Tanggal 1 April merupakan Hari Jadi Kota Pekalongan. Dan kemarin, Jumat tanggal 1 April 2016 merupakan HUT ke 110 Kota Pekalongan. Jadi jangan heran kalau sekarang-sekarang ini kami sedang heboh merayakan HUT Kota Batik tercinta. Rakhat wis pokoke..!
Apa itu rakhat?
RAKHAT adalah istilah khasnya Wong’kalongan yang artinya : ramai, menyenangkan dan penuh kebersamaan. Kalau kata Pak Gub Ganjar Pranowo sih, Gayeng… š
Sesuai dengan tagline pasangan Walikota & Wakil Walikota saat ini yaitu Brayan Urip & Brayan Kerja, maka kegiatan perayaan HUT Kota Pekalongan mulai tahun ini lebih melibatkan masyarakat yang diwakili oleh komunitas-komunitas budaya yang ada di Kota Pekalongan. Tepatnya ada 21 komunitas masyarakat yang terlibat dalam perayaan HUT ke 110 Kota Pekalongan di tahun ini yang mengusung tema “Kreativitas dan Keragaman Budaya Penggerak Ekonomi Menuju Pekalongan Lebih Sejahtera”.
Wuiih…kangen banget nulis di sini, setelah 2 bulan tidak apdet…hiks.. *bersih-bersih debu di Beranda..
OK deeh, mumpung proposal sudah jadi, dan kerjaan rumah juga masih aman terkendali, langsung deh mau nulis tentang perjalanan ke Malang kemarin..
Kemarin??
Hehe… Akhir tahun kemarin, tepatnya ! Iyaaa…memang sudah telaaat byanget nulisnya, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, kan?? š
Meskipun tanpa perencanaan yang matang seperti sebelum-sebelumnya, libur beberapa hari di akhir tahun kemarin akhirnya kami gunakan sebagai kesempatan jalan bareng yang sudah lama ingin kita lakukan, tapi tertunda-tunda terus.
Aku, Ibu, kakak berserta suami & putranya, serta 2 orang keponakan, itulah peserta jalan-jalan dadakan di akhir tahun kemarin. Tujuan utamanya adalah ke Museum Angkut, karena ABG-ABG itu sudahĀ kepincutĀ dengan cerita teman-temannya yang sudah ke sana sebelumnya.
Di awali dengan kehebohan mencari penginapan, karena mendadak sehingga tidak bisa memilih-milih lagi, rata-rata hotel / penginapan yang kami kontak sudah full book, mengingat saat itu memang high season kalau kata orang pariwisata..hehe..Ā Syukurlah, setelah klak-klik di inet, akhirnya berhasil mendapat 1 villa yang masih bisa di sewa, meskipun dengan harga 2x lipat biasanya.. *fyuuh…perjuangan pertama berhasil…
Dari Semarang kami berangkat sebelum subuh, dengan niat jalan-jalan dengan santai dan tidak ngoyo mengejar waktu.Ā Oleh karena itu, perjalanan darat Semarang – Batu itu penuh dengan jeda istirahat…hehe…
Perhentian pertama di sebuah masjid di perbatasan Kota Salatiga, untuk melaksanakan sholat subuh di sana. Brrr…dingiiiin… Sudah lama tak merasakan air sejuk kota kelahiran, kami agak kaget ketika merasakan air wudhu di masjid yang bersih dan nyaman itu.
Awal pagi di sekitar Boyolali
Perhentian kedua, di sekitar Boyolali, karena ibu melihat ada beberapa penjual Bubur Jangan di sekitar sana. OK deh… beli sarapan dulu kita…
Waah…, lama juga off dari kegiatan tulis menulis di sini, hingga cerita tentang keseruan offroad di lereng Merapi jadi terkatung-katung..hehe.. Maafkan, yaa…Ā OK deh, mumpung ada waktu, langsung saja kuteruskan cerita itu yaa…
Setelah puas menikmati pemandangan di sekitar lokasi Batu Alien kami pun kembali menaiki jeep wisata, menuju perhentian terakhir offroad pagi itu :
Museum Mini Sisa Hartaku
Setelah melalui jalan berliku dan naik-turun dari lokasi Batu Alien tepatnya di dusun Jambu Kepuharjo Cangringan itu, akhirnya kami pun sampai di Dusun Petung, masih di Desa Kepuharjo Cangkringan yang menjadi lokasi MUSEUM MINI SISA HARTAKU .
Jangan bayangkan sebuah gedung mentereng ya… Yang mereka sebut Museum Mini itu adalah sebuah rumah sederhana, yang menyimpan benda-benda sisa harta mereka setelah erupsi Merapi 2010 itu.
