Jika Darurat Sampah ditetapkan di daerah kalian, apa yang kalian lakukan?
Hai Sahabat Lalang Ungu, jumpa lagi kita di ruang Maya ini ya. Semoga sahabat semua senantiasa sehat dan bahagia.
Sahabat, bulan lalu -tepatnya beberapa pekan sebelum Lebaran- Pemerintah Kota kami menetapkan kondisi Darurat Sampah di kota kami. Hal ini terjadi karena ditutupnya TPA oleh Pemerintah Pusat (KLHK) karena kondisinya yang sudah tidak layak lagi dan juga pengelolaan TPA secara open dumping, tidak sesuai dengan peraturan/perundang-undangan yang berlaku.
Penutupan yang terkesan mendadak itu tentu saja menimbulkan gejolak di masyarakat dan lingkungan yang benar-benar tidak kondusif. Tumpukan-tumpukan sampah terlihat di banyak tempat sangat menggangu pemandangan dan juga menebarkan bau yang aduhai.. Sungguh sangat memprihatinkan!

Pemerintah kota telah berusaha keras mengatasi dengan memaksimalkan pengolahan sampah di TPS-TPS yang ada sambil gencar menggerakkan upaya pengelolaan sampah hingga di tingkat kelurahan, namun semua tak akan maksimal hasilnya bila masyarakat tidak ikut berperan serta secara aktif, bukan?
Menurutku, ada 2 hal penting yang dapat kita -selaku masyarakat umum- lakukan dalam menyikapi kondisi ini: (1) berperan aktif dalam mengurangi timbulan sampah; (2) melakukan pilah sampah dan upaya pengolahan sampah sederhana. Nah, dalam tulisan kali ini aku cerita pengalaman kami terkait yang pertama dulu ya, yaitu mengurangi timbulan sampah.
Langkah-langkah Kecil Kami Mengurangi Timbulnya Sampah
Setiap individu maupun keluarga, merupakan sumber sampah setiap harinya. Itu adalah fakta. Jumlah sampah yang dihasilkan dari masing-masing individu/keluarga memang berbeda-beda, namun hampir dapat dipastikan selalu ada: sisa makanan, sampah dapur, plastik, kertas, dll.
Ohya timbulan sampah itu sendiri adalah jumlah / volume sampah yang dihasilkan dari suatu sumber atau wilayah tertentu dalam satu satuan waktu.
Beberapa waktu lalu aku mengikuti secara daring seminar pengolahan sampah yang diselenggarakan dalam rangka APEKSI Muskomwil III di Kota Pekalongan, dan salah satu info yang kudapat adalah terkait komposisi dan sumber sampah Nasional sebagaimana terlihat pada ilustrasi berikut ini.

Dari ilustrasi di atas dapat kita lihat bahwa prosentase terbesar komposisi sampah kita adalah sampah sisa makanan (39,87%) dan sumber sampah terbesar adalah rumah tangga yang menyumbang sebesar 50,78% dari total sampah Nasional. Cukup WOW bukan??
Jadi bila masing-masing individu ataupun keluarga dapat menekan seminimal mungkin pengeluaran sampahnya, maka akan sangat berarti bagi upaya pengurangan timbulan sampah di wilayahnya dan pada gilirannya nanti akan berdampak lebih luas lagi.
Proses pengurangan menghasilkan sampah ini dengan berfokus pada prinsip 3R : Reduce (mengurangi ) – Reuse (menggunakan kembali) – Recycle (daur ulang). Sahabat tentunya sudah tak asing lagi dengan prinsip-prinsip ini bukan?
1. Mengurangi Timbulnya Sampah
Beberapa hal yang telah kami lakukan untuk mengurangi timbulnya sampah dari kami/keluarga kami ini antara lain:
- Membawa tas/kantong belanja sendiri. Ini hal yang relatif mudah sebenarnya. Menyiapkan minimal 1 tas/kantong belanja di tas harian kita atau dalam bagian penyimpanan di kendaraan kita, bukan hal yang sulit/perlu usaha lebih. Hanya saja, seringkali kita kalah oleh rasa malas atau bahkan malu untuk melakukannya.

Jangan lupa bawa tas kain serba guna - Membawa botol minum sendiri. Nah, ini juga mudah dilakukan. Aku pribadi memilih untuk membawa tumbler yang berukuran kecil sehingga bisa masuk ke tas yang sehari-hari kubawa. Kantor-kantor di lingkungan Pemkot kami juga sudah meminimalisir pengeluaran sampah antara lain dengan tidak menyajikan minuman dalam kemasan, sebagai gantinya meminta peserta rapat-rapat untuk membawa tumbler masing-masing. Penyediaan snack juga tidak menggunakan kotak namun menggunakan piring saji.

