De Tjolomadoe : Warisan Manisnya Industri Gula Masa Lalu

Dengan Tjolomadoe, warisan masa lalu
De Tjolomadoe, warisan masa lalu
De Tjolomadoe, warisan  manisnya industri gula masa lalu

De Tjolomadu : Warisan Manisnya Industri Gula Masa Lalu. Hai Sobat Lalang Ungu, pernahkah mendengar kata ‘Colomadu’ dan apa yang terlintas di benakmu mendengar kata itu?

Jika ‘pabrik gula di masa lalu’ adalah yang terlintas di benakmu mendengar kata Colomadu, maka kita sama. Colomadu, rasanya bukan kata asing bagiku. Kalau tidak salah saat SD aku sudah menghafal kata itu sebagai nama salah satu pabrik gula terkenal di masa lalu, selain PG Madukismo di Jogjakarta dan PG Cepiring yang kemudian sering kulewati dalam perjalanan Semarang-Pekalongan.

Namun setahuku, PG Colomadu itu sudah lama tak beroperasi dan kalau tak salah ingat, gedungnya tampak tak terawat ketika bertahun lalu aku sering lewat daerah Colomadu setiap berkunjung ke rumah Saudara di Karanganyar. Itu sebabnya aku agak takjub ketika melihat foto-foto terbaru dari pabrik gula yang sekarang direnovasi menjadi salah satu tempat wisata edukatif dan juga tempat pertunjukan seni itu. Lalu…aku pun ingin ke sana melihat sendiri keindahan terkini PG Colomadu yang sekarang bertransformasi menjadi De Tjolomadoe ini.

Alhamdulillah…, Sabtu 16 Maret 2019 lalu aku berkesempatan untuk mengunjungi De Tjolomadoe yang terletak di tepi jalan raya Karanganyar-Surakarta tepatnya di Jl Adi Sucipto No 1, Paulan Wetan, Malangjiwan, Colomadu, Karanganyar Jawa Tengah ini. Yuuk, mari sejenak melongok warisan manisnya industri gula di masa lalu ini.

Sejak memasuki kawasan pabrik gula seluas 6,4 Ha yang sudah bersalin rupa ini, kita telah mulai merasakan suasana masa kini yang berpadu dengan warisan masa lalu. Sebelum masuk ke tempat parkir yang cukup luas, pengunjung harus mengambil tiket parkir dari mesin parkir modern nan otomatis, lalu menuju lahan parkir berpaving yang terletak di sebelah kanan gedung utama. Ohya, bea parkir mobil di sana Rp6.000,-

Loket tiket De Tjolomadoe
Loket tiket masuk museum Dengan Tjolomadoe

Untuk masuk ke gedung utama, pengunjung dipersilahkan membeli tiket di bangunan kecil yang terletak antara gedung utama dan rumah Goela. Harga tanda masuk ini Rp25.000,-/orang. Oya, rumah Goela itu adalah bangunan yang ada di depan gedung utama, kalau tidak salah rumah itu dulu adalah rumah kepala masinis pabrik gula dan saat ini difungsikan sebagai pusat penjualan cenderamata. Sayang kemarin aku tak sempat masuk ke sana, karena rencana awalnya akan ke sana sebelum pulang, dan ternyata saat keluar dari gedung utama hujan…terburu-buru masuk mobil, lupa akan rumah Goela ini..Haha..

Rumah Goela De Tjolomadoe
Rumah Goela dan loket tiket De Tjolomadoe
Royal Besaran De Tjolomadoe
Royal Besaran De Tjolomadoe
Taman di De Tjolomadoe
Taman bunga di De Tjolomadoe

Sebelum masuk ke gedung utama, kami jalan-jalan dulu di halaman depan, menikmati penataan outdoor De Tjolomadoe. Selain rumah Goela yang sudah disebutkan tadi, di halaman depan itu ada semacam pom bensin kecil, gazebo (dulu untuk mengamati kegiatan pembongkaran tebu), Rumah Besaran (nDalem mBesaran) -sebuah bangunan cagar budaya berciri arsitektur Indies  tempat mukim kepala administratur pabrik di jaman dahulu dan saat ini difungsikan sebagai galeri bernama Royal Besaran– dan taman bunga di sebelah kiri gedung utama.