Sebelum memasuki museum mini tersebut, pengunjung disambut dengan kios-kios yang menawarkan souvenir Merapi sebagai kenang-kenangan. Ada foto-foto erupsi Merapi, aneka T-shirt, topi-topi dll. Pengunjung dapat membeli sebagai kenangan sekaligus membantu warga di sana …
Yuhuuu….kita lanjutkan cerita offroad kemarin yaa…
Batu Alien
Dari Kaliadem, mas sopir membawa kami menuju lokasi berikutnya. Perjalanan semakin menyenangkan karena mentari telah muncul sehingga kami tak lagi berkendara melewati medan yang ‘wow’ dalam keremangan subuh yang bikin deg-degan itu…
Pemandangan menuju Dusun Jambu di lereng Merapi
Kanan-kiri jalan terlihat sudah ditumbuhi pepohonan nan menghijau, tak lagi tampak kegersangan bekas erupsi Merapi tahun 2010 lalu, kecuali puing-puing rumah atau bangunan yang dibiarkan mangkrak begitu saja.
Beberapa kali jeep berhenti di lokasi bekas pemukiman, yang tinggal reruntuhan bangunan-bangunan diantara semak belukar, pengingat tragedi yang membawa rasa haru dan duka…
Reruntuhan di antara sesemakan…
Lalu akhirnya kami sampai di Dusun Jambu, Desa Kepuharjo, Kec Cangkringan, Sleman. Eks dusun, tepatnya…karena di lokasi itu tak ada lagi pemukiman, hanya sebidangĀ ara-ara / tanah lapang di tepiĀ Kali GendolĀ – sungai utama yang menjadi jalur material erupsi Merapi.
Jam baru sedikit lewat dari pukul 3 pagi ketika bus wisata yang kami tumpangi dari Pekalongan berhenti, dan mbak Via – Sang pemanduĀ – membangunkan kami dengan menyalakan lampu dalam bus.
“Mohon perhatian, Bapak dan Ibu… Kita telah sampai di tujuan pertama kita yaitu di Basecamp 86..” begitu pemberitahuannya kepada kami.
Aah…, sudah sampai di kaki Merapi??
Bergegas kami menegakkan tubuh di tempat duduk masing-masing, dengan penuh antisipasi. Namun, ketika mengintip keluar jendela… hanya keremangan yang tampak di sekitar bus. Hiii… pasti dingin di luar sana, bukan??
Akhirnya setelah nyawa terkumpul sepenuhnya kami pun mulai keluar satu persatu dari bus yang nyaman itu, menuju…toilet! hehe…
Setelah menyelesaikan kebutuhan pagi itu, kami pun bersama-sama menuju mushola kecil yang ada di lokasi basecamp tersebut, bersiap menunggu adzan subuh untuk kemudian sholat berjamaah di sana.
Sesudahnya, kami pun bersiap memulai perjalanan offroadĀ Lava tour Merapi paket sunrise itu. Kostum anti dingin sudah dikenakan : jaket tebal, kaus tangan, kaus kaki, topi penghangat plus masker yang dibagikan pendamping sebagai penahan dingin maupun debu-debu vulkanik dan kamipun menaiki jeep-jeep yang sudah siap sedia. Masing-masing jeep berisi 4 orang, dan lepas subuh pagi itu keseruan offroad pun dimulai!!Ā eng-ing-eeeng…. š
Lewat subuh, start dari Basecamp 86
Agak deg-degan rasanya ketika sopir memacu mobil dengan laju, melewati jalanan sempit yang berkelok tajam, naik-turun dan…tentu saja melewati medan yang cukup mengocok perut alias gronjalan!Ā Dalam hati akupun berdoa semoga tak turun hujan pagi itu, karena aku tak membawa jas hujan dan akan sangat mustahil untuk mengembangkan payung yang kubawa bila hujan turun selama perjalanan yang WOW itu…
Perhentian pertama adalah bunker di Kaliadem.Ā Ya, sebuah tempat perlindungan yang menjadi tempat kejadian meninggalnya 2 orang relawan karena panas yang sangat tinggi berhasil menembus bunker pada saat erupsi 2006 dan pernah tertimbun material erupsi merapi tahun 2010. Saat ini bunker tersebut telah dibuka kembali dan menjadi salah satu tujuan wisata Lava di lereng Merapi ini.
Inilah penampakan bunker itu di dini hari…Wiii… ada juga yg berani masuk ke bunker dini hari begitu!
