LALANG UNGU

Ruang berbagi pengalaman dan manfaat

Belajar di KWT Ngudi Makmur Solo

Ngangsu Kawruh Urban Farming di Kota Solo

| 25 Comments

Ngangsu kawruh urban farming di Kota Solo.  Hai Sahabat Lalang Ungu…bagaimana akhir pekannya nih? Semoga selalu sehat dan berbahagia ya..

Sahabat, memang ada banyak aktivitas yang bisa kita kerjakan di akhir pekan ya.. Kalau aku lagi senang mengurus tanaman nih.. Puas rasanya bila tanaman hasil rawatan kita tumbuh subur bukan? Meskipun ya ada saja tanaman yang perkembangannya tak sesuai harapan juga sih..

Nah, biasanya bila ada masalah begitu aku suka nanya-nanya ke teman-temanku yang hobi berkebun juga.. Atau ke komunitas sehobi. Lebih senang lagi bila ada kesempatan mengikuti acara belajar tentang hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas tanam-menanam ini.

Ngangsu Kawruh Urban Farming di Solo

Sahabat Lalang Ungu, kali ini aku akan menuliskan pengalamanku mengikuti kunjungan ke beberapa lokasi dalam rangka ngangsu kawruh tentang urban farming dan pengelolaan kelompok di 2 KWT Kota Solo.

Pada 9 Desember 2021 yang lalu, aku berkesempatan mendampingi teman-teman dari Kelompok Wanita Tani (KWT) Kota Pekalongan melakukan kunjungan ke Kelurahan Joglo Surakarta/Solo dalam rangka belajar tentang pertanian perkotaan pada umumnya dan pengelolaan KWT pada khususnya sebagai pengelola Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L).

Optimasi Lahan & Pengolahan Sayur Organik oleh KWT Ngudi Makmur

Kunjungan pertama ke KWT Ngudi Makmur yang berlokasi di Nayu RT 02/RW 5 Kel. Joglo Kec. Banjarsari Surakarta.

Belajar di KWT Ngudi Makmur Solo

Berkunjung ke KWT Ngudi Makmur Solo

Meski baru terbentuk pada September 2020 lalu, kelompok yang dipimpin oleh Ibu Pety ini sudah mampu memberikan tambahan penghasilan bagi anggotanya, yang bersumber dari optimasi lahan dengan tanaman sayur organik.

Berawal dari sepetak lahan tidur milik warga di wilayah Kelurahan Joglo yang ‘dipinjamkan’ selama 5 tahun kepada kelompok, anggota KWT bahu-membahu membudidayakan sayur-mayur dengan pendampingan dari  PPL dan Dinas Pertanian setempat.

Kebun KWT Ngudi Makmur Solo

Sebagian penampakan kebun sayur KWT Ngudi Makmur Solo

Selain menjual hasil panen sayuran yang ditanam di lahan seluas 50 m2 itu, saat ini ibu-ibu anggota KWT juga telah melaksanakan pengolahan hasil panen.

Hasil olahan Bunga Telang menjadi berbagai produk (sirup, permen, puding, snack, teh) telah dipasarkan, juga hasil olahan beberapa jenis sayuran lain (keripik kangkung, seledri maupun olahan terong) dan rempah (jahe, serai, dll) yang merupakan hasil kebun KWT ini.

Pemasaran hasil kebun ini memang masih secara tradisional. Dipromosikan secara lesan / gethok tular antara pengurus dan anggota dengan masyarakat sekitar juga lewat sharing di grup WA & media sosial personal.

Kunci Keberhasilan KWT Ngudi Makmur Solo

Adapun dalam pengelolaan kelompok, Ibu Pety selaku ketua KWT menyampaikan 4 kunci keberhasilan kelompoknya, yaitu: (1) adanya motivator kelompok; (2) pendekatan personal antar anggota kelompok; (3) kerjasama internal maupun eksternal; dan (4) upaya inovasi & diversifikasi produksi.

Lidah Buaya, Produk Unggulan KWT Asri Solo

Lokasi kedua yang kami kunjungi hari itu adalah Kebon Puncak Asri milik KWT Asri, masih di Kelurahan Joglo namun beda RW yaitu di Gambirsari RT 05 RW 04.

Produk utama dari kelompok ini adalah tanaman Lidah Buaya (aloevera sp), yang dijual dalam bentuk bibit, tanaman dewasa hingga hasil olahannya.

Di Kebun Lidah Buaya KWT Asri Solo

Berkunjung ke Kebun Lidah Buaya KWT Asri Solo

Sama seperti KWT Ngudi Makmur, KWT Asri ini juga bermula dari kegiatan ibu-ibu dalam menyukseskan program HATINYA PKK yaitu salah satu upaya PKK dalam pemanfaatan pekarangan bagi keluarga. HATINYA  ini merupakan akronim dari ‘Halaman Asri Teratur Indah dan Nyaman’.

