LALANG UNGU

ruang ekspresi sepotong hati

August 6, 2018
by mechtadeera
31 Comments

Pengalaman Pertamaku Menikmati Dieng Culture Festival

Cinderamata bagi tamu DCF 9 Th 2018

Lalang Ungu.  Hai…apa kabar, teman? Setelah vakum nulis berhari-hari, kali ini aku akan bercerita tentang pengalaman pertamaku menikmati Dieng Culture Festival. Oya, sudah tahu kan ya, apa itu Dieng Culture Festival? Untuk yang belum tahu, ayo mari merapat ke sini, kuberitahu… ☺

Apa itu Dieng Culture Festival?

Dieng Culture Festival (DCF) atau Festival Budaya Dieng adalah sebuah upaya pengembangan pariwisata di kawasan dataran tinggi Dieng yang diselenggarakan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dieng Pandawa Desa Dieng Kulon bekerjasama dengan Pemerintah Kab Banjarnegara dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Tahun 2018 ini adalah penyelenggaraan ke-9 DCF yang bertaglinedari masyarakat untuk masyarakat” ini.

Diseleggarakan oleh kelompok masyarakat? Nggak salah nulis nih?

Iya betuuul…sama sekali nggak salah nulis ataupun baca kok. Memang acara super keren ini diprakarsai dan diselenggarakan oleh kelonpok masyarakat, bukan EO yang komersial, namun hasil akhirnya nggak kalah keren dengan EO-EO profesional itu lho!! Itu pulalah yang makin membuatku semangat untuk nonton acara ini.

DCF ke-9 tahun ini berlangsung dari tanggal 3-5 Agustus 2018. Sejak beberapa minggu sebelumnya aku sudah mencari-cari informasi tentang acara ini. Mencari teman yang bisa berangkat bersama juga, dan ketika gagal berangkat dengan teman-teman yang sudah kukenal, di hari-hari terakir akupun mantab mendaftar Open Trip DCF dari Nonametravel -sebuah agen travel yang kebetulan direkomendasikan seorang teman- dan mengajukan cuti. Alhamdulillah masih dapat seat di Noname dan pengajuan cuti diterima! Maka, tanggal 3 Agustus 2018 jam 5.30 akupun jadi meluncur ke Dieng bersama 13 peserta trip DCF lain dari Jakarta, Tangerang dan Bogor… Keseruan pun dimulai..eng..ing..eng… 😃 Continue Reading →

Duit kereweng minggon jatinan

July 22, 2018
by mechtadeera
22 Comments

Kangen Jajanan Tradisional? Yuuk, ke Minggon Jatinan Batang

Lalang Ungu. Hai teman, adakah yang sedang kangen jajanan tradisional? Yuuk, ke Minggon Jatinan Batang saja… Eh, sudah tahu kan apa itu Minggon Jatinan?

Dari kedua kata yang membentuk nama ini, kita bisa mengetahui apa sebenarnya maksudnya. Minggon berasal dari kata Minggu yang merupakan waktu pelaksanaannya dan Jatinan menandakan lokasinya, yaitu di hutan Jati. Ya, Minggon Jatinan adalah semacam pasar jajan yang diselenggarakan setiap hari Minggu, berlokasi di Hutan Kota Rajawali Batang.

Lokasi Minggon Jatinan batang

Hutan kota Rajawali Batang – lokasi Minggon Jatinan (Foto : koleksi pribadi)

Minggon Jatinan ini pertama kali diresmikan kegiatannya pada tanggal 22 April 2018 yang lalu, oleh Bapak Bupati Batang, Wihaji. Sebagai salah satu program untuk mendukung Visit to Batang 2022, diselenggarakannya kegiatan rutin mingguan ini adalah sebagai upaya melestarikan kuliner tradisional, sekaligus sebagai upaya pembinaan UMKM Kab. Batang. Continue Reading →

July 15, 2018
by mechtadeera
10 Comments

Piknik Keluarga ke Jogja-Magelang? Hayuuuk…

Lalang Ungu. Piknik keluarga ke Jogja-Magelang? Hayuuuk… Itulah yang langsung kukatakan ketika mendengar keinginan ibu untuk menyambangi keluarga kami yang berada di kedua kota tersebut, sekaligus piknik keluarga.

