Burung2 cantik dari Dunia Ely

Masih ingat tulisanku yg ini?

Ya, tulisan itu kubuat karena sedang mengincar salah 1 kartu pos bertema Jerman yg mbak ELY  tawarkan kala itu.

Dan, lebih sebulan kemudian…, datanglah sebuah kartu pos bergambar burung-burung cantik dari Jerman …

 Kartu pos dari Dunia Ely

Kartu pos dari Dunia Ely

Namanya burung Kraniche , dan ketika tahu aku terpesona dg burung-burung putih itu, mbak Ely sempat mencarikan video tarian burung-burung cantik itu di youtube.  Ini dia tautannya :

Bagaimana pendapatmu, teman? Cantik yaa….

Mbak Ely, suwun kagem kartune sing apik + pesan basa jawane yaa… *peluuuk… 🙂

Selangkah lagi…

Waktu, ternyata memang cepat berlalu.

Ketika akhir Februari lalu mendapat kesempatan untuk menimba ilmu yang dijadwalkan sekitar 4 bulanan, sempat merasa awang-awangen.  Lama amaat… mana diklatnya model baru lagi, jangan-jangan lebih berat, jangan-jangan lebih susah, jangan-jangan… ah, ada begitu banyak tanya dan prasangka akibat adanya kegamangan di hati.

Tapi ternyata, alhamdulillah semua bisa kujalani dengan -relatif- baik & lancar. Satu demi satu tugas dijalankan (meski harus wira-wiri), satu demi satu tahapan dilewati (termasuk OL di Sidoarjo) dan akhirnya selangkah lagi akan sampailah kami di penghujung waktu diklat.

Setelah 2 bulan berada lagi di kantor untuk menjalankan proyek perubahan yang telah direncanakan, sejak pertengahan minggu ini hingga pertengahan minggu depan aku harus kembali ke diklat lagi untuk melaksanakan ‘seminar’ akhir sebelum penutupan diklat tanggal 25 Juni nanti.

Laporan2 (1)

Laporan akhir sudah siap dipertanggung-jawabkan. Puji syukur alhamdulillah atas kemudahan & kelancaran yang diberikan oleh-NYA dalam pelaksanaan kegiatan hingga penyusunan laporan akhir ini, terima kasih untuk semua pembimbing, rekan-rekan kerja dan tentunya keluarga, atas dukungan yang meringankan serta doa yang menguatkan.

Semoga, hasilnya sesuai dengan harapan… Aamiin…

Mohon doanya, teman…  🙂

Ke Dieng (lagi)

Dieng Plateau atau dataran tinggi Dieng yang masuk dalam wilayah Kab Banjarnegara & Wonosobo, memang tempat yang tak akan mboseni untuk didatangi. Meski telah beberapa kali ke sana, dan terakhir di akhir 2012 lalu, tetap saja aku bersemangat ketika ‘gank ngluyur’ ngajak jalan-jalan ke Dieng lagi.

Kalau pada perjalanan sebelumnya bersama keluarga kami lebih lama menghabiskan waktu di kompleks Candi, jalan-jalan di hutan sekitar telaga warna dan di Kawah Sikidang, maka kunjungan tanggal 29 mei 2014 kemarin bersama teman-teman hanya di seputar Candi, berlama-lama di Museum Kailasa dan di seputar Telaga Warna, tentunya.. 🙂

Cuaca Dieng pagi menjelang siang itu cukup cerah, pengunjung sudah mulai banyak meskipun tak sampai berdesak-desakan… Dan, pengunjung pun asyik berfoto-foto ria di sekitar artefak di Komplek Candi Arjuna itu.

KompleksArjuna

Tak ketinggalan berpose dengan Mas Hanoman, Cakil dan teman-temannya… Jadi ingat 2 tahun lalu juga berfoto ria bersama mereka & para krucilku.. Ini perbandingan 2 pose itu, hehe..

Mas Hanoman dkk yang selalu menggoda utk pose bareng..
Mas Hanoman dkk yang selalu menggoda utk pose bareng..

Continue reading “Ke Dieng (lagi)”

Liebster Award dari Mbak Monda

Liebster Award

Beberapa waktu lalu saat BW ke blognya mbak Monda ternyata aku salah 1 dari 11 yang ketiban sampur untuk mengerjakan PR yang ada bersama Liebster award ini. Terimakasih, mbak Monda… Tapi maaf yaa, ngerjain PR nya lamaa, maklum suka susah kalau disuruh cerita tentang diri sendiri  🙂

Oya,aturan Liebster Award  adalah :

  1. Post award ke blognya
  2. Say thanks buat yang memberi award dan link back ke blog dia
  3. Share 11 hal tentang dirinya
  4. Jawab 11 pertanyaan yang diajukan si pemberi award
  5. Pilih 11 blogger lainnya dan ajukan 11 pertanyaan.

 

OK deeh…, yuuuk kita mulai :

Aturan no. 1 : sudah.

