Rencana reuni itu sudah kudengar beberapa bulan yang lalu, namun keputusan untuk menghadirinya memang baru kuputuskan di hari terakhir pendaftaran, yang hanya beberapa hari sebelum acara akan dilaksanakan. Selain karena ada beberapa jadwal kegiatan dinas yang harus kupastikan terlebih dahulu, juga karena akhir-akhir ini sebenarnya aku masih merasa kurang nyaman bertemu banyak orang. Beruntung salah satu sahabat meyakinkanku untuk hadir, sebuah keputusan yang tidak kusesali bahkan kini kusyukuri.
Oya, acara yang kumaksud itu adalah reuni akbar 35 tahun angkatan kuliah kami di Kampus Hijau Bogor. Iya betul..35 tahun! Memang sudah setuwir itulah kami..wkwkwk… Kami dari angkatan 23, sementara saat ini angkatan terbaru di kampus itu sudah 58. Kalau dulu kami pertama kali berkenalan sebagai anak-anak muda yang idealis, penuh cita-cita tentang masa depan yang gemilang, maka saat ini kami bertemu kembali sebagai emak-emak dan bapak-bapak (bahkan sebagian juga sudah berstatus kakek-nenek) dengan berbagai kenangan indah dari masa muda nan gemilang 😀
Lalang Ungu. Gema takbir bersahut-sahutan mengiringi perjalanan kami di malam takbiran tahun 2022 yang jatuh pada tanggal 1 Mei 2022 lalu, beberapa saat setelah pemerintah mengumumkan bahwa Idul Fitri 1443 H jatuh pada 2 Mei 2022.
Menuju Semarang di Malam Takbiran 2022
Perjalanan kami malam itu menuju ke Kota Semarang, ke rumah masa kecil kami yang kami putuskan akan menjadi tempat lebaran kami tahun ini, setelah tahun-tahun sebelumnya selalu lebaran di Pekalongan bersama Ibu.
Sebuah keputusan mendadak sebenarnya, baru kita putuskan sekitar seminggu sebelumnya. Awalnya ketika aku merasa sepertinya tak kuat hati untuk melakukan kebiasaan kami menjelang hingga hari lebaran, di rumah Pekalongan. Continue reading “Lebaran 2022 Kami Sungguh Berbeda”
Mah, saat mulai menulis kali ini aku sedang duduk di ruang depan dan menyaksikan jalan depan rumah kita lebih ramai dari biasanya.
Awalnya aku sempat mbatin kok tumben ramai sekali motor dan mobil lalu lalang begini…tak seperti biasanya.
“Wah..banyak yang sudah siap-siap sambut ramadan sepertinya..rame bener nih jalan..” celetuk adik.
Ah iya Mah..mungkin itu alasannya. Ramai orang keluar mencari persiapan sambut Ramadan, atau sengaja jalan-jalan mumpung belum Ramadan? hehe..entahlah..
Ingatanku melayang ke saat-saat seperti ini di tahun-tahun lalu, biasanya H-1 Ramadan kita sekeluarga masih dalam perjalanan pulang nyadran ya Mah.. Rute wajib kita Pekalongan-Semarang-Salatiga-Karanganyar-Jogja PP.
Perjalanan yang lumayan panjang ya Mah.. Lelah pastinya, tapi senang kumpul bersama membersihkan makam leluhur, kirim doa dan bermaaf-maafan jelang ramadan. Satu dari banyak perjalanan berkesan yang ingin kuulang-ulang bersamamu..namun tak mungkin lagi.
“Hai semua…pohon kesayangan kita rungkat baru saja…” 😭😭😭
Sebuah foto dan chat kakak dalam WAG keluarga kami di penghujung bulan Juni lalu cukup menghebohkan.
Yang pertama kami cari tahu saat membaca kabar itu adalah kondisi kakak sekeluarga saat itu dan apakah robohnya pohon tua itu menimbulkan kerusakan rumah kami maupun tetangga terdekat?
Alhamdulillah, kakak mengabarkan bahwa semua anggota keluarga baik-baik saja, tidak ada korban jiwa, hanya kerusakan di bagian teras samping, tanaman2 dan juga kabel listrik maupun telepon yang putus. Kami sangat bersyukur pohon besar itu roboh ke arah yang aman..
Baru kemudian kami mencerna lebih dalam berita dari kakak dan merasakan kehilangan. Rungkatnya pohon besar itu cukup mencengangkan. Pohon yang tumbang itu adalah pohon Nangka, entah sudah berapa umur tepatnya kami kurang tahu. Yang jelas pohon Nangka itu sudah cukup besar ketika kami mulai menghuni rumah di Tegalsari Semarang itu -sekitar awal tahun 1976- setelah kepindahan kami dari Salatiga.
Waktu berlalu dan pohon itu makin besar. Lengan-lengan kami tak lagi bisa memeluknya penuh. Sampai saat terakhir perlu lengan 2 orang dewasa untuk melingkari pokok pohonnya. Ia tumbuh membesar sebagaimana besar kenangan akan keriaan masa kecil kami.
