Hari ini di saat banyak yg menulis tentang sosok wanita inspiratif, ingatanku langsung tertuju padamu.
Teringat kedekatan kita di masa remaja. Saat ketika aku ragu-ragu memilih kota yang akan menjadi tempat kuliah, lebih memilih Solo dibanding Bogor karena tak yakin diperbolehkan Bapak bila memilih kota hujan yang lebih jauh itu. Kaulah yang meyakinkan kami untuk berubah pikiran.
“Sudah waktunya dia belajar mandiri, Pak. Kita harus yakin dia mampu..” begitu argumenmu kepada orang-tua kita untuk ‘melepas’ku kala itu.. Sampai kini kuyakin dukunganmu itu berperan besar dalam turunnya restu Bapak-ibu kala itu, restu yg membuka dunia baruku.
Jauh sebelum itu, kau pun telah memperjuangkan pilihanmu masuk kedokteran, berani menempuh perjalanan ke pulau seberang untuk menempuh ujian negara yg menentukan, keteguhan & kemandirianmu sebagai wanita muda yg menjadi contoh bagi kami, adik-adikmu. Continue reading “Untukmu, Kartiniku”