Aturan no. 2 : sudah. Continue reading “Liebster Award dari Mbak Monda”

Mimpi Lintang

Sumber

Lintang asyik menikmati malam yang tampak begitu indah dari balik jendela kamarnya. Langit dihiasi gemintang nan sibuk berkerlipan, lalu tiba-tiba… wuuss… Bintang jatuh!

Ia pun terkesiap, cepat-cepat memejamkan mata dan mengucapkan permintaannya : semoga aku juaranya!

Lalu tiba-tiba dirasakannya bumi bergoncang..eh bukan, badannya yang bergoyang-goyang. Dengan kaget dibukanya mata, ternyata ibu yang membangunkannya karena hari sudah siang. Argh…, hanya mimpi rupanya…

Tapi, ketika sambil mandi ia mengingat kembali mimpinya, iapun tersenyum. Hey, siapa tahu mimpi itu bukan sekedar bunga tidur, jangan-jangan itu sebuah pertanda! Ya, pertanda kemenangannya di kontes siang nanti… Continue reading “Mimpi Lintang”

3 Alternatif berbagi bacaan

Mempunyai buku-buku bagus, ingin berbagi dengan teman atau sahabat, namun sayang untuk meminjamkannya karena terbukti bahwa banyak peminjam yang tidak mengindahkan etika peminjaman buku dan hasilnya malah bikin kecewa?

Sebenarnya adakah cara-cara lain untuk berbagi bahan bacaan, tanpa harus sakit hati karena buku yang dipinjamkan rusak / tak kembali?

Hm.., menurutku ada beberapa cara berbagi bacaan , antara lain :

1. Hibah buku

Hah? Hibah buku bukannya memberikan buku? Hawong dipinjam saja sayang.. lha kok malah diberikan?

Ya, hibah memang memberikan buku. Jadi menurutku, kalau serius ingin berbagi bacaan bagus, tapi tak mau ‘kepikiran’ kalau buku kesayangan itu dipinjamkan… solusinya antara lain ya beli lagi buku yang baru dengan judul yang sama lalu hibahkan.

Bisa dihibahkan pada perpustakaan / taman baca di sekitarmu, atau pada kelompok / komunitas yang sekiranya memang dapat mengambil manfaat dari buku itu, atau sebagai hadiah pada beberapa teman / kerabat yang memang menginginkannya 🙂

Sedekah tak hanya dengan uang saja bukan? Sedekah buku = sedekah ilmu 🙂 Continue reading “3 Alternatif berbagi bacaan”

Pilihan ketiga

Sumber

Aku bersama Nadia. Sementara ayah dan ibu berada tak jauh dari kami. Tetapi kami tak melihat keduanya. Kami hanya mendengar suara-suara mereka saling berteriak. Lalu suara itu menghilang. Tak terdengar lagi.

“Bagaimana menurutmu, Dan?” tanya Nadia pelan.

“Apanya?” tanyaku tak mengerti.

“Perpisahan. Tampaknya hal itu tak terelakkan lagi,” bisiknya parau.

Ya, aku juga menyadari hal itu, menilik semakin seringnya pertengkaran keduanya meramaikan rumah kami.

Aku menoleh dan kulihat air mata membasahi pipinya. Ah, Nadia si lembut hati. Mungkin dia yang akan terluka paling parah diantara kami berempat.

“Kau memilih siapa?” tanyaku kemudian.

“Maksudmu?”

“Mereka pasti akan memisahkan kita. Kau boleh memilih duluan, Ayah atau Ibu?”

Nadia menghapus air matanya. Lalu tiba-tiba bangkit dan duduk menghadapku.

“Dania, kenapa aku yang harus memilih duluan?” Continue reading “Pilihan ketiga”

Etika peminjaman buku

Bbrp_bukuqAda yang bilang : ” Buku itu seperti halnya berlian… tidak untuk dipinjamkan.”

Hm, apakah kau setuju dengan pernyataan itu, teman?

Kalau aku, setengah setuju.  Lho…setuju kok setengah-setengah? nanggung amaat… hehe…

Maksudku, aku setuju bahwa buku sama berharganya dengan berlian. Namun bukan berarti tidak untuk dipinjamkan. Sayang kan, kalau hanya numpuk saja tanpa ada yang mengetahui apalagi memanfaatkan ‘isi’nya? Mungkin -bagiku- lebih tepatnya adalah boleh dipinjamkan, dengan syarat dan ketentuan berlaku. #eh, kok jadi mirip iklan yaa? 🙂

Hehe, jelasnya… kita harus pilah-pilih teman yang bisa dipinjami buku – barang berharga kita – itu. Kenapa harus demikian?

Ya, tentunya agar jangan sampai kita berniat baik … tapi berujung pada penyesalan : buku yang dipinjamkan rusak, lama kembali… atau malah tidak kembali sama sekali! 🙁

Sedih? Ya… pastilah sedih bila hal itu terjadi.  Barang yang kita sayang-sayang, dirawat dengan baik dan hati-hati, ternyata mendapat perlakuan buruk bahkan tak dapat kita temui lagi.  Itu mimpi buruk tentunya!