Foto-foto di Borobudur punya @triasarditya dan @marasolehah

Oh ya, beberapa hari lalu aku dan ibu sempat melihat-lihat foto dari beberapa teman yang baru saja pulang dari acara di Candi Borobudur.  Wah, pemandangan di sekitar candi Budha terbesar di Indonesia itu makin cantik saja. Jauh lebih cantik dari kondisi saat terakhir kami ke sana, beberapa tahun lalu. Beberapa waktu sebelumnya kami melihat juga liputan suatu acara di Candi Budha terbesar di Indonesia itu. Nah, saat itu beliau langsung tertarik. “Waah, apik yo saiki… Mbok kapan-kapan dolan mrana yuuk…” demikian tanggapan beliau. Lalu beliau menyambungnya dengan menceritakan kerinduan pada cucu-cucunya yang di Jogja dan juga adanya kerabat kami yang tinggal di Magelang dan telah lama kami tak berjumpa.

“Insya Allah nggih Mah…kita rencanakan saja dulu..”demikian jawabku waktu itu. Lalu aku pun mulai mencari-cari informasi tentang destinasi wisata yang kira-kira cocok untuk kita datangi dalam waktu yang cukup singkat –karena kami hanya punya libur Sabtu-Minggu- dan juga adanya anggota keluarga yang Lansia ini, tentu perlu pemilihan destinasi dan akomodasi yang nyaman untuk beliau. Continue Reading →

Buah Barteh

July 12, 2018
by mechtadeera
5 Comments

Barteh, Sang Primadona saat Ramadhan di Pekalongan

Lalang Ungu. Barteh, Sang Primadona saat Ramadhan di Pekalongan. Eh, adakah yang belum tahu seperti apakah penampilan Barteh itu? Ni dia penampakannya..

buah barteh

Lho.. itu kan Timun Suri?

Hehe..rupanya memang buah yang termasuk keluarga labu-labuan (cucurbitae) ini mempunyai beberapa nama alias. Di daerah lain mungkin banyak yang mengenalnya sebagai Mentimun suri, Timun suri atau Timun betik.

Akupun dulu lebih akrab mengenalnya dengan nama Timun suri. Mengenal nama Barteh ini saat aku mulai menjadi penduduk Kota Pekalongan. Waktu itu seorang teman mengajakku mencari buah Barteh untuk bahan pembuatan minuman segar dalam salah satu pertemuan yang akan kami adakan. Aku mengiyakan ajakannya sambil bertanya-tanya dalam hati..buah apa pula itu?

Sesampainya kami di Pasar Sentiling, temanku dengan langkah pasti menuju ke dalam bagian penjual buah-buahan, milang-miling sejenak lalu mantap menuju ke ujung..tempat seorang ibu sepuh menggelar dagangan di depannya…yaitu Timun suri! Nah baru lah aku ngeh kalau Barteh adalah sebutan bagi Timun suri oleh warga Pekalongan dan sekitarnya.. ☺ Continue Reading →

July 1, 2018
by mechtadeera
43 Comments

Siang hari ke Pantai Sigandu Batang? Kenapa tidak…

“Wuk, Sigandu ki ngendi, to?”

“Pantai Sigandu, napa Mah?”

Iyo ya’e.. wingi ana sing cerita bar dolan mrana..”

Pantai Sigandu caket kok Mah, teng Batang ngriku. Ngersake mrika napa?”

“Yo yuuk..mumpung kowe prei..”

Itu penggalan percakapanku dengan ibu, di hari Minggu yang lalu. Rupanya ibu ingin jalan-jalan. Sebenarnya agak ragu-ragu berangkat ke Sigandu saat itu, karena waktu itu sudah jam 10 lebih, sedangkan biasanya kami ke pantai pagi hari ataupun sore sekalian, mengingat cuaca siang hari yang lumayan terik di daerah kami. Apa asyiknya ke pantai siang-siang begitu?

