Itu kalimat yang sangat terkenal, diucapkan oleh Ir. Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia. Kalimat yang sering disingkat sebagai Jasmerah itu kembali menggaung di telinga kami ketika kami mengunjungi Monjali ( Monumen Jogja Kembali ) pada Jum’at 28 Pebruari 2014 yang lalu.
Adalah Pak Gunadi, pemandu berusia 76 tahun yang kembali mengucapkan kata-kata bersejarah yang merupakan pesan dari salah satu founding father bangsa ini. Pemandu sepuh itu dengan penuh semangat menguraikan arti di balik pesan Presiden RI pertama itu, dan menceritakan kembali sejarah perjuangan bangsa, khususnya yang berkaitan dengan didirikannya MONJALI yaitu sejarah agresi militer Belanda di Jogjakarta pada tahun 1948-1949 itu, berhasil menggelorakan kembali rasa cinta tanah air di hati kami, yang (terus terang) seringkali lupa akan sebagian sejarah bangsa ini. Continue reading “Jasmerah di Monjali”
Ditugasi untuk mengikuti pelatihan / pendidikan biasanya selalu menyenangkan buatku. Dapat pengetahuan baru, teman baru, ganti suasana, dll…. Tapi penugasan kali ini, diawali dengan ndandap alias terburu-buru karena tugas untuk mengikuti pelatihan yang memerlukan waktu relatif lama, baru kuterima pada H-1 pembukaan. Hadeeh… 🙁
Selasa sore saat sudah siap-siap mau pulang kantor, dapat telpon dari BKD untuk bahwa aku ditugasi mengikuti diklat selama 4 bulan, yang akan dimulai Kamis pagi ini. Jadilah sore – malam itu aku pontang-panting menyiapkan ini-itu yang mau dibawa, menyiapkan tugas-tugas yang akan diserahkan ke teman seruangan, dll
Rabu pagi masih harus ngantri di Puskesmas terdekat cari surat keterangan sehat, lalu rapat kecil dengan atasan dan teman seruangan yg mau mengambil-alih tugas keseharianku selama 4 bulan ini, cari travel ternyata dapatnya sore hari, menyelesaikan packing yang akhirnya gagal mewujudkan niat hanya membawa 1 tas saja… lalu sorenya perjalanan darat melalui jalan (yang sebagian besar) berlubang-lubang sehingga seolah sedang naik kapal…dan alhamdulillah tepat jam 12 malam (wiih..kaya’ cinderella..haha…) sampai di depan Balai Diklat di kawasan Baciro – Jogja, diantar ke kamar oleh bapak-bapak Satpam yang baik hati, berkenalan dengan teman sekamar, tata-tata sebentar dan siap tidur…
Dan pagi ini, akan dimulai kegiatan yang dijadwalkan akan berlangsung sampai minggu terakhir Juni 2014 itu. Oya, Diklat kali ini menggunakan model baru, tidak full di Balai Diklat selamat 4 bulan itu, ada 4 tahap. Tahap I 9 hari di Diklat, Tahap II 5 hari di kota asal, Tahap III 17 hari di Diklat, Tahap IV 60 hari di kota asal dan Tahap V kembali di Diklat hingga penutupan. Wira-wiri dan belum jelas bagaimana pengaturannya nanti (maklum…baru angkatan pertama) tapi, Insya Allah semua lancar…
Bismillah… mudah-mudahan aku dapat menjalaninya dengan baik dan lancar dari awal hingga akhir nanti -termasuk mudah-mudahan ada kesempatan ingak-inguk dumay.. biar gak bosen, haha. Aamiin…
Masih meneruskan informasi yg kudapat melalui leaflet yg dibagikan saat pelatihan pendamping KRPL kemarin dulu yaa…. kalau kemarin sudah menulis tentang bertanam seledri, kali ini tentang Budidaya Terong dalam pot.