Kok, tahu? Sudah pernah mengalami?

Sudaah… Beberapa kejadian tak mengenakkan di waktu lampau telah membuatku lebih memilih-milih teman yang akan kupinjami. Tapi…ternyata aku masih kurang hati-hati dalam memilih (mungkin karena lebih mengedepankan faktor kasihan), sehingga saat ini pun aku sedang kangen dengan  3 buah buku yang belum jelas nasibnya.

Sudah beberapa bulan lalu aku meminjamkannya pada seorang teman yang kala itu sedang membutuhkan bacaan perintang waktu… namun entah dia tipe ‘pembaca super duper lambat’ atau  ada alasan lain yang tak kumengerti, nyatanya sampai saat ini belum satu pun dari 3 bukuku itu  yang kembali.  Hiks…

Menurutku, perlu ada etika khusus peminjam buku, antara lain :

  1. Menjaga keutuhan & kebersihan buku.
  2. Memperkirakan waktu membaca & menyepakati waktu peminjaman
  3. Segera mengembalikan buku pinjaman setelah selesai di baca
  4. Memberitahukan kepada pemilik bila belum selesai membaca namun waktu peminjaman yang disepakati telah lewat
  5. Please…, jangan lipat halaman.. pakai pembatas buku yaa…. ( ini tambahan dari Bu Prih )
  6. Jangan dipinjamkan lagi pada orang lain tanpa memberitahu / seizin pemilik buku (yg ini tambahan dari Mbak Nanik Nara )
  7. …..

Hm…, ada yang mau menambahkan lagi? Mangga lhoo…. 🙂

***

Catatan : Oya, tulisan ini sudah tayang sebelumnya di Blog IIDN Semarang.

 

Tak hanya ada batik di Kota Pekalongan

Kota Batik di Pekalongan, bukan Jogja bukan Solo.…” itu adalah penggalan lirik lagu Slank ( Sosial Betawi Yo’i) yang menggambarkan bahwa Kota Pekalongan identik dengan Kota Batik.  Ya, memang Batik bisa dikatakan denyut nadi perekonomian Kota Pekalongan. Belanja Batik? Ya… di Pekalongan saja… Pasar Setono adalah salah satu pusatnya 🙂

Jlamprang - salah satu motif batik Pekalongan
Jlamprang – salah satu motif batik Pekalongan

Belajar tentang Batik? Ada Museum Batik di Kota Pekalongan, tempat menyimpan koleksi Batik nan indah dan juga ada sesi workshop bagi pengunjung yang ingin belajar membatik di sini. Selain itu, ada pula Kampung Batik yaitu di Kauman dan Kergon / Pesindon.  Di sana, wisatawan tak hanya dapat memborong aneka produk batik namun juga dapat belajar membatik pada para pengrajin di kedua kampung batik itu.  Masih berkaitan dengan batik, adapula Kampung Canting di Landungsari, di sini para seniman membuat canting-canting ataupun cap-cap sebagai perlengkapan membatik, tidak hanya dalam ukuran sebenarnya namun juga souvenir-souvenir canting / cap nan cantik untuk dijadikan oleh-oleh dari Kota Pekalongan.  Oya, di Kota Pekalongan juga diagendakan Pekan Batik Nusantara yang diselenggarakan setiap tahun  pada tgl 1-5 Oktober sejak tahun 2007.

Kerajinan Cap Batik
Kerajinan Cap Batik

Continue reading “Tak hanya ada batik di Kota Pekalongan”

[FF Cinta Pertama] Cinta Monyet

“Niaaar…, sdh jadi beluuum?” suara centil Tia menyambutku pagi itu.

Kelas masih sepi, tumben dia datang pagi-pagi begini.

“Apanya?” sahutku pura-pura tak tahu.

“Halaaah…, suka gitu deh..” dengan lincah dia duduk di sebelahku, lalu meletakkan sebatang coklat kegemaranku di atas meja, ” niih.. sudah kubawakan untukmu.”

Aku pun tertawa, memasukkan coklat itu ke dalam tas dan segera mengangsurkan selembar kertas padanya.

Sekilas dia membacanya, lalu senyum manis terulas di bibirnya, ” Makasih, Niar. Kau memang jago merangkai kata.  Aku yakin Ardi akan klepek-klepek membaca puisi ini.”

Aku hanya tersenyum mendengar pujian yang sudah sering kudengar, khususnya dari teman-teman  sekelas yang memintaku menuliskan puisi untuk dikirimkan pada cowok / cewek gebetan mereka.  Sudah cukup banyak coklat atau kue-kue yang kubawa pulang sebagai barter puisi-puisi pesanan itu. Lumayaan.. hehe..

Sebenarnya, aku geli dengan kelakuan teman-temanku itu.  Belum lagi lulus SD sudah naksir-naksiran dengan teman sekelas ataupun tetangga kelas. Mendingan juga belajar dengan rajin agar  bisa mengerjakan ujian nanti dengan baik, begitu pikirku kala itu. Continue reading “[FF Cinta Pertama] Cinta Monyet”