Menyusuri jejak sejarah di Kawasan Budaya Jetayu Kota Pekalongan dapat menjadi salah satu alternatif wisata minat khusus di wilayah Kota Pekalongan. Para pecinta sejarah tentunya mengenal Kawasan Kota Tua di Jakarta ataupun Kawasan Kota Lama di Semarang, di mana keduanya terkenal sebagai tempat-tempat yang mempunyai bangunan-bangunan bersejarah ataupun cagar budaya yang sangat menarik untuk dikunjungi para wisatawan. Nah, di Kota Pekalongan, telah pula dikembangkan kawasan semacam itu, yaitu Kawasan Budaya Jetayu, salah satu kawasan di mana kita bisa menikmati bangunan-bangunan cagar budaya sambil mengenal sejarah Kota Pekalongan.
Yuk, kita mengenal Kawasan Budaya Jetayu lebih dekat…
Lapangan Jetayu
Alun-alun utara Kota Pekalongan atau lebih dikenal sebagai Lapangan Jetayu -karena ada di Jalan Jetayu- bisa dikatakan sebagai pusat dari Kawasan Budaya Jetayu ini. Lapangan atau lebih tepatnya taman kota ini sering menjadi lokasi / pusat kegiatan budaya yang diselenggarakan oleh Pemerintah ataupun masyarakat Kota Pekalongan. Saat ini penataan lapangan telah dipercantik dengan tanaman-tanaman yang tertata cantik, trotoar apik, bangku-bangku taman yang nyaman, lampu warna-warni dan yang paling mencolok adalah Landmark BATIK sebagai pusat perhatian.

Oya, pada malam hari, suasana sekitar Lapangan Jetayu ini akan terlihat semakin hidup karena selain adanya lampu-lampu taman juga di sekitar taman ini ada kendaraan hias dengan aneka model dan lampu yang warna warni 😀
Tugu Myl pall
Psst, ada yang istimewa lho di salah satu sudut trotoar yang mengitari Lapangan Jetayu ini… Tepatnya di sudut trotoar pinggir Lapangan Jetayu di sekitar depan Gedung Eks Karesidenan, terdapat sebuah tugu bercat putih setinggi pinggang orang dewasa. Tugu apakah itu?

Itulah yang disebut Myl Pall yaitu tugu penanda 0 KM Kota Pekalongan, yang sekaligus merupakan penanda pembangunan jalan raya pos ( Grote Pos Weeg ) oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda HW Deandles.
Gedung Eks Rumah Dinas Residen Pekalongan
Lebih dikenal sebagai Gedung Eks Karesidenan, inilah gedung yang pernah digunakan sebagai rumah jabatan Residen Pekalongan, diperkirakan dibangun sejak tahun 1850 oleh Residen J van der Eb namun tercatat digunakan pertama kali oleh Residen George Johan Peter van de Poel.

Gedung ini pernah digunakan sebagai Rumah Dinas / Kantor eks Karesidenan Pekalongan hingga tahun 2000, selanjutnya digunakan sebagai Kantor Bakorwil III hingga tahun 2016 dan selanjutnya digunakan sebagai Kantor Badan Penyelenggara Pendidikan Menengah. Saat ini gedung ini sering digunakan sebagai salah satu tempat penyelenggaraan kegiatan-kegiatan budaya di Kota Pekalongan.
Kantor Pos Pekalongan

Berseberangan dengan Gedung Eks Karesidenan adalah Gedung Kantor Pos Kota Pekalongan yang didirikan sejak tahun 1920. Dalam sejarah Pos Indonesia memang Kota Pekalongan sudah termasuk dalam jalur pos di Jawa, bahkan sejak 1746 Pekalongan menjadi tempat pergantian kuda kereta pos dari Batavia sebelum melanjutkan perjalanan ke Semarang.
Gedung Pertani

