
Bagunan Cagar Budaya Indonesia, tak kenal maka tak sayang… Pagi itu, dari balik jendela kereta, aku kembali melihat bangunan tua tak terawat itu. Itu memang bukan kali pertama mataku tertambat ke bangunan tua di salah satu sudut Stasiun Pekalongan. Hampir setiap kali kereta meninggalkan stasiun ke arah barat, mataku tertambat pada bangunan itu. Entah kenapa…
Dan kemarin terlintas di benakku, berapa usia bangunan itu? Apakah seumur Stasiun Pekalongan? Apakah fungsi bangunan itu semula dan mengapa kondisinya tak terawat namun masih tetap dipertahankan? Apakah bangunan itu juga termasuk bangunan cagar budaya sebagaimana bangunan inti Stasiun Pekalongan, sehingga tak boleh diubah seenaknya apalagi dirobohkan?
Sampai saat ini, pertanyaan itu belum terjawab. Beberapa kali mencari referensi tentang daftar bangunan cagar budaya di Kota Pekalongan secara online belum berhasil dan aku belum berkesempatan mencari langsung ke Dinas Pariwisata setempat. Padahal aku penasaran sekali, bangunan apa saja sebenarnya yang masuk kategori cagar budaya dan harus terus dilestarikan itu?
Bagaimana dengan teman-teman, apakah kalian mudah menemukan daftar bangunan cagar budaya di kota / daerah kalian?
Beruntung sekali kalau begitu.. Dengan demikian, kalian mempunyai dasar yang jelas untuk turut membantu pelestariannya, minimal dengan mensosialisasikannya kepada masyarakat tentang keberadaan bangunan itu dan pentingnya untuk tetap dijaga kelestariannya.
Nah, kalau tidak tahu mana-mana saja bangunan yang harus dilestarikan dan apa sebab-sebab pelestariannya itu penting, rasanya agak sulit bagi kita untuk ikut melestarikannya atau minimal mensosialisasikannya, bukan?
Apa itu Bangunan Cagar Budaya?
Sebelum kita bahas lebih jauh, teman-teman sudah tahu kan apa yang disebut Bangunan Cagar Budaya?
Menurut UU RI No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, yang dimaksud dengan Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.
Adapun yang dimaksud dengan Bangunan Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan/atau tidak berdinding dan beratap, yang memenuhi kriteria : (1) berusia 50 tahun atau lebih; (2) mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 tahun; (3) memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan/atau kebudayaan; (4) memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.
Nah…jika keluarga kalian memiliki rumah atau gedung yang memenuhi kriteria-kriteria tersebut, boleh tuh didaftarkan menjadi Bangunan Cagar Budaya..hehe..
Perda Cagar Budaya di Kota Pekalongan
Di Kota Pekalongan sendiri memang telah ada Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur tentang Cagar Budaya, yaitu Perda Kota Pekalongan No 14 Tahun 2015, di mana dalam lampiran penjelasannya disebutkan bahwa peraturan daerah tentang Cagar Budaya ini sangat diperlukan karena di Kota Pekalongan terdapat karakter Kawasan dan Bangunan Cagar Budaya yang tidak sedikit jumlahnya, antara lain :
- Kawasan Cagar Budaya Jetayu, terkait sejarah Kota Pekalongan dan gaya arsitektur Kolonial;

Bangunan Cagar Budaya di Kawasan Jetayu Pekalongan (searah jarum jam) : Museum Batik, Gedung Ex Karesidenan Pekalongan, Gedung TV Batik dan Gedung Kantor Pos Pekalongan Di kawasan budaya Jetayu ini kita dapat menjumpai bangunan-bangunan cagar budaya Kota Pekalongan, al : Museum Batik Pekalongan, menempati gedung yang dibangun sekitar tahun 1900 dan pernah menjadi pusat administrasi 17 pabrik gula se-eks Karesidenan Pekalongan; Gedung Eks Karesidenan Pekalongan merupakan sebuah gedung yang dibangun sejak tahun 1850 oleh Residen J van der Eb, namun tercatat pertama kali digunakan oleh Residen George Johan Peter van de Poel; Gedung TV Batik yang berlokasi di sebelah kanan Museum Batik merupakan gedung Djawatan Pendidikan yang awalnya digunakan sebagai kantor yayasan pendidikan MULO di masa penjajahan; dan Gedung Kantor Pos Pekalongan yang menampakkan kekhasannya berwarna merah oranye ini didirikan sekitar tahun 1920. Masih ada beberapa cagar budaya lainnya di Kawasan jetayu ini, a.l : Tugu Mylpall, Jembatan Loji, dll.
