CerKak a la Pakdhe

Sore-sore krasa atis amarga nang njaba isih udan kawit mau awan, mbuka ‘efbe’  lha kok nemu wara-wara saka Pakdhe sing lagi nganaake bagi-bagi hadiah alias ‘Giveaway’ utawa uga kerep disingkat ‘GA’.

GA-ne Pakde sing iki ‘unik’ lho…beda karo liyane.   (Eh, yo mesti wae yo… dudu Pakdhe asmane nek nganaake GA sing biasa-biasa wae..hehe) 😀

Apa istimewane GA Pakdhe siji iki?

Judule wae ‘Giveaway 2 Hari‘, dadi tantangane yo wektune sing mung rong ndina alias mefeeet byanget iku…hehe…

Langsung wae aku ngobrak-abrik blog ‘Cak Cholik’ kagungane Pakdhe iku kanggo golek tulisan sing arep tak tanggapi.  Ndilalah  kok nemu tulisan sing judule wae wis langsung narik kawigatenku : SMS Bocor bikin tekor.

Aku pancen seneng yen maca seratane Pakde sing model ‘CerKak’ alias Cerita Cekak ngono iku. Ceritane ora ngayawara, nyritaake kedaden-kedaden sing kerep awake dhewe temoni ing urip sakdina-dinane. Gaya-basane enteng, gampang dimangerteni  lan kerep uga nyisipake geguyonan nanging ora ngilangake arti / pesen sing dikarepake.  Siji maneh sing marakake Cerkak-cerkake Pakde nyenengake diwaca lan ora mboseni, yaiku olehe milih jeneng-jeneng paragane. Kadang dipilihke saka basa jawa… dadi nek diterjemahke (sing ngerti) jan lucuuu pwool…marai ngakak ra uwis-uwis.. hehe…

Cerkak sing judule ‘SMS Bocor Bikin Tekor’ iku, nyritakake Raymoe sing karepe nraktir 3 kanca cedhake (Rabulusa, Ahadiki & Setuwingi) nanging kepeksa dadi tekor amarga ndadak mbayari ‘tamu tak diundang’ sing akehe luwih saka 20!  Lha kok bisa? Jebule kedadeyan iku disebabake bocore undangan sing lewat sms.

Sing tak tangkep saka cerita iki : (1) aja nggawa dhuwit pas-pasan yen arep nraktir kanca, sapa ngerti ana kebutuhan ndadak.  (2) yen ora diundang yo ora sah mara…apa maneh teka rombongan… melas tuan-omahe… hehe… *upps, ngapunten, Pakdhe… niki penangkepan kula sing cethek… hihi…

Pakdhe, cekap semanten tanggapan kula kangge salah setunggal seratanipun Pakdhe ing Blog ‘Cak Cholik’… mugi-mugi saged dipun tampi  🙂

Januari

Hujan turun hampir tiap hari: pagi, sore hingga malam, begitu pula pada hari Kamis, 16 Januari 2014 lalu. Walhasil keesokan paginya -Jum’at 17 Januari 2014 – ketika aku melongok ke luar rumah terlihat jalan di depan rumah sudah ‘disulap’ menjadi ‘sungai’ kecil nan panjaaaang… 🙁

Waduuh! bagaimana caraku pergi ke kantor? Maklum, motor yang dipinjamkan padaku sudah lumayan berumur (hehe) dan sangat mengkhawatirkan bila harus melalui ‘sungai’ yang baru terbentuk itu.  Kalau memaksa mengendarainya, bisa-bisa aku harus melakukan olah raga ‘dorong montor’ di pagi itu! hehe…

Sambil menyiapkan sarapan, kudengar adik-adikku wira-wiri ke halaman, sibuk nge-cek ketinggian air yang semakin merambat naik  seiring dengan hujan yang masih saja deras di pagi itu.  Alhamdulillah, air hanya sampai di batas halaman, kecuali bila ada kendaraan lewat maka barulah air itu bagai ombak menepi di tepi pantai….datang memesrai halaman rumah kami… *halah, bahasane rek..hehe…

