Deretan 6 huruf 11 karakter itu pernah menghiasi status whatsapp ku pada 10 Juli 2021. Gambaran sebuah perasaan yang sore itu memenuhi hatiku, sepulang kami mengantar Ibu ke peristirahatan terakhir beliau.
Saat sampai kembali di rumah sore itu, melihat kursi teras tempat Ibu biasa duduk berjemur kala pagi, sofa panjang di ruang tamu yang sering jadi tempat istirahat favorit Ibu di siang hari, dan terutama saat melihat kamar tidur Ibu yang tak lagi berpenghuni…langsung saja perasaan kosong itu memenuhi hatiku, bersicepat dengan rasa rindu menyerbu dan tentu saja…pada akhirnya membuat banjir di mataku… 😭😭
Sore itu, merasa perlu mengurangi beban di hati dan gawai sedang dalam genggaman, maka medsos menjadi pelampiasanku. Kutuliskan satu kata di status WA dan sebait rindu dan kekosongan di FB dan Twitter. Ya ampuun…maafkan ke-lebay-anku..
Setelah menuliskannya aku merasa lega. Semacam rasa lega yang kurasakan tiap kali usai banjir air mata. Tujuan tulisan itu adalah pada diriku sendiri, terus terang aku tak memikirkan akan bagaimana respon orang membacanya. Bahkan tak peduli akan hal itu. Continue reading “Sekelumit Catatan Tentang Berduka”
Hai Sahabat, salam jumpa.. Apa kabar nih, Sahabat Lalang Ungu? Semoga tetap sehat dan bahagia ya, meski pandemi belum berlalu dan PPKM level 4 masih berlangsung.
Sahabat, bulan Juli hampir selalu identik dengan awal tahun ajaran baru bagi putera-puteri kita ya.. Sebuah bulan yang di awali dengan kehebohan bagi para orang tua terutama yang putera-puterinya hendak masuk ke jenjang pendidikan baru.
Memilih sekolah yang tepat memang harus benar-benar dipertimbangkan dari segala sisi ya.. Pemilihan kurikulum sekolah adalah salah satu yang menjadi bahan pertimbangan -utamanya bagi sekolah-sekolah swasta ataupun internasional- agar terdapat kesesuain kurikulum dengan tujuan pendidikan anak yang diharapkan orang tua.
Oya, pada hari Kamis 29 Juli 2021 lalu aku berkesempatan mengikuti seminar virtual yang diselenggarakan oleh sebuah sekolah internasional di Yogyakarta yaitu Yogyakarta Independent School (YIS). Seminar virtual itu bertujuan agar masyarakat umum lebih mengenal YIS yang merupakan satu-satunya sekolah internasional berkurikulum IB di Yogyakarta ini. Penasaran? Nah berikut ini akan kutuliskan pengenalanku terhadap YIS hasil dari seminar ini ya…
Labu Madu, tak hanya lezat juga kaya manfaat. Salam jumpa, Sahabat Lalang Ungu… Apa kabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya…
Bahagia itu penting karena konon bisa meningkatkan imun kita. Ya, upaya meningkatkan imun menjadi salah satu yang mendapat perhatian khusus akhir-akhir ini, antara lain melalui asupan makanan. Nah, kali ini aku ingin mengajak sahabat untuk berkenalan dengan salah satu buah yang konon sedang banyak diburu karena bisa meningkatkan imun kita : Labu Madu.
“Hai semua…pohon kesayangan kita rungkat baru saja…” 😭😭😭
Sebuah foto dan chat kakak dalam WAG keluarga kami di penghujung bulan Juni lalu cukup menghebohkan.
Yang pertama kami cari tahu saat membaca kabar itu adalah kondisi kakak sekeluarga saat itu dan apakah robohnya pohon tua itu menimbulkan kerusakan rumah kami maupun tetangga terdekat?