Kebun KWT Asri Solo

Kebun Lidah Buaya KWT Asri Solo

Kunci Keberhasilan KWT Asri Solo

Kekompakan pengurus dan anggota menjadi salah satu kunci keberhasilan kelompok ini, di samping juga keputusan untuk memilih fokus pada produk unggulan kelompok yang dinilai mempunyai nilai lebih dibanding melakukan budidaya beragam jenis tanaman.

Oya, kebetulan Ibu Sri -Ketua KWT Asri- adalah seorang pensiunan guru yang pernah bertugas di Kota Pekalongan..jadi makin gayeng deh ngobrolnya dengan para peserta studi banding dari Kota Batik ini..

Dan hebohnya lagi..Bu Sri memberi kami oleh-oleh berupa  tanaman-tanaman Lidah Buaya untuk dikembangkan di kebun KWT di kota kami.. Aiih.. maturnuwun Ibuu.. 😘😘😘

Singgah Sejenak ke Heritage Palace

Setelah puas menyerap ilmu urban farming dari 2 KWT keren ini, kami pun bersiap kembali ke kota kami. Namun sebelumnya sempat mampir ke sebuah lokawisata yang kebetulan lokasinya tak jauh dari tujuan belajar kami itu.

The Heritage Palace

The Heritage Palace

The Heritage Palace itulah nama dari sebuah tempat wisata yang berlokasi di Kelurahan Pabelan Kecamatan Kartosuro Kab. Sukoharjo. Sekitar 10 km dari pusat Kota Solo.

The Heritage Palace ini merupakan bekas pabrik gula yang termasuk bangunan cagar budaya namun telah direnovasi lingkungannya dan sekarang  menjadi tempat wisata swafoto alias selfie. 

Oya, jadi The Heritage Palace ini bagiku merupakan gedung eks pabrik gula yang ke-3 kukunjungi setelah De’Tjolomadoe yang berlokasi di Karanganyar dan Rest Area Banjaratma Brebes.

The Heritage Palace Sukoharjo

Pepotoan di The Heritage Palace

Memang asyik berfoto-ria di The Heritage ini, namun menurutku bisa lebih asyik lagi kalau sebelumnya ada semacam tour kecil dipimpin pemandu yang menjelaskan bagian-bagian dari eks gedung pabrik gula ini, sehingga pengunjung tidak hanya membawa pulang kenangan berswafoto saja..hehe..

Sahabat Lalang Ungu, demikianlah sepenggal ceritaku mendampingi pengurus KWT Kota Pekalongan beranjangsana ngangsu kawruh tentang urban farming di 2 KWT Kota Solo.

Pelajaran Penting dari KWT Ngudi Makmur & KWT Asri

Yang menjadikan 2 KWT ini istimewa adalah meskipun lokasinya berada di tengah permukiman perkotaan yang relatif padat, namun tak menyurutkan semangat pengurus dan anggota untuk memanfaatkan lahan yang ada demi kesejahteraan bersama. Salut untuk kedua KWT ini!!

Sahabat, apakah kalian tertarik juga dengan kegiatan urban farming ini / punya pengalaman tentang kegiatan ini? yuk..bagi cerita di kolom komen ya..

25 Comments

  1. Adem ya Mbak kalau liat bisa liat banyak tanaman hijau begitu di tengah kota.

  2. Wah apresiasi banget nih ya memberdayakan warga dengan lahan yang ada disekitar, seger banget itu tanaman saladanya mba. Aku belum ada kegiatan gini nih…ya hanya dalam komplek aja tanaman pohon dan juga tanaman bumbu gitu. Sukses deh dengan kegiatan ini KWT Pekalongan

    • bagus juga itu mba..penghijauan juga karena jenis tsnaman yg ditanam kan disesuaikan dg kondisi dan kebutuhsn setempat.. salam berkebun..

  3. Mbak Mechta yang ijo-ijo selada ya? Kelihatan suweger mbak, enak dimakan aama kuah bakso atau jadi sayuran gado-gado

    Salut dengan semangat Ibu-Ibu yang berhasil menyulap lahan jadi kebun sayur sampe berhasil panen dan mendapatkan penghasilan

  4. kalo di kantorku, ada program namanya P2L (Pekarangan Pangan Lestari), Mba. Di sini para ibu diberi bantuan untuk memanfaatkan pekarangan mereka dengan menanam sayur-sayuran, buah-buahan. Program ini lumayan sukses karena selain dapat memenuhi gizi keluarga juga dapat membantu ekonomi keluarga, apalagi di masa pandemi ini

    • nah..KWT-KWT yg kukunjungi dan kami dampingi study-bandingnya ini juga dari program P2L mba.. BTW, mba dari Dinas Pertanian / Ketahanan Pangan juga kah?