Namun ketika kusampaikan keinginan ibu kepada adikku, dia bilang tidak apa kalau berangkat sekarang, toh pantainya dekat..kalau nanti terlalu panas ya nggak usah lama-lama di sana..yang penting ibu senang karena sudah kelakon jalan-jalan sebentar hehe.. Iya juga kupikir, mungkin ibu bosen sehari-hari di rumah saja. Maka kamipun segera bersiap-siap menuju Pantai Sigandu. Continue Reading →

June 23, 2018
by mechtadeera
20 Comments

Java Balloon Festival Pekalongan, Solusi Lestarikan Tradisi

JBFP solusi lestarikan tradisi

Hai Sahabat Lalang Ungu, apa kabar? Semoga semua sehat dan bahagia selalu di hari ke-8 Syawal 1439 H ini ya.. Oya, mumpung masih hangat nih beritanya..kali ini aku akan menulis tentang Java Balloon Festival Pekalongan 2018 yang diharapkan sebagai solusi untuk melestarikan sebuah tradisi.

Apa itu Java Balloon Festival Pekalongan 2018, dan tradisi apa yang ingin dilestarikan?

Pelepasan Balon udara Syawalan di Pekalongan

Nah, pertama akan kuceritakan terlebih dahulu tentang beberapa tradisi yang dilaksanakan masyarakat Kota Pekalongan dalam menyambut / memeriahkan Syawalan. Pemotongan lopis raksasa dan pembuatan serta pelepasan balon udara merupakan dua kegiatan yang erat kaitannya dengan perayaan Syawalan di Kota Pekalongan.

Pada hari ke-7 di Bulan Syawal yang merupakan puncak acara Syawalan di Kota Pekalongan, sejak dini hari sudah terdengar gelegar petasan-petasan besar dan di langit akan terlihat banyak noktah-noktah beterbangan yang satu persatu meledak di udara dengan bunyi keras. Ya, noktah-noktah itu sebenarnya adalah balon udara besar yang diterbangkan disertai petasan besar. Terlalu tinggi untuk dinikmati keindahannya namun suara gelegarnya saat meledak di udara tetap terdengar. Bersahut-sahutan seolah dalam suasana perang saja.

Ramai dan meriah memang, namun sekaligus membuat was-was. Bagaimana tidak? Balon besar itu diterbangkan lepas begitu saja dengan tambahan mercon/petasan besar-besar, bagaimana bila meledak sebelum benar-benar tinggi / menjatuhi rumah / menyangkut di tiang listrik? Ini bukan khayalan atau ketakutan tak beralasan, sudah ada peristiwa-peristiwa kecelakaan seperti itu yang benar-benar terjadi dan diberitakan di banyak media, namun sebagian masyarakat tetap nekad melakukan hal itu dengan mengatasnamakan tradisi. 🙁

Kekhawatiran lain adalah apabila balon besar itu naik terlalu tinggi sehingga mengganggu lalu-lintas penerbangan. Sangat berbahaya bila balon berbahan plastik / kertas itu menutup pandangan pilot atau bahkan masuk ke bagian pesawat, bukan? Untuk itu, pemerintah melalui regulasi yang ada  (a.l Peraturan Menteri Perhubungan No 40 Th 2018) telah mengatur mengenai penerbangan balon udara raksasa yang ternyata tidak hanya terjadi di daerah Pekalongan saja, namun juga di beberapa daerah lainnya misalnya Wonosobo dan Ponorogo.

Nah, di sinilah polemik itu terjadi. Di satu sisi ada upaya untuk tetap mempertahankan tradisi masyarakat namun di sisi lain ada upaya untuk menjaga keamanan jiwa maupun lalu lintas penerbangan. Apakah masyarakat harus begitu saja dilarang membuat dan menerbangkan balon udara, tanpa ada solusi lain yang sama-sama menguntungkan?