Alhamdulillah, kakak mengabarkan bahwa semua anggota keluarga baik-baik saja, tidak ada korban jiwa, hanya kerusakan di bagian teras samping, tanaman2 dan juga kabel listrik maupun telepon yang putus. Kami sangat bersyukur pohon besar itu roboh ke arah yang aman..
Baru kemudian kami mencerna lebih dalam berita dari kakak dan merasakan kehilangan. Rungkatnya pohon besar itu cukup mencengangkan. Pohon yang tumbang itu adalah pohon Nangka, entah sudah berapa umur tepatnya kami kurang tahu. Yang jelas pohon Nangka itu sudah cukup besar ketika kami mulai menghuni rumah di Tegalsari Semarang itu -sekitar awal tahun 1976- setelah kepindahan kami dari Salatiga.
Waktu berlalu dan pohon itu makin besar. Lengan-lengan kami tak lagi bisa memeluknya penuh. Sampai saat terakhir perlu lengan 2 orang dewasa untuk melingkari pokok pohonnya. Ia tumbuh membesar sebagaimana besar kenangan akan keriaan masa kecil kami.
Ya, pohon Nangka itu telah menjadi bagian dari cerita keluarga kami sejak awal kepindahan kami. Kenangan masa kecil kami berlima tak lepas dari keseruan bermain di bawah pohon itu. Rumah dengan pohon nangka besar, begitu selalu ancer-ancer yang kami berikan bila ada yang menanyakan rumah kami.
Setara dengan bentuk fisiknya yang besar, pohon nangka kami ini pun hampir selalu berbuah lebat sehingga tak hanya kami konsumsi sendiri namun juga dibagi-bagikan ke tetangga sekitar. Daging buahnya berwarna oranye, tebal dan manis. Bahkan dami/damen-nya pun tebal dan manis! 😋
Dan sekarang, pohon kesayangan kami sudah tak ada. Rungkat tanpa ada tanda-tanda sebelumnya. Oya, untuk teman-teman yang belum tahu, rungkat adalah istilah dalam bahasa daerah kami (Jawa), yang artinya tumbang/roboh dan tercerabut hingga ke akarnya. Kalau dalam bahasa daerah kalian, apa istilahnya?
Biasanya pohon rungkat saat hujan angin besar, karena pengaruh air yang melembekkan tanah sekitar pohon dan angin kencang seakan menggoyang pohon itu. Kejadian hujan-angin besar entah sudah tak terhitung menimpa pohon Nangka kami, dan ia tetap tegak selama ini dan sama sekali tak pernah membahayakan jiwa. Saat kejadian kemarin, tidak sedang hujan atau angin besar.. Mungkin memang sudah waktunya saja..
Tentu saja ada ‘cerita-cerita’ dari tetangga kanan-kiri yang terkait dengan peristiwa ini, namun kami tetap yakin bahwa peristiwa itu semata terjadi karena memang pohon sudah tua. Bukan pertanda apapun.
Sedih memang, tapi apa mau dikata. Dalam hidup kita harus siap melepaskan. Merelakan yang sudah saatnya pergi. Dan rasa sedih atas kehilangan pohon itu, makin tak ada artinya dibanding rasa sedih yang kami rasakan atas kehilangan lain yang kami alami kemudian. Rasa sedih dan kehilangan amat sangat saat ini sedang kami rasakan atas berpulangnya ibu kami tercinta, pekan lalu. Kembali kami harus belajar mengikhlaskan, meski pelajaran kali ini jauuuh lebih berat 😭😭😭😭
Ingin menuliskan banyaaak hal terkait ibu dan kepergian beliau ke pangkuan Illahi, namun rasanya belum sanggup. Biarlah kuendapkan dulu semua rasa ini..
Sahabat Lalang Ungu, demikian sekilas berita tentang rungkatnya pohon nangka kesayangan kami. Kalian punya pohon kesayangan juga kah? Pohon apa? Yuk, bagi ceritanya di kolom komen ya.. Terima kasih..
