pujut Lombok Tengah, sekitar 75 km (perjalanan sekitar 1,5-2 jam) dari Kota Mataram, namun bila ditempuh dari BIL Lombok jauh lebih dekat yaitu sekitar 30 menit perjalanan. Pantai terdekat adalah Pantai Kuta Mandalika, sekitar 3 km atau 30 menit perjalanan.
Pada kunjungan kami di medio Maret 2020 lalu, kami ke Tanjung Aan ini setelah berkunjung ke Desa Wisata Sade. Perjalanan menuju pantai yang setiap Bulan Februari ramai karena ada Festival Bau Nyale ini terasa lancar, dengan kondisi jalan cukup mulus, hingga mendekati lokasi pantai kondisi jalan agak bergelombang.
Suara debur ombak memecah di pantai langsung menyambut kedatangan kami di sore itu. Seakan memanggil-manggil kami untuk segera menghambur ke tepi pantai. Tak sabar kami segera keluar dari mobil menuju dan bergegas menuju pantai.
Dan ketika akhirnya pemandangan pantai tersaji langsung di depan mata kami, subhanallah.. tak henti terucap syukur di hatiku atas kesempatan menyaksikan pemandangan indah itu 😍

Fokus pandang kami seakan terkunci pada warna air laut yang tak seperti biasa kami temukan. Gradasi warna dari hijau tosca hingga ke biru muda berpadu dengan warna putih pasir pantai dan juga hijau gelap warna bukit-bukit yang mengelilingi pantai ini, juga birunya langit dan putihnya awan berarak. Sungguh luar biasa!

Kaki tak sabar ingin segera berlari ke pasir dan bermain dengan ombak yang memecah pantai, namun matahari masih bersinar garang sore itu. Meski topi dan kacamata hitam tak lupa kami kenakan, namun tetap terasa kurang nyaman untuk bermain di pantai saat itu. Sehingga kami kemudian memilih menunggu matahari agak ramah, berteduh di salah satu gazebo tepi pantai sambil menikmati segarnya Kelapa Muda.


Nikmat sekali sore itu, leyeh-leyeh di sana sambil dibelai angin pantai. Oya, di sepanjang pantai ini memang terdapat banyak kursi-kursi berpayung dan gazebo mungil beratapkan jerami. Sesekali ku turun dan berjalan ke batas air tanpa alas kaki. Pasirnya putih dengan bulir-bulir yang tidak selembut pasir pantai biasanya. Bulir-bulirnya agak kasar seperti butiran Merica kecil. Ah, mungkin ini sebabnya ada yang menyebut pantai ini sebagai Pantai Merica. Hehe..

Banyak tumbuh tanaman Pandan Laut di tepi Pantai Tanjung Aan ini. Daun-daunnya lebar, cukup tebal dengan duri-duri di tepi daun. Kalau tidak salah ini pandan yang sering digunakan sebagai bahan anyaman. Aku tertarik dengan buahnya yang sekilas mirip buah Nanas. Yang masih muda berwarna hijau dan beberapa yang berwarna kuning kemerahan tampaknya sudah matang. Dari beberapa tulisan di dunia maya kubaca bahwa buah ini dapat dikonsumsi juga lho.. Hmm..bagaimana rasanya ya?

Sore itu terlihat turis-turis manca sedang menikmati keindahan pantai juga. Beberapa berselancar bermain dengan ombak-ombak, ada pula yang berbaring di kursi pantai sambil membaca buku. Semua bersantaaaaii…
Ketika akhirnya mentari mulai tergelincir ke arah Barat, kami pun meninggalkan tempat berteduh dan berjalan menyusuri pantai. Angin pantai terasa sejuk, saat mereka asyik bermain dengan ujung-ujung kerudung. Tentu saja kami tak lupa berfoto-ria di sana..hehe..