Java Balloon Festival Pekalongan

Java Balloon Festival Pekalongan 2018 (JBFP2018) merupakan kegiatan baru yang dirintis oleh Pemerintah Kota Pekalongan bekerjasama dengan AirNav Indonesia, yang diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk tetap mempertahankan tradisi penerbangan balon udara namun dengan tidak membahayakan jiwa maupun melanggar regulasi yang ada.

Kegiatan JBFP2018 ini berbentuk lomba pembuatan balon udara dengan ukuran sesuai regulasi yaitu lebar maksimal 4m dan tinggi maksimal 7m. Motif warna-warni sesuai kreatifitas peserta. Pengasapan dilakukan secara manual. Tidak diperkenankan menggunakan atau menyertakan bahan-bahan berbahaya seperti gas ataupun mercon / petasan. Dan yang utama adalah balon harus DITAMBATKAN. Minimal menggunakan 3 tali tambatan sehingga balon mengudara maksimal 150m di atas permukaan tanah.

Sekitar sebulan sebelum pelaksanaan lomba, sosialisasi sudah dilaksanakan melalui penyebaran pamflet maupun flyer di media sosial. Ramai masyarakat membicarakannya. Biasa.., ada pro dan kontra. Apa asyiknya melihat balon udara tertambat? Mana seru balon udara tanpa suara petasan menggelegar? Begitu antara lain suara-suara masyarakat. Namun sebagian besar masyarakat juga menanti-nantikan acara baru ini.

Pada hari pelaksanaan -yaitu tanggal 21-22 Juni 2018 lalu– terjawablah sebagian besar pertanyaan itu.

Sejak dini hari masyarakat telah berduyun-duyun mendatangi Lapangan Kuripan Pekalongan Selatan yang menjadi lokasi acara. Terdapat 31 peserta lomba yang tampil dalam 2 hari tersebut. Aku berkesempatan menyaksikan acara pada hari ke-2. Dan ternyata MEMANG ASYIK!!

JBFP2018 di Pekalongan

Antusias warga menyaksikan JBFP2018 di Lapangan Kuripan Pekalongan

Menyaksikan balon-balon besar bermotif aneka rupa dan warna-warni di satu lokasi dan dalam jarak pandang kita, sungguh memanjakan mata! 😍

JBFP2018 Kuripan Pekalongan

Balon-balon raksasa berlatarkan langit pagi

Pengunjung juga bisa mengamati dengan jelas aneka motif hasil kreatifitas peserta. Sebagian besar bermotifkan batik, sebagai ciri khas Pekalongan, namun masing-masing unik sehingga benar-benar meriah warna-warni dan motifnya.

Balon batik, ciri khas Pekalongan nih…

Dan kami jadi mengetahui tahapan-tahapan penerbangan balon udara, yang dimulai dengan pengasapan secara manual menggunakan pembakaran di ‘mulut’ bawah balon raksasa itu. Dibutuhkan pula kerjasama yang baik dalam suatu tim ‘penerbangan’ itu : ada yang menjaga pembakaran sehingga pengasapan sempurna, ada pula yang menjaga tepian balon agar mengembang sempurna dan siap ‘mumbul‘ alias mengangkasa.

Perlu kreativitas dan kerjasama tim yang baik

Aku sempat bertanya pada salah satu tim, yaitu Tim Sedulur dari daerah Curug Tirto, pembuatan balon mereka memakan waktu sekitar 2 hari dengan bahan 10 kodi kertas layangan dan biaya sekitar Rp. 200.000,- Wow..melihat hasil balonnya tentu aku mengacungkan dua jempol pada pemuda-pemuda kreatif ini! Oya pengasapan dilakukan sekitar 15-20 menit agar balon dapat naik dan berada di atas sekitar 15 menit pula untuk kemudian turun dan harus dilakukan pengasapan ulang. Demikian selama waktu penambatan tersebut.

Balon JBFP2018

Ini balon hasil karya Tim Sedulur dari Tirto

Acara dimulai sejak jam 5.30 pagi dan pemandangan aneka warna balon berlatar belakang  langit kemerahan benar-benar sangat cantik lho! Aku sama sekali tak menyesal harus ke luar rumah pagi-pagi hehe… Mungkin demikian pula perasaan warga yang antusias menikmati JBFP2018 ini.