Hai Sahabat Lalang Ungu, apa kabar? Semoga semua sehat dan bahagia ya.. Hm, PPKM mulai lagi nih ya di daerah-daerah yang masuk zona merah. Jangan panik ya..jalani saja dengan gembira, insya Allah pasti ada manfaatnya.
Dua minggu di rumah, mau ngapain saja nih? Jalankan hobi salah satunya ya.. Atau bersih-bersih rumah? Apapun itu, lakukan dengan tetap gembira. Karena ngomel-ngomel tak baik buat kesehatan kita bukan? Hehe..
Yuk..olah sampah dapur menjadi pupuk
Yuk, kita cari kegiatan bermanfaat saja. Salah satunya, mengolah limbah dapur menjadi lebih bermanfaat, yaitu sebagai pupuk organik bagi tanaman-tanaman kita. Nah, melalui tulisan ini akan kuuraikan caranya ya..
Blaaar… Selarik pesan dari keponakanku lewat WA di awal minggu lalu cukup mengejutkan meski hal itu mengkonfirmasi kecurigaan yang kami rasakan sebelumnya. Sebenarnya, ayahnya yang sudah lebih dahulu batuk-pilek sekitar semingguan belum juga sembuh namun sulit diminta periksa.
Lalu setelah dibujuk-bujuk sedemikian rupa dan diantara yang serumah juga mulai menunjukkan gejala batuk akhirnya mereka sekeluarga periksa ke RS. Ibunya yang pertama di-swab dan terkonfirmasi positif, lalu berturut semuanya terkonfirmasi sama. Lima orang sekeluarga: ayah, ibu dan 3 anak (2 remaja akhir dan 1 kanak-kanak) 😢
Mengetahui berita ini, kami sedih tentu saja. Sedih dan khawatir karena tidak tahu pasti bagaimana kondisi sebenarnya, meskipun sekeluarga diminta untuk isolasi mandiri di rumah saja karena hasil pemeriksaan awal di RS waktu itu tidak merujuk ke kondisi gawat darurat.
Kunjungan petugas puskesmas setempat
Yang kami khawatirkan karena kakakku (sang ayah) mempunyai riwayat penyakit batu ginjal yang cukup kronis, di samping usianya yang masuk kategori Lansia awal. Juga usia si bungsu yang masih 5 tahun itu.
Dukungan Apa Yang Bisa Kita Berikan Saat Kerabat Harus Isolasi Mandiri?
Tulisan kita lah yang akan mengekalkan kita, meski kelak kita tak lagi ada di dunia ini. (Indari Mastuti, 2021)
Petikan pernyataan Teh Indari Mastuti Sang Founder Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) yang kudengar kemarin saat mengikuti puncak acara Festival Perempuan 2021, sangat mengena di hatiku. Menyemangatiku untuk terus menulis dan menulis.
Dan jujur ku harus nyatakan di sini, bukan hanya sepenggal kalimat itu saja yang menginspirasiku. Masih banyak petikan-petikan kalimat maupun tips-tips dari para pembicara sepanjang acara tersebut yang inspiratif dan memberi pencerahan bagiku. Ah, begini saja.. Berikut ini, akan kutuliskan pengalamanku mengikuti puncak acara Festival Perempuan 2021 yang berlangsung secara virtual pada Sabtu, 19 Juni 2021 lalu ya..
Hai Sahabat Lalang Ungu, jumpa lagi kita ya… Kali ini aku akan menuliskan pengalamanku mengikuti webinar yang mengangkat tema “Refleksi Pendidikan Indonesia: Di antara PJJ dan PTM” beberapa waktu lalu. Webinar melalui zoom meeting yang berlangsung pada Sabtu 5 Juni 2021 lalu diselenggarakan oleh PT Faber -Castell dengan narasumber pemerhati pendidikan Ibu Saufi Sauniawati dan Bapak Christian Herawan (Product Manajer PT Faber-Castell Insternational Indonesia) dan dimoderatori oleh Bapak Andri Kurniawan (PR Manajer PT Faber-Castell International Indonesia).
