3 Waktu di 3 Tempat ibadah di Ibu Kota

Beberapa hari lalu, kami ditugaskan mengikuti konsultasi di Ibu Kota. Karena jadwalnya tak terlalu pagi, akhirnya kami berdelapan memutuskan untuk berangkat dari kota kami malam hari, menggunakan Kereta Api yang sampai di sana sebelum subuh lalu pulangnya akan menggunakan Kereta Api sore.

Nah, alhamdulillah, pada kesempatan itu kami mendapat pengalaman melaksanakan 3 waktu ibadah di 3 tempat yang berbeda. Naah… 3 tempat ibadah itu yg akan kuceritakan kali ini yaa..

Yang pertama adalah waktu subuh di Masjid Istiqlal.  Kami sampai di stasiun Gambir pada pukul 03.30 WIB.  Karena di stasiun saat itu tak kami temukan tempat makan sahur maka kami pun mencari di tempat lain, kemudian menuju ke Masjid Istiqlal untuk melaksanakan sholat subuh.

Istiqlal di dini hari
Istiqlal di dini hari itu

Cantiknya Masjid Istiqlal di dini hari itu.  Sayangnya tak sempat berlama-lama memotret keindahan itu, karena waktu subuh akan segera menjelang. Meskipun, di sekitar masjid itu masih terlihat cukup banyak  pengunjung yang sedang bersantap sahur di sana. Continue reading “3 Waktu di 3 Tempat ibadah di Ibu Kota”

Prompt #57 – Lorong Kenangan

Lorong itu sepi lagi.  Sesudah sesiang tadi ramai dengan kemeriahan hari pertama sekolah.  Selalu senang menikmati keceriaan adik-adik yang baru saja resmi menjadi murid SMA Ternama ini dan sedang mengikuti MOS.

Rasa bangga terlukis jelas di wajah-wajah ceria mereka.  Seragam putih-biru masih mereka kenakan, dilengkapi atribut khas masa yang dulu sering disebut masa perploncoan itu. Ah, melihat mereka mondar-mandir ceria di lorong kenangan itu, membangkitkan rasa haru di hatiku.

Ya… lorong itu, memang lorong kenangan bagiku.  Kenangan ketika keadaanku persis sama dengan mereka : siswa baru SMA Ternama.  Masih kuingat jelas rasa bahagia yang memenuhi dadaku ketika pertama kali menapakkan kaki menyusuri lorong itu, menuju ruang kelas X-C, yang akan menjadi kelasku.

Satu lagi kenangan indahku, di sudut lorong itu, dekat Mading. Tempatku pertama kali berkenalan dengan gadis manis berkuncir lima berpita ungu, yang sama-sama dihukum berdiri di sana.

“Hai… siapa namamu?” tanyaku

“Lolita. Eh, salah apa kau sampai dapat hukuman ini?”

“Itu… Kacang Panjang di Oseng-osengku tak semua pas 3 cm. Kau?”

“Seharusnya aku pakai lima warna, bukan hanya ungu…” jawabnya menunjuk pita di kuncirnya.

“Warna kesukaanmu?”

“Iyalaah…” jawabnya centil. Kami pun tertawa tertahan, takut dibentak lagi.

Sejak itu, hari-hari di masa MOS itu terasa cepat berlalu, dengan kedekatan kami : Oki dan Lolita, yang seolah tak terpisahkan. Namun pada akhirnya hal itu memancing kecemburuan dari teman lain. Bahkan tak hanya teman-teman seangkatanku, juga beberapa senior kami.  Tentu saja, karena Lolita tak hanya cantik dan selalu ceria, ia pun pintar dan pandai bergaul.

Ah.. mengingat kecemburuan itu, membuyarkan semua kenangan indahku dan mengungkit kenangan pahitku di lorong itu. Ya, kenangan terakhirku di lorong itu begitu pahit : saat kelemahan fisikku tak sanggup menerima kebrutalan kakak-kakak senior dan nafas terakhirku terpaksa kuhembuskan di ujung lorong itu!