Oya, Sahabat Lalang Ungu jangan kaget ya..di Tanjung Aan ini ada banyak penjaja kain yang mondar-mandir di pantai ini untuk menawarkan dagangannya. Nah, kalau memang tak ada niat beli, jangan tunjukkan ketertarikan, atau kalian akan dirubung / dikerumuni oleh mereka..hehe.. Ada rasa salut atas kerja keras mereka, namun maaf, cara mereka menawarkan dagangan cenderung mengganggu.

Berapa tarif masuk ke Tanjung Aan?
Nah, karena kemarin kami ikut paket tour, tentu saja tidak membeli karcis / tanda masuk. Tapi, setelah cari-cari info di beberapa tulisan lain, ternyata memang sampai saat ini tidak dikenakan bea masuk alias free. Hanya membayar ongkos parkir saja : Rp5.000,- untuk motor, Rp10.000,- untuk kendaraan roda 4 dan Rp.15.000,- untuk kendaraan yang lebih besar.
Sore semakin menua, meski belum merasa puas bermain di Pantai Tanjung Aan, kami pun mengucap perpisahan dengan pantai cantik ini. Mudah-mudahan lain kali bisa berkunjung lagi ke sini dengan durasi waktu yang lebih lama. Aamiin..
Bukit Merese
Sebagaimana telah kusampaikan sebelumnya, Pantai Tanjung Aan ini dikelilingi oleh bukit-bukit. Nah, salah satunya adala Bukit Merese yang menjadi tujuan kami selanjutnya.
Lokasi bukit ini sangat dekat dari Pantai Tanjung Aan. Sekitar 15 menit kemudian kami sampai di sebuah lapangan kecil yang berfungsi sebagai tempat parkir. Ada cukup banyak kendaraan yang terparkir di sana, tapi di sekitar tak banyak kulihat wisatawan. Malah pedagang-pedagang kecil yang cukup banyak.
Pada kemana sih orang-orang? pikirku waktu itu. Seolah menjawab pertanyaanku, Holid –pemandu kami– menanyakan apakah kami sudah siap untuk mendaki?
Hah, mendaki? Setinggi apa?
Oh, rupanya dia sedang bercanda! ☺ Dia mengarahkan langkah kami ke sebuah jalan setapak di sisi kiri tempat parkir itu, jalan tanah berbatu yang agak menanjak. Itulah jalan menuju ke puncak Bukit Merese yang menjadi tujuan kami.
Hiking sore itu pun dimulai dengan rasa penasaran di hatiku. Sulit / tidak sih jalan ‘pendakian’ ini? Seperti apa pemandangan di atas sana?Ternyata tak seseram yang kubayangkan. Jalannya rata-rata menanjak cukup landai kecuali setelah mencapai suatu tempat yang cukup luas dan di lereng bukit itu tempat kami berhenti sejenak, mengambil foto-foto pemandangan sambil…mengumpulkan nafas..hehe..

Perjalanan belum selesai, masih ada punggung bukit yang harus ditapaki, teman! Ok lah..dengan bismillah kami pun melangkah perlahan menyusuri hamparan miring berumput dan berbatu itu. Ayo, lutut..jangan demo dulu yaa..perjalanan kita hampir sampai. Begitu kata hatiku mensugesti diri. Alhamdulillah, duo emak nekat akhirnya sampai juga di atas Bukit Merese, dan menikmati suguhan pemandangan menakjubkan lainnya 😍

Kami segera mencari tempat datar yang bisa untuk duduk lalu meneguk air bekal kami. Sekitar 15 menit berjalan mendaki bukit ini cukup membuat nafas ngos-ngosan dan keringat bercucuran. Sambil duduk di tanah berumput, kami menikmati pemandangan indah yang tersaji.

Nun jauh di bawah terlihat sepotong pantai berpasir putih dengan tepian pantai yang berkelok. Ah, itu dia Pantai Tanjung Aan yang kami kunjungi sebelumnya.. Sementara di kejauhan terlihat hamparan air berwarna biru kehijauan, dengan deretan bukit yang memagarinya. Kembali pujian terhadap Sang Pencipta memenuhi ruang hati kami. Ya Allah, sungguh kami sangat Kau berkati dengan keindahan alam di sekitar kami. Alhamdulillah..


