Yuhuuu….kita lanjutkan cerita offroad kemarin yaa…
Batu Alien
Dari Kaliadem, mas sopir membawa kami menuju lokasi berikutnya. Perjalanan semakin menyenangkan karena mentari telah muncul sehingga kami tak lagi berkendara melewati medan yang ‘wow’ dalam keremangan subuh yang bikin deg-degan itu…
Pemandangan menuju Dusun Jambu di lereng Merapi
Kanan-kiri jalan terlihat sudah ditumbuhi pepohonan nan menghijau, tak lagi tampak kegersangan bekas erupsi Merapi tahun 2010 lalu, kecuali puing-puing rumah atau bangunan yang dibiarkan mangkrak begitu saja.
Beberapa kali jeep berhenti di lokasi bekas pemukiman, yang tinggal reruntuhan bangunan-bangunan diantara semak belukar, pengingat tragedi yang membawa rasa haru dan duka…
Reruntuhan di antara sesemakan…
Lalu akhirnya kami sampai di Dusun Jambu, Desa Kepuharjo, Kec Cangkringan, Sleman. Eks dusun, tepatnya…karena di lokasi itu tak ada lagi pemukiman, hanya sebidang ara-ara / tanah lapang di tepi Kali Gendol – sungai utama yang menjadi jalur material erupsi Merapi.
Jam baru sedikit lewat dari pukul 3 pagi ketika bus wisata yang kami tumpangi dari Pekalongan berhenti, dan mbak Via – Sang pemandu – membangunkan kami dengan menyalakan lampu dalam bus.
“Mohon perhatian, Bapak dan Ibu… Kita telah sampai di tujuan pertama kita yaitu di Basecamp 86..” begitu pemberitahuannya kepada kami.
Aah…, sudah sampai di kaki Merapi??
Bergegas kami menegakkan tubuh di tempat duduk masing-masing, dengan penuh antisipasi. Namun, ketika mengintip keluar jendela… hanya keremangan yang tampak di sekitar bus. Hiii… pasti dingin di luar sana, bukan??
Akhirnya setelah nyawa terkumpul sepenuhnya kami pun mulai keluar satu persatu dari bus yang nyaman itu, menuju…toilet! hehe…
Setelah menyelesaikan kebutuhan pagi itu, kami pun bersama-sama menuju mushola kecil yang ada di lokasi basecamp tersebut, bersiap menunggu adzan subuh untuk kemudian sholat berjamaah di sana.
Sesudahnya, kami pun bersiap memulai perjalanan offroad Lava tour Merapi paket sunrise itu. Kostum anti dingin sudah dikenakan : jaket tebal, kaus tangan, kaus kaki, topi penghangat plus masker yang dibagikan pendamping sebagai penahan dingin maupun debu-debu vulkanik dan kamipun menaiki jeep-jeep yang sudah siap sedia. Masing-masing jeep berisi 4 orang, dan lepas subuh pagi itu keseruan offroad pun dimulai!! eng-ing-eeeng…. 🙂
Lewat subuh, start dari Basecamp 86
Agak deg-degan rasanya ketika sopir memacu mobil dengan laju, melewati jalanan sempit yang berkelok tajam, naik-turun dan…tentu saja melewati medan yang cukup mengocok perut alias gronjalan! Dalam hati akupun berdoa semoga tak turun hujan pagi itu, karena aku tak membawa jas hujan dan akan sangat mustahil untuk mengembangkan payung yang kubawa bila hujan turun selama perjalanan yang WOW itu…
Perhentian pertama adalah bunker di Kaliadem. Ya, sebuah tempat perlindungan yang menjadi tempat kejadian meninggalnya 2 orang relawan karena panas yang sangat tinggi berhasil menembus bunker pada saat erupsi 2006 dan pernah tertimbun material erupsi merapi tahun 2010. Saat ini bunker tersebut telah dibuka kembali dan menjadi salah satu tujuan wisata Lava di lereng Merapi ini.
Inilah penampakan bunker itu di dini hari…Wiii… ada juga yg berani masuk ke bunker dini hari begitu!