Beberapa ruas jalan yang berubah menjadi sungai... (Foto minjam dr Diajeng Cii Yuniaty)
Beberapa ruas jalan yang berubah menjadi sungai… (Foto minjam dr Diajeng Cii Yuniaty)

Kemudian akupun bergabung dengan adikku di teras rumah kami, sambil berbagi informasi dengan para bapak tetangga kami yang juga krubyukan sambil berpayung-ria, asyik  memantau perkembangan limpahan air di lingkungan rumah kami.  Eh, kapan lagi lihat pemandangan para bapak ngerumpi di bawah payung warna-warni? 😀

'Sungai dadakan' di depan & samping rumah
‘Sungai dadakan’ di depan & samping rumah

Lalu ketika melihat diantara mereka ada pak becak yang biasa mangkal di perempatan itu, kamipun bertanya apa ia bisa mengantarku ke kantor.  Ternyata beberapa SD diliburkan pagi itu, hingga si bapak tak harus mengantar anak-anak ke sekolah dan free untuk  mengantarku ke kantor. Alhamdulillah…, masalah akomodasi ke kantor beres. Horee… 🙂

Maka akupun bergegas bersiap ke kantor,lalu dengan diantar oleh Pak Becak yang baik hati itu, menyusuri ‘sungai’ baru sepanjang depan rumah sampai ke kantor.. eh, serasa yuyu kangkang saja..haha…  Sampai dikantor baru aku sadar sudah salah kostum, ketika melihat teman2 berseragam Kopri sementra aku berbatik biasa… alamaaak, fokus ke masalah akomodasi jadi lalai dengan tanggal 17.. hehehe…

Seharian itu hujan setia menemani, hingga saat ku pulang kantor (masih menyusuri jalan yang berganti wajah jadi sungai), bahkan sampai sore hari ketika aku dijemput travel untuk ke Semarang.

Begitupun pagi ini, aku menikmati pagi di rumah masa kecil kami, masih ditemani rinai hujan yang enggan berhenti.  Untung ada teh hangat, teman terbaik ketika menikmati tarian air hujan yang memandikan tanaman dan halaman…. Eh, jadi ingat, aku belum berhasil memotret hujan dengan indah…  adakah teman yang tahu tips memotret air hujan? bagi-bagi di sini yaa…. *ngarep 🙂

Ya sudahlaah…, namanya juga JANUARIsaat hujan bersenang-senang turun (hampir) setiap hari… dinikmati saja, bukan? Semoga barokah… Oya, bagi teman yang sedang terkena musibah banjir semoga sabar yaa… insya Allah ada hikmah dibalik musibah…

Selamat akhir pekan, teman….  Eh, adakah  cara khususmu menikmati hujan, teman?

#Makasih Diajeng Cii’ Yuniaty untuk pinjaman fotonya 🙂

Ceritaku hari ini

Semalam hujan cukup deras mengguyur kota kami, sehingga meskipun belum terlalu malam, aku pengennya ngruntel  saja meskipun suara penyanyi & MC di hajatan tetangga cukup mengganggu juga. Alhamdulillah kantuk segera datang akibat dinginnya malam, maka akupun tertidur pulaaas sehingga pagi ini bisa bangun pagi dengan segar 🙂

Sesaat setelah usai menyapa Sang Pencipta, terdengar sms dan ternyata seorang sahabat mengajak jalan pagi mumpung libur. Kuintip keluar jendela, meskipun masih cukup gelap namun tampaknya hujan sudah benar-benar berhenti, maka akupun meng-iyakan ajakan itu.