Ya, pohon Nangka itu telah menjadi bagian dari cerita keluarga kami sejak awal kepindahan kami. Kenangan masa kecil kami berlima tak lepas dari keseruan bermain di bawah pohon itu. Rumah dengan pohon nangka besar, begitu selalu ancer-ancer yang kami berikan bila ada yang menanyakan rumah kami.
Setara dengan bentuk fisiknya yang besar, pohon nangka kami ini pun hampir selalu berbuah lebat sehingga tak hanya kami konsumsi sendiri namun juga dibagi-bagikan ke tetangga sekitar. Daging buahnya berwarna oranye, tebal dan manis. Bahkan dami/damen-nya pun tebal dan manis! 😋
Dan sekarang, pohon kesayangan kami sudah tak ada. Rungkat tanpa ada tanda-tanda sebelumnya. Oya, untuk teman-teman yang belum tahu, rungkat adalah istilah dalam bahasa daerah kami (Jawa), yang artinya tumbang/roboh dan tercerabut hingga ke akarnya. Kalau dalam bahasa daerah kalian, apa istilahnya?
Biasanya pohon rungkat saat hujan angin besar, karena pengaruh air yang melembekkan tanah sekitar pohon dan angin kencang seakan menggoyang pohon itu. Kejadian hujan-angin besar entah sudah tak terhitung menimpa pohon Nangka kami, dan ia tetap tegak selama ini dan sama sekali tak pernah membahayakan jiwa. Saat kejadian kemarin, tidak sedang hujan atau angin besar.. Mungkin memang sudah waktunya saja..
Tentu saja ada ‘cerita-cerita’ dari tetangga kanan-kiri yang terkait dengan peristiwa ini, namun kami tetap yakin bahwa peristiwa itu semata terjadi karena memang pohon sudah tua. Bukan pertanda apapun.
Sedih memang, tapi apa mau dikata. Dalam hidup kita harus siap melepaskan. Merelakan yang sudah saatnya pergi. Dan rasa sedih atas kehilangan pohon itu, makin tak ada artinya dibanding rasa sedih yang kami rasakan atas kehilangan lain yang kami alami kemudian. Rasa sedih dan kehilangan amat sangat saat ini sedang kami rasakan atas berpulangnya ibu kami tercinta, pekan lalu. Kembali kami harus belajar mengikhlaskan, meski pelajaran kali ini jauuuh lebih berat 😭😭😭😭
Ingin menuliskan banyaaak hal terkait ibu dan kepergian beliau ke pangkuan Illahi, namun rasanya belum sanggup. Biarlah kuendapkan dulu semua rasa ini..
Sahabat Lalang Ungu, demikian sekilas berita tentang rungkatnya pohon nangka kesayangan kami. Kalian punya pohon kesayangan juga kah? Pohon apa? Yuk, bagi ceritanya di kolom komen ya.. Terima kasih..
Singgah Sejenak di Masjid Raya Hubbul Wathan Mataram. Sahabat Lalang Ungu, tentunya sering mendengar tentang Lombok Pulau Seribu Masjid, bukan? Sebutan yang merujuk pada pulau yang mempunyai banyaaaaak masjid-masjid nan indah dan unik, juga mewakili suasana religius masyarakat setempat. Itu sebabnya, ketika berkesempatan ke Lombok medio Maret lalu, aku pun berharap bisa mengunjungi beberapa di antaranya.
Alhamdulillah, harapan itu terwujud. Pada kunjungan kami ke Lombok saat itu, sempat mengunjungi 3 masjid cantik yaitu Masjid Nur Syahada di Desa Wisata Sade, Masjid Nurul Bilad di Mandalika Lombok Tengah dan yang ketiga adalah Masjid Hubbul Wathan di Kota Mataram. Nah, kali ini akan kutuliskan pengalaman kami singgah sejenak di Masjid Hubbul Wathan di Kota Mataram ini.
Masjid Raya Hubbul Wathan Mataram NTB (Foto by Mechta)
Menyapa Kembali Curug Bajing di Petungkriyono. Salam jumpa Sahabat Lalang Ungu… Kali ini aku ingin menuliskan cerita singkat kunjungan kami ke salah satu destinasi wisata di Petungkriyono, yaitu : Curug Bajing.
Dolan Lombok : Menikmati Siang di Gili Trawangan. Salam jumpa, Sahabat Lalang Ungu… Menjelang weekend, hasrat piknik makin menggebu.. Sayang disayang masih harus ditahan-tahan karena Si C belum juga berlalu..hiks.. Sebagai penghibur hati, kutuliskan saja kenangan dolan Lombok kami kemarin yaa… Kali ini tentang keasyikan kami menikmati siang di Gili Trawangan.