Mentari kian turun di ufuk Barat, suasana terasa kian syahdu. Aku yang selama ini selalu menyukai sunset terasa makin jatuh cinta di sana. Tak henti lensa-lensa berkedip mengabadikan keindahannya, meskipun kuyakin tak ada yang dapat menyamai keindahan asli pemandangan alam saat sunset di Bukit Merese ini…


Mentari belum turun sepenuhnya, namun suasana di Bukit Merese sore itu terasa semakin redup. Oh ternyata langit mendung, dan rintik hujan mulai turun. Ah, sayang sekali kami harus meninggalkan Merese segera kalau tak ingin kehujanan.
Benar saja, sepanjang perjalanan turun bukit rintik hujan kian menderas. Bergegas turun sambil menjaga langkah agar tidak terpeleset di tanah miring berbatu merupakan tantangan tersendiri..hehe..
Alhamdulillah akhirnya kami sampai kembali di tempat parkir tanpa terlalu kuyub. Menggumamkan selanat tinggal dan harapan bersua kembali, kami pun segera meluncur meninggalkan kawasan Mandalika itu, menuju tempat menginap di Mataram.
Sahabat Lalang Ungu, demikianlah cerita perjalanan kami ke Pantai Tanjung Aan dan Bukit Merese, menutup kunjungan wisata hari pertama Trip Lombok kami di medio Maret lalu..
Baca juga cerita kunjungan kami ke Desa Wisata Sukarara ya..
Teman-teman ada cerita juga tentang pantai dan bukit ini? Yuk bagi kisahnya di kolom komen ya.. Terima kasih…
Aku ke tanjung aan ini tahun 2014, kangen banget dulu kesana berdua adek
Cakep ya mba..ngangeni..
Apikeeeee, Mbak.
Baca cerita Mbak, lihat fotonya, sesekali merem membayangkan itu ada di depan mataku, duh, hanya bisa membayangkan. Hehehe.
Lagi-lagi baru bisa masukin ke list dulu. Siapa tahu kapan-kapan bisa ke sana.
Insya Allah sampai sana juga, Ika..
Kangen banget ke Lombok.. cuma belum pernah ke bukit Merese.. banyak bulek suami yang otomatis jadi Bulek saya disana, jadi kalo ke Lombok sama silaturahim.. semoga cepet selesai corona, meski new normal, teteo kehidupan belum bisa normal kayak sedia kala
Wah asyik banyak kelg di sana bisa jadi ‘jujugan’ hehe..
Wah bukit merese. Jadi kangen lombok. Aku naik nih ke bukit Merese nungguin sunset juga di sana
Asyik sekali ya..
Bukit Marese seindah itu yaaa. Waktu itu saya mau ke sana nggak ketemu jalannya Mbak Mechta. Pakai Google Map kesasar terus, padahal Pantai Tanjung Aannya ketemu. Ngikuti pasangan naik motor, eh dianya ngilang. Masak harus ngulang ke Lombok lagi ambil paket tour, haha.. Nggak ah, naik motor lebih asik, jalannya sepi dan muluuss.
Dan ahya, rata2 tempat wisata di Lombok gratis. Hanya perlu bayar parkir aja 5000
Kalau sudah fix destinasinya memang asyik jelajah sendiri ya Yun, bisa.puaaas..hehe.. Itu bukit Merese kalau dari Tanjung Aan Deket banget, ada belokan jalan kecil gitu.. Tapi memang tak kulihat papan nama gede..hehe..
Membaca ini serasa ikut menikmati perjalanannya mbak. Menikmati pantai yang indah dan naik bukit bergandengan dengan teman.
Semoga pandemi ini segera berakhir dan kita bisa jalan-jalan lagi.
Aamiin
Semoga segera ya mba..
Masya Allah, suka banget baca tulisan mba Mechta dan lihat foto-fotonya serasa ikut menikmati kesyahduan alam Pantai Tanjung aan dan Bukit Merese hari itu dengan segala pesonanya yang tertinggal