Setelah olahraga pagi, sarapan sega megana, lalu sampai di rumah melihat halaman yang mulai njembrung lagi dan tanaman-tanamanku banyak yang daunnya gripis dimakan bekicot.  Maka akupun olahraga tangan, mengayun sapu lidi kesana kemari diakhiri dengan memainkan gunting membabat daun-daun yang sudah tak layak pandang itu. Iih..kasian beberapa tanamanku jadi agak gundul, tapi tak apalaah… masih musim hujan kan? jadi dengan siraman alami insya Allah akan segera tumbuh daun-daun baru dan mereka akan tampak cantik lagi… Continue reading “Ceritaku hari ini”

Perkenalanku dengan BPJS-Kes

BPJS -Kes ? Apa itu?

Sejak akhir tahun lalu sudah banyak spot iklan di TV yang mengenalkan program baru pemerintah ini.  Rupanya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial bidang Kesehatan  ini adalah transformasi dari ASKES dan Jamsostek ya..

Apa dan bagaimana BPJS Kesehatan itu dapatlah di-google rame-rame…, karena tulisan ini bukan membahas tentang hal itu.  Hanya sekedar berbagi pengalaman pertama berkenalan dengan program ini.

Sebenarnya aku sudah beberapa kali mengikuti sosialisasi tentang program ini, jadi sedikit banyak sudah ada persiapan ketika harus beralih dari pelayanan ASKES ke BPJS Kes ini.  Berdasarkan informasi yang kudapat, pada awal th 2014 sebagai masa peralihan ini, kartu ASKES  (juga kartu Jamkesmas ataupun Jamsostek ) lama masih berlaku sebelum kartu baru diterima.  Olehkarena itu dengan PD aku melangkah santai menuju RS dengan berbekal surat rujukan dari puskesmas & kartu lama itu.  Paling nanti prosesnya sama seperti biasanya, pikirku. Continue reading “Perkenalanku dengan BPJS-Kes”

Kawasan Rumah Pangan Lestari

Apa itu  Kawasan Rumah Pangan Lestari atau yang seringkali disingkat KRPL?

KRPL  adalah pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan, dalam suatu kawasan, untuk :

  1. Pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi keluarga;
  2. Peningkatan pendapatan keluarga;
  3. Meningkatkan kesejahteraan melalui partisipasi masyarakat.

Latar-belakang diadakannya Model KRPL ini adalah karena adanya 2 permasalahan, yaitu :

  1. Realisasi konsumsi masyarakat masih di bawah anjuran pemenuhan gizi;
  2. Perhatian terhadap pemanfaatan lahan pekarangan relatif masih terbatas.

Adapun tujuan pengembangan KRPL adalah :

  1. Memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan secara lestari.
  2. Meningkatkan kemampuan keluarga & masyarakat dalam pemanfaatan lahan pekarangan untuk budidaya tanaman pangan, buah, sayuran, tanaman obat, ternak, ikan, pengolahan hasil dan kompos.
  3. Mengembangkan sumber benih / bibit untuk menjaga keberlanjutan pemanfaatan pekarangan.
  4. Melestarikan tanaman pangan lokal untuk masa depan.
  5. Mengembangkan ekonomi produktif keluarga, hingga mampu meningkatkan kesejahteraan dan menciptakan lingkungan hijau, bersih dan sehat secara mandiri. Continue reading “Kawasan Rumah Pangan Lestari”

Anak SMA hidung belang

Cerita tentang anak SMA memang tak ada habisnya.  Mendengar kata anak SMA maka pikiranku akan melayang ke kenangan indah kala bersama teman-teman berkegiatan Pramuka masa SMA.  Tepatnya kami bergabung di Ambalan Gajah Mada dan Dewi Sartika yang berpangkalan di SMA Negeri I  Semarang.

Selalu banyak kegiatan luar ruang yang mengasyikkan, terutama saat liburan akhir semester tiba.  Selain keasyikan bersama teman-teman itu, oleh-oleh apa yang di dapat? Seringnya adalah kondisi hidung belang.  Ya, benar-benar hidung belang dalam arti yang sebenarnya lho… Kok bisa?