Hari kedua trip kami ke Lombok di Maret lalu, sesungguhnya paling kunantikan. Ya, tentu saja karena itinerary wisata di hari kedua ini adalah Gili Trawangan! Tentunya teman-teman sudah tahu -minimal pernah dengar / baca- bahwa Gili Trawangan adalah salah satu ikon wisata Lombok yang masuk kategori must visite karena keindahannya. Nah, tentu saja aku penasaran dong : apa iya Gili Trawangan memang seindah ituuu? Ehm, jadi meminjam istilah yg sering dipakai beberapa reviewer di YouTube..hihi.. Continue reading “Dolan Lombok : Menikmati Siang di Gili Trawangan”
Salam jumpa, Sahabat Lalang Ungu. Bagaimana, masih tetap sehat dan bahagia, bukan? Semoga saja ya.. Sahabat, kali ini aku ingin mengajak kalian mengenal Pasung, makanan tradisional penuh kenangan.
Kue Pasung bagian dari Hantaran Ruwahan.
Pasung adalah nama dari salah satu jenis makanan tradisional yang erat berkaitan dengan Tradisi Ruwahan di beberapa daerah di Jawa Tengah (antara lain Blora, Salatiga). Berbahan dasar sama dengan Kue Apem yaitu tepung beras, dikemas dalam daun yang berbentuk kerucut (contong- Jw) dan dimasak dengan cara dikukus. Continue reading “Pasung, Makanan Tradisional Penuh Kenangan”
Perjalanan haji, traveling pertamaku ke luar negeri. Salam jumpa, Sahabat Lalang Ungu, semoga selalu sehat dan bahagia ya… Kali ini, aku menulis untuk menuntaskan PR Arisan Link Blogger Gandjel Rel yang sudah masuk periode 12, dengan tema tulisan : Traveling Pertama.
Wah..terus terang aku sudah lupa kapan dan ke mana traveling pertamaku, hehe.. Oleh karena itu, aku akan menuliskan saja tentang traveling yang sangaaat berkesan untukku yaitu traveling pertamaku ke luar negeri.
Perjalanan Haji, Traveling Pertamaku ke Luar Negeri
Kenapa sangat berkesan?
Sesuatu yang pertama kali kita lakukan, pastilah meninggalkan kesan khusus di hati kita bukan? Nah, begitu pula denganku. Setelah bertahun hanya jalan-jalan di situ-situ saja (bahkan di negeri sendiri pun masih banyak tempat yang belum dapat kudatangi, hehe..) maka kesempatan jalan ke luar negeri tentunya menjadi hal istimewa buatku. Lebih istimewa lagi, karena perjalanan itu sekaligus merupakan perjalanan religi yang telah lama kuimpi-impikan!
Perjalanan Haji 2011
Ya, perjalanan pertamaku ke luar negeri itu adalah Perjalanan Haji yang kulakukan pada tahun 2011 lalu. Sebuah perjalanan yang penuh dengan aneka rasa sejak dari persiapan hingga selesainya.
Mulai membuka Rekening Haji di Tahun 2007 (setelah membantu persiapan keberangkatan ibu kami menjadi tamu Allah di 2006) dengan membulatkan tekad meski awalnya ragu apakah mungkin bisa terkumpul semua dana hanya dari penghasilanku yang tak seberapa. Tapi aku berpasrah diri pada-NYA. Aku terus berusaha dan berdoa, sangat yakin bahwa Sang Maha Mampu lah yang akan memampukan hamba-NYA sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan Nya.
Alhamdulillah, Tahun 2009 berhasil memenuhi batas dana untuk mendapat porsi Haji, dan ketika awal Tahun 2011 itu aku mendapat panggilan dari bank untuk pelunasan -yang berarti pemberangkatan haji tahun itu- rasanya seperti mimpi.
Menjelang sore di Pantai Tanjung Aan dan Bukit Merese. Hai Sahabat Lalang Ungu, tetap sehat, bahagia dan semangat, bukan? Kangen piknik? Waah..samaa.. Aku juga kangen banget piknik nih. Sebagai obat rindu, kubuka kembali album jalan-jalan. Dan kali ini kutuliskan kenangan jalan-jalanku ke Pantai Tanjung Aan & Bukit Merese.
Pantai Tanjung Aan
Pantai indah ini berlokasi di Desa Kuta Lombok Pujut Lombok Tengah, sekitar 75 km (perjalanan sekitar 1,5-2 jam) dari Kota Mataram, namun bila ditempuh dari BIL Lombok jauh lebih dekat yaitu sekitar 30 menit perjalanan. Pantai terdekat adalah Pantai Kuta Mandalika, sekitar 3 km atau 30 menit perjalanan.
Pada kunjungan kami di medio Maret 2020 lalu, kami ke Tanjung Aan ini setelah berkunjung ke Desa Wisata Sade. Perjalanan menuju pantai yang setiap Bulan Februari ramai karena ada Festival Bau Nyale ini terasa lancar, dengan kondisi jalan cukup mulus, hingga mendekati lokasi pantai kondisi jalan agak bergelombang.