Hanya satu doaku selalu, semoga peristiwa MOS kelabu itu tak pernah terulang. Cukup aku saja korbannya…

Subuhan di Masjid Istiqlal

Masjid Istiqlal seringkali menjadi tempat jujugan bagi para pendatang di Ibu Kota. Seperti halnya yang kami lakukan menjelang subuh 10 Juli 2014 kemarin, ketika kami sampai di Stasiun Gambir pada pukul 03.30 dan mendapati bahwa lingkungan stasiun menjelang subuh itu kurang kondusif untuk bersantap sahur & menunggu subuh. Maka kami pun memutuskan menuju Masjid Istiqlal. Alhamdulillah, di masjid agung dengan interior nan cantik itu, kami bisa sholat berjamaah disambung dengan mendengarkan kultum subuh dari imam masjid sesudah sholat. Siraman rohani pembuka hari… 🙂

Jamaah subuh mendengarkan kultum dari imam Masjid Istiqlal

“Foto ini diikutsertakan dalam Lomba Foto Blog The Ordinary Trainer”

LOGO

 

Produktif lagi

Teman, masih ingatkah ceritaku tentang pohon kenangan masa kecil?

Ya, pohon Nangka yang ada di rumah masa kecil kami di Tegalsari Semarang, adalah salah satu pohon penuh kenangan di keluarga kami.

Entah berapa umur pohon ini. pada th 1976 ia telah ada,  menyambut kedatangan kami di rumah itu dari kota kelahiran di kaki Merbabu.  Seingatku saat itu pohonnya sudah besar dan buahnya pun sudah banyak bergelantungan.

Ia pun menjadi saksi kenakalan kami yang sering menyepelekan kekhawatiran orang-tua yang mendorong mereka untuk melarang kami memanjat pohon itu, namun menikmati sore sambil ngobrol di dahan-dahannya yg kokoh sangatlah mengasyikkan sehingga seringkali kami nekad melakukannya.

Phn Nangka Tglsari

mangga.., dilanjut…

Antara aku dan Indonesia

Indonesia tanah air Beta

pusaka abadi nan jaya

Indonesia sejak dulu kala

tetap dipuja-puja bangsa

Reff :

Di sana tempat lahir Beta

dibuai dibesarkan Bunda

Tempat berlindung di hari tua

tempat akhir menutup mata

Sungguh Indah tanah air Beta

tiada bandingnya di dunia

Karya indah Tuhan Maha Kuasa

bagi bangsa yang menujanya

Reff :

Indonesia Ibu Pertiwi

Kau kupuja Kau kukasihi

Tenagaku bahkan pun jiwaku

Kepadamu rela kuberi

Continue reading “Antara aku dan Indonesia”

Burung2 cantik dari Dunia Ely

Masih ingat tulisanku yg ini?

Ya, tulisan itu kubuat karena sedang mengincar salah 1 kartu pos bertema Jerman yg mbak ELY  tawarkan kala itu.

Dan, lebih sebulan kemudian…, datanglah sebuah kartu pos bergambar burung-burung cantik dari Jerman …

 Kartu pos dari Dunia Ely

Kartu pos dari Dunia Ely

Namanya burung Kraniche , dan ketika tahu aku terpesona dg burung-burung putih itu, mbak Ely sempat mencarikan video tarian burung-burung cantik itu di youtube.  Ini dia tautannya :

Bagaimana pendapatmu, teman? Cantik yaa….

Mbak Ely, suwun kagem kartune sing apik + pesan basa jawane yaa… *peluuuk… 🙂

Selangkah lagi…

Waktu, ternyata memang cepat berlalu.

Ketika akhir Februari lalu mendapat kesempatan untuk menimba ilmu yang dijadwalkan sekitar 4 bulanan, sempat merasa awang-awangen.  Lama amaat… mana diklatnya model baru lagi, jangan-jangan lebih berat, jangan-jangan lebih susah, jangan-jangan… ah, ada begitu banyak tanya dan prasangka akibat adanya kegamangan di hati.

Tapi ternyata, alhamdulillah semua bisa kujalani dengan -relatif- baik & lancar. Satu demi satu tugas dijalankan (meski harus wira-wiri), satu demi satu tahapan dilewati (termasuk OL di Sidoarjo) dan akhirnya selangkah lagi akan sampailah kami di penghujung waktu diklat.

