LALANG UNGU

Ruang berbagi pengalaman dan manfaat

Jurnal Anggrek 6: Memetik Hikmah dari Perjuangan Cattleya

| 25 Comments

Bunga C. Mantini

Hai Sahabat Lalang Ungu, kalian masih ingat nama bunga cantik ini?

Ya betul…itu adalah bunga Anggrek Cattleya Mantini, salah satu dari anggrek rawatan kami di rumah. Keelokannya saat mekar membuatku rindu bila lama tak melihatnya.

Bunga Cattleya umumnya muncul dari ujung daun-daun termuda di rumpunnya. Itu sebabnya, kami selalu merasakan kegembiraan bercampur harapan setiap kali melihat mulai tumbuh tunas daun muda di rumpun Cattleya.

Daun baru, harapan munculnya bunga baru…

Seperti waktu itu ketika menemukan rumpun Cattleya yang menempel di pohon Jambu Air kami menampakkan pertumbuhan tunas mudanya dengan baik. Ah..langsung saja harapan untuk menyambut mekar si Catty kian membuncah.

Namun kenyataan berkata lain. Harapan yang telah mengembang itu seketika harus pupus ketika suatu pagi di akhir Bulan November 2022 lalu kutemukan daun muda itu terkulai patah 😭

Tak tega membuangnya begitu saja, patahan daun muda itu kumasukkan ke dalam gelas berisi air, bercampur dengan potongan-potongan tangkai monstera adansonii yang saat itu sedang dalam proses propagasi dengan air.

Saat menyimpannya di air itu sebenarnya aku tak berharap banyak. Kalau ternyata potongan daun itu nantinya membusuk ya sudah akan kubuang, begitu pikirku waktu itu.

Tapi ternyata, si daun itu melakukan perjuangannya sendiri!

Hari berganti pekan dan pekan berbilang menjadi bulan, patahan daun Catty itu masih tetap bertahan hidup  hingga akhirnya pada suatu hari di Bulan Februari 2023, kutemukan beberapa tonjolan kecil berwarna putih di ujungnya, yang ternyata akar-akar baru! 😍

MasyaAllah…daun yang patah mulai menumbuhkan akar!

Ternyata perjuangan Si daun Catty itu untuk tetap hidup telah menunjukkan keberhasilan, dibantu dengan proses propagasi air. Alhamdulillah.. Sekitar sebulan berikutnya, masih kubiarkan dia dalam air, sambil berharap akar-akar baru itu akan memanjang.

Lalu seorang sahabat menyarankan untuk melanjutkan propagasi itu dengan menempel pada pohon karena biasanya akar akan lebih cepat berkembang dengan cara itu. Maka kusudahi propagasi air itu, dan bersiap menempelkannya ke pohon yang ada di rumah.

Maret 2023, akhirnya Si Catty muda itu memulai perjuangan hidupnya di rumah baru yaitu dahan pohon Belimbing. Batang rapuhnya kubungkus dengan sabut kelapa sebelum akhirnya kubebatkan ke dahan Belimbing. Bismillah…selamat berjuang Catty muda, semoga kau berhasil terus hidup, doaku saat itu.

Awal perjuangan hidup Si Catty muda di rumah barunya

Perawatan selanjutnya yang kuberikan padanya relatif sama dengan perawatan bunga-bunga anggrekku yang lainnya: penyiraman menggunakan Air Cucian Beras (ACB) berselang-seling dengan air rendaman kulit bawang dan rendaman daun Lidah Buaya.

Pertumbuhannya memang tidak tampak pesat, bahkan cenderung lambat. Tapi, hari demi hari mengetahui dia tetap hidup saja aku sudah sudah tenang, apalagi ketika perlahan terlihat akar-akarnya mulai tumbuh dan menempel kuat pada pohon inangnya.

April 2023, terpantau akar-akar baru mulai bermunculan 😍

Dan akhirnya rasa bahagia dan syukur itu semakin membesar ketika kemarin pagi menemukan ternyata telah ada tunas baru dari Catty muda. MasyaAllah…rupanya Si Catty muda telah memasuki tahapan baru dalam hidupnya: membangun keluarganya sendiri!

Januari 2024, Si Catty muda telah beranjak dewasa…

Ya Allah, tak terasa telah setahun lebih aku menyaksikan perjuangan hidup salah satu mahkluk-Mu. Dari hal yang tampak sepele ini aku memetik hikmah tentang rahasia sebuah takdir.  Meskipun tampak telah sekarat, bila belum sampai takdirnya untuk mati, maka ia masih bisa berjuang untuk terus hidup.  Siapa yang menyangka bahwa patahnya daun Cattleya waktu itu bukan berarti akhir sebuah kisah tapi justru awal kisah baru? Ikhtiar bukanlah upaya melawan takdir, mungkin bisa kita maknai sebagai upaya menjemput takdir baru.

Catatan Perjuangan Hidup Cattleya

Alhamdulillah…aku diberi kesempatan untuk mengambil pelajaran hidup sambil merawat tanaman dan sekarang menuliskannya di sini sebagai  catatan untukku dan semoga bisa bermanfaat bagi sahabat-sahabat yang membaca tulisan sederhana ini.

Sahabat Lalang Ungu, sampai sini dulu ceritaku kali ini ya… Sampai jumpa di kisah-kisah lainnya …

25 Comments

  1. Pingback: Jurnal Anggrek 7: Ketika Tungau Menyerang |

Leave a Reply

Required fields are marked *.