LALANG UNGU

ruang ekspresi sepotong hati

Dua Sisi Pembelajaran Jarak Jauh

| 42 Comments

Foto by Pixabay

Hai Sahabat Lalang Ungu , apa kabar? Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa ya, meski mungkin sebagian teman-teman sedang disibukkan dengan urusan pendampingan anak-anak yang belajar dari rumah, karena sebagaimana kita tahu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI telah menetapkan 13 Juli 2020 kemarin sebagai awal Tahun Ajaran Baru 2020/2021.

Apakah itu berarti para siswa sudah mulai ‘sekolah normal’ seperti biasa?

Hm, kalau yang dimaksud dengan ‘sekolah normal’ adalah belajar secara tatap muka di sekolah dengan kurikulum yang sudah ditetapkan, maka berarti jawaban dari pertanyaan itu adalah tidak. Mengutip dari situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, penjelasannya adalah sbb :

Sesuai dengan SKB Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Agama tentang Panduan Pembelajaran pada Tahun Ajaran Baru dan Tahun Akademi Baru di Masa Pandemi Covid 19,  Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang semula bersifat tatap muka dialihkan menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) baik secara daring maupun luring.

Kecuali bagi Daerah Zona Hijau menurut Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Nasional, dimungkinkan memulai pembelajaran tatap muka dengan persyaratan protokol kesehatan yang ketat.

Dengan demikian, untuk sebagian besar wilayah kita belum akan menerapkan sekolah dengan pertemuan tatap muka, melainkan masih menerapkan PJJ alias belajar dari rumah, baik itu KBM di Perguruan Tinggi, SMA, SMP, SD, apalagi TK dan PAUD. Nah…dengan demikian, cerita para orang tua yang mendadak harus berperan ganda menjadi guru kreatif bagi putera-puterinya -terutama yang masih di PAUD, TK dan SD- masih berlanjut… ☺

Dua Sisi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)

Memangnya, ada cerita apa saja selama mendampingi anak-anak belajar dari rumah?

Hm, aku pribadi sih tidak punya cerita tentang hal ini, karena di rumah kami saat ini memang tidak ada anak-anak.. 🤣 Tapi, aku juga mendapat cukup banyak cerita tentang hebohnya PJJ selama 3 bulan kemarin dan awal tahun ajaran baru ini dari kakak, adik, keponakan, dan beberapa rekan yang mempunyai anak usia sekolah.

Secara singkat, dari berbagai cerita yang kudapat tersebut ( Dari 2 Guru, 3 orang tua, 2 mahasiswa dan 1 siswa SMA) dapat disimpulkan bahwa ada 2 sisi PJJ yaitu :

Sisi Positif

1. Kumpul Keluarga

Dengan adanya PJJ bagi anak-anak dan juga orang tua (minimal sebagian) WFH, maka waktu bersama dalam keluarga tersebut menjadi lebih besar dari saat sebelum Pandemi. Dengan demikian, interaksi antar anggota keluarga juga semakin meningkat.

Keluarga kakakku di Kota B misalnya, selama ini anak pertama dan kedua kuliah di luar kota, sehingga praktis hanya bisa kumpul keluarga secara lengkap bila anak-anak libur kuliah, atau paling cepat sebulan sekali. Nah, dengan adanya PJJ ini seluruh anggota keluarga berkumpul di rumah, bisa bertemu tiap hari 24 jam full 🙂

2. Mempererat rasa kebersamaan antar anggota keluarga

Dengan lebih besarnya waktu yang dihabiskan secara bersama maka interaksi positif antar anggota keluarga akan lebih intens, dengan demikian keterikatan antar anggota keluarga juga semakin meningkat.

Apalagi bila orang tua berhasil menciptakan kegiatan bersama untuk mengusir kebosanan karena harus ‘terkurung’ di rumah sekian lama misalnya, maka hubungan antar anggota keluarga akan makin erat karena rasa senasib sepenanggungan itu..

Masih dari cerita keluarga kakakku itu, kondisi PJJ anak pertama dan keduanya ini sekaligus memberi kesempatan keduanya untuk secara langsung meringankan beban orang tua dalam melaksanakan tugas keseharian, yaitu dengan membantu usaha orang tuanya di luar saat mengerjakan tugas-tugas kuliah mereka. Alhamdulillah..