Siapa yang belum mengenal Terong? Hm, tampaknya sebagian besar dari kita sudah mengenal salah satu jenis sayuran ini ya, atau bahkan mungkin menjadikannya sebagai sayuran kegemaran. Ya, Terong memang sudah umum dikonsumsi di masyarakat kita.
Selain dikonsumsi sebagai sayur, ada pula yang mengkonsumsinya sebagai obat wasir, bahkan karena kandungan senyawa solasodinnya, terong dikenal juga sebagai pencegah kehamilan.
Alhamdulillah… akhirnya terwujud juga sebuah buku bertuliskan namaku, sebagaimana yang kutuliskan sebagai Proyek Monumental 2014 yang digagas Pakde kala itu…
Sebuah buku memoar pengalamanku sejak mempersiapkan, menjalani hingga usai terwujudnya sebuah mimpi yaitu menjadi tamu Allah di tahun 2011 yang lalu.
Untuk apa aku menuliskannya?
Hm, latar-belakangnya bisa jadi cukup panjang, intinya -sejujurnya- aku sempat merasa gamang ketika harus menjalani perjalanan haji ini sendiri. Aku yang tak terbiasa jauh dari dukungan keluarga besar, sempat merasa ragu akan kesanggupanku menjalani semuanya sendiri. Belum lagi kekuranganku yang tak bisa berada ditengah keramaian atau berdesakan yang seringkali menyebabkan sesak nafas, pusing & mual hingga hampir pingsan. Padahal keramaian seperti itu suatu hal yang selalu kulihat di TV / kudengar dari cerita teman/kerabat yang sudah menunaikan rukun islam ke-5 ini. Bagaimana bila kondisiku itu membuatku tak mampu menjalani wajib & sunnah yang harus kujalani?
Kegamangan dan keraguan itu mendorongku untuk lebih fokus pada persiapan mentalku, melalui banyak membaca & mencari informasi tentang perjalanan suci ini. Alhamdulillah, aku mendapat banyak kemudahan untuk hal itu, bahkan – entah kebetulan atau memang sudah digariskan-NYA- seorang teman kakak sempat meminjamiku sebuah catatan perjalanan haji dari kakaknya, yang diketik manual dan dijilid rapi. Sebuah catatan sederhana yang sangat membantuku karena ternyata penulis catatan itu juga mempunyai masalah yang sama denganku, dan dari catatan itu aku mendapat tips penting untuk mengatasi permasalahan itu dan secara umum untuk menjalankan ibadah haji dengan sebaik-baiknya.
Demikianlah, kuharap dengan menuliskan pengalamanku sendiri, aku dapat memberikan manfaat bagi orang lain sebagaimana aku telah mengambil manfaat dari sebuah catatan orang lain.
Terima kasih yang tulus kusampaikan untuk para endorser : Mbak Dee -seorang manajer sekaligus blogger & salah satu penulis buku Rumah Kayu– yang sejak awal telah menyemangatiku untuk menuliskan pengalaman ini, Pakde Cholik -blogger penulis Buku Rahasia Menjadi Manusia Kaya Arti– yang selalu setia ‘ngompori’ dan menginspirasi kita dengan semangat beliau, Mas A. Muhaimin Azzet – blogger, editor dan juga penulis karya-karya inspiratif serta Pak Eko Kusuma (penulis buku Haji Ngeteng), tak ketinggalan terima kasih kepada Mas Rudi dari Penerbit Sixmidad untuk ide judul & kerjasamanya. Selain itu, terima kasihku juga untuk keluarga dan teman-teman lainnya yang telah menyemangati selama ini…. Terima kasiiih 🙂
Semoga buku pertama ini akan menjadi ‘pembuka jalan’ bagi lahirnya buku-bukuku berikutnya. Aamiin. Nah, ini dia penampilan buku NFM :
Judul : Notes from Mecca
Penulis : Mechta Deera.