Setelah 2 bulan berada lagi di kantor untuk menjalankan proyek perubahan yang telah direncanakan, sejak pertengahan minggu ini hingga pertengahan minggu depan aku harus kembali ke diklat lagi untuk melaksanakan ‘seminar’ akhir sebelum penutupan diklat tanggal 25 Juni nanti.

Laporan2 (1)

Laporan akhir sudah siap dipertanggung-jawabkan. Puji syukur alhamdulillah atas kemudahan & kelancaran yang diberikan oleh-NYA dalam pelaksanaan kegiatan hingga penyusunan laporan akhir ini, terima kasih untuk semua pembimbing, rekan-rekan kerja dan tentunya keluarga, atas dukungan yang meringankan serta doa yang menguatkan.

Semoga, hasilnya sesuai dengan harapan… Aamiin…

Mohon doanya, teman…  🙂

Ke Dieng (lagi)

Dieng Plateau atau dataran tinggi Dieng yang masuk dalam wilayah Kab Banjarnegara & Wonosobo, memang tempat yang tak akan mboseni untuk didatangi. Meski telah beberapa kali ke sana, dan terakhir di akhir 2012 lalu, tetap saja aku bersemangat ketika ‘gank ngluyur’ ngajak jalan-jalan ke Dieng lagi.

Kalau pada perjalanan sebelumnya bersama keluarga kami lebih lama menghabiskan waktu di kompleks Candi, jalan-jalan di hutan sekitar telaga warna dan di Kawah Sikidang, maka kunjungan tanggal 29 mei 2014 kemarin bersama teman-teman hanya di seputar Candi, berlama-lama di Museum Kailasa dan di seputar Telaga Warna, tentunya.. 🙂

Cuaca Dieng pagi menjelang siang itu cukup cerah, pengunjung sudah mulai banyak meskipun tak sampai berdesak-desakan… Dan, pengunjung pun asyik berfoto-foto ria di sekitar artefak di Komplek Candi Arjuna itu.

KompleksArjuna

Tak ketinggalan berpose dengan Mas Hanoman, Cakil dan teman-temannya… Jadi ingat 2 tahun lalu juga berfoto ria bersama mereka & para krucilku.. Ini perbandingan 2 pose itu, hehe..

Mas Hanoman dkk yang selalu menggoda utk pose bareng..
Mas Hanoman dkk yang selalu menggoda utk pose bareng..

Continue reading “Ke Dieng (lagi)”

Liebster Award dari Mbak Monda

Liebster Award

Beberapa waktu lalu saat BW ke blognya mbak Monda ternyata aku salah 1 dari 11 yang ketiban sampur untuk mengerjakan PR yang ada bersama Liebster award ini. Terimakasih, mbak Monda… Tapi maaf yaa, ngerjain PR nya lamaa, maklum suka susah kalau disuruh cerita tentang diri sendiri  🙂

Oya,aturan Liebster Award  adalah :

  1. Post award ke blognya
  2. Say thanks buat yang memberi award dan link back ke blog dia
  3. Share 11 hal tentang dirinya
  4. Jawab 11 pertanyaan yang diajukan si pemberi award
  5. Pilih 11 blogger lainnya dan ajukan 11 pertanyaan.

 

OK deeh…, yuuuk kita mulai :

Aturan no. 1 : sudah.

Aturan no. 2 : sudah. Continue reading “Liebster Award dari Mbak Monda”

Mimpi Lintang

Sumber

Lintang asyik menikmati malam yang tampak begitu indah dari balik jendela kamarnya. Langit dihiasi gemintang nan sibuk berkerlipan, lalu tiba-tiba… wuuss… Bintang jatuh!

Ia pun terkesiap, cepat-cepat memejamkan mata dan mengucapkan permintaannya : semoga aku juaranya!

Lalu tiba-tiba dirasakannya bumi bergoncang..eh bukan, badannya yang bergoyang-goyang. Dengan kaget dibukanya mata, ternyata ibu yang membangunkannya karena hari sudah siang. Argh…, hanya mimpi rupanya…

Tapi, ketika sambil mandi ia mengingat kembali mimpinya, iapun tersenyum. Hey, siapa tahu mimpi itu bukan sekedar bunga tidur, jangan-jangan itu sebuah pertanda! Ya, pertanda kemenangannya di kontes siang nanti… Continue reading “Mimpi Lintang”