Bu Saufi dalam Webinar Refleksi Pendidikan Indonesia : Di antara PTM : PJJ
Wah, acaranya sungguh menarik lho.. Diikuti oleh sekitar 200 peserta yang terdiri dari praktisi pendidikan, media dan juga blogger. Diawali dengan penayangan petikan pidato dari Bapak Nadiem Makarim Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI dengan poin penting antara lain telah diperbolehkannya Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas sejak Januari 2021 tentunya bagi sekolah-sekolah yang memungkinkan untuk itu dan tetap mengedepankan penerapan protokol kesehatan.
Ada banyak tanggapan baik pro maupun kontra atas kebijakan pemerintah ini, dan memang ada poin lain dari kebijakan tersebut yang intinya orang tua dapat memilih bagi anaknya untuk melakukan PTM terbatas atau tetap Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Sepertinya rata-rata orang tua masih memilih untuk PJJ bagi anak, meskipun ada banyak kendala. Wah, acara kemarin banyak buibu yang curhat niih..hehe.. Tapi bagus juga, peserta lain yang punya masalah sama jadi bisa mengetahui solusinya dari pembahasan yang diberikan dengan runtut dan detil oleh Bu Saufi. Jempool deh untuk beliau yang selain pemerhati pendidikan juga mengalami sendiri suka dukanya mendampingi anak-anak PJJ. Jadi nyambung banget deh pembahasan antara narasumber dan peserta ini saat membahas kendala-kendala dalam PJJ atau KBM DARING.
Sahabat Lalang Ungu, masih ingatkah saat pertama kali mendapatkan menstruasi? Pada umur berapa dan bagaimana perasaannya saat itu? Apakah sebelumnya sahabat sudah mengetahui tentang seluk beluk menstruasi dan perawatan tubuh saat mengalaminya?
Ah, maafkan… Baru ketemu sudah kasih pertanyaan yang banyak ya? hehe… Iya nih, aku jadi penasaran tentang hal ini setelah beberapa hari lalu berkesempatan mengikuti webinar Sehat dan Bersih Saat Menstruasi. Dari webinar itu aku semakin tahu mengenai banyak hal terkait menstruasi termasuk pentingnya komunikasi antara ibu dan anak tentang Manajemen Kebersihan Menstruasi.
Oya, kalau aku sendiri sih mendapatkan menstruasi pertama saat kelas 1 SMP awal, agak kaget ketika pertama kali mendapati bercak darah saat ke toilet, meskipun kemudian berusaha menenangkan diri bahwa itu bukan penyakit karena sebelumnya ibu dan kakak-kakak perempuanku sudah menjelaskan mengenai menstruasi kepadaku. Lucunya, saat pertama itu kuingat baik sampai saat ini karena kebetulan sejak beberapa hari sebelumnya latihan lagu “Ambilkan Bulan” untuk acara di sekolah. Haha….sebenarnya nggak ada hubungannya sih, tapi kok ya kebetulan banget 😀 Nah itu sekelumit pengalamanku saat menarche alias menstruasi pertama. Bagaimana dengan pengalaman teman-teman?
Sahabat, di tulisan kali ini aku akan menuliskan pengalamanku mengikuti webinar Sehat & Bersih Saat Menstruasi dan beberapa materi penting yang kudapatkan dari webinar ini.
“Ini lho mba, pisang yang dibeli kemarin. Masih sisa beberapa tapi sudah kelewat mateng begini..dibuang saja ya?”
“Eh jangan dibuang.. Itu masih bisa dimakan, sayang kan..”
“Kulitnya sudah mulai menghitam dan dagingnya lembek lho mbaa.. Gimana makannya, megangnya saja susah?”
“Kita olah saja yuuk..”
***
Hai Sahabat Lalang Ungu..apa kabar? Semoga senantiasa sehat dan berbahagia yaa.. Pernahkah teman-teman mengalami hal seperti kutipan percakapan di atas? Punya pisang yang penampilannya sudah tidak bagus lagi karena terlalu matang, tapi merasa sayang untuk membuangnya karena memang masih bisa dimakan?