Gedung PT Pertani Pekalongan
Masih di sekitar Lapangan Jetayu, namun kita berjalan lagi ke arah utara ( arah belakang Gereja Kristen Jawa ), maka kita akan menemui Gedung PT Pertani. Gedung yang saat ini masih digunakan sebagai kantor PT PERTANI ini dulunya adalah bank pertama yang didirikan di Pekalongan pada masa Hindia Belanda, yang dibangun sekitar pertengahan abad 19.
Nederland Hundles Bank didirikan untuk memfasilitasi pengelolaan keuangan hasil penjualan gula dan hasil bumi, beroperasi sampai sekitar tahun 1941 sebelum kedatangan Jepang, kemudian beralih-alih kepemilikan dan sejak tahun 1970-an menjadi kantor BUMN PT Pertani hingga saat ini.
Sosietet / GOR Jetayu
Bersebelahan dengan Gedung Pertani terdapat bangunan yang di masa kolonial digunakan sebagai gedung kesenian. Gedung megah yang dibangun di abad 19 ini pun mempunyai sejarah yang cukup panjang.

Gedung ini pernah digunakan sebagai kantor /tempat berkumpulnya kaum Yahudi Freemansonry lalu kemudian berubah nama menjadi ‘Delectatio’ dan digunakan sebagai tempat pesta / hiburan bagi orang-orang indo eropa di Pekalongan dan sekitarnya.
Sejak kemerdekaan, gedung ini berganti nama menjadi Sosietet dan digunakan untuk pertemuan atau pertunjukan. Beberapa catatan seni budaya tertoreh di sini, antara lain awal karir seni seorang Hoegeng Iman Santoso yang kemudian terkenal dengan grup Hawaian Senior-nya, juga pernah menjadi tempat pentas grup teater modern Miss Ribut Orion.
Renovasi-renovasi telah dilaksanakan lalu ditetapkan menjadi Gedung Olah Raga dan pusat kesenian sejak tahun 2003 sampai dengan saat ini, dan di bagian belakang gedung dijadikan Pusat Inovasi Budaya Batik (PIBB).
Gedung Djawatan Pendidikan / TV Batik
Gedung di sebelah kiri GOR Jetayu yang sejak 2012 hingga saat ini digunakan sebagai kantor & studio TV Batik, juga merupakan peninggalan sejarah. Awalnya gedung ini digunakan sebagai kantor yayasan pendidikan setingkat SMP ( MULO ) di masa kolonial, kantor Djawatan Pendidikan di masa kemerdekaan, kantor Dinas Pekerjaan Umum, kantor Pariwisata dan juga Bappeda.

Museum Batik Pekalongan
Di sebelah gedung Batik TV (berbatasan jalan) kita akan menjumpai Museum Batik Pekalongan yang juga salah satu cagar budaya di Kota Pekalongan. Gedung ini diperkirakan dibangun sekitar taun 1900 sebagai pusat administrasi 17 pabrik gula se eks Karesidenan Pekalongan.

Gedung ini tercatat pernah digunakan sebagai Pusat Pemerintahan Kota (Ken) pada masa pendudukan Jepang dan di masa kemerdekaan bangunan ini pernah digunakan sebagai Pusat Pemerintahan Daerah Tk II dan Kantor Bappeda (sampai 1987), Kantor Dinas Pendapatan Daerah ( hingga 2006) dan sejak 12 Juli 2006 diresmikan sebagai Museum Batik oleh SBY -Presiden RI saat itu .
Kita dapat mengenal Batik lebih dekat dengan mengunjungi museum ini, di mana di dalamnya terdapat koleksi-koleksi batik, tidak hanya dari Pekalongan dan sekitarnya namun juga koleksi kain batik dari seluruh penjuru Nusantara. Selain itu pengunjung juga dapat mengikuti pelatihan singkat membatik di sini. Oleh karena itu, siapkan waktu yang lebih luang untuk mengunjungi Museum Batik ini, teman… Dijamin nggak akan menyesal deh! 😀
Pabrik Limun Oriental
Dengan mengikuti jalan di antara gedung TV Batik dan Museum Batik ke arah Timur, kita memasuki Jl Rajawali. Sekitar 50 meter dari ujung jalan, tepatnya di Jl Rajawali no 15 kita akan sampai di depan pabrik Limun Oriental Cap Nyonya, sebuah pabrik minuman bersoda yang sudah ada sejak jaman penjajahan.