Memasuki gedung utama pabrik yang didirikan tahun 1900-an (dan berhenti beroperasi tahun 1998) kita akan langsung ‘disambut’ barisan mesin-mesin besar yang melintang hampir seluas lebar gedung tersebut. Oya penyebutan nama ruangan-ruangan di gedung ini menggunakan istilah Belanda ‘stasiun’.

Stasiun Gilingan De Tjolomadoe
Stasiun Gilingan De Tjolomadoe

Stasiun Gilingan, itu nama sektor ini..hm, jadi mesin-mesin besar itu adalah mesin giling tebu… Di ujung kanan ruangan, dindingnya dihiasi foto-foto lama yang memperlihatkan kondisi gedung maupun aktivitas masa lalu di gedung ini.

Dari ruangan ini kita bisa langsung memasuki Museum De Tjolomadoe yang berisi artefak, foto-foto, diorama ataupun penjelasan-penjelasan mengenai sejarah industri gula di Indonesia maupun sejarah PG Colomadu yang semula merupakan milik pribadi keluarga Mangkunegara IV yang kemudian diubah menjadi Perusahaan Praja menjelang wafatnya Sri Mangkunegara IV, dengan maksud agar keuntungan industri ini dapat lebih bermanfaat bagi kemakmuran Praja Mangkunegaran.

Pesan Mangkunegara IV di De Tjolomadoe
Pesan KGPAA Mangkunegara IV

Pabrik iki openono, senajan ora nyugihi, nanging nguripi, kinaryo papan pangupo jiwone kawula dasih” itulah pesan yang sangat bermakna dari KGPAA Mangkunegara IV yang intinya agar pabrik itu dilestarikan, karena meskipun tidak membuat kaya namun memberikan penghidupan dan menjadi tempat mencari nafkah bagi masyarakat kecil. Entah kenapa, ada rasa nggregel di hatiku membaca pesan yang sarat makna ini, pesan yang menyiratkan perhatian dan kecintaan seorang Raja kepada kawulo / rakyatnya.  Oya, melihat foto beliau ini, mengingatkanku akan foto lama leluhur kami Eyang Mangkunegara II yang tersimpan di rumah keluarga.

Diorama Museum De Tjolomadoe
Semacam diorama / maket yg menggambarkan proses di PG Colomadu tempo doeloe

Setelah mengunjungi museum ini aku mendapat gambaran mengenai proses di pabrik gula yang meliputi : (1) proses penimbangan & pengerjaan awal di pabrik gula; (2) proses di mesin penggilingan; (3) proses pemurnian nira; (4) proses penguapan Nura; (5) proses kristalisasi; (6) proses pemisahan kristal; (7) proses pengeringan & pendinginan; (8) proses pengemasan; dan (9) proses pengiriman.

Stasiun Penguapan De Tjolomadoe
Stasiun Penguapan De Tjolomadoe
Tjolo Koffie di De Tjolomadoe
Tjolo Koffie – De Tjolomadoe

Keluar dari ruang museum, kita memasuki ruang Stasiun Penguapan yang saat ini sebagian ruangannya difungsikan untuk Tjolo Koffie yang bersebelahan dengan Besali Cafe yang menempati ruangan ex Stasiun Besalen atau semacam bengkel.

Berhadapan dengan ruang Stasiun Penguapan adalah Stasiun Ketelan yang saat ini difungsikan semacam hall dengan beberapa pojok untuk penjualan cindera mata dan kain-kain batik lawasan serta sebuah tempat makan / kafetaria Street Food Festival.

