Mimpi yang Terhempas

krieeet …

Suara khas dipan tua yang menjerit menahan beban ketika kuhempaskan tubuh ke kasur, lumayan nyaring terdengar di telingaku di tengah sepi malam ini.

Dan sebagaimana biasanya, kuabaikan saja. Memang dipan tua ini seharusnya sudah lama ganti, tapi masih ada prioritas lain yang harus kuutamakan. Maka kunikmati saja suaranya sebagai pembunuh sepi di kontrakan sempit ini.

Aah…nyaman rasanya punggung lelahku bisa sejenak rehat setelah sesorean tadi duduk tegak di depan komputer menyelesaikan draft-draft tulisan. Naah..sekarang 2 tulisan paid job itu sudah terkirim, tinggal menunggu recehan honornya. Ya, sekedar recehan memang, namun sangat-sangat kusyukuri dan ku doakan untuk sering-sering datang menghampiriku…

Bip..bip…

Hmm, ada kabar apa dari dunia di luar sana? Kuraih ponsel yang telah kuabaikan sejak sore tadi dan baru saja berbunyi. Oh..rupanya ada banyak pesan dari tadi. Yang terbaru di grup kantor.

Alhamdulillah, gaji ke-13 yang kita tunggu-tunggu sudah cair, teman-teman..

Oh rupanya Pak Widi bendahara gaji memberikan pengumuman yang penting dan menggembirakan kami semua tentunya. Alhamdulilah…ada tambahan energi baru untuk menjalani hari beberapa pekan ke depan.

Pandanganku beralih dari ponsel ke komputer tua di atas meja di sudut kamar. Hei..setelah bertahun bertahan dan akhir-akhir ini semakin sering ngadat, sepertinya akhirnya kamu bisa pensiun, kawan.. Uang ekstra yang masuk rekening hari ini sepertinya cukup menggenapi tabungan untuk meminang penggantimu. Bukan barang baru tentunya, tapi insyaallah cukup lah untuk memperlancar pekerjaanku.

Bip..bip..

Kembali terdengar nada pesan masuk membuyarkan anganku. Kulirik ponselku, dari Abang.

Bagaimana, De? Kamu bisa bantu kami lagi kan?

Oh.. rupanya sudah ada beberapa pesan terkirim sebelumnya. Tentang sejumlah dana yang saat ini mereka butuhkan untuk memperpanjang kontrakan rumah.

Aku belum tahu bagaimana harus menjawabnya. Kuletakkan ponselku dan kupejamkan mata sejenak sambil berupaya melegakan dada yang tiba-tiba terasa sesak. Hai mimpi-mimpiku…apa kabarmu?

Beberapa waktu kemudian, ku raih lagi ponselku karena teringat tadi sempat kulihat di daftar pesan WA ada pula tanda pesan baru dari Ibu yang belum kubaca. Hmm..bahkan sebelum membacanya aku tahu bahwa pesan itu hanya akan makin menyesakkan dada. Tak ingin membacanya namun tak sanggup pula mengabaikannya.

De, adikmu bilang uang semesterannya sudah ditagih sementara uang pensiun ayahmu sudah habis buat bayar cicilan-cicilan. Kamu segera kirim ya..

Kembali mataku memejam. Tak kuasa menahan aliran hangat yang merembes dari sudut mata. Membawa pergi mimpi-mimpi, terhempas oleh kenyataan: tangan-kaki ku masih terbelenggu ikatan kasat mata dan entah sampai kapan!

La haula wala quwwata illa billahil aliyil adzim. Allahumma yassir wala tu’assir. Aamiin…

14 thoughts on “Mimpi yang Terhempas”

  1. Kalau bantu orang tua dan adik yang masih kuliah sih mungkin wajar ya
    Tapi klo bantu saudara yg sudah berumah tangga, mungkin bukan prioritas ya
    Kecuali memang kita dalam posisi berlebihan
    Kalau kita sendiri kekurangan, diri sendiri adalah yang paling utama untuk di bantu
    Berdasarkan pengalamanku yg sudah jadi sandwich generation selama 10 tahun
    Setelah adik adikku selesai kuliah dan punya pekerjaan, tugasku selesai
    Membantu orang tua akan dilakukan bersama-sama
    Bukan tanggung jawabku sendiri
    Just sharing 🙂

  2. huaaa menjadi sandwich generation memang gak mudah. Suamiku juga seperti ini (bahkan akhirnya aku) merasakannya sekarang. Ada perjuangan untuk ikhlas sementara rasanya juga bertarung dengan kenyataan yang ga nyaman.

    Semoga dimudahkan segalanya rejekinya ya mba. Aku dan suamiku pun sama, kita sama sama saling berdoa yaa

  3. Mau nolong, tapi kita sendiri pasti butuh yang namanya uang.
    Minimal untuk kebutuhan utama dan kehidupan sehari-hari.
    Menjadi sandwich generation memang gak pernah mudah yaa.. Ada perjuangan keikhlasan di sana yang bertarung dengan kenyataan pahit.