Penyajian Snack rapat - Mengurangi pembelian yang menggunakan kemasan sekali pakai. Hal ini bisa diatasi dengan membawa tempat sendiri, meski di beberapa kesempatan kadangkala menyebabkan ‘pandangan aneh’ dari sekitar/pembeli lain..hehe ..
- Menghindari terjadinya sisa makanan. Mengambil makanan secukupnya dan menghabiskan makanan yang telah diambil. Pernah di suatu acara dengan penyajian makanan secara prasmanan, merasa miris melihat tumpukan piring kotor masih dengan sisa-sisa makanan di atasnya.
2. Memanfaatkan Barang Bekas
Dimulai dari kegiatan memilah sampah, maka kita bisa mensortir barang-barang bekas yang masih bisa digunakan kembali. Beberapa contoh penggunaan barang bekas untuk kegiatan sehari-hari kami sudah pernah kutuliskan sebelumnya. Baca juga : Yuk Membuat Sendiri Pot Hidroponik dari Barang Bekas.
Ember / kaleng bekas / ban bekas dapat digunakan sebagai tempat sampah atau pot tanaman. Plastik-plastik kresek yang sudah terlanjur ada dapat digunakan berulang untuk berbagai keperluan. Jika punya korek gas yang habis jangan langsung dibuang, kumpulkan dan pergi ke pasar tradisional yang masih ada tukang isi ulangnya.