JBFP2018 Kuripan Pekalongan

Balon-balon raksasa berlatarkan langit pagi Pekalongan

Pada tanggal 22 Juni malam, diumumkan juara lomba ini yaitu balon dari Tim Sak Onone dan Tim Bahdi Hore, yang mendapat hadiah 10 juta rupiah. Selain itu ada doorprize untuk peserta yaitu 2 paket umroh, 1 sepeda motor dan 1 kulkas. Wow!! Benar-benar keren nih AirNav Indonesia!

Penutupan JBFP2018

Foto bersama Walikota Pekalongan, Dirut AirNav Indonesia dan Juara JBFP2018

Nah, itu ceritaku tentang JBFP2018 yang diharapkan bisa menjadi solusi pelestarian tradisi penerbangan balon udara di Kota Pekalongan, sekaligus menjadi agenda wisata baru di Kota Pekalongan pada perayaan Syawalan. Memang belum bisa hilang sepenuhnya penerbangan balon ilegal itu. Saat aku menulis ini pun masih terdengar beberapa kali dentum mercon dari balon di langit Pekalongan. Semua butuh proses dan sosialisasi yang terus menerus. Semoga tahun depan akan lebih baik. Nguri-uri tradisi tanpa melanggar regulasi, kenapa tidak? 😀

Oya, acara serupa juga dilakukan di Wonosobo dan Ponorogo. Jika penasaran dengan keseruan acara ini, yuuk.., kami tunggu kedatangan teman-teman di acara JBFP pada Syawalan tahun depan yaa..

June 20, 2018
by mechtadeera
12 Comments

Cerita Lebaran Kami di 1439 H

Assalamualaikum, teman.. Apa kabar? Oya, mumpung masih di awal Syawal, izinku mengucapkan Selamat Idulfitri 1439 H bagi teman-teman yang merayakan, dan mohon maaf lahir batin kepada segenap sahabat Lalang Ungu di manapun berada, atas segala khilaf yang mungkin ada dalam silaturahmi kita melalui rumah maya ku ini.

Mudik ke mana nih, teman-teman? Kalau aku dalam kesempatan Lebaran tahun ini tidak mudik, namun alhamdulillah tetap mengalami suasana mengesankan di liburan lebaran kali ini, yang akan kuceritakan dalam tulisan perdana setelah cukup lama blog ini nganggur..hehe..

Oya, seperti kusampaikan sebelumnya, tahun ini aku tidak mudik. Itu karena sejak 3-4 tahun terakhir ini ibu kembali menetap di Pekalongan sehingga kalau dulu aku merupakan bagian dari pasukan mudik -ke Jogja atau Semarang, tergantung di mana ibu kami menetap saat itu- maka tahun ini aku menjadi bagian dari penerima tamu, yang tak lain adalah kakak kami dan keluarganya 😊

Hm, ada suka dukanya sih semuanya itu.. Kalau sebelumnya menjadi pemudik harus berdesakan dengan para pemudik lain menggunakan travel atau kereta api -tergantung tiket yang diperoleh- maka menjadi tim tuan rumah tak perlu repot-repot berebut tiket, hanya berkutat dengan persiapan menerima tamu..hehe.. Terutama dalam menyiapkan hidangan lebaran, maklum lah..aku kan seorang awam-dapur yang dapat dihitung jari frekwensi masak-memasaknya..haha..