- Kawasan Kampung Arab, kawasan Cagar Budaya dalam konteks permukiman etnis Arab dan budaya islam;

Rumah Batik Madubronto, salah satu bangunan cagar budaya di Kampung Arab Pekalongan Di Kampung Arab di Kelurahan Sugihwaras Kota Pekalongan ini kita dapat menelusuri jejak sejarahnya sebagai pusat perdagangan batik. Konon, di daerah inilah ditentukan harga akain mori di seluruh Indonesia, lho…
- Kawasan Kota Lama Pecinan sebagai kawasan perkotaan Pekalongan pada jaman dahulu dan seni budaya etnis Tionghoa.

Rumah Jaksa, bangunan cagar budaya di Kawasan Kota Lama Pecinan Pekalongan Di kawasan pecinan Kota Pekalongan ini kita banya menemui beberapa rumah bersejarah lainnya, antara lain rumah Kapiten dan juga Rumah Beskal / Jaksa di waktu itu. Di kawasan ini juga dapat kita jumpai Klenteng Po An Thian yang dibangun sejak tahun 1882 dan sampai saat ini masih kokoh berdiri dan berfungsi sebagai rumah ibadah Tri Dharma.
Bangunan Cagar Budaya di Kota Pekalongan
Sedangkan mengenai Bangunan Cagar Budaya di Kota Pekalongan, menurut Kabid Kebudayaan Dinparbudpora Kota Pekalongan dalam berita Radar Pekalongan tanggal 30 Nopember 2018, saat ini telah terdapat 25 Bangunan Cagar Budaya di Kota Pekalongan yang telah tercatat secara Nasional, antara lain : Museum Batik, Gedung Batik TV, Kantor PT Pertani, Kantor Pos, Kantor Kejaksaan, Lapas Pekalongan, Gedung SMA 1, Gedung SMP 13, Masjid Jami’ Kauman dan Masjid Sapuro.
Alhamdulillah aku sudah pernah mengunjungi sebagian besar bangunan cagar budaya yang disebutkan itu. Kondisi saat ini memang cukup bagus dan terawat, meskipun saat berjalan-jalan ke Kawasan Pecinan dan Kampung Arab, ada banyak juga terlihat bangunan tua yang kurang terawat sehingga tampak menyedihkan dan bahkan berkesan seram / menakutkan. Mungkin bangunan-bangunan tak terawat itu tidak termasuk kriteria cagar budaya…
Ingin tahu asyiknya mengunjungi bangunan cagar budaya di Pekalongan? Baca juga : Menelusuri jejak sejarah ARJATI di Kota Pekalongan
Pemugaran, salah satu upaya pelestarian Bangunan Cagar Budaya
Menurutku, salah satu upaya pelestarian bangunan-bangunan cagar budaya itu adalah dengan melakukan pemugaran terbatas (dengan tidak merubah bentuk / struktur asli) dan memfungsikan gedung tersebut meskipun dengan fungsi yang berbeda dari sebelumnya. Tentu saja ini membutuhkan modal yang cukup besar, oleh karena itu tidak hanya dapat dilakukan oleh pemerintah namun juga swasta atau kerja sama keduanya.
Sudah pernah jalan-jalan ke Kota Lama Semarang akhir-akhir ini? Nah, kalian akan melihat kawasan ini semakin hidup dan indah dengan adanya pemugaran gedung-gedung tua dan difungsikan lagi dalam keseharian.

Sebagaimana kita ketahui, bangunan cagar budaya yang terletak di Jl. Letjend Suprapto 34 Semarang ini dulunya adalah sebuah toko yang menyediakan berbagai macam keperluan barang rumah tangga ataupun peralatan kantor, milik perusahaan Winkel Maatschappij “H Spiegel” yang berusaha sejak tahun 1895 dan renovasi baru dilaksanakan pada tahun 2015 yang kemudian sebagian gedung ini difungsikan sebagai tempat makan.