3. Melakukan Daur Ulang Sederhana
Kegiatan memilah sampah, minimal menghasilkan kelompok sampah organik dan anorganik. Kelompok sampah organik biasanya berupa sisa makanan, sampah dapur ataupun sampah kebun. Inilah yang bisa kita daur ulang/olah secara sederhana.
Pembuatan kompos adalah cara paling sering dilakukan dalam mengolah sampah organik menjadi pupuk yang dapat berguna bagi tanaman dan dapat dilakukan skala rumah tangga. Kami sendiri biasanya memisahkan dulu kulit telur, kulit pisang dan kulit bawang dari sampah organik lainnya, sebelum sisa sampah organik lainnya masuk ke wadah komposter.
Nah, untuk sampah anorganik yang tidak bisa kami daur ulang sendiri, kami kumpulkan untuk diangkut oleh petugas sampah menuju Tempat Pengolahan Sampah terdekat untuk diproses olah lebih lanjut dengan alat yang ada di TPS tersebut atau dikirim ke TPS Terpadu TK kota.
Sahabat Lalang Ungu, itu cerita pengalaman kami dalam menyikapi kondisi darurat sampah di kota kami ini. Memang hanya langkah-langkah kecil saja, namun bila dilakukan oleh banyak keluarga-keluarga lain, bukan tak mungkin ini akan menjadi langkah besar dalam perang terhadap sampah ini. Semoga saja…
aku juga mulai rajin memakai kantong belanja sendiri 😀
Wah, keren banget, kak! Saya juga sudah mulai pilah sampah di rumah juga. Semoga langkah kecil kita bisa berdampak baik buat lingkungan yaa
Kereen kaak langlah untuk mengurangi timbulnya sampah. Permasalahan sampah ini sepertinya memang permasalahan yang hampir pasti akan ada di setiqp daerah.
Ada beberapa langkah yg daya juga lakukan seperti membawa tempat minum dan tas belanja sendiri fafi rumah jika bepergian. Itu audah cukup membantu jika konsisten dilakulan kalau menurut saya.
Beberapa bulan terakhir ini kami memisahkan sampah dapur terutama kulit telur, kulit bawang dan sisa sayur buah, alhamdulillah bisa jadi pupuk untuk tanaman dan pembasmi hama. Memang benar, langkah memerangi darurat sampah sebaiknya di mulai dari langkah kecil dari keluarga
Langkah kecil dalam keluarga untuk mengurangi sampah kalau dilakukan oleh hampir semua keluarga yang ada di satu daerah, maka yakin banget aku kalau daerah itu bakalan bersih.
Rasanya, bukan hal yang mustahil kalau daerah itu bakalan menyusul kebersihan negara Jepang, misalkan.
Permasalahan sampah saat ini memang sangat memprihatinkan, sayangnya hal ini jg kian diperparah dgn kesadaran peduli lingkungan di sebagian masyarakat jg terbilang minim.
Mesti mulai dari hal sederhana kita bisa berkontribusi nyata dlm aksi perduli lingkungan dgn memanfaatkan barang yg msh layak pakai misalnya
Kapan hari aku lihat di tayangan instagram mbak, ada alat untuk mengubah sampah makanan menjadi pupuk alami dalam waktu sekitar 5 hingga 6 jam. Sayangnya lumayan mahal harganya. Jane penak ya tinggal cemplungin sisa2 makanan ntar bisa jadi penyubur tanaman.
masalah sampah ini tampaknya sudah menjadi masalah nasional, di daerah pun masalahnya sama. Sampah numpuk. Solusi bertahapnya memang harus mulai dari kita membiasakan dulu belajar mengolah sampah sendiri, pemerintah setidaknya harus gencar memberikan penyuluhan untuk mengatasi sampah mulai dari rumah tangga.
Awalnya aku berpikir yang punya masalah sampah terparah itu Bandung.
Bener-bener gak nyaman kalau uda masuk musim penghujan, apalagi..
Subhanallahu.. aroma sampah menguar bahkan di jalanan kota Bandung yang gak besar-besar amat ituu, kaan..
Dan bener, ka Tanti..
Bahwa sampah ini masalah kita bersama. Jadi, bisa dimulai dari diri sendiri bergerak mengelola sampah dengan 3R dan semoga menginspirasi banyak pihak.
Soal sampah ini memang bikin mumet ya Mbak. Di tempatku TPSnya lagi tutup dan udah 2 minggu ini tukang sampah yang biasanya ngambil sampah ga dateng. Padahal sampah-sampah udah numpuk. Padahal ini udah misahin yang sampah organik dan ga organik. Yang organik mah udah bida diolah sampah lainnya yang bikin puyeng mau digimanain
Semua hal di atas udah saya lakukan. Termasuk untuk sampah sayur dan buah, gak pernah dibuang. Tapi, dijadikan pupuk untuk tanaman di halaman sendiri
Kalau liat sampah yang menggunung, suka miris dan sedih ya. Apalagi kurang pengelolaanya. Padahal sampah bisa menjadi nilai berharga. Pernah liat salah satu reels dari Garut. Ada komunitas pengelolaan sampah hingga menjadi pundi-pundi. Yang tadinya sampah disulap menjadi baju. Keren sekali hasilnya.
Pemanfaatan sampah untuk diolah dengan baik bisa berdampak buat lingkungan, tentunya kesadaran diri juga ya, untuk meminimalisir sampah sisa makanan
Walau kecil, asal konsisten dan semakin banyak yang melakukan, insyaallah akan semakin terasa nanti hasil dari mengurangi sampah ini, ya. Amin.
La iya. Meski hanya langkah kecil untuk mengatasi sampah di rumah tangga mungkin terlihat sepele sekali. Tapi, bayangkan kalau hampir semua keluarga punya kesadaran untuk mengatasi masalah sampahnya sendiri. Bukan tidak mungkin perkara sampah bisa diatasi.
Setelah pindah rumah saya juga mengolah sampah sendiri, emang ribet ternyata ya. Alhamdulillah ada ayam yang menghabiskan sisa makanan, tinggal PR banget nih ngolah sampah popok sekali pakai.
di Jogja urusan sampah ini masih jadi issu yang panas banget. ga heran banyak orang menyindir masalah sampah Jogja ini di temlen. aku sih setuju dengan pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga. tetapi masalahnya ga semua rumah tangga punya lahan untuk mengelola sampah basah.
Terima kasih sudah berbagi kabar dan cerita. Memang kondisi darurat sampah seperti itu sangat memprihatinkan ya. Semoga segera ada solusi terbaik dari pemerintah dan partisipasi masyarakat juga makin meningkat untuk mengelola sampah dengan lebih bijak. Tetap semangat, Sahabat, dan semoga lingkungan kita bisa segera kembali bersih dan nyaman! ✨
Suka sekali dengan inisiatif sederhana seperti ini! Kadang kita lupa bahwa perubahan besar berawal dari langkah kecil. Terima kasih sudah menginspirasi untuk lebih peduli terhadap lingkungan
Mulai dari membawa tas belanja sendiri, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai hingga memilah sampah di rumah, salah satu bentuk tindakan yang amat kecil tapi sulit dilakukan orang-orang zaman sekarang. Jika satu orang saja bisa konsisten melakukan ini, bisa berdampak besar buat lingkungan dan bumi. Salu aku mbak!! 🙂