3. Progres Pendidikan Anak Terpantau Langsung oleh Orang Tua

Tentang hal ini kudapat cerita dari adik sepupuku, yang sehari-hari mendampingi kedua puterinya (SD dan TK) mengerjakan tugas-tugas dari guru mereka di rumah, ia jadi tahu secara langsung perkembangan mereka dalam menangkap materi pelajaran.

Kalau biasanya progres anak ini baru diketahui orang tua tiap tri wulan / semester / bahkan saat kenaikan kelas, maka saat ini orang tua bisa langsung tahu apakah anak mengerti / tidak dengan pelajaran yang diterimanya karena langsung terlibat dalam proses KBM di rumah ini.

4. Tidak was-was terhadap keamanan anak di masa Pandemi Covid-19

Nah, dengan sistem PJJ ini orang tua tidak was-was harus melepas anak ke luar rumah yang kita tidak tahu bagaimana kondisi kesehatan orang-orang di lingkungan luar rumah kita.

Dengan PJJ orang tua dapat memberikan contoh dan mengenalkan anak pada protokol kesehatan sekaligus memberikan pengawasan langsung pada penerapannya, hal yang tentunya relatif susah dilaksanakan saat anak-anak ada di luar rumah / di luar pengawasan orang tua.

5. Belajar hal-hal baru

School From Home

PJJ adalah salah satu pengalaman baru

Tidak hanya anak yang belajar hal-hal baru melalui PJJ ini, guru dan orang tua pun dituntut untuk itu. Guru misalnya, harus berinovasi dalam menyampaikan materi pelajaran, terutama melalui penggunaan teknologi. Kebetulan 2 kakakku di Kota S merupakan guru SMA, mereka bercerita bahwa awalnya sempat merasa kesulitan saat harus menyiapkan bahan ajar dengan cara baru. Namun dengan berjalannya waktu, berproses mempelajari hal baru sekaligus menerapkannya saat PJJ ini, Alhamdulillah kesulitan-kesulitan itu dapat teratasi.

Materi kuliah via PJJ

Contoh materi PJJ anak kuliahan

Begitu pula dengan orang tua, tak sedikit PJJ tersendat karena orang tua tak ‘melek teknologi’ sehingga kurang bisa memfasilitasi PJJ anak. Boro-boro menguasai penggunaan Zoom, Google Class, Google meet, Zoho, Moodle, dll. Mungkin ada orang tua yang mendengar istilah itu pun baru pertama itu..hehe..  Nah, mau tidak mau orang tua dituntut belajar hal-hal baru ini untuk bisa memfasilitasi anak-anak dengan baik dalam PJJ.

Sisi Negatif

1. Waktu khusus dari orang tua

Aku yakin, selama ini orang tua juga sudah mengalokasikan waktu khusus untuk mendampingi anak belajar di rumah, misal saat mengerjakan PR atau tugas sekolah di sore / malam hari. Namun dengan PJJ ini (yang waktu belajarnya pagi-siang) tentunya membuat para orang tua harus mengatur kembali manajemen waktunya di rumah. Pagi hari yang biasanya digunakan untuk menyelesaikan tugas-tugas rumah tangga jadi tersita sebagian (besar) waktunya untuk mendampingi anak PJJ.

Hal ini tentunya lebih terasa bagi yang putra/putrinya masih TK / SD ya.. Untuk siswa kategori remaja yaitu setingkat SMP dan SMA tentunya sudah bisa ‘dilepas’ apalagi yang kuliah ya..hehe..

Mengerjakan tugas sekolah

Perlu pendampingan bagi anak saat PJJ

2. Anggaran Belanja Rumah Tangga membengkak

Sedikit banyak, hal ini terjadi. Pada pos pembayaran listrik misalnya. Kalau biasanya listrik lebih banyak digunakan malam hari, maka dengan adanya WFH dan SFH ini anggota keluarga aktif di rumah seharian sejak pagi hingga malam. Penggunaan alat-alat elektronik tentu saja lebih besar waktunya dan membutuhkan daya listrik yang lebih besar dan pada akhirnya berimbas pada pos pengeluaran listrik yang lebih pula.

Belum lagi pos pembelian pulsa / kuota internet. Sudah dipastikan melambung tinggi dibanding waktu sebelum PJJ ini diterapkan. Nah, bagaimana dengan sarana belajarnya?