Baca juga : Bersukaria menyusuri Kawasan Kota Lama Semarang
Selain itu, beberapa waktu lalu aku juga pernah mengunjungi De Tjolomadoe, bangunan pabrik gula yang sempat mangkrak alias terbengkalai namun sekarang kembali tampil cantik dan difungsikan sebagai tempat wisata.

Baca Juga : De Tjolomadoe : Warisan manisnya industri gula di masa lalu
Bagaimana bila kita tak punya dana ataupun sarana untuk pemugaran, tak dapatkah kita berpartisipasi untuk pelestariannya?
Tentu saja dapat!
Cari tahu tentang bangunan-bangunan cagar budaya yang ada di sekitar kita, kunjungi, buat foto-foto menarik dan tuliskan kunjunganmu serta pengetahuanmu tentang bangunan-bangunan itu di blog ataupun akun-akun sosial media yang kau miliki. Ajak pembaca atau followermu untuk mengenal lebih jauh bangunan-bangunan itu dan arti penting pelestariannya. Dengan makin banyak dikenal akan makin banyak yang aware terhadap keberadaannya. Jangan sampai tiba-tiba suatu bangunan bersejarah ‘dihilangkan’ karena dianggap tak lagi berguna akibat tak mendatangkan keuntungan ekonomi maupun sosial…
Begitulah, teman… Menurutku, penting bagi kita untuk mengenal bangunan-bangunan cagar budaya yang ada di sekitar kita. Mengenal sejarahnya dan mengetahui arti penting pelestariannya. Selanjutnya kita dapat membantu melestarikannya dengan cara kita, misalnya dengan memanfaatkan media sosial yang kita punya untuk kampanye pelestarian bangunan-bangunan cagar budaya itu, antara lain dengan memposting foto atau tulisan tentang Bangunan Cagar Budaya Indonesia yang ada di sekitar kita, sejarahnya, kondisi terkini, pentinya untuk terus melestarikannya, dll. Dengan tulisan-tulisan kita di blog ataupun posting foto-foto di IG, FB ataupun Twitter, diharapkan masyarakat atau minimal teman-teman / follower kita dapat makin mengenal bangunan-bangunan cagar budaya di sekitarnya. Dengan mengenal maka akan makin sayang, makin berusaha keras untuk merawatnya, dan dengan tegas makin mudah menjatuhkan pilihan: rawat atau musnah!
Bagaimana menurut kalian, Sahabat Lalang Ungu? Ohya, ikutan Kompetisi ‘Blog Cagar Budaya Indonesia : Rawat atau Musnah!’ yuuk…

Bentuk bangunan cagar budaya sebetulnya banyak yang bagus. Cuma memang gak semua nasibnya beruntung. Banyak bangunan yang terlihat gak terawat
Aku belum pernah ke Pekalongan. Kagum ama bangunan² lama. Dulu itu bangunnya berapa lama yah?
Kalau ke D’Tjolomadoe pernah sih. Sayang engga berfungsi lagi…
pernah ke pekalongan sekali pas SD dan gak inget apa apa. ternyata banyak tempat-tempat bersejarahnya juga ya..
Ayoook…ke Pekalongan lagiii…
Setuju banget, Cagar Budaya harus dijaga atau dialihfungsikan supaya tidak hancur. Bagaimana pun juga, cagar Budaya salah satu warisan sejarah bangsa, wajib dijaga keberadaannya.
Yup begitulah..
Baca artikel ini, saya jadi penasaran dengan kota Pekalongan. Ternyata banyak cagar budayanya ya. Bisa dijadikan tujuan wisata nih, suatu saat nanti.
Btw, foto paling atas itu depo kereta jaman dulu ya. Iya tuh, depo kereta sering terabaikan karena tempatnya terpencil dan jadi gudang. Padahal kalau dibikin bagus, bisa jadi tempat wisata juga ya.
Oh itu Depo semacam bengkel kereta gitu ya mba? Saya malah blom th itu apa..hihi..
Bangunan cagar budaya kalau dirawat dengan baik jadi saksi sejarah yang pastinya berguna banget untuk dinikmati anak cucu kita nanti ya Mbak.. semoga seluruh bangunan cagar budaya di Indonesia bisa dilestarikan.
Aamiin..semoga y mba..