Penyunting : Rudi G. Aswan
Desain isi & sampul : SixmidArt
Penerbit : Sixmidad – Bogor
ISBN : 978-602-14595-2-2
Halaman : xii + 100
Harganya? Rp. 40.000,- saja… Murmer, kan? Nah, bagi teman-teman yang berminat memesan, bisa inbox FB atau via email : auntiemechta@gmail.com Silakaaan… 🙂
Tadi pagi, saat membuka dasbor blog ini, kutemukan komen dari Pakde yang makjleb banget : ‘sudah 5 hari kok masih mimpi ‘ Buat yg kurang faham, itu sindiran Pakde untuk tulisanku yg panceeet ae, padahal hari telah 5x berganti… hihi… ampuuun, Pakde…, ponakan njenengan satu ini memang sering angot-angotan nulisnya.. hehe…
Nulis 1 tema…macet di tengah jalan…simpan di draft. Nulis tema lain, macet lagi… parkir lagi di draft… akhirnya tempat ngedraft penuuh, sedangkan berandanya sawangen alias penuh sarang laba-laba… *tidak untuk ditiru! 🙂
So.., setelah tertohok komen Pak Kumendan itu, akhirnya akupun ngubek-ubek simpanan draft, dan menemukan salah satu diantaranya, yaitu tentang metode rembesan tetesan minyak. Apakah itu? Continue reading “Oil drop speck method”
Ketika tahun lalu Pakdhe wara-wara melalui Warung Blogger untuk bareng-bareng menerbitkan buku, aku sangatlah senang, karena merasa mendapat kesempatan untuk mewujudkan salah satu mimpi yaitu menulis dan menerbitkan buku, yang -saat itu- rasanya suliiiit untuk terlaksana.
Saat itu aku merasa kecil kemungkinan untuk bisa menerbitkan buku sendiri, maka alangkah senangnya ketika ada jalan untuk bikin buku secara kroyokan ( yang belakangan baru kutahu istilah ‘antologi’ untuk buku semacam itu, hehe… ).
Ada banyak kategori buku yang disiapkan oleh teman-teman warga WB yang dikoordinatori oleh masing-masing Blogger yang ditunjuk oleh Pakde sebagai Desk Oficer, namun aku baru PD mengirim sebuah cerpen dan beberapa puisi saja.
Dan semakin senang rasanya hatiku ketika mendapat kabar bahwa aku berhasil menyelipkan karya-karya sederhanaku itu diantara banyak tulisan bagus teman-teman lainnya. Tak sabar rasanya menanti buku kumpulan cerpen & kumpulan puisi itu kumiliki.. hehe…
Alhamdulillah, salah satu diantara 2 buku antologi itu terbit sudah, dan tadi sore baru saja kuterima : Blogger Punya Mimpi ( Kumpulan Cerita Pendek), sebuah buku mungil bersampul ungu lembut -warna kesukaanku- dengan gambar unik yang menarik dan berisi 21 Cerita Pendek karya para blogger anggota Warung Blogger yang tak akan mengecewakan untuk dinikmati 🙂
Ini dia penampakannya :
Kontribusi di Buku antologi ku yang pertama, hehe…
Menyertakan 1 dari 21 Cerpen yang ada di buku ini saja senangnya seperti ini, bagaimana bila bisa menerbitkan sendiri 1 buku karya kita? Aah… mudah2an kubisa segera merasakan rasa senang yang satu itu 🙂
Oya, di sudut kiri atas cover buku ini tertulis : Hasil Penjualan untuk Proyek Amal. Jadi sesuai kesepakatan awal kita, hasil dari penjualan buku ini memang akan kita sumbangkan untuk proyek amal. Mungkin tak banyak / kecil nilainya, namun… Insya Allah bermanfaat.