Berdasarkan penuturan dari pengelola Limun Oriental Pekalongan, perusahaan minuman limun ini didirikan oleh keluarga Nyoo Giok Lien yang sebelumnya berdomisili di Kedungwuni Kab Pekalongan dan kemudian pindah ke Kampung Bugisan, lokasi yang sekarang.

Limun Oriental ini dibuat merknya pada sekitar tahun 1923 dan pengelolaannya saat ini sudah sampai di generasi ketiga. Di sini, selain dapat membeli dan menikmati limun dalam suasana vintage, pengunjung juga dapat menyaksikan langsung pembuatan minuman bersoda dalam kemasan botol kaca ini.
Benteng Pekalongan
Tepat di seberang Pabrik Limun Oriental di Kampung Bugisan ini, kita dapat melihat sisa benteng yang masih terlihat kokoh berdiri, di kompleks Rumah Tahanan Kota Pekalongan.
Itu adalah sisa Fort Peccalongan atau Benteng Pekalongan, salah satu peninggalan VOC di Kota Pekalongan yang dahulu berlokasi di tepian Kali Loji. Bangunan yang dulunya berluas sekitar 5.170 m2 ini dibangun sebagai bagian dari pertahanan VOC di wilayah pesisir Pekalongan didirikan sekitar tahun 1754

Brug Lodge
Dari Kampung Bugisan setelah kita mampir di Limun Oriental dan melihat Benteng Pekalongan perjalanan dapat dilanjutkan kembali ke jembatan / Brug Loji, demikian masyarakat biasa menyebutnya.

Brug Lodge atau jembatan Loji adalah sebuah bangunan cagar budaya yang membentang di atas Sungai Kupang, menghubungkan kawasan pemerintahan saat itu ( kawasan Jetayu saat ini ) dengan kawasan pasar, pecinan maupun Kampung Arab yang ada di seberang sungai. Diperkirakan dibangun pada abad 19, masa kolonial Hinda-Belanda.
Jembatan Loji ini telah beberapa kali diadakan renovasi untuk memperkuat jembatan dan renovasi yang terakhir pada Tahun 2016 lalu. Oya, saat ini di sekitar jembatan ini dipasangi lampu-lampu hias sehingga terlihat cantik di malam hari.

