Quiche Brokoli a la Mechta

Menurut Wikipedia, Quiche adalah makanan yang berasal dari Perancis, terbuat dari tepung terigu dengan adonan berisi bayam, salmon, ayam, daging asap yang dibalut keju. Quiche yang terkenal adalah dari Lorraine berupa adonan susu, telur, daging asap dan keju Gruyere.

Nah, salah satu resep yang kami dapatkan saat kumpul keluarga lebaran lalu adalah Quiche Brokoli, yang menurut Jeng Wati -yang memberikan resep ini- merupakan alternatif menu sarapan dengan bahan-bahan yang mudah didapat dan membuatnya pun mudah.

Ini dia resep Quiche Brokoli dari Jeng Wati : Continue reading “Quiche Brokoli a la Mechta”

Balada TAHU : Cerita (ringan) saat Lebaran kemarin.

“..Masih syawalan saja, Bu!…”

Itu sekelumit tanya yg muncul di komen post sebelum ini, yang lumayan mak jlebb! bagiku..hehe…

Betul juga… Meriahnya acara syawalan sudah lewat relatif lama, namun masih saja tulisan tentang itu yang nangkring di halaman muka berandaku alias belum ada tulisan baru.. Pengen nulis macem-macem sih udah dari kemarin-kemarin..tapi kok ya adaa… saja kendalanya #ngeles

OK deh… Biar blog ini nggak sawangen alias dipenuhi sarang laba-laba gara-gara tak terjamah oleh si empunya, maka di awal weekend ini langsung tancap deh bikin tulisan.

Sebagai pemanasan, nulis yang ringan-ringan saja dulu.. *padahal biasanya juga tulisannya ringaaan terus teu aya nu berbobot! haha…*

Ini cerita-cerita ringan di keluarga kami pada Lebaran kemarin itu lho…

Lebaran 2014 ini -seperti tahun sebelumnya- kami awali di ‘markas besar’ yaitu rumah keluarga yang di Semarang, padahal rencana awal kami akan berlebaran di Pekalongan sebelum ke makam Bapak & Simbah di Semarang lalu silaturahmi ke Tegal.

Rencana tinggal rencana. Pada saat-saat akhir Romadhon, tiba-tiba ibu ngersake  sholat Ied di Semarang saja, dilanjut nyekar-nyekar  di sana lalu pulang ke Pekalongan & istirahat sehari sebelum pergi silaturahmi ke rumah Oom di Tegal dilanjut ke rumah kakak di Jogja.

Waah… perubahan rencana di saat akhir itu membuatku agak pontang-panting mencari tiket ke Semarang dan ke Jogja. Alhamdulillah… akhirnya masih kebagian 1 tiket ke Semarang & 2 tiket ke Jogja… Jadilah memenuhi keinginan ibu berlebaran di Semarang (lagi).

Lhoo.. judulnya kok Tahu? Apa hubungannya dengan tiket?

Haha… gak ada hubungannya sama sekali! Cerita nyari tiket di H-3 itu cerita pertama…nah, tentang TAHU itu cerita kedua…

Ada hubungan apa antara TAHU dengan Lebaran? Ceritanya begini teman… Continue reading “Balada TAHU : Cerita (ringan) saat Lebaran kemarin.”

Tak hanya ada batik di Kota Pekalongan

Kota Batik di Pekalongan, bukan Jogja bukan Solo.…” itu adalah penggalan lirik lagu Slank ( Sosial Betawi Yo’i) yang menggambarkan bahwa Kota Pekalongan identik dengan Kota Batik.  Ya, memang Batik bisa dikatakan denyut nadi perekonomian Kota Pekalongan. Belanja Batik? Ya… di Pekalongan saja… Pasar Setono adalah salah satu pusatnya 🙂

Jlamprang - salah satu motif batik Pekalongan
Jlamprang – salah satu motif batik Pekalongan

Belajar tentang Batik? Ada Museum Batik di Kota Pekalongan, tempat menyimpan koleksi Batik nan indah dan juga ada sesi workshop bagi pengunjung yang ingin belajar membatik di sini. Selain itu, ada pula Kampung Batik yaitu di Kauman dan Kergon / Pesindon.  Di sana, wisatawan tak hanya dapat memborong aneka produk batik namun juga dapat belajar membatik pada para pengrajin di kedua kampung batik itu.  Masih berkaitan dengan batik, adapula Kampung Canting di Landungsari, di sini para seniman membuat canting-canting ataupun cap-cap sebagai perlengkapan membatik, tidak hanya dalam ukuran sebenarnya namun juga souvenir-souvenir canting / cap nan cantik untuk dijadikan oleh-oleh dari Kota Pekalongan.  Oya, di Kota Pekalongan juga diagendakan Pekan Batik Nusantara yang diselenggarakan setiap tahun  pada tgl 1-5 Oktober sejak tahun 2007.