Jadi… mau membaca sambil beramal? Yuuk… segera pesan banyak-banyak buku ini…. 🙂
Maturnuwun Pakde Cholik, Diajeng Orin sang DO Kumcer ini, dan juga teman-teman lainnya yang telah berbagi mimpi denganku di buku ini… Dan Insya Allah buku ini akan segera disusul 2 buku antologi lagi dan 1 buku solo… mohon doanya ya…
Hai teman…., pa kabar? Mudah-mudahan tetap ceria meskipun suasana dingin kadang membuat menggigil dan malaas buat ngapa-ngapain…hehe… Masih banyak cerita tentang banjir yang datang lagi untuk yang ke-3 kalinya (wiih, skor sudah 3-0 nii..hehe..) tapi, daripada bikin orang khawatir, mending cerita yang seneng-seneng saja laah…
Ketika melihat ada tanggal merah di akhir bulan, langsung ibu mendaulatku untuk ke Jogja, sekalian menemani kakak dan keponakan yang akan terapi di sana. OK lah, berhubung sudah cukup lama jadi ‘tahanan kota’ akhir tahun kemarin dan di awal tahun ini, maka akupun meng-iyakan permintaan itu.
Jadilah aku bersama keluarga kakak dari Brebes bertolak ke Jogja pada kamis (30/1) malam yang lalu. Ya, memang akhirnya kami baru bisa berangkat sekitar jam 8 malam dari Pekalongan karena ternyata hari itu perjalanan Brebes – Pekalongan yang biasanya 2 jam lebih sedikit molor menjadi 4 jam lebih, sehingga kakak yang berangkat dari sana jam 4 sore baru sampai di rumahku jam 8 malam 🙁
Perjalanan malam itu relatif lancar, diiringi hujan yang -alhamdulillah- tak terlalu deras, hanya harus super hati-hati karena kondisi jalan banyak yang berlubang, bahkan ada yang cukup parah antara Sukorejo – Parakan misalnya, sehingga ketika memasuki Kota Magelang sudah hampir tengah malam. Saat mendekati alun-alun kota itu, hujan sudah berhenti dan tampak keramaian di sekitar alun-alun. Ada apakah? Continue reading “Jalan2 di akhir bulan kemarin”
Hujan yang turun cukup deras di kota kami sejak sebelum subuh tadi, membuatku sempat was-was ketika bangun tidur. Langsung melongok ke halaman depan…. dan benar saja : kembali jalan di depan rumah telah berubah menjadi ‘sungai dadakan’ seperti kemarin dulu 🙁
Sungai dadakan di depan & samping rumah kami
Jadilah perjalanan ke kantor pagi tadi kembali kutempuh dengan bantuan Pak Becak yang mangkal di prapatan sebelah rumah, dan sepanjang perjalanan ke kantor itu, iseng-iseng aku sempat memotret kondisi sepanjang jalan dari depan rumah hingga ke kantor yang sudah berubah lagi menjadi sungai kecil…
Pantauan dari atas becak…hehe…Kondisi depan kantor kami (Jl Sriwijaya)
Rupanya pagi tadi tak hanya wilayah Pekalongan bagian utara (daerah pantai) yang kembali terendam, namun juga daerah-daerah lainnya secara cukup merata. Walhasil banyak warga yang kembali mengungsi di beberapa pos pengungsian dan dapur-dapur umum kembali di buka, antara lain dapur umum Sekretariat Pemkot Pekalongan bekerjasama dengan Kodim 0710 Pekalongan.
Kebetulan lokasi dapur umum di kantor Kodim 0710 itu di seberang kantor kami, sehingga cukup dekat untuk mengangkut peralatan masak dan kamipun tinggal menyeberang jalan untuk bergabung di sana. Sekitar pukul 9 pagi aku mulai bergabung di sana bersama teman-teman lainnya.
Aku masak? tentu tidaaak… hehe… Maklum, aku kan gak pinter masak, apalagi masak untuk orang buanyaaak begitu, maka akupun membantu sesuai kemampuanku saja, yaitu membungkus hasil masakan bapak-bapak dari Kodim itu..hehe…
Eh, ternyata membungkus nasi + lauk-pauknya itu tidak mudah lhoo… Apalagi buat kami yang tak biasa. Tapi tak apa, bisa langsung dipelajari di situ trik-trik membungkus dengan (cukup) rapi dan cepat. Ya, harus cepat karena nasi bungkus itu sudah ditunggu di pos-pos pengungsian.