Jika ada lebih dari 1 anak sekolah di rumah idealnya menggunakan perangkat yang berbeda dalam pelaksanaan PJJnya. Mungkin salah satu pakai HP, yang lain pakai Tablet, atau PC, atau Laptop. Itu kalau ada, bagaimana bila keluarga tak bisa menyediakan sarana itu karena satu dan lain hal?

Menurut cerita kakakku, di tempat mengajarnya (sebuah SMA Negeri di Kota S) ada kebijakan bantuan pulsa / kuota / peminjaman laptop bagi siswa dari keluarga tak mampu, khususnya saat test / ujian / PAS (Penilaian Akhir Semester). Syukurlah, meskipun tetap saja hal ini menjadi PR tersendiri bagi banyak keluarga.

Seorang sahabat Blogger sempat menceritakan sebuah solusi yang ditempuh sekolah anandanya untuk mengatasi masalah PJJ. Sekolah itu memutuskan untuk melaksanakan KBM secara berkelompok (kurang dari 10 siswa) yang berdekatan rumahnya. Kebetulan rumah keluarga mba ini terpilih menjadi tempat PJJ secara berkelompok tersebut. Dengan menggunakan  bersama WiFi yang ada diharapkan anak-anak dapat melaksanakan PJJ dengan baik.

3. Orang tua harus dapat berperan sebagai Guru Kreatif bagi anak

Dalam pelaksanaan PJJ tidak semua dilaksanakan secara daring. Tergantung kepada kebijakan masing-masing sekolah rupanya. Seorang sahabat bercerita jadwal PJJ puteranya terlihat cukup santai, dibanding teman lain dari SD yang berbeda.

Ada sekolah yang secara aktif melaksanakan kelas virtual secara daring, menjelaskan materi pelajaran melalui video lalu memberikan tugas untuk dikumpulkan via whatsapp , email atau aplikasi terpilih lainnya. Namun ada pula guru yang hanya memberikan tugas-tugas, dengan kata lain murid harus aktif sendiri mempelajari materi. Nah, di sinilah peran orang tua yang harus berperan lebih sebagai guru kreatif bagi anak-anak.

Belajar sambil bermain

Guru / Orang tua harus kreatif mencarikan materi belajar anak (terutama tk SD ke bawah)

Salah seorang sahabatku kebetulan mengalami kondisi PJJ yang terakhir ini, sehingga ia harus secara aktif menjelajah Dunia Maya mencari materi yang dapat membantu puteranya mengerjakan tugas-tugas dari gurunya. Adik sepupuku juga hampir sama, untuk puterinya yang masih kelas 1 SD, ia harus ‘menterjemahkan’ tugas dari guru dengan kalimat sederhana yang dimengerti puterinya dan membimbing langsung pengerjaan tugas-tugas itu dalam sebuah buku khusus sebelum dikumpulkan ke sekolah setiap 3 hari sekali.

4. Pola Belajar anak dapat terganggu

Hampir semua ‘narasumber’ yang kutanyai mengenai PJJ ini menyatakan bahwa PJJ ini bisa mengganggu pola belajar anak, apabila orang tua tidak hati-hati. Anak bisa dengan mudah terbiasa untuk santai / bermain / minimal terpecah perhatiannya pada pelajaran bila PJJ dilakukan tanpa pendampingan yang baik dari orang tua.

Itu sebabnya dirasa cukup baik kebijakan sekolah yang diterapkan saat ini yaitu dengan tetap menggunakan seragam sekolah saat KBM dilaksanakan melalui PJJ.  Dengan demikian anak mempunyai batas waktu yang jelas antara saat belajar di ‘kelas’ dengan saat santai di luar jam pelajaran. Diharapkan hal ini dapat menjaga pola belajar anak.

Sahabat Lalang Ungu, demikianlah rangkuman dari beberapa pengalaman yang diceritakan kepadaku dari beberapa siswa, orang tua dan guru. Ternyata ada benang merah antara pengalaman-pengalaman ini dengan hasil evaluasi PJJ di masa Pandemi yang telah dilakukan oleh Kemendikbud : partisipasi orang tua menyebabkan efektivitas pembelajaran menjadi meningkat (Sumber web Kemendikbud). Nah, buibuuu…tetap semangat mendampingi putera-puterinya dalam PJJ yaa…

Oya, ada satu pertanyaan yang kutanyakan ke semua narasumberku kemarin : bila boleh memilih, apakah pembelajaran tatap muka atau PJJ yang akan dipilih? Nah jawaban dari pertanyaan ini ternyata sama : pilih belajar  sistem tatap muka. ☺