Naah.. ceritanya adalah, sebagai anggota Pramuka kami sering menghabiskan waktu beraktivitas di luar ruang pada cuaca panas maupun dingin. Naik truk bak terbuka (kecuali kalau hujan), hiking ataupun mencari jejak di siang hari nan terik, bersepeda ke sana kemari dari satu pos ke pos lain, dll… Tak ada masalah saat kegiatan berlangsung.  Topi tentunya digunakan, tapi seringkali pula terlepas ataupun terlupa… Hasilnya baru dirasakan setelah kegiatan selesai… Biasanya, sehari-dua hidung memerah, lalu berikutnya kulitnya sedikit terkelupas… maka jadilah kami Si Hidung Belang untuk beberapa hari.

Masalahkah itu buat kami? Membuat kapok dan tak ikut Pramuka lagi? Tentu tidaaak! 😀

Sangking asyiknya menikmati kebersamaan dengan teman-teman se-ambalan, maka kondisi itu hanya masalah kecil buat kami.  Toh bukan hal yang permanen…. maklum, sebagai  anak SMA kami memang lagi cuek-cueknya saat itu. Yang penting asyik, masalah penampilan nomer belakangan..haha….

Anak SMA
Pramuka, salah satu kegiatan anak SMA yang mengasyikkan meskipun sering membuat hidung belang…

Begitulah cerita tentang Anak SMA Hidung Belang.  Yang pasti, mengikuti ekskul Pramuka itu kegiatan positif, banyak pelajaran untuk pembentukan pribadi generasi muda, jadi sangat boleh ditiru… 🙂

Nah, itu cerita tentang anak SMA dariku… bagaimana cerita darimu?

Artikel ini turut mendukung gerakan PKK Warung Blogger

gerakan PKK WB

Catatan : Foto-foto dipinjam dari FBnya mbak Atik Kaswarganti -rekan seangkatan tersayang… Trims yo mbak…

Kilas balik

Seperti biasa di akhir tahun menjelang tahun berganti, selalu ada acara kilas balik di TV… eh, itu dulu ding, kalau sekarang entah masih atau tidak karena aku sudah semakin jaraaang nonton TV.

Nah, ceritanya aku juga mau nulis tentang kilas balik, tapi bukan kilas balik setahun kemarin, melainkan kilas balik liburan akhir tahun ataupun tahun baruan beberapa tahun kebelakang.  Untuk apa? Emm… sebagai kenangan saja sih, atau mungkin sebagai ganti karena akhir tahun ini sedang jadi tahanan kota alias gak boleh kemana-mana…jadinya berkelana di ranah kenangan saja,  haha… Continue reading “Kilas balik”

Topengnya Ragil

Masih cerita tentang aksi ragil-nya mbakku.

Suatu sore, Yangti sedang menyiram tanaman di pekarangan, ketika ada seorang tamu yang menanyakan Si Ragil. Yangti pun kemudian menemani ragil menerima tamu itu, yang ternyata seorang kurir pengantar barang pesanan ragil yang dibelinya secara onlen.  Si mas kurir itu sempat kaget ketika yang tahu yang memesan barangnya seorang anak SD bertubuh mungil.  Oya, barang apakah itu?

Ternyata sebuah topeng.

Yangti sempat agak marah ketika tahu harga topeng itu, merasa eman uang sejumlah itu untuk membeli barang yang -menurut Yangti- kurang berharga.  Sedangkan ragil dengan percaya dirinya bertahan bahwa  itu karya seni yang bagus. Lagi pula ia merasa tak bersalah karena membeli barang itu dengan uang tabungannya sendiri.  Akhirnya Yangti pun mengalah, meskipun masih merasa tak mengerti indahnya topeng itu..hehe…

Beberapa hari kemudian, si Ragil tiba-tiba keluar rumah setelah mendapat telepon.  Ketika pulang, ia menenteng sebuah bungkusan yang ternyata berisi topeng yang hampir sama dengan yang pertama.  Lho… apa dia beli lagi? kenapa nggak diantar ke rumah seperti kemarin?