Hiruk pikuk di dapur umumMasak nasi pakai dandang besar…dan ngambilnya dengan…sekop! hehe… (sekop khusus nasi lho..)
Syukurlah, acara bungkus-membungkus itu berjalan dengan lancar dan sampai sore menjelang maghrib tadi sekitar 1000-an nasi bungkus sudah dapat terdistribusi kepada pos pengungsian yang dituju. Mudah-mudahan bermanfaat bagi saudara-saudara kami yang sedang mendapat musibah itu…
Nasi bungkus siap didistribusikan…
Nah, itu ceritaku hari ini. Pulang dari dapur umum sore tadi, alhamdulillah sungai dadakan di sekitar perumahan kami sudah berangsur menghilang, menampakkan kembali ruas jalan yang berlobang-lobang akibat seringkali tergenang & tergerus air. Semoga saudara-saudara kami di bagian lain Kota Pekalongan juga sudah dapat bernafas lega karena banjir sudah surut…
Bagaimana di kotamu, teman? mudah-mudahan tidak banjir juga yaa…
Sore-sore krasa atis amarga nang njaba isih udan kawit mau awan, mbuka ‘efbe’ lha kok nemu wara-wara saka Pakdhe sing lagi nganaake bagi-bagi hadiah alias ‘Giveaway’ utawa uga kerep disingkat ‘GA’.
GA-ne Pakde sing iki ‘unik’ lho…beda karo liyane. (Eh, yo mesti wae yo… dudu Pakdhe asmane nek nganaake GA sing biasa-biasa wae..hehe) 😀
Apa istimewane GA Pakdhe siji iki?
Judule wae ‘Giveaway 2 Hari‘, dadi tantangane yo wektune sing mung rong ndina alias mefeeet byanget iku…hehe…
Langsung wae aku ngobrak-abrik blog ‘Cak Cholik’ kagungane Pakdhe iku kanggo golek tulisan sing arep tak tanggapi. Ndilalah kok nemu tulisan sing judule wae wis langsung narik kawigatenku : SMS Bocor bikin tekor.
Aku pancen seneng yen maca seratane Pakde sing model ‘CerKak’ alias Cerita Cekak ngono iku. Ceritane ora ngayawara, nyritaake kedaden-kedaden sing kerep awake dhewe temoni ing urip sakdina-dinane. Gaya-basane enteng, gampang dimangerteni lan kerep uga nyisipake geguyonan nanging ora ngilangake arti / pesen sing dikarepake. Siji maneh sing marakake Cerkak-cerkake Pakde nyenengake diwaca lan ora mboseni, yaiku olehe milih jeneng-jeneng paragane. Kadang dipilihke saka basa jawa… dadi nek diterjemahke (sing ngerti) jan lucuuu pwool…marai ngakak ra uwis-uwis.. hehe…
Cerkak sing judule ‘SMS Bocor Bikin Tekor’ iku, nyritakake Raymoe sing karepe nraktir 3 kanca cedhake (Rabulusa, Ahadiki & Setuwingi) nanging kepeksa dadi tekor amarga ndadak mbayari ‘tamu tak diundang’ sing akehe luwih saka 20! Lha kok bisa? Jebule kedadeyan iku disebabake bocore undangan sing lewat sms.