Terima kasih mbaa.. Bawaan kangen kali ya, jadi nulisnya banyaaak..haha..
Aku cuma baca tp bayangkan gradasi warna air lautnya tosca dan kebiruan sudah dipastikan ini keren ya mba
Btw penjaja kainnya mantul itu bawa kainnya di atas kepala ga jatoh emang berapaan mba hahaha kepo deh
Harganya beragam sih..apalagi kalau pinter nawar haha..
Udah lama gak mantai (ya iyalah kan ada pandemi), hehe.. seneng banget liat pemandangannya mba. bikin adem.. dan bukit meresenya indah juga yaa perlu perjuangan ke atas bukit. Seger badan, bisa sekalian olahraga juga. ^^
Iya mba..olahraga sore ituu..haha..
ih aku sebel liat foto dan baca ceritanya, mbak. bikin kepengen 🙁 udah dua tahun aku nggak mantai pula niih hiks dan makin ketunda gegara pandemi
Hihi..maafkaaan.. Anggap saja penyemangat dalam melewati Pandemi ini, Bunda.. hehe..
Kayaknya emang beneran asyik ya mbak bermuhasabah di bukit merese. Kece banget pemandangannya.
Andai waktunya panjang, merenung-renung ditemani semilir angin di sana rasanya asyik sepertinya.
Masyaallah tabarakallah pemandangannya, begitu indah dan alami seperti lukisan saja suka banget deh. Senangnya sudah menginjakkan kaki di sana ya mba.
Alhamdulillah mba..
Lombok nih, emang cantik banget pantainya, ya. Beruntung sekali masih sempat ke sana.
Ya mba..Alhamdulillah…
ya ampun pantainya indah sekali, pemandangannya juga ga kalah indah 🙂 suamiku yang pengen banget ke Lombok tuh
Hayuuk..rencanakan..
Oalah indonesia tuh indah2, terima kasih kak sudah memberikan cerita dan gambar ttg bagian dr indonesia
Terima kasih sdh mampir di sini mba..
Masya Alloh bagus bagus banget pantainya. Jadi bayangin betapa enaknya sambil istirahat di gazebo minum es kelapa dengan memandang hamparan pasir dan air laut yang biru.. ah jadi kangen jalan2 deh nih.. semoga ada rejeki nya nanti bisa dolan Lombok
Aamiin..insya Allah ya mba..
Bagus banget mba view dari atas Bukit Merese. Jadi ini satu rangkaian ya bukit dengan Pantai Tanjung Aan tadi. Duuhh…jiwaku bergejolak mba melihat pantai nan cantik seperti ini.
Iya Dik, bukit ini salah satu yg memagari pantai Tanjung Aan..
Duh viewnya asyik banget, jadi kangen jalan-jalan deh, menanti virus berlalu, biar bisa ke mana-mana dengan bebas, nggak perlu was-was dan pakai acara bayar rapid test dulu 😀
Kangen pantai dong jadinya 🙂
Idem mba.. Sedang gemes menunggu Corona yg tak segera berlalu nih, padahal sdh sangat kangen piknik.. hiks..
Aduuuh asli itu mupeng banget deh lihat keindahan pantai Tanjung An. Ngeliat gazebonya serasa lagi lihat pantai-pantai yang ada di film-film deh. Tapi sayang ya kalau terganggu karena dikerubuni tukan kain… xixixi… padahal mungkin memang tertarik membeli, tapi kalau dirubungi ya jadi males.
Pantainya memang indaaah..
Masolo jadi kangen jalan-jalam deh melihat ini. Bakalan dimasukin ke wishlist destinasi wisata deh, supaya bisa menikmati dan mensyukuri kekayaan alam Indonesia.
Betuuul..sangat berharap pandemi segera berlalu hingga kita bisa piknik2 lagi ya..