  5. Selalu salut sama kelompok cinta lingkungan yang bahkan bisa mengajak masyarakat untuk sama-sama andil. Liat kebun sayur dan lahan lidah buaya takjub banget aku. Dulu sempet liat kampung apotek hidup, jadi semua masyarakat di saja punya tanaman obat-obatan di rumahnya masing-masing. Lupa aku nama kampungnya apa.

  6. Aku kalau ke tempat budidaya sayur mayur betah banget pasti soale enak aja gitu dipandang dan pasti deh aku beli sayur mayur disana karena masih fresh.

    Salah satu cita-citaku pengen banget punya lahan sayur mayur ya paling ga untuk keluarga lah jadi kalau mau masak atau mau bikin apa tinggal petik hehe.

  7. Aku sellau pengen belajar urban farming dari ahlinya mbak, kan lumayan tuh ya kalau bisa manen hasil kebun sendiri bisa hemat2 sekaligus juga buat beraktiktivitas dan memanfaatkan lahan yang ada supaya lbh produktif walau terbatas 😀
    Baru tau ada Heritage Palace, bagus drpd bangunannya mangkrak ya mbak, moga kapan2 bisa ke sana jg 😀

  8. Oh iyayaa…judulnya Urban Farming, pasti memanfaatkan lahan yang ada dan memaksimalkan dengan tanaman yang gak hanya cantik, tapi juga bisa produktif.
    Keren-keren banget aktivitas para Ibu-ibu KWT Ngudi Makmur & KWT Asri.
    Kompak selalu…

    Semoga produktifitasnya bisa menular dan menjadi ide kreatif ibu-ibu PKK di daerah lain.

  9. Nah pemanfaatan lahan ini memang jangan sampai terabaikan ya mba. Bagus ya mereka memberikan kepedulian bersama. Dan ini juga untuk kebaikan bersama. Tetap kompak dan selalu berkarya

  10. Waahh itu seladanya kok ayu ayu mbaaa… enake kuwi dijadikan lalapan, segeeerr… Hebat nih KWT ini, bisa berdaya melalui urban farming, menggunakan lahan terbatas pun bisa. Kalau kayak di Semarang gitu ada nggak sih mba? Ibuku pasti seneng nih kalau diajakin gini, walau beliau sukanya nanem aja, ga suka jualan hasil sayurnya hehehe..

  11. Tiap kali ke solo selalu batal mampir Heritage Palace, yang inilah itulah hehehe, penasaran banget padahal

  12. Seladanya tu lho menggoda banget buat dikonsumsi. Kayaknya kresh-kresh enak gitu. Terus lidah buayanya juga. Gedhe-gedhe banget euy… Menakjubkan banget…

  13. Gemesh banget liat sayur2an ijo seger gitu mbak. Alhamdbulilah lahan tidur jd bermanfaat bahkan bisa jadi penghasilan tambahan ya. Swru ya mbak bisa langsung belajar dari ahlinya ntar pulang langsung praktek biar kebun di rumah jugq bosa mengjasilkan lebih banyqk at least bisa buqt memenuhi kebutuhan sendiriyq

  14. Belajar jauh ya mbak ke Solo, seneng juga aku lihat hijau hijau.. seger gitu, tapi aku masih nge kos nih jadi ya cuma bisa mandang pot tanaman di kos.

  15. Allhamdulilah mba Tan, pengalaman berharga banget ini ya bisa kunjungan begini. Jadi pengen ikutan juga.

  16. Sayurannya kelihatan subur dan segar2. Bikin senang yg lihat….marakke pengin. Keren ya urban farmingnya….

  17. Wew, kelompok tani itu ada d tengah perkotaan yg padat? Aku kira di desa loh, keren bgt bisa bikin urban farmin d tempat yg padat. Jd pengen belajar

  18. wah..mantap…dari tanaman di lahan perkotaan sampai bisa menghasilkan berbagai olahan makanan. Penasaran sama olahan bunga telangnya tadi,dipasarkan juga di luar kota nggak mbak?

  19. Ya Allah Mbak, mupeng tenan membaca ini. Ikut sweneng banget melihat kegiatan PKK bisa jadi sebagus ini. Juga rasa sedih kenapa tak bsa menggerakkan para tetangga di sini untuk berkebun. Mungkin kkarena wong ndeso yang lempar biji saja kelak bisa diunduh.

  20. Seru banget mba. Bisa belajar pengolahan sayur organik. Kalau disini kayaknya jarang ada kelas belajar pertanian, ya walau ada yang jualan sayur yang udah siap panen. Hehe

    Pengin sekali2 liat kebun kaya gitu, sekalian liburan.

Leave a Reply

Required fields are marked *.