Bagaimana dengan pendapat kalian? yuk bagi opini kalian di kolom komen ya.. Terima Kasih…

Artikel terkait : Tentang New Normal Life dan Tentang Keluarga

42 Comments

  1. Tetapi dimasa pandemi masih tinggi dan masih riskan ke anak2 lebih baik ditahan atau proses KBM dilakukan bertahap dan dijalankan sesuai protokol kesehatan secara ketat. Ini utk kebaikan kita bersama lebih baik ditahan dan hrs dipikirkan lebih teliti lagi.
    Terima kasih.

  2. Yak betul betul betul merasaka semua oengalaman di atas. Sempet khawatir juga sih kalo anak sdh langsung belajar dgn tatap muka di sekolah. Mungkin kita sudah membentengi anak, tapi apakah anak2 lain jg bs bersikap demikian mengingat diluar sana msh byk yg mengabaikan perintah wajib masker. Sepertinya jauh lebih longgar sekarang…
    Sementara itu mulai deh peran orgtua utk hunting materi tambahan. Enaknya mungkin bs lebih fokus utk mengasah bakat anak yg sesuai minat dia. Les2 mulai dibutuhkan.
    Kalo si kakak sejak pandemi jadi tambah sregep ngurus adik2nya, bantuin mamanya. Dan ttp tekun ngurus tugas kuliahnya. Alhamdulillah IPK pun bagus. Jadi ya tergantung karakter anak juga sesuai tingkat kematangan sang anak.
    Si mama ya seneng aja banyak yg bantuin di rumah hehe… tapi si kecil jadi tambah manja ya dibanding kakak2nya waktu seusianya.

    • Mba Say.. terima kasih utk inputnya kmrn yaa.. Setuju bhw ada +/- dr PJJ ini..minimal kita berusaha lakukan yg terbaik utk memfasilitasi anak2 ya..

  3. Iya nih, aku yang agak kurang sreg pas bagian pola belajar anaknya, jadi kacau anakku nih. Banyakan mainnya. Kalo di sekolah kan enak ya, jelas jam pelajarannya, gak boleh main hape. Tapi masih ngeri dengan covid ini huhu

  4. di kondisi kaya gini kalo aku pribadi sebenernya masih pro ke belajar online mengingat anak anak agak susah diinfokan mengenai protokol kesehatan, bahkan adiku yang udah kuliah pun masih was was kalo ternyata harus kuliah tatap muka huhuhu, berharap banget wabah ini bisa segera teratasi dengan baik yaaa, semoga kita semua selalu diberikan kesehatan

  5. Kenzie juga belajarnya PJJ, padahal masih TK. Jadinya yg ada pas kelas online ramai dan kurang efektif dan kondusif menurutku. Ya maklum aja, namanya jg masih anak balita. Sbnrnya tjuan awal dan utama masukin TK karena buat nyari teman, eh malah ada pandemi jadinya PJJ.

  6. Sebagai guru, selama PJJ ini, pekerjaanku malah seperti 24 jam nonstop, Mbak. Karena beberapa hal harus melayani pertanyaan orangtua murid yang mengalami kesulitan saat menemani anaknya belajar. Lumayan melelahkan. Tapi, ini semua hanya butuh waktu. Nanti lama-kelamaan juga terbiasa seperti semester yang kemarin.

    • Smoga masa adaptasi berjalan lancar, kelak semua yg terlibat akan makin paham danendapat hal positif ya Bu Guru..

  7. Iyah nih Mbak, apalagi saya nih yg dampingi Si Kakak yang masih TK, mana dia tuh sering gagal fokus pula jadilah mamak harus extra lagi sabarnya, hihih.
    tapi tuk saat ini emang lebih lega sih kalau anak-anak belajarnya dari rumah aja dulu daripada harus ke sekolah dan kita gak tahu disananya gimana.

  8. PJJ oh PJJ mau ga mau, harus beradaptasi dengan cara begini, melalu dua sisi ini dapat belajar dan mengambil positifnya aja kalo akutu.

    Meski membengkak dari segi anggaran untuk menyiapkan makanan dll yang penting tetep terjaga anaknya.
    Untungnya udah SMK, jadi tenang, bisa sendiri tanpa ngerepotin.