Saat tidak ada kegiatan Budaya apa gedung itu kosong sekarang?
Wah, banyak juga ya tempat2 bersejarah di Pekalongan. Gak cuma pantai dan alamnya aja nih yang bisa jadi tempat tujuan wisata. Tempat bersejarahnya juga. Noted! Semoga segera kesampaian main ke Pekalongan. 🙂
Asyik juga minum limun dingin di lokasi sambil cerita2 dengan pengelolanya mba..
Aku jadi ingat lagunya siapa itu, band rocker zaman dulu “Kota batik di Pekalongan… Gadis cantik jadi pujaan..” ah, lupa lengkapnya. Yang pasti di Pekalongan ternyata banyak wisata sejarah
Slank ya mba..? Hehe..
Wah, ternyata di Pekalongan banyak juga tempat/gedung bersejarahnya. Semua cagar budaya yang harus tetap kita jaga kelestariannya.
Ya mba..semoga demikian adanya..
Senangnya bisa wisata sejarah kek gini ya, bisa mendapatkan info mengenai sejarah yang ada di sana. Btw kalo saya perhatikan, kantor pos (hampir seluruh gedung kantor pos yang ada di Indonesia, bangunannya bangunan lama gitu dan dijaga keasliannya 🙂
Betul mba..kantor pos memang salah satu bangunan yg biasanya bangunan lama ya.. masing2 punya sejarahnya ..
Mirip dengan Semarang ya mba yg titik 0 kmnya juga berdekatan dengan Kantor Pos. Memang sih ya di jaman Hindia Belanda dulu pusat pemerintahan ditandai dengan bangunan2 seperti itu. Di Semarang dulu kan pusat pemerintahan ada di seputar Masjid Kauman.
Dulu pas di Pekalongan belum sempat mengunjungi pabrik limun legendaris itu. Kapan2 ikutan jalan2 ah barengan teman menjelajahi Pekalongan.
Iya dik, konon titik 0 km di suatu kota biasanya terdapat di sekitar Kantor Pos besarnya..
Yuk deh, kapan2 diagendakan jalan2 ke Pekalongan lagi…
Pengen ke Pekalongan lagi. Pengen berkunjung ke Museum Batik Pekalongan dan pabrik Limun. Pekalongan memang keren karena punya banyak gedung-gedung bersejarah.
Yuk Farid..ke Pekalongan lagi..
Wah ada TV Batik ya di Pekalongan. Trus itu jalan Brug Loji cantik banget ya di malam hari. Ada lampu kehijauannya.
Iya mba..TV lokal.. Brug Loji artinya Jembatan Loji mba, jembatan kuno yang semakin dipercantik hehe..
Aaah mba aku tambah intrigued to cone down there. Cantik bangeeet kotanya! Aku paling seneng dengan bangunan tua mba
Yuk yuk mbaaa..ke Pekalongan..
Aku tertarik sama Myl Pall. Itu bacanya gimana nya? Mil Pal? Apa Mail Pal?
Hihi..aku sih bacanya Mil..entah yg bener apa.. Sik tak tanya2 pakar dulu mbak..
Kalo dengar kata pekalongan langsung teringat dengan batiknya, disetiap daerah ada bangunan yg siap dikulik sejarahnya ya mba
Betul mba..Pekalongan dan Batik memang tak terpisahkan..
Sama tuh bunda sama Mbak Rani, baca tulisan tentang Pekalongan dengan gedung2 bersejarahnya yg masih terpelihara dengan baik, jd pengen ke Pekalongan deh. Tuh liat klap klip lampu indah diwaktu malam.
Mari Bunda..kapan2 mampir ke Kota Batik ini ya Bun..
Wah, pernah ke Pekalongan sekali aja dan pas di sana borong batik hehe.. Ternyata cukup banyak jejak sejarahnya ya, harus mampir lagi kapan-kapan, mungkin juga harus stay 2-3 hari ya di sini mba buat bisa menikmati Pekalongan..
Ya mba..sekalian jalan2 menikmati wisata alamnya ya..
Aku kalau denger nama Pekalongan langsung tertuju ke batiknya . Oh ya aku penasaran dalam benteng itu kira-kira ada apa aja ya kak ?.
Kalau saat ini, sudah bukan benteng lagi tapi Rumah Tahanan mba..
Aku paling tertarik sama Museum Batik dan pabrik Limun nih, Mba. Pengen tau sejarah panjang di balik selembar kain kebanggan Indonesia. Kalau limun, minuman favorit masa kecil. Duh, ngetik ini langsung kebayang rasanya loh, hahaha
Segeeeer mba..apalagi diminum dingin..maknyeeees…
Selalu suka sama sejarah dn bangunan heritage gitu mba jd bnyk tahu ttg pekalongan
Syukurlah mba..dan semoga berkesempatan datang melihat langsung ya mba..
Jadi di sini yah salah satu jejak freemansory itu, penasaran pengen berkunjung langsung at least foto2nya mba udah menjawab rasa penasaranku
Tapi lebih asyik kalau melihat langsung.. Yuk ke Pekalongan, Ainhy
Jembatan Loji itu epic banget yaa…
Gak tau kalau di Pekalongan menyimpan banyak cerita sejarah.
Hhehe…maklum, pas pelajaran sejarah dulu, aku sering ga paham.
**tears
Hihi..idem mba..dulu ga suka sejarah, tapi akhir2 ini suka juga mengunjungi suatu tempat dan tahu sejarahnya..
Komunitas kalonganan itu artinya jika sebelah kanan bukan sih? Kalo di jakarta kalo itu jika atau kalau soalnya…hehehe penasaran orn namanya unik
Hehe..bukan mba.. Kalongan istilah dari kata Kalongan-an atau orang2 Kalongan / Pekalongan. 🙂