Tapi Alhamdulillah..memasuki tahun kedua masak sendiri hidangan lebaran rupanya aku sudah mulai terbiasa dan bisa mengatur ritme. Meskipun masih berbekal resep hasil gugling, dengan segala kerempongannya -terutama saat mengupas dan memotong-motong buah Nangka muda untuk bahan Gudeg- akhirnya pada buka puasa terakhir kemarin, hidangan lebaran Ketupat, Gudeg, Sambal goreng dan Opor telah siap santap! 😋

Hasil nguplegnya Si awam dapur 😊

Lebaran tiba kami sambut dengan suka cita. Alhamdulillah, ibu berhasil sholat Id bersama di masjid perumahan kami, tanpa alat bantu kursi roda seperti dua tahun sebelumnya. Setelah sholat kami pun melakukan sungkeman kepada ibu dan seperti biasa air mata tertumpah selama prosesi ini..hiks.. Aktivitas selanjutnya adalah menemui tetangga kanan-kiri yang melakukan ujung-ujung yaitu datang dan bersalam-salaman secara berombongan dari rumah ke rumah..

Bersama ibu tersayang di IdulFitri 1439 H

Sedikit berbeda, tahun ini aku dapat tugas piket Posko Lebaran di Pemkot tepat pada Hari H Lebaran. Alhamdulillah, tugas dapat tertunaikan sebelum kemudian bersiap untuk perjalanan luar kota. Ya, siang itu kami sejenak meninggalkan Pekalongan, menuju Semarang dan Salatiga untuk nyekar alm Bapak dan juga alm/almh simbah-simbah kami. Puji syukur perjalanan lancar dan di sela tour de makam itu sempat bersilaturahmi dengan keluarga Pakde di Salatiga yang sedang berkumpul juga. Wah, itu pertemuan pertama kami dengan anak-cucu Pakde secara relatif lengkap, setelah bertahun-tahun tak bertemu. Indahnya silaturahmi.. ☺

Nyekar alm Bapak di Semarang

Bersama keluarga Salatiga di Lebaran 1439 H

Setelah beristirahat di hari kedua, pada hari ketiga kami menuju Tegal, kali ini bersilaturahmi dengan keluarga Bani Kasijo -anak-cucu-cicit dari alm Eyang Kasijo yaitu ayahanda ibu kami- yang tahun ini bertempat di rumah Oom Din, satu-satunya saudara ibu. Kemeriahan dan kehangatan silaturahmi sangat terasa karena memang hanya setahun sekali kami bisa berkumpul relatif lengkap seperti ini. Pulangnya, sempat nyasar di daerah Pemalang ketika akan mampir sebuah lokawisata tapi ternyata sudah tidak eksis. 🙁

Sungkeman Bani Kasijo pada Lebaran 1439H

Bani Kasijo di Lebaran 1439 H

Begitulah..acara silaturahmi dari kota ke kota memang merupakan acara inti libur lebaran di keluarga kami. Memang inilah kesempatan kami bertemu muka dan saling berkabar secara langsung, setahun sekali di musim mudik. Selain itu tentunya kami juga saling mendoakan semoga semua keluarga sehat wal afiat dan dapat berkumpul lebih lengkap lagi di lebaran yang akan datang. Aamiin..

Keluarga Soeranto mengucapkan Selamat IdulFitri 1439 H, Mohon maaf lahir dan batin..

Nah, bagaimana dengan acara libur lebaranmu, teman? Semoga berkesan dan menjadi penyemangat kerja selanjutnya ya.. Yuuk, bagi ceritanya di kolom komen..

May 29, 2018
by mechtadeera
22 Comments

3 Hal yang Dapat Kita Lakukan untuk Membantu Korban Bencana.

Lalang Ungu. Hai sobat…apa kabar? Semoga tetap sehat dan semangat ya di 10 hari kedua Ramadhan ini… Meskipun kadangkala ujian-ujian di bulan suci ini datang silih berganti, namun semoga itu tak mengurangi semangat kita tuk melakukan yang terbaik di bulan penuh rahmat ini.