Kerajinan Cap Batik
Kerajinan Cap Batik

Continue reading “Tak hanya ada batik di Kota Pekalongan”

Tamba pingin

Ketika memasuki kawasan Imogiri dalam perjalanan menuju Kebun Buah Mangunan di minggu lalu, langsung teringat olehku minuman khas Imogiri yang ingin kucicipi terutama setelah membaca tulisan mbak Evi yang ini.

Ya, Wedang Uwuh, itulah nama minuman khas Imogiri itu.  Wedang adalah kata dalam bahasa jawa yang berarti minuman, sedangkan Uwuh berarti sampah.  Bukan berarti minuman yang berasal dari sampah lho…. Yang lebih tepatnya adalah minuman yang berbahan rempah & dedaunan yang tampaknya seperti sampah.

Beberapa kali mendengarnya namun belum pernah berkesempatan mencicipinya, membuatku mengusulkan mencari minuman itu saat memasuki Imogiri kemarin itu, namun sayangnya sebagian besar kakak-kakakku menolak…alasannya itu minuman yang nikmat di pagi ataupun malam hari, sedangkan saat kami sampai di sana adalah siang hari!  Yo wis…. kalah deh… (padahal mungkin juga minuman itu disajikan dingin kan, mbak Evi? ) akhirnya pada kesempatan itu akupun gagal mencicipi Wedang Uwuh di tempat asalnya… 🙁

Tapi… ternyata itu bukanlah akhir cerita.  Tuhan Maha baik mengabulkan keinginanku.  Keesokan harinya, ketika mencari oleh-oleh di salah satu toko pusat oleh-oleh di Jl. Aip II KS Tubun Jogja, aku menemukan minuman yang kucari! Ya, memang bukan yang ‘asli’  namun Wedang Uwuh instan yang disajikan dalam kemasan-kemasan kecil berisi 5 sachet itu cukuplah jadi tamba pingin alias mengobati keinginanku untuk mencicipi minuman tradisionil yang konon menyehatkan itu…

Tombo pengen itu bernama Wedang Uwuh Instan
Tamba pingin itu bernama Wedang Uwuh Instan

Oya, dalam kemasan itu disebutkan juga tentang ‘sejarah’ adanya minuman itu, yaitu dari kebiasaan masyarakat tempo dulu untuk memanfaatkan daun-daun cengkeh yang berguguran untuk menjadi minuman dengan menambahkan bahan-bahan berkhasiat lain seperti jahe, kayu manis, pala, sereh, kapulogo dan tak ketinggalan kayu secang yang memberikan warna merah ceria pada wedang ini.

Keterkenalan Wedang Uwuh sebagai minuman yang berkhasiat ini rupanya menginspirasi para kreatif untuk menyajikannya secara instan, dan bahkan katanya wedang uwuh celup juga sudah ada lho.. hehe…

Apakah kini aku sudah tak penasaran lagi dengan Wedang Uwuh itu ? Hm…. jangan salah! Ternyata, setelah merasakan yang instan aku tetap ingin merasakan yang asli, karena menurutku yang segar tentunya lebih berkhasiat dibanding yang instan bukan?

Bagaimana denganmu, teman… penasaran juga kah dengan si Wedang Uwuh itu ?

Abon Duri Ikan

Asyik nulis untuk GA ini-itu… jadi lupa mo nerusin oleh2 cerita hasil mengamati pelatihan ketrampilan kemarin itu…  Kalau sebelumnya sudah nulis tentang kulit pisang yang dibuat kerupuk, kali ini akan menulis tentang duri ikan yang dibuat abon… Oya, sebelumnya mohon maaf bila ada yang kurang jelas tentang teknik pengolahannya ya… -karena kemarin itu aku hanya sebagai pengamat dan bukan pengolah langsung- jadi sumber tulisan ini adalah handout pelatihan + penjelasan lesan instrukturnya + hasil nggoogle.. hehe.. *ngeles* mudah2an sih tetep ada manfaatnya..

