Assalamualaikum, Bapak…
Awal bulan Juni kembali tiba. Waktu yang selalu tak pernah gagal mendatangkan campur-bawur rasa di hatiku. Sedih sekaligus rindu, padamu…
Hari ini -3 Juni 2025- adalah peringatan hari lahirmu. Sembilan puluh empat tahun lalu, Eyang putri Darsawijaya melahirkanmu sebagai putera ke-4 dari 8 putera-puterinya. Hari yang akan selalu menjadi salah satu hari yang selalu kusyukuri.

Bapak, tak pernah habis rasa syukurku memilikimu sebagai pengukir jiwa ragaku. Sosok lelaki istimewa yang tak hanya mewariskan gen bagi kami putera-puteri mu, namun juga memberikan begitu banyak pelajaran dan kenangan indah selama kebersamaan kita.
Bapak, sungguh kami merupakan anak-anak yang beruntung merasakan kasih-sayang dan kehadiranmu di setiap tahapan hidup kami sejak kanak-kanak hingga dewasa. Tak terkira banyaknya ‘saat pertama’ dalam tahapan hidup kami yang kami lewati bersamamu dan Ibu.
Bapak, ingatkah kau ‘ritual minggu pagi’ kita di saat kecilku dulu? Keliling kota dibonceng vespa di depan, dengan rambut kriwilku yang meriap-riap tertiup angin dan seringkali mengganggu pandanganmu, adalah salah satu dari momen indah masa kecilku yang selalu kukenang dengan senyum. Ingatkah kau saat bersama Ibu dan kakak-adik, mengantarku cari kost di Kota Hujan? Atau saat malam-malam menjemputku di terminal tiap kali libur semesteran mudik ke Kota Batik? Masih segar pula dalam ingatanku, senyum bahagia terlukis di wajahmu dan Ibu, sepanjang acara wisuda di kampus Dramaga kala itu.

Bapak, kau mengajarkan banyak hal pada kami, terutama tentang kejujuran, kedisiplinan, tanggungjawab dan juga pantang menyerah. Bukan hanya dengan kata-kata, namun lebih banyak melalui teladan dalam sikap keseharianmu. Sepanjang karirmu di dunia pendidikan, sejak di Kota Atlas hingga pensiun di Kota Batik, kami menjadi saksi etos kerjamu yang mencontohkan disiplin, kejujuran dan bertanggung-jawab.
Bapak, sungguh jejak ajaran yang Bapak dan Ibu berikan selama masa perkembangan ke-5 putera-puterimu lah yang telah membentuk kami semua menjadi kami hari ini. Maturnuwun…
Bapak, tak kami sangka bahwa awal Juni ternyata juga akan menjadi salah satu waktu duka buat kami. Kepergian mu sehari sebelum usiamu genap 67 tahun -tepatnya di 2 Juni 1998- merupakan salah satu kehilangan terbesar kami, meninggalkan rongga duka mendalam di relung hati kami sehingga kini.
Sejak hari itu, tak ada lagi yang memanggilku dengan nama kesayangan darimu. Tak lagi bisa kudengar suaramu rengeng-rengeng. Tak lagi bisa kita guyon bareng di sela-sela cerita kegiatan kita seharian. Tak lagi bisa kuminta nasehat-nasehatmu saat ku bimbang tentukan langkah di persimpangan. Sejak hari itu, cinta pertamaku tak lagi ada di sisiku. Semua tinggal kenangan…