Di sekitar bunker itu kalau siang rupanya sudah banyak penjaja makanan & minuman, terlihat dari lokasi-lokasi tempat warung-warung tenda tersebut, namun pagi itu tentu saja belum ada warung yang buka. Setelah melihat bunker – tentu saja dari luar..hehe..- kami pun mendaki bukit di atas bunker tersebut, sementara kabut masih cukup tebal dan membuat kami was-was apakah sunrise akan bisa kami saksikan dengan baik…
Aah…. ternyata sudah sebulan tak merangkai kata di rumah maya ini … Hm, kangeeen… *ambil sulak untuk membersihkan debu & sawang di blog ini. Untung musim hujan belum benar-benar datang..bisa-bisa lumuten blog ini, hihi…
OK deh, kali ini aku ingin bercerita tentang perjalanan dengan Kereta Api beberapa waktu lalu. Apakah itu perjalanan pertamaku naik KA?
Bukaaan… Tentu saja sudah sering aku melakukan perjalanan dengan KA karena akhir-akhir ini KA menjadi favoritku sebab semakin nyaman dan mudah mendapatkan tiketnya. Namun, perjalananku berkereta-api kemarin itu, adalah perjalanan pertama ke Surakarta dengan Kereta Api.
Ya, aku memang sudah lama mendengar adanya jadwal KA Surakarta / Solo – Semarang PP, namun baru sempat mencobanya beberapa hari yang lalu, ketika mendadak mendapat tugas ke Solo, dengan jadwal acara dimulai pukul 12 siang.
Dari Pekalongan, aku menumpang KA Kaligung Mas start dari Stasiun Pekalongan jam 6 pagi, sengaja memesan tempat duduk di sebelah jendela, agar bisa menikmati pemandangan sepanjang perjalanan, terutama hamparan laut Ujung Negoro (Kab. Batang) yang dapat kita nikmati dalam perjalanan Pekalongan – Semarang.
Pantai Ujung Negoro dari balik jendela Kaligung Mas
Sudah cukup lama aku tertarik dengan Klenteng Sam Po Kong, salah satu destinasi wisata yang cukup terkenal di Kota Semarang itu. Terlebih karena sejak awal tahun ini hampir tiap hari minggu kulewati lokasinya yang terletak di Jl Simongan Raya No 129 Semarang itu.
Sayangnya, belum ada kesempatan untuk secara khusus mengunjungi petilasan Laksmana Zheng He / Cheng Ho yang kemudian dibangun sebagai kelenteng / tempat ibadah penganut Kong Hu Cu tersebut. Sudah banyak yang menceritakan / menuliskan / mengunggah foto-foto cantik kelenteng yang sering disebut juga Kelenteng Gedong Batu itu, membuatku makin penasaran untuk berkunjung ke sana. Merahnya, benar-benar menggoda 🙂
Namun alhamdulillah… akhirnya beberapa waktu lalu Allah mengabulkan keinginanku, berkesempatan mengunjungi bangunan-bangunan yang didominasi warna merah itu meskipun hanya beberapa menit, karena hanya mampir saat perjalanan pulang dari Ngrembel dengan teman-teman waktu itu.
Dan inilah beberapa tampilan bangunan2 merah yang sempat kuabadikan di siang yang cukup terik waktu itu…
Sudah lumayan lama aku mendengar tentang tempat wisata alam di kawasan lereng Gunung Ungaran ini. Oleh karena itu, ketika beberapa waktu lalu rekan-rekan mengajak untuk mampir ke lokasi wisata itu -dalam perjalanan silaturahmi ke rumah rekan kami di Boyolali- akupun antusias mengikutinya.
Tepat pukul 12.00 WIB ketika rombongan kami sampai di tempat parkir Taman renang alam Umbul Sidomukti ini, namun cuaca panas tak terasa karena hembusan angin yang sejuk menyambut kami begitu keluar dari kendaraan. Hm… beginilah cuaca siang di pegunungan…segaaar 🙂
Oya… kelegaan adalah salah satu yang kami rasakan begitu sampai di lokasi yang berada di Desa Sidomukti Kec Bandungan Kab Semarang itu. Apa pasal? Hehe…itu semua karena jalan menuju lokasi Umbul Sidomukti yang terletak di ketinggian 1200 dpl itu cukup membuat deg-degan : jalan relatif sempit, menanjak dan berkelok-kelok! Wow..deh pokoknya! Aku lebih deg-degan karena teringat perjalanan ke Curug Muncar beberapa waktu lalu, namun rupanya pengelola & warga sekitar di Umbul Sidomukti ini lebih siap mengelola tempat wisata ini, sehingga ada penduduk / petugas (?) yang mengarahkan di persimpangan-persimpangan sempit dan jalannya pun jauh lebih bagus dan tertata, semacam beton cor dengan alur-alur khusus yang (mungkin) dibuat agar tak licin / berbahaya saat musim hujan. Continue reading “Suatu siang di Umbul Sidomukti”
Pagi belum beranjak siang, ketika kami beristirahat setelah bersama-sama mengikuti acara kerja bakti -di lahan bekas lokasi Pasar Sentiling Pekalongan- yang merupakan salah satu kegiatan pada puncak acara Bulan bakti Gotong Royong Masyarakat ( BBGRM) di Kota Pekalongan pada akhir bulan lalu.