Sing tak tangkep saka cerita iki : (1) aja nggawa dhuwit pas-pasan yen arep nraktir kanca, sapa ngerti ana kebutuhan ndadak. (2) yen ora diundang yo ora sah mara…apa maneh teka rombongan… melas tuan-omahe… hehe… *upps, ngapunten, Pakdhe… niki penangkepan kula sing cethek… hihi…
Pakdhe, cekap semanten tanggapan kula kangge salah setunggal seratanipun Pakdhe ing Blog ‘Cak Cholik’… mugi-mugi saged dipun tampi 🙂
Hujan turun hampir tiap hari: pagi, sore hingga malam, begitu pula pada hari Kamis, 16 Januari 2014 lalu. Walhasil keesokan paginya -Jum’at 17 Januari 2014 – ketika aku melongok ke luar rumah terlihat jalan di depan rumah sudah ‘disulap’ menjadi ‘sungai’ kecil nan panjaaaang… 🙁
Waduuh! bagaimana caraku pergi ke kantor? Maklum, motor yang dipinjamkan padaku sudah lumayan berumur (hehe) dan sangat mengkhawatirkan bila harus melalui ‘sungai’ yang baru terbentuk itu. Kalau memaksa mengendarainya, bisa-bisa aku harus melakukan olah raga ‘dorong montor’ di pagi itu! hehe…
Sambil menyiapkan sarapan, kudengar adik-adikku wira-wiri ke halaman, sibuk nge-cek ketinggian air yang semakin merambat naik seiring dengan hujan yang masih saja deras di pagi itu. Alhamdulillah, air hanya sampai di batas halaman, kecuali bila ada kendaraan lewat maka barulah air itu bagai ombak menepi di tepi pantai….datang memesrai halaman rumah kami… *halah, bahasane rek..hehe…
Beberapa ruas jalan yang berubah menjadi sungai… (Foto minjam dr Diajeng Cii Yuniaty)
Kemudian akupun bergabung dengan adikku di teras rumah kami, sambil berbagi informasi dengan para bapak tetangga kami yang juga krubyukan sambil berpayung-ria, asyik memantau perkembangan limpahan air di lingkungan rumah kami. Eh, kapan lagi lihat pemandangan para bapak ngerumpi di bawah payung warna-warni? 😀
‘Sungai dadakan’ di depan & samping rumah
Lalu ketika melihat diantara mereka ada pak becak yang biasa mangkal di perempatan itu, kamipun bertanya apa ia bisa mengantarku ke kantor. Ternyata beberapa SD diliburkan pagi itu, hingga si bapak tak harus mengantar anak-anak ke sekolah dan free untuk mengantarku ke kantor. Alhamdulillah…, masalah akomodasi ke kantor beres. Horee… 🙂
Maka akupun bergegas bersiap ke kantor,lalu dengan diantar oleh Pak Becak yang baik hati itu, menyusuri ‘sungai’ baru sepanjang depan rumah sampai ke kantor.. eh, serasa yuyu kangkang saja..haha… Sampai dikantor baru aku sadar sudah salah kostum, ketika melihat teman2 berseragam Kopri sementra aku berbatik biasa… alamaaak, fokus ke masalah akomodasi jadi lalai dengan tanggal 17.. hehehe…
Seharian itu hujan setia menemani, hingga saat ku pulang kantor (masih menyusuri jalan yang berganti wajah jadi sungai), bahkan sampai sore hari ketika aku dijemput travel untuk ke Semarang.
Begitupun pagi ini, aku menikmati pagi di rumah masa kecil kami, masih ditemani rinai hujan yang enggan berhenti. Untung ada teh hangat, teman terbaik ketika menikmati tarian air hujan yang memandikan tanaman dan halaman…. Eh, jadi ingat, aku belum berhasil memotret hujan dengan indah… adakah teman yang tahu tips memotret air hujan? bagi-bagi di sini yaa…. *ngarep 🙂
Ya sudahlaah…, namanya juga JANUARI : saat hujan bersenang-senang turun (hampir) setiap hari… dinikmati saja, bukan? Semoga barokah… Oya, bagi teman yang sedang terkena musibah banjir semoga sabar yaa… insya Allah ada hikmah dibalik musibah…
Selamat akhir pekan, teman…. Eh, adakah cara khususmu menikmati hujan, teman?
#Makasih Diajeng Cii’ Yuniaty untuk pinjaman fotonya 🙂