Bapak, sekian tahun telah berlalu. Namun rasa duka itu masih sama. Selaksa doa senantiasa kupanjatkan kepada NYA, semoga Allah SWT senantiasa menjagamu di sisi terbaik-NYA , di mana saat ini kau telah berkumpul kembali bersama Ibuk dan Mbak Anik. Salam kangen kagem semuanya…
Alfatihah kagem alm Bp Soeranto bin Darsawijaya. Aamiin..
alfatihah buat almarhum bapak ya, mbak. memang sosok ayah apalagi yang membersamai tumbuh kembang anaknya akan selalu dirindukan oleh anak sampai kapanpun
Al Fatihah untuk almarhum bapak ya mbak, selalu ada kenangan bersama beliau yang akan terkenang dan tak mungkin terlupakan.
Saya pun kadang tetiba nangis sendiri merindukan almarhum bapak, kadang hanya berharap dapat bertemu melalui mimpi
Allahummaghfirlahu warhamhu wa afihi wa fuanhu untuk Bapaknya Bu Tanti. Pastinya kita sebagai anak, gak akan pernah bisa melupakan orangtua kita. Semangat dan selalu mendoakan
Alfatihah buat bapak mbak. Semoga Allah tempatkan di tempat terbaik di sisiNYA. Ah, kalau cerita soal bapak, aku juga punya banyak kenangan masa kecil yang membekas hingga kini. Rasanya pengen jadi anak kecil lagi kalau ingat kenangan-kenangan itu.
Selalu akan ada cerita manis tentang bapak ya mbaak…masya Allah kenangan yang akan selalu dikenang dan terpatri dalam hati. Sejatinya kita tak pernah kehilangan karena cintabya abadi si sudut hati.
Ah jadi kangen bapakku.
Ikut merasakan kehangatan dan kedekatan kakak dan Bapak. Selamat ya kak, karena pernah menjadi permata Bapak. Terima kasih sudah membagikan kehangatannya kepada kami
Doa terbaik untuk bapak mbak. Ternyata beliau pernah mengabdi membangun kota Atlas Semarang yang sempat saya tinggali dengan nyaman selama 6 tahun.
Membaca ini dengan haru dan menjadi pengingat diri, seandainya hari perpisahan dengan ayah saya tiba nanti, harus ikhlas meski kesedihan tak terperi, ada kenangan dan doa yang akan selalu menjadi penyambung kerinduan
Alfatihah buat bapak mbak.. juga terikirim syahdu buat papaku..
Lucu banget dibonceng vespa minggu pagi
Kalo aku belum sempat ngerasian dibonceng alm papa karena sibuk kerja tapi yg aku inget papaku hadir saat bagi raport
Allahumma Firlahu Warhamhu Wa’afihi Wa’fuanhu.
Semoga Bapak rahimahullah ditempatkan di tempat terbaikNya, ka..
Ikut terharuu membacanya…
Karena aku juga sudah kehilangan Ayahanda tercinta di bulan Januari 2017.
Rasanyaaa.. patah hatikuu. Gak bisa ngapa-ngapaiin dan memang gak mau ngapa-ngapain selama kurang lebih 6 bulan.
Sepatah ituu.. padahal aku sudah diantar sampai menikah dan Bapak rahimahullah sudah sempat merawat kedua anakku.
Tapi tetap yaah.. namanya kehilangan sosok Bapak ituu.. serasa benteng utama seorang anak perempuan, rubuh seketika. Gak ada tempat berlindung yang paling aman.. dan yaah, gak ada memanggil nama kita dengan suara paling hangaaatt di seluruh duniaaa..
Dalem banget, semoga rindunya segera terbayar tuntas dengan doa, Alfatihah. Saya tidak merasakan gimana kasih sayang bapak, karena saat umur masih kecil meninggal. Alfatihah.
SIAPA YANG NARUH BAWANG DI SINI?
bagus banget tulisannya :’)
Hiks… Semoga almarhum mendapat tempat di-sisiNya ya mbak.
Baca ini ngingetin bapakku juga yang udah nggak ada. Bapakku juga anak ke-4 tapi bungsu. Dan, bapak itu emang jadi orang pertama bagi anak untuk belajar arti tanggung jawab. ❤️❤️
Kisah tentang Bapak yang penuh kasih dan teladan ini membuat saya teringat sosok ayah sendiri. Terima kasih sudah berbagi kenangannya min.
Jujur, baca ini bikin berkaca-kaca. Aku jadi inget bapak masih ada tapi belum bisa bahagiain huhuhu. Surat ini penuh cinta dan kenangan yang hangat.
aku jadi ikutan kangen sama alm, bapakku huhuu apalagi kalau lg mumet banget hidupku… rasanya pengen jd anak lg, pengen ada yg ngarahin, yg ngeprovide yang ngeindungin apapun yg terjadi
Sosok bapak yang penyayang emang selalu bikin kangen ya kaka, semoga dengan doa kaka bisa mengobati kangennya ya