Ternyata betul, ia memang memesan topeng lagi, dan kurir itu minta ketemu di luar rumah karena ‘takut’ dimarahi Eyang lagi… haha…. ada-ada saja si mas itu..padahal kan Yangti juga gak marah-marah sama dia waktu itu…

Sebelum si Eyang marah lagi karena dia membeli barang yang sama, si Ragil menjelaskan kepada Eyang bahwa itu bukan untuk disimpannya.  Itu pesanan seorang temannya yang tertarik melihat topengnya kemarin, sehingga minta dibelikan. Dan jiwa bisnis si Ragil mulai tumbuh rupanya, karena ia sudah menaikkan sedikit harga topeng itu…

“Berapa keuntungannya, De’?” tanya Yangti.

Diapun senyum-senyum saja… “Lumayan, Yang… Bisa buat beli pulsa…” begitu jawabnya enteng kepada Eyang.

Yangti pun urung marah, berganti menjadi geli karena ternyata cucu ragilnya  menuruni bakat dagangnya, hehe…

Suatu pagi, mobil keluarga mogok lagi.  Ini sudah yang kesekian kali.  Lalu si Sulung tiba-tiba nyeletuk, “Yah, ati-ati lho… Jangan-jangan, besuk-besuk ada yang datang karena mobil tua itu diiklankan Ragil di Toko Begus…”

Semua tertawa… tapi…. siapa tahu juga ya? 😀

Petualangan pertama Si Ragil

Minggu pagi, di rumah kakakku.

Alhamdulillah, demamku sudah agak turun, namun dinginnya pagi itu membuatku kembali berselimut setelah menyelesaikan kewajiban pagi, sedangkan burung-burung sudah asyik membangunkan mentari dengan kicauannya..

Yangti sudah sibuk klithak klithik di dapur sementara mbakku sibuk membangunkan kedua jagoannya, yang rupanya masih sangat betah ngruntel di balik selimut.

Acara heboh membangunkan mereka mulai menampakkan hasil dengan nguletnya Si Sulung, lalu terkantuk-kantuk menuju kamar mandi mengambil air wudhu, sementara Si Ragil masih saja tak bergeming.  Ketika mamanya sudah hampir di batas kesabarannya, tiba-tiba saja si bungsu itu njenggirat  terbangun.

“Mah, jam berapa?” tanyanya sambil kucek-kucek mata.

“Hampir jam 6, De’.. Makanya, ayo ndang sholat…” jawab Sang Ibu.

“Ooh… untunglaah… tak kira sudah telaat…” jawab Ragil, “aku mau bangun jam 7 terus langsung makan ya Mah…” katanya kemudian sambil kembali mlungker.  Tepatnya, berusaha untuk itu, yang gagal total karena sudah dicegah mamanya, yg segera saja menggandengnya ke kamar mandi.

Ketika dia sedang mengerjakan kewajibannya, aku bertanya pada mbakku itu, tumben amat minggu pagi dia sudah semangat begitu, ada apa? Ternyata hari itu Ragil dan teman-temannya -serombongan anak-anak kelas 6 SD itu- berencana bersepeda bersama. Dan rupanya itu acara pertama Ragil pergi sendiri dengan teman-temannya, tanpa kawalan ayah / ibu / kakaknya.

Ooh… pantas saja dia begitu semangat.  Tadinya Si Eyang yang kurang setuju, mamanya juga agak keberatan, tapi ayah & kakaknya mendukung, akhirnya si bungsu itupun diizinkan menjalani ‘petualangan’ pertamanya.

Sayangnya, entah kenapa dia tak mau terus terang rute mana saja yang akan mereka lewati dengan bersepeda itu. Pokoke amanlaah… di dekat-dekat situ kok, itu selalu jawabnya bila ditanya… Apa ia khawatir akan disusul / diikuti ayah atau kakaknya ( demi ketentraman hati ibu & neneknya ya?)  hihi…

Maka pagi itu pun ia berangkat dengan ransel di punggung dan semangat di dada… (ahay…) dan restu dari semuanya… 😀 Continue reading “Petualangan pertama Si Ragil”