    Semoga semakin diluaskan rejekinya.
    Dibukakan pintu keberkahan dari mana saja.

    Amiin allahumma aamiin.

  4. Urusan minta tolong ini hal yang sensitif ya, apalagi terhadap keluarga. Terima kasih tulisannya Bu Tanti, jadi pengingat buat pembaca

  5. Rasanya berat, seperti orang lain tak tahu betapa susah payahnya kita bertahan karena hanya melihat ‘enak’nya saja dari kita.

    “Tak ingin membacanya namun tak sanggup pula mengabaikannya.”
    Semoga meski saat ini begini, hari esok ada banyak kebaikan yang jauh lebih banyak untuk diterima ya, kak. Semangat!

  6. Semangatt Mbaa..

    Di kala” mimpi yg kita capai harus dikubur dan terhenti mungkin di saat itu kita merasa gagal atau terhempas. Namun di sisi lain, kita bisa melihat senyuman dari yg tersayang yg sudah kita bantu.. Hug mba

  7. Perjuangan antara kebutuhan pribadi dan tanggung jawab keluarga memang nggak pernah mudah. Tapi di balik setiap helaan napas lelah itu, ada kekuatan luar biasa yang nggak semua orang punya. Terima kasih sudah berbagi, semoga selalu dimudahkan jalannya dan semoga mimpi-mimpinya tetap punya tempat untuk tumbuh, meski perlahan.

  8. #BigHug..
    Kadang ketika kita punya rezeki, ada saja mereka yang mendekat dan ketika rezeki sedang sepi, ada juga mereka yang berlari. Kalau sudah dengan saudara itu jawab “tidak” akan salah dan jawab “iya” pun bisa jadi beban ke diri sendiri.

    Maka kembali ke peminjam apakah ikhlas memberi, jika dirasa berat mungkin sudah saatnya untuk mengatakan “tidak” demi hubungan jangka panjang ke depannya. 🙂

  9. Jadi inget status kerabat saya, “Sekarang kalau demam, mimpinya adalah uangku dimintain banyak orang dan lagi sakit disuruh-suruh kerja.” Hiks. Memang tumbuh dewasa di tengah keluarga kurang mampu, atau orang tua yang baru berkembang, seperti itu.
    Mereka keluar dari keluarga petani atau buruh, lalu bertekad menyekolahkan anaknya tinggi, tapi tahunya kalau sekolah tinggi itu pasti bakal kaya. Kerja lebih mudah tapi penghasilan lebih besar.
    Begitulah pemikirannya. Jadi, generasi baru yang sekolah hingga perguruan tinggi atau malah SMA, lalu kerja, akan dianggap sangat sepatutnya membantu keluarga. Entah ortu atau adik-adiknya.
    Akan berbeda ceritanya jika orang tua sejak dulunya sudah sekolah tinggi, lalu pekerjaan mereka juga tetap. Minimal PNS gitu. Meski sepertinya di cerita di atas, bapaknya juga pensiunan ya, yang belum sejahtera.
    Pertanyaannya, “Ibunya selama ini ngapain?” Gak punya uang pensiun? Bukan menghakimi, tapi seringkali inilah persoalannya. Generasi orang tua yang mengesampingkan pentingnya karir bagi seorang istri. Kalau kepeleset sedikit, sang ibu yang seumur hidupnya melayani keluarga, mendidik anak-anak, mengurus suami dan anak, tapi pendapatan suaminya juga pas-pasan, setidaknya akan bergantung ke anak pada akhirnya. Toh selama ini aku juga ga kerja demi anak-anak. Demi keluarga. Jadi, saat anak bekerja, saatnya minta tolong anak. Sudah tua sudah kehilangan ide dan kreatifitas. begitulah.
    Dan, inilah alasan saya di usia 35 tahun sekarang, masih terus mengusahakan produktif, terus mengusahakan karir dengan keras, supaya di saat tua nanti tak ada yang namanya “giliran minta tolong anak-anak, toh selama ini gak kerja demi mereka.”
    Wah kepanjangan, soalnya seru sih Kak bahas ini. Hehe. Yuk, pokoknya kita tutup sendwich generation dari kita. Jadi ibu yang berdaya, punya penghidupan di masa tua dan sehat. Semoga Allah kabulkan. Amiin.

    1. Terima kasih ya Kak.. Melihat di sekitar kita memang ada banyak fenomena ya. Kita ambil sisi positifnya, membuat kita bersyukur atas hidup kita dan juga terus berusaha tanpa pernah menyerah…

  10. Kadang hidup memang bisa sebercanda itu ya, apalagi kalau udah ngasih harapan terus dijatuhin. Tapi cerita ini relate banget, bikin mikir juga soal caranya kita bangkit lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *