Jalan-jalan ke (calon) Pekalongan Mangrove Park

Pada tahun 2013 yang lalu, Menteri Kehutanan RI telah meresmikan Pusat Restorasi dan Pengembangan Mangrove (PPRM) yang merupakan bagian dari pembangunan kawasan agrowisata yaitu Pekalongan Mangrove Park.  Sudah cukup lama kami berkeinginan untuk mengunjunginya, namun kesempatan itu baru datang pada Sabtu, 28 Pebruari 2015 kemarin.

Berlokasi di Kelurahan Kandang Panjang Kec Pekalongan Utara Kota Pekalongan, kawasan ini semula adalah lahan tambak udang milik Dinas Pertanian Perikanan dan Kelautan Kota Pekalongan yang sudah tak produktif lagi dan akhirnya dikembangkan sebagai kawasan konservasi sekaligus tempat edukasi & wisata alam.

Sampai saat ini Pekalongan Mangrove Park memang belum selesai dibangun sehingga belum dibuka secara resmi. Namun masyarakat sekitar maupun pengunjung dari luar kota sudah diperbolehkan masuk ke lokasi agrowisata ini.

Ada apa di Pekalongan Mangrove Park ?

AIR

Continue reading “Jalan-jalan ke (calon) Pekalongan Mangrove Park”

Pagi di ujung Februari

Bersama mentari pembuka hari ini,

kembali kulantunkan syukurku pada NYA :

atas semua nikmat terkecap dan semua uji penguat hati,

semua bahagia yang mencerahkan serta duka yang menyadarkan,

semua mimpi yang menginspirasi,

juga realita penuh makna

Bersama mentari penanda pagi ini,

kembali kulantunkan doa-doa penuh pengharapan :

semoga semakin tegar menapaki jalan yang digariskan-NYA,

semakin pandai mengukir senyum para tercinta,

semakin bermanfaat bagi sesama,

dan semakin baik dari diri yang sebelumnya

Bersama terbitnya mentari penanda bilangan kali ini,

alhamdulillah Ya Rabb …

Pagi_laran

Menguak Dahsyatnya Ibadah Haji bersama Pakdhe Cholik

DIH

Judul Buku :

Dahsyatnya Ibadah Haji

(Catatan perjalanan ibadah di Makkah dan Madinah)

Penulis : Abdul Cholik

Jenis Buku : Motivasi Islami

Jumlah Halaman : ix + 233 halaman

Penerbit : PT Elex Media Komputindo

ISBN : 978-602-02-4810-3

Cetakan Pertama : 2014

Harga : Rp. 47.800,-

*** Continue reading “Menguak Dahsyatnya Ibadah Haji bersama Pakdhe Cholik”

Mendulang ilmu di ambang senja

Aku memang seorang pemimpi.

Ya, aku sadar banget akan hal itu. Jangan-jangan, bahkan sejak kecil aku sudah suka bermimpi, hehe …

Ketika waktu terus bergulir, kusadari telah banyak mimpiku yang sudah terwujud -alhamdulillah- namun masih saja banyaaak mimpi baru yang muncul … Haha … emang dasarnya tukang mimpi kali yaa .. 🙂

Mempunyai impian juga membuatku lebih bersemangat untuk maju, terus berupaya agar dapat meraih mimpi-mimpi itu.  Tak peduli betapa saat itu tampaknya impianku tak akan terwujud, tak peduli cibiran orang kanan-kiri, aku terus bermimpi, bermimpi dan berusaha berjuang mewujudkan mimpi.

Saat awal memimpikan kesempatan bertamu ke tanah suci, aku sempat gamang.  Kondisi saat itu terasa tak memungkinkan terwujudnya mimpi itu. Ada memang yang seolah mentertawakan mimpiku, tapi alhamdulillah banyak juga yang mendukung terwujudnya mimpiku.  Aku menguatkan tekad, mulai mencanangkan mimpi dan mendisiplinkan diri menabung untuk mewujudkan mimpi itu.  Alhamdulillah, Allah memberi begitu banyak kemudahan hingga akhirnya aku dapat mewujudkan mimpi itu. Bahkan perwujudan mimpi itu kemudian menjadi jalan bagi terwujudnya mimpiku yang lain, ketika dengan menuliskan pengalaman tersebut berhasil terwujudlah mimpiku menerbitkan buku! 🙂 Continue reading “Mendulang ilmu di ambang senja”

Dua penghuni (wajib) tasku saat jalan-jalan …

Ketika membaca cerita Chi tentang alasan / latar-belakang dia menjadikan sepatu sebagai benda yang wajib dibawanya saat jalan-jalan, aku sempat ketawa sendiri.  Hah, ternyata ada ya, yang punya kebiasaan seperti itu? Kebiasaan apa? Aah.. baca sendiri deh di tulisan Chi yang satu itu … hehe …

Lalu ketika akan menjawab pertanyaan Chi yang sekaligus menjadi tema GA pertamanya ini, awalnya aku pikir mudah saja. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi kok susah juga ya?

Benda apa yang wajib kau bawa saat jalan-jalan? begitu pertanyaan Chi itu.  Pertanyaan yang tampaknya mudah tapi ternyata -bagiku- jawabannya tak semudah yang kukira.

Kenapa?

Ya, karena ternyata setelah kuingat-ingat lagi, ada banyaaak benda yang biasanya kubawa saat bepergian ( makanya jarang bawa tas kecil ) hihi …

HP, charger dan powerbank ? Iya … tentu saja ketiganya harus dibawa tuuh … bisa kelabakan kalau gak bawa salah satunya, hehe …  Kamera? Naah, itu juga … Hobby ceprat-cepret membuatku selalu gatal ingin membawa kamera kemana-mana.  Tapi sayang kameraku yang sekarang bukan kamera saku sehingga agak susah dibawa-bawa di tas tenteng ukuran sedangku apalagi masuk saku.  Untunglah ada kamera HP, jadi tetap bisa menyalurkan hobby meski dengan kemampuan yang terbatas 🙂

Mungkin banyak di antara teman-teman yang seperti itu juga ya, karena memang benda-benda yang disebutkan di atas itu sudah umum untuk selalu di bawa-bawa saat bepergian, jadi jawaban dari pertanyaan Chi haruslah bukan dari benda-benda tersebut.

Jadi, benda khusus apa yang wajib kubawa saat bepergian / jalan-jalan, di luar keempat jenis benda di atas ? Continue reading “Dua penghuni (wajib) tasku saat jalan-jalan …”

Asyiknya jalan-jalan di Kaligua

Teman, sudah pernahkah mendengar tentang Perkebunan Teh Kaligua ?

Kaligua adalah kawasan agro wisata yang dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara Wilayah IX Jawa Tengah dan terletak di Desa Pandansari, Kec. Paguyangan Kab. Brebes  provinsi Jawa Tengah.

Sabtu ( 7 Peb 2015 ) kemarin kami berkesempatan jalan-jalan asyik di perkebunan teh Kaligua yang lokasinya terletak sekitar 10 km dari Kec Paguyangan Brebes, melalui jalur Pekalongan – Comal – Slawi – Bumiayu – Paguyangan – Kaligua.  Berangkat jam 7 pagi, dan ternyata sampai lokasi sudah jam 11.30! Wow.. cukup lama juga…

Dari pertigaan setelah pasar Paguyangan ke arah Kaligua
Dari pertigaan setelah pasar Paguyangan belok ke kiri ke arah Kaligua

Perjalanan cukup lancar sejak dari Pekalongan hingga pasar Paguyangan, lalu di pertigaan itu kami belok ke kiri … dan mulailah perjalanan naik-turun dan berkelok-kelok menuju lokasi perkebunan itu. Continue reading “Asyiknya jalan-jalan di Kaligua”

Logo baru Kota Pekalongan

Logo baru Kota Pekalongan
Logo baru Kota Pekalongan

Hari Jumat, 30 Januari 2015 yang lalu, ada acara Launching Logo Baru Kota Pekalongan di halaman kantor Sekretariat Pemkot Pekalongan Jl. Mataram No 1 Pekalongan.

Acara berlangsung seru dan meriah, diawali dengan sepeda santai yang finish di halaman Setda Kota Pekalongan, pengunjung berbaur antara unsur-unsur masyarakat dan aparat Pemkot Pekalongan, mangayubagyo logo baru Kota Pekaongan yang telah ditetapkan melalui Peraturan Daerah Kota Pekalongan No. 10 tahun 2014 dan resmi digunakan sejak 1 Januari 2015 ini.

Tak kenal maka tak sayang.  Itu pepatah yang sudah sering kita dengar.

Begitupun dengan logo baru ini, ada pro kontra di masyarakat, mungkin karena logo lama memang sudah sangat familiar -karena telah digunakan sejak tahun 1958- sehingga masih banyak yang  merasa asing dengan logo yang baru ini.