Di sekitar bunker itu kalau siang rupanya sudah banyak penjaja makanan & minuman, terlihat dari lokasi-lokasi tempat warung-warung tenda tersebut, namun pagi itu tentu saja belum ada warung yang buka.Ā Setelah melihat bunker – tentu saja dari luar..hehe..- kami pun mendaki bukit di atas bunker tersebut, sementara kabut masih cukup tebal dan membuat kami was-was apakah sunrise akan bisa kami saksikan dengan baik…
Aah…. ternyata sudah sebulan tak merangkai kata di rumah maya ini … Hm, kangeeen… *ambil sulakĀ untuk membersihkan debu & sawang di blog ini. Untung musim hujan belum benar-benar datang..bisa-bisa lumuten blog ini, hihi…
OK deh, kali ini aku ingin bercerita tentang perjalanan dengan Kereta Api beberapa waktu lalu.Ā Apakah itu perjalanan pertamaku naik KA?
Bukaaan… Tentu saja sudah sering aku melakukan perjalanan dengan KA karena akhir-akhir ini KA menjadi favoritku sebab semakin nyaman dan mudah mendapatkan tiketnya. Namun, perjalananku berkereta-api kemarin itu, adalah perjalanan pertama ke Surakarta dengan Kereta Api.
Ya, aku memang sudah lama mendengar adanya jadwal KA Surakarta / Solo – Semarang PP, namun baru sempat mencobanya beberapa hari yang lalu, ketika mendadak mendapat tugas ke Solo, dengan jadwal acara dimulai pukul 12 siang.
Dari Pekalongan, aku menumpang KA Kaligung Mas start dari Stasiun Pekalongan jam 6 pagi, sengaja memesan tempat duduk di sebelah jendela, agar bisa menikmati pemandangan sepanjang perjalanan, terutama hamparan laut Ujung Negoro (Kab. Batang)Ā yang dapat kita nikmati dalam perjalanan Pekalongan – Semarang.
Pantai Ujung Negoro dari balik jendela Kaligung Mas
Suara daun pintu terbanting yang terdengar hingga ke teras rumah, membuat Bu Winda mengerutkan kening, lalu menghela nafas panjang.
āNgambeg lagi ya, Bu ?ā Tanya Bi Inah ketika membukakan pintu.
Bu Winda mengangguk sambil masuk rumah. Diletakkannya tas tangan di kursi tamu, lalu diliriknya sekilas kamar Dani āanak bungsunya- yang tertutup rapat.
Kang Maman Suherman berbagi inspirasi tentang Jurnalisme Warga di Kelas ke-47 Akber Pekalongan
Akademi Berbagi adalah sebuah gerakan sosial pendidikan, wadah belajar, berbagi ilmu pengetahuan, ketrampilan dan inspirasi, yang telah ada sejak tahun 2010 dan saat ini telah ada di 28 kota se-Indonesia.
Teman, hari Batik memang sudah lama berlalu, di awal bulan ini -tepatnya pada 2 Oktober lalu- namun izinkan aku menuliskan kembali meriahnya acara peringatan Hari Batik Nasional th 2015 di Kota Batik Pekalongan …
Meriahnya Hari Batik 2015 di Kota Batik
Sudah menjadi agenda rutin Kota Pekalongan untuk memperingati Hari Batik Nasional yang ditetapkan setiap 2 Oktober tersebut. Pada tahun-tahun kemarin, peringatan Hari Batik di Kota Pekalongan dirayakan dengan Lomba-lomba, Karnaval Batik dan Pekan Batik. Namun, pada tahun 2015 ini karnaval Batik dan Pekan Batik sudah dilaksanakan sebelumnya pada akhir Juli 2015 lalu bersamaan denga pelaksanaan Gelar Karya TTG Th 2015 di Kota Pekalongan. Continue reading “Meriahnya Hari Batik di Kota Batik”
Sudah cukup lama aku tertarik dengan Klenteng Sam Po Kong, salah satu destinasi wisata yang cukup terkenal di Kota Semarang itu. Terlebih karena sejak awal tahun ini hampir tiap hari minggu kulewati lokasinya yang terletak di Jl Simongan Raya No 129 Semarang itu.
Sayangnya, belum ada kesempatan untuk secara khusus mengunjungi petilasan Laksmana Zheng He / Cheng Ho yang kemudian dibangun sebagai kelentengĀ / tempat ibadah penganut Kong Hu Cu tersebut. Sudah banyak yang menceritakan / menuliskan / mengunggah foto-foto cantik kelenteng yang sering disebut juga Kelenteng Gedong Batu itu, membuatku makin penasaran untuk berkunjung ke sana. Merahnya, benar-benar menggoda š
Namun alhamdulillah… akhirnya beberapa waktu lalu Allah mengabulkan keinginanku, berkesempatan mengunjungi bangunan-bangunan yang didominasi warna merah itu meskipun hanya beberapa menit, karena hanya mampir saat perjalanan pulang dari Ngrembel denganĀ teman-teman waktu itu.
Dan inilah beberapa tampilan bangunan2 merah yang sempat kuabadikan di siang yang cukup terik waktu itu…