Oya, waktu mendengar akan diadakannya pelatihan tentang pembuatan abon duri ikan ini, kami sempat gojegan sesama teman : wiih… begitu kreatifnya manusia ya… sampai duri ikan saja masih diupayakan pengolahannya, lha terus kucing-kucingnya dapat apa??? 😉

Tentu saja ide dasar pengolahan limbah duri ikan ini bukanlah agar manusia & kucing saling berebut makanan, hehe… melainkan untuk memaksimalkan pengolahan bagian2 dari ikan, sehingga dapat meningkatkan pendapatan keluarga dan pada akhirnya diharapkan meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Ikan adalah bahan pangan yang banyak dikenal & dikonsumsi oleh masyarakat kita. Karena dapat diolah menjadi beraneka ragam masakan,  maka konsumsi ikan di masyarakat cukuplah besar namun sekaligus juga menghasilkan limbah juga antara lain berupa duri  & kepala ikan yang tidak dikonsumsi oleh masyarakat.  Bila tidak dijadikan makanan hewan (misalnya kucing), maka biasanya hanya di buang begitu saja.   Padahal berdasarkan penelitian dari Lab Biokimia FP UNDIP, duri ikan mengandung kalsium, yodium, protein dan lemak yang bisa dimanfaatkan oleh tubuh kita.  Kandungan kalsium yang tinggi ini baik untuk mengurangi osteoporosis… Continue reading “Abon Duri Ikan”

GERNASDARZI

Apa itu Gernasdarzi?
Ketika menata meja kerja untuk siap2 pulang sore kemarin, sempat kutemukan sebuah booklet kecil terselip diantara berkas2 yang sebelumnya bertebaran memenuhi mejaku.
Disain sampulnya cukup sederhana namun eyecatching, mungkin itulah yang langsung menarik perhatianku.  Booklet apakah itu?  Mengingat  waktu pulang sudah lewat beberapa menit dan kantor mulai sepi, maka kumasukkan saja buku mini itu ke dalam tas untuk kubaca di rumah.
GERAKAN NASIONAL SADAR GIZI, itulah judul dari booklet itu.  Buku mungil 11 halaman setengah folio itu rupanya adalah sisipan dari sebuah majalah dan setelah membaca tuntas hingga halaman terakhirnya, aku merasa buku mungil itu ternyata berisi hal-hal yang sama sekali tidak kecil artinya.  Nah, ini dia ringkasannya : selanjutnya

Kerupuk & Sop

Apa hubungannya kerupuk & sop ? Teman makanan yang pas ? Ya, mungkin bagi beberapa orang begitu…  Namun sebenarnya kali ini aku hanya akan menulis tentang  suatu jenis kerupuk & sop yang baru kucicipi beberapa waktu lalu.

Terus terang, aku teringat untuk menulis tentang kerupuk ini ketika membaca tulisan dari teman kita,  yang ini.

Ya, aku setuju bahwa ada buanyaak jenis kerupuk yang ada di sekitar kita dan sebagai salah satu penikmat kerupuk, rata-rata aku suka macam-macam kerupuk itu, asal…. tidak pedas! *harga mati untuk kriteria yang satu itu, hehe..*

Dan diantara kerupuk kesenanganku, adalah kerupuk gendar / karag , serta kerupuk kedele.  Kebetulan keduanya adalah kerupuk yang banyak ditemui di kotanya Bu Prih: Salatiga.  Jangan heran, meskipun sudah bertahun-tahun meninggalkan kota kelahiranku itu, masih banyak rasa kuliner Salatiga yg nyantol di lidahku  🙂

Sayangnya, akhir-akhir ini agak sangsi makan kerupuk gendar, karena pembuatannya memerlukan bleng sebagai salah satu bahannya, sementara aku baru ngeh kalau yang dinamakan bleng itu sendiri adalah borax yg berbahaya itu… Waduuh… 🙁 selengkapnya