Nah, agar makin mengenal dan pada akhirnya timbul rasa sayang dan rasa memiliki logo baru ini, maka -khususnya kepada masyarakat Kota Pekalongan- mari kita kenali lebih jauh logo baru kota kita ini.

Continue reading “Logo baru Kota Pekalongan”

Antara Dea, Dodi dan sebuah nama

Beberapa waktu lalu, membuka-buka arsip lama & menemukan cerita berseri ini :

#1. Suatu sore di sebuah cafe

#2. Sore itu menjadi tak terduga

#3. Dan sore itu pun berlalu menyisakan sendu

#4. Back to the cafe, breaking the code

#5. Akhir sebuah kasus

Satu kasus memang sudah selesai, namun masih ada ‘kasus’ lain yang belum tuntas, bukan? Inginnya, kisah berikut ini menjadi pembuka kisah-kisah selanjutnya… 🙂

****

Dea masih asyik dengan bacaannya di cafe langganannya sore itu, ketika tiba-tiba nada detik terakhir-nya Lyla terdengar.  Sekilas diliriknya layar HP dan ketika melihat identitas penelpon yang sama yang telah berkali-kali menelponnya seharian itu, ia pun kembali asyik dengan bacaannya.

Dia masih saja asyik begitu ketika beberapa waktu kemudian suara detak sepatu di lantai keramik terdengar teratur menuju ke arahnya, dan sejurus kemudian sebuah tepukan lembut singgah di bahunya.

“Hai, Re… Kamu terlambat seperti biasanya,” sapanya pada karibnya yang memasang senyum tak bersalah di sebelahnya itu.

“Maaf, De… Pak Bos rewel betul hari ini, jadi tak bisa langsung kutinggalkan kantor begitu saja..” sahut Rere sambil menarik dan menduduki salah satu kursi di meja itu.

“Oya, Dodi berkali-kali menelponku… Masih belum mau menerima telpon darinya ya?” tanya Rere langsung dengan nada menyelidik.

Dea menghela nafas panjang, menutup novel yang dibacanya, lalu menyipitkan mata ke arah sahabatnya itu. Continue reading “Antara Dea, Dodi dan sebuah nama”

Mitos

Aku termangu…sebal!

“Sabar,Nez… Kata orang-orang, yang kedua biasanya memang lebih sulit..” ucapan sahabatku masih terngiang..

Akhir-akhir ini aku sering mendengar kalimat itu. Aah, itu hanya mitos bukan? Tak selalu yang kedua lebih sulit dari yang pertama, bukan? Tapi…

Rasanya, dulu memang tak sesukar kini. Semua seolah mengalir begitu saja. Selaksa syukur senantiasa kupanjatkan atas semua kelancaran dan kemudahan waktu itu… Continue reading “Mitos”

Ngilo githoke dhewe

Ngiloa githokmu dhewe” .  Kanca, apa nate krungu tembung iku? Utawa malah nate ngucap marang kanca liyane?

Mbok menawa isih akeh kanca sing babar blas durung nate krungu tembung pitutur iku. Ngilo -yaiku nyawang nganggo kaca pangilon- githoke dhewe, iku angel bisane kelakon, butuh kanca / wong liya kang ngewangi supaya kita kelakon bisa ngilo githoke dhewe.

Semono uga ing panguripan iki, ora gampang mbiji awake dhewe utawa metani kesalahane dhewe, biasane butuh wong liya kang nuduhke kesalahane ndhewe.  Mula, aja susah apa maneh nesu yen ana kang nuduhake kesalahane ndhewe, malah kudune dhewe matur nuwun marang kanca / uwong iku.

Ya, iku sing lagi tak alami dina iki. Ana kanca sing gelem nuduhake kesalahanku.  Sepisanan pancen rasane mak peng! kaya ketampek rasane… Rumangsa nelangsa amarga apa sing sak lawase iki tak perjuwangke jebule ora ditampa bener marang liyan -mbok menawa ana sing rumangsa lara ati, aku nyuwun pangapura. Nanging aku banjur matur kesuwun marang kanca iku, amarga aku dadi ngerti menawa isih ana kaluputan sing kudu tak dandani…

Kedadeyan iki dadi pasinaon urip kang wigati kanggoku, dielingke maneh yen manungsa pancen kudu bisa rumangsa, ning aja rumangsa bisa… Alhamdulillah.., Jemuah barokah 🙂

*** Continue reading “Ngilo githoke dhewe”