Sambil beristirahat di tepi Kali Loji, pandangan kami tertuju pada lalu lintas yang sudah mulai ramai melintasi kedua jembatan di atas sana. Ya, saat ini memang terdapat 2 buah jembatan yang melintang diatas Kali Loji / Kali Kupang dan menghubungkan Kawasan Jetayu (alun-alun utara Kota Pekalongan) dan Jl. Sultan Agung Pekalongan. Nah, tahukah teman, salah satu dari kedua jembatan tersebut, merupakan salah satu bangunan cagar budaya di Kota Pekalongan, lho….
Tepatnya adalah jembatan yang tampak lebih ringkih dan berada di sebelah kanan ( dari arah Lap Jetayu ). Konon, Brug Loji ( Jembatan Loji ) tersebut dibangun pada sekitar tahun 1908 pada masa kolonial Hindia-Belanda, merupakan sarana penyeberangan sepanjang sekitar 90 m yang menghubungkan kawasan pemerintahan saat itu dengan kawasan Loji ( Lodge ) yang terletak berseberangan dibatasi Kali ( sungai ) Loji / Kali Kupang tersebut. Continue reading “Suatu pagi di sekitar Brug Loji Pekalongan”
Siang belum sempurna menggantikan pagi, ketika kami memasuki jalan lingkar Ambarawa beberapa waktu lalu, dalam perjalanan Jogja-Semarang. Pemandangan sawah nan hijau yang terhampar di kanan-kiri ruas jalan menyejukkan mata. Lalu mendekati Km 3 di arah sebelah kanan terlihat sebuah gapura hitam bertuliskan Wisata Apung Kampung Rawa.
Pintu gerbang ke Kampung Rawa, di Jl Lingkar Selatan KM 3 Ambarawa
Merasa penasaran, akupun usul untuk mampir ke sana, yang langsung didukung oleh para krucil yang rupanya mulai bosan duduk manis di dalam kendaraan, sehingga akhirnya kami memutuskan untuk singgah sejenak di sana.
Inilah Curug Muncar , keindahan tersembunyi di Petungkriyono Kab Pekalongan.
Melihatnya, terasa hilang semua lelah (dan stres) yang terasa selama perjalanan menuju lokasi ini. Ah, benar juga kata pepatah, untuk menemui keindahan biasanya memang harus bersusah-payah dahulu … dan keindahan itu akan terasa makin indah ! 🙂 Continue reading “Tips berwisata ke Curug Muncar”
Ketika beberapa waktu lalu melalui instagram mendapati foto-foto keren dari air terjun bernama Curug Muncar yang disebutkan ada di Kab Pekalongan, aku sungguh merasa penasaran. Kab. Pekalongan? Lhaah… itu kan tetangga sebelah… kok ya aku baru dengar tentang Curug ituu? Therlhalhuu… (kalau kata si Bung ituuh..hehe..)
Hasil cari-cari info di dunia maya menyatakan bahwa Curug Muncar berada di lereng Gunung Ragajembangan, tepatnya di Desa Curugmuncar Kec. Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, pada ketinggian 1.249 m di atas permukaan laut dan berjarak sekitar 30 km dari Kajen.
Foto-foto yang ditemukan hasil browsing Curug Muncar juga membuatku semakin ingin melihat langsung, namun ternyata tak mudah menemukan informasi mengenai rute dan kondisi jalan yang harus ditempuh ke sana 🙁
Meskipun begitu, kami nekat saja memutuskan untuk mengunjungi lokasi wisata itu pada liburan Jumat 1 Mei 2015 kemarin, bersama 3 orang keponakan -yang langsung heboh mengiyakan ajakan jalan-jalan ini- berbekal sedikit informasi dari internet dan aplikasi maps yang ada.