Stasiun Ketelan De Tjolomadoe
Stasiun Ketelan De Tjolomadoe
Kafetaria di De Tjolomadoe
Kafetaria di De Tjolomadoe

Meskipun hasil renovasi jelas terlihat hampir di seluruh ruangan di De Tjolomadoe ini, namun selain mesin-mesin tua yang besar itu juga masih dilestarikan beberapa detil asli dari bangunan pabrik gula ini, a.l  sepetak lantai berubin asli di depan ruang museum, tungku pemanas non aktif di dalam museum, sebagian dinding di Stasiun Ketelan, sebagian dinding di Stasiun Masakan, dan juga sebagian akar pohon tua yang menempel di dinding luar ex Stasiun Besalen yang saat ini menjadi Besali Cafe. Oya, Besali Cafe yang menempati ruangan yang dulunya bengkel / perbaikan mesin ini cukup terkenal ya..sayang kemarin tak sempat mencicipi menu di sana, selain karena habis makan siang yang terlambat di empat lain, juga mengejar waktu agar tak kesorean..haha.. Mudah-mudahan lain kali bisa mampir icip-icip menu di sini.

Dinding Sta Ketelan De Tjolomadoe
Sebagian dinding Stasiun Ketelan
Tungku pemanas De Tjolomadoe
Tungku Pemanas De Tjolomadoe
Akar pohon tua di De Tjolomadoe
Akar pohon tua di dinding Besali Cafe De Tjolomadoe

Di sebelah ruang Stasiun Masakan ini ada dinding kayu yang berwarna coklat di sepanjang lebar gedung, yang awalnya tak kutahu ruang apa itu karena tertutup rapat dan tak ada keterangan / nama ruangan, ternyata baru kutahu kemudian itu adalah hall besar yang digunakan untuk konser-konser..antara lain konser David Foster di tahun 2018 lalu.

Selasar De Tjolomadoe
Selasar cantik di De Tjolomadoe
Cerobong De Tjolomadoe
Cerobong di De Tjolomadoe

Keluar dari gedung utama ini ada teras / selasar dengan taman kecil di depannya yang menghubungkan dengan teras Stasiun Ketelan di seberangnya. Saat cuaca di luar tidak panas atau hujan mungkin asyik juga duduk-duduk di taman ini menikmati angin sambil memandangi cerobong tua yang menjulang tinggi di dekatnya.  Namun, sore itu gerimis semakin deras ketika kami keluar dari gedung utama, sehingga kamipun segera berlari-lari menuju tempat parkir dan memutuskan untuk pulang.

De Tjolomadoe, warisan masa lalu

Ohya, di dalam museum ada 2 ruangan yang -menurutku- agak kurang nyambung dengan keseluruhan ide tentang paparan proses di pabrik gula, yaitu ruangan ‘Taman Wagis Wara’ dan ‘Confectionery’ keduanya semacam instalasi seni yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk bernarsis-ria 🙂

Begitulah sekilas kunjungan kami ke De Tjolomadoe kemarin. Sebenarnya aku masih penasaran dengan beberapa ruang yang belum benar-benar tereksplorasi, juga menu-menu di kafetaria ataupun cafe yang belum sempat kami cicipi. Bagaimana, ada yang mau mengajakku ke sana lagi? Hehe…hayuuuk…agendakaaan…

140 thoughts on “De Tjolomadoe : Warisan Manisnya Industri Gula Masa Lalu”

  1. Photonya keren sekali kak, pakai aplikasi apa? Oh ya aku baru tahu ada museum gula … Pasti manis kenangan yang tertinggal dalam memori

  2. Duh, seru banget.
    Aku mau tanya dong mbak karena akhir maret, setelah turun dari Gunung Lawu, aku mau ke sini.

    Di sini ada guidenya nggak? Bayar pun nggak apa-apa kok. Sayang kalau mampir ke tempat bersejarah gini tapi nggak ada yang jelasin.

    Lalu bukanya dari jam berapa sampai jam berapa ya?

    Duh, jadi nggak sabar pengen buru-buru ke sini

    1. Dari web nya sih tertera buka jam 10 pagi sampai jam 9 malam. Utk guide aku kurang tahu..saat kemarin ke sana aku tidak melihat ada yg pakai guide. Kalau ada memang asyik banget ya..karena kemarin pun ada banyak hal yang ingin kuketahui lebih rinci..