    Semoga PJJ ini menjadikan pembelajaran buat guru,anak didik dan orang tua.

  9. Untung aku belum punya anak usia sekolah. mumet kepalaku pasti kudu berperan ganda, jadi ibu sekaligus guru. hehe..
    semoga pandemi segera berakhir supaya bisa sekolah normal lagi..
    yang kasian si anak2 TK atau SD yg baru masuk sekolah, kasian sekolah sendirian dirumah, gak bisa main sama temen2 di sekolah.. huhu..

  10. Kalau untuk saat ini memang pilihannya lebih baik PJJ. Apalagi bagi yang masih di zona merah. Kesehatan tentunya jauh lebih penting di saat seperti ini.

    Tetapi, bila pandemi sudah berlalu, tatap muka tetap jauh lebih baik meskipun sekarang sudah zaman digital. Kalau pun kelak akses digital akan lebih banyak digunakan, sebaiknya bukan untuk menggantikan kegiatan belajar sepenuhnya

  11. stuju gak stuju sih utk pembelajaran jarak jauh, tp aku masih kasian bagi org tua yg terbatas sarana dan prasana utk anak online,,,suka sedih…

  12. Everything has the ups and downs like the two sides of the coin’s. We do have the benefits, but there are some side effects as well

  13. Bener banget, aku jg tidak mengalami sebagai ibu dg anak yg harus sekolah dari rumah, tetapi aku melihat kakakku harus bertenaga ekstra untuk mendampingi anaknya yg baru saja sd, blm lagi pekerjaan domestik yg g ada habisnya

  14. Banyak sisi positif dan negatif saat pembelajaran jarak jauh. Paling tidak anak jadi mengerti memanfaatkan teknologi sejak dini dan orangtua jadi tidak gaptek

  15. Bener banget nih mba, PJJ ini ada positifnya tapi juga negatifnya. Apalagi kalo anak2 hanya dikasih tugas tanpa diberikan pengajaran dari gurunya. Kalo sekolah swasta sih mereka biasanya tetap ada sesi zoom gurunya ada sesi mengajara. Kalo sekolah negeri paling gak sekarang lumayan nih ada dikasih link video youtube untuk memahami pelajarannya.

  16. Kenyataannya dari dinas terkait kyk lepas tangan gtu mbak. Di area rumahku yg kuning dan katanya kasus meningkat lagi para kepsek malah rembugan sendiri krn gak dikasi formula yg baku gtu. Sekolah anakku malah udah ada tatap muka, ya walaupun secara teori ku lihat protokolnya bagus sih, satu kelas jg cuma 4-5 anak. Cuma saya pribadi tetep milih opsi online. Untungnya sih sekolah jg memfasilitasi.
    Kepengennya ya tatap muka lagi tpi msh takut saya kasi anak ke sekolah. Waktu itu cuma sekali aja buat ngenalin lingkungan sekolahnya huhu T.T
    Tp mbayangin yg gak ada gadget dan inet saya merasa sedih juga 🙁

    • Duuh..memang masih waswas melepas anak di masa seperti ini ya mba.. Semoga ada solusi terbaik, juga utk kelg dg sarana yg krg memadai

  17. Semua pihak memang harus terlibat penuh ya mbak. Orang tua juga harus belajar lagi.

  18. Di masa pandemi ini dengan pelajaran jarak jauh terdapat dua sisi positif dan negatif ya mbak, tapi saya masih berpikir keras untuk orang tua yang memang belum mampu memenuhi kebutuhan lain seperti pulsa dan sebagainya. Semoga ada solusi terbaik dari pemerintah untuk hal ini.

  19. Komunikasi sama Ustadzahnya menjadi sangat terbatas, kak.
    Jadi kalau Ustadzahnya sedang menyampaikan materi dan ada yang gak dimengerti, kemudian bertanya…kadang maksud si anak ini gak dipahami Ustadzahnya ataupun sebaliknya.

    Jadi effort banget apalagi yang materinya belum dibagikan sebelum PJJ.

  20. Pas kuliah pernah ngalamin pembelajaran jarak jauh ngumpulin tugas pun mudah karena tinggal kirim email. Namun ya itu pembelajaran berbeda kalau tidak bertemu guru langsung.

  21. yang paling terdampak dengan PJJ adalah anak anak yang orang tuanya sibuk bekerja. 🙁

Leave a Reply

Required fields are marked *.