Oya, salah satu ujian bagi kami di daerah Pekalongan saat ini adalah banjir rob yang melanda sebagian wilayah khususnya di bagian Utara yang berbatasan langsung dengan pantai dan di bagian Barat. Rob memang sudah menjadi ‘langganan’ bagi penduduk di daerah pantai, namun rob kali ini lebih parah dari waktu-waktu sebelumnya. Daerah yang terkena rob lebih luas, dan ketinggian genangan rob juga lebih dari sebelumnya. Walhasil banyak penduduk yang terpaksa mengungsi ke daerah yang lebih kering, meninggalkan rumah seisinya dalam rendaman rob 🙁

Rob di Kota Pekalongan (foto : Istimewa)

Menyikapi hal ini, apa yang dapat kita lakukan? Continue Reading →

May 26, 2018
by mechtadeera
20 Comments

Selamat Tinggal Problema Rambut…

Lalang Ungu. Hai teman, bagaimana kabarnya di Ramadhan yang telah memasuki 10 hari kedua ini? Semoga sehat selalu ya… Apalagi cuaca saat ini sedang tak menentu, pagi hingga siang terasa panas dan gerah…eh, sore ataupun malam hujan menjelang. Atau kebalikannya, hujan seharian namun malam cuaca kembali terang meskipun tetap terasa gerah. Ada saja keluhan yang kita rasakan ya.. Yang flu lah, biang keringat lah, eh..sampai-sampai rambut dan kepala pun ikut-ikutan unjuk rasa.

Ya, beberapa waktu lalu aku memang agak bermasalah dengan rambut. Keringat yang berlebih menyebabkan kepala mudah sekali terasa gatal, bawaannya ingin keramas terus. Padahal, terlalu sering keramas juga tidak baik lho…rambut bisa jadi kering dan kusam karena kehilangan kelembabannya. Sedih lagi saat tiap kali menyisir, ataupun membuka kerudung, helai-helai rambut yang patah menjadi pemandangan menyedihkan 🙁

Duuh…jangan-jangan rambutku benar-benar rusak ya? Waktu itu, buru-buru kucari-cari artikel tentang tanda-tanda rambut rusak dan mencermatinya. Dari berbagai artikel yang kubaca, dapat kusarikan bahwa beberapa tanda rambut rusak adalah sbb : Continue Reading →

May 23, 2018
by mechtadeera
18 Comments

Yuk, Menyusuri Jejak Sejarah di Kawasan Budaya Jetayu Kota Pekalongan

Menyusuri jejak sejarah di Kawasan Budaya Jetayu Kota Pekalongan dapat menjadi salah satu alternatif wisata minat khusus di wilayah Kota Pekalongan. Para pecinta sejarah tentunya mengenal Kawasan Kota Tua di Jakarta ataupun  Kawasan Kota Lama di Semarang, di mana keduanya terkenal sebagai tempat-tempat yang mempunyai bangunan-bangunan bersejarah ataupun cagar budaya yang sangat menarik untuk dikunjungi para wisatawan. Nah, di Kota Pekalongan, telah pula dikembangkan kawasan semacam itu, yaitu Kawasan Budaya Jetayu, salah satu kawasan di mana kita bisa menikmati bangunan-bangunan cagar budaya sambil mengenal sejarah Kota Pekalongan.

Yuk, kita mengenal Kawasan Budaya Jetayu lebih dekat…

Lapangan Jetayu

Alun-alun utara Kota Pekalongan atau lebih dikenal sebagai Lapangan Jetayu -karena ada di Jalan Jetayu- bisa dikatakan sebagai pusat dari Kawasan Budaya Jetayu ini. Lapangan atau lebih tepatnya taman kota ini sering menjadi lokasi / pusat kegiatan budaya yang diselenggarakan oleh Pemerintah ataupun masyarakat Kota Pekalongan. Saat ini penataan lapangan telah dipercantik dengan tanaman-tanaman yang tertata cantik, trotoar apik, bangku-bangku taman yang nyaman, lampu warna-warni dan yang paling mencolok adalah Landmark BATIK sebagai pusat perhatian.

landmark_batik di Kawasan Budaya Jetayu Kota Pekalongan

Landmark BATIK di Lapangan Jetayu

Oya, pada malam hari, suasana sekitar Lapangan Jetayu ini akan terlihat semakin hidup karena selain adanya lampu-lampu taman juga di sekitar taman ini ada kendaraan hias dengan aneka model dan lampu yang warna warni 😀 Continue Reading →