Sayang banget sebenarnya melihat bangunan-bangunan lama dan bersejarah dibiarkan begitu saja. Aku salah satu penggemar bangunan lama dan bersejarah jadi terusik.
Betul…sayang sekali klo bangunan tua mangkrak..
Salah satu destinasi wisata yang aku suka, berkunjung ke cagar budaya. Tempat-tempat penuh sejarah dan arsitektur yang berkarakter banget. Sedih banget di Palembang pernah ada pasar yang bangunannya autentik dan cuma ada dua di Indonesia harus dihancurin karena mau dibangun apartment.
Duh sayaaang..apakah belum masuk bangunan yg harus dilindungi waktu itu?
Dari dulu pingin ke Pekalongan cuma demi batik. Kini, jadi tahu bakal bisa melihat apa aja.
Ah..ayoook..main2 ke Pekalongan..
sedih kalo lihat ada bangunan bersejarah yg dibiarkan sampai rusak krna ga dirawat. lihat foto2 bangunan jaman dulu yg terawat krna dipugar jadi seneng. kalo lihat langsung berasa kayak mesin waktu terlempar ke masa lalu 🙂
Betul..seolah bisa membayangkan suasana di jaman keemasan banginan itu..
menjaga dan merawat itu yang akdang sulit ya
Betul sekali,Kak.. perlu niat dan usaha keras serta sarana prasarana yg memadai tentunya
Kami setuju sekali kalau generasi muda memang harus mengenal lebih dalam tentang bangungan cagar budaya agar sejarah tak hilang dari peradaban bangsa.
Salam kenal dari kami Travel Blogger Ibadah Mimpi
Salam kembali, Kak..
memang seharusnya dijaga. Jangan asal dipugar. Di kota tempat saya tinggal ada bangunan tua bersejarah yang kemudian dipugar. Niat baik tapi ternyata malah merubah detail – detail bangunan tersebut hingga akhirnya status cagarnya dicabut. Nah ini yang salah
nah..jadi harus betul2 hati2 dalam pemugaran gedung2 bersejarah ya.. tidak boleh asal pugar
Bangunannya eksotis sekali
Bikin gairah motret membuncah seketika
Huhuhu
Kapan ya bisa ke sana…
Spiegel itu pas masih bobrok dulu aku pernah mengalami mba. Waktu itu dipake untuk pameran lukisan dan beberapa barang seni lainnya. Waah bocooor semua, lukisannya pada basah, pas hujan deras saat itu. Bahagia banget ya sekarang sudah diperbaiki sedemikian rupa dan jadi tempat jajan yang asyik.
Iya dik..kalau lihat gedung tua tak terawat suka serem ya.. sementara kalau sudah dipugar jadi cantik,betah ngelihatnya dan ngerasa sayang..
Baca-baca tentang Cagar Budaya di blog temen-temen bikin ikut bangga. Banyak ternyata ya Cagar Budaya kita. Yang kutahu cuma yang sering terekspos aja. Yang tersembunyi asli gak tahu. Semoga dengan banyaknya yang menulis seperti ini, kita semua jadi aware dengan warisan yang kita punya. Dan jangan sampai punah.
Semoga demikian ya mba..
Semarang memang saraat dengan bangunan cagar budaya yang cantik dan penuh cerita yaa mbaa
Betul mba…
Di Pekalongan yang merupakan Kota Lama bahkan sejak zaman Belanda tentu mempunyai banyak bangunan bersejarah yang jadi cagar budaya Indonesia.
Betul mba.. Kawasan Jetayu adalah salah satu kawasan perkantoran di jaman Belanda..
Memang perlu melestarikan cagar budaya yah mba, kalau bukan kita siapa lagi, terutama generasi anak muda.
Kalau mungkin sudah pemugaran akan menarik wisatawan tp bgaimana kalau belum? Akan sangat disayangkan
Nah.itu salah satu tantangannya.. menarik pengunjung. Hehe..
Banyak juga ya cagar budaya di kota Pekalongan ini. Kalau ada kesempatan ke sana kudu singgah juga nih di cagar budaya tersebut. Dan memang penting bagi kita ya mbak untuk merawat bangunan-bangunana atau benda-benda yang merupakan warisan budaya
Iya mba..mari kita mengenal cagarbudaya yg ada di sekitar kita