  3. Aku juga suka main ke Museum Gula de Tjolomadoe ini.
    Bangunannya gedhe banget. Halamannya juga luas banget, sampe kadang dibikin event semacam food parade dan sejenisnya.

  4. Pertama mendengar Colomadu, seperti pernah terlintas di jaman sekolah. Mungkin pernah ada pelajaran sejarah yang membahasnya. Eh sekarang, baru lihat pabrik gula colomadu itu sudah direnvitalisasi dan dijadikan museum. Bangunannya tetap dibuat seperti asli dengan ditambakan inovasi supaya modern ya. Saya suka banget tuh, bagian lengkungan di atas pintu, menambah kesan vintage dan kolonial ya.

    1. Sepertinya memang renovasinya dengan mempertahankan ciri bangunan aslinya jadi tidak berubah jauh ..

  5. Upaya restorasi yang patut diapresiasi. Semoga makin bertambah tempat-tempat seperti Tjolomadoe ini. Ikhtiar pengingat sejarah kalau Indonesia itu emang udah keren dari dulu.

  6. Tjolomodoe tidak pernah dengar sih. Maklum Mpo anak zaman now. Biarpun masih awam soal pabrik gula ini akan tetapi ini bisa berdampak saat kita melihat pada perubahan dari generasi ke generasi.

    Pabrik yang terawat rapi, bersih dan arsitektur tempo Doeloe tetep terjaga membuat kita bisa kembali ke masa lalu di masa kejayaan tjolomodoe

  7. colomadu ku belum pernah denger mbak. Waw itu akar pohon sampe nempel di dinding yaks. Btw aku sama suami suka banget wisata sejarah kayak gini, apalagi itu pabrik zaman dulu ya

  8. kita pernah jaya dalam urusan gula, yang sayangnya sekarang sudah bye-bye. De tjolomadu ini gede banget bangunannya dan menarik dari luar. Tapi sayang aku juga cuma lwat tok ga pernah mampir

    1. Kapan-kapan mampir mba.. Aito pasti seneng deh lelarian di dalamnya sambil belajar ttg industri gula hehe..

  9. Aku baru denger tentang Colomadu ini, Mba. Mungkin gula ini gak masuk ke Sumatera atau aku yang kurang gaol ya XD Btw liat gedungnya, khas gedung tempoe doeloe gitu ya, antik 🙂

  10. wah menarik juga yah mbak untuk dikunjungi. Masukin ah dalam list, ada rencana jalan-jalan ke solo juga nih tahun ini. Mudah-mudahan bisa kesampean kesini!

  11. Waktu masih sekolah sempat dengar kata Colomadu ini sih mbak tapi aku lupa kayanya nama apa, nebaknya pabrik gula. Eh bener ternyat aya.
    Bagus ya sekarang sudah punya muka baru eh alias bangunannya di buka juga buat pengunjung umum ya mbak, jadi bisa melihat kejayaan Colomadu di masanya.

  12. Mantabh…saat kesana Januari lalu, aku malah sdh kehilangan smangat nulis, cm motrak motrek sm anak lanang. Lg enjoy bikin vlog hahaha

    Semangat terus mbak

  13. Aku beberapa kali berencana pengen kesini tapi cuma berujung lewaaattt aja hehhee … dan ternyata suasana dalamnya baru lihat dan baca tulisan ini aja aku ngerasa berada dilokasi dan merasakan aura lokasi jaman dulu, kuat banget

  14. Oh iya kah mba? Ke sana th lalu po? Sayang tak ada guide atau papan petunjuk ttg rumah2 itu jadi aku hanya menebak-nebak dan cari2 info di inet..

  15. Mbaaak, aku waktu ke De Tjolomadoe, ada bangunan yg belum selesai dipugar. Kayak rumah goela dekat penjualan tiket.

    Nah aku pun tertarik dengan pesan yang sarat makna dari KGPAA Mangkunegara IV

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *