Ketika berkunjung ke kawasan Pekalongan Mangrove Park beberapa waktu lalu, sebenarnya ada yang kurang kurasakan, yaitu tidak sempat melihat secara langsung hasil pengolahan buah Bakau.
Ya, memang dari penjaga yang ada di Pusat Informasi Mangrove (PIM) itu kami mendapat informasi bahwa buah mangrove ini dapat diolah baik sebagai makanan, minuman maupun produk non pangan.
Sirup, dodol, kripik dan tepung mangrove adalah beberapa jenis olahan buah mangrove yang dapat dikonsumsi. Adapun produk non pangan dari buah mangrove antara lain : sabun dan bahan pewarna alami. Continue reading “Dua produk olahan Mangrove : Sirup dan Sabun.”
Ini tentang Mangga atau mempelam atau pelem (bhs Jawa) yang nama latinnya mangifera indica itu lhoo…
Buah yang mudah ditemui di sekitar kita itu -apalagi saat sedang musimnya begini- memang banyak macamnya dan ternyata banyak pula manfaatnya. Continue reading “Manfaat buah Mangga”
Apa yang ada di benakmu ketika mendengar / membaca kata ‘Cabe Jawa‘, teman?
Tadinya aku langsung memikirkan kata ‘lombok‘ yang merupakan sebutan dalam bahasa Jawa untuk kata Cabai / Cabe ( Capsicum spp).
Dan ternyata… itu salah…
Penampakan sang Cabe Jawa itu..sama sekali berbeda dari buah Cabai yang selama ini kukenal sebagai salah satu tanaman sayur bahan sambal yang berwarna-warni : ada merah, hijau, putih kehijauan, kuning kemerahan dll itu…
Nah… ini dia penampakan buah dari buah Cabe Jawa itu :
Teman, masih ingatkah ceritaku tentang pohon kenangan masa kecil?
Ya, pohon Nangka yang ada di rumah masa kecil kami di Tegalsari Semarang, adalah salah satu pohon penuh kenangan di keluarga kami.
Entah berapa umur pohon ini. pada th 1976 ia telah ada, menyambut kedatangan kami di rumah itu dari kota kelahiran di kaki Merbabu. Seingatku saat itu pohonnya sudah besar dan buahnya pun sudah banyak bergelantungan.
Ia pun menjadi saksi kenakalan kami yang sering menyepelekan kekhawatiran orang-tua yang mendorong mereka untuk melarang kami memanjat pohon itu, namun menikmati sore sambil ngobrol di dahan-dahannya yg kokoh sangatlah mengasyikkan sehingga seringkali kami nekad melakukannya.
Masih meneruskan informasi yg kudapat melalui leaflet yg dibagikan saat pelatihan pendamping KRPL kemarin dulu yaa…. kalau kemarin sudah menulis tentang bertanam seledri, kali ini tentang Budidaya Terong dalam pot.
Siapa yang belum mengenal Terong? Hm, tampaknya sebagian besar dari kita sudah mengenal salah satu jenis sayuran ini ya, atau bahkan mungkin menjadikannya sebagai sayuran kegemaran. Ya, Terong memang sudah umum dikonsumsi di masyarakat kita.
Selain dikonsumsi sebagai sayur, ada pula yang mengkonsumsinya sebagai obat wasir, bahkan karena kandungan senyawa solasodinnya, terong dikenal juga sebagai pencegah kehamilan.
Apa itu Kawasan Rumah Pangan Lestari atau yang seringkali disingkat KRPL?
KRPL adalah pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan, dalam suatu kawasan, untuk :
Pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi keluarga;
Peningkatan pendapatan keluarga;
Meningkatkan kesejahteraan melalui partisipasi masyarakat.
Latar-belakang diadakannya Model KRPL ini adalah karena adanya 2 permasalahan, yaitu :
Realisasi konsumsi masyarakat masih di bawah anjuran pemenuhan gizi;
Perhatian terhadap pemanfaatan lahan pekarangan relatif masih terbatas.
Adapun tujuan pengembangan KRPL adalah :
Memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan secara lestari.
Meningkatkan kemampuan keluarga & masyarakat dalam pemanfaatan lahan pekarangan untuk budidaya tanaman pangan, buah, sayuran, tanaman obat, ternak, ikan, pengolahan hasil dan kompos.
Mengembangkan sumber benih / bibit untuk menjaga keberlanjutan pemanfaatan pekarangan.
Melestarikan tanaman pangan lokal untuk masa depan.
Mengembangkan ekonomi produktif keluarga, hingga mampu meningkatkan kesejahteraan dan menciptakan lingkungan hijau, bersih dan sehat secara mandiri. Continue reading “Kawasan Rumah Pangan Lestari”
Pohon Mangga di pojok halaman kami memang tak seberapa besar, meskipun umurnya sudah cukup tua. Ditanam sejak awal pembangunan rumah kami, mungkin dulu sebagai ‘bonus’ dari pengembang karena di rumah-rumah lain di kompleks perumahan kami hampir semua memiliki pohon mangga 🙂
Alhamdulillah, meskipun tak seberapa besar, saat berbuah seringkali cukup banyak untuk bisa kami nikmati sekeluarga, ataupun dibagi kepada teman / kerabat yang menginginkannya. Namun beberapa musim yang lalu, entah kenapa pohon itu sempat ‘mogok’ berbuah. Mungkin karena tak terurus..hehe…
Ketika pohon-pohon mangga tetangga sarat buah, pohon kami sarat daun saja dan hanya memunculkan buahnya 1-2 gerombol saja. Sampai-sampai, kami sangat yakin kalau mangga kami itu berjenis ‘mana lagi’… berbuah hanya beberapa hingga kami berharap..”mana lagiii???” 😉
Lucunya, 1-2 gerombol yang ada itupun adanya di cabang-cabang yang menjulur di luar pagar , sehingga rentan raib dan kami lebih sering memandang tanpa merasakan… haha…lebay banget yaa… Sebenarnya bisa saja sih, buah-buah yang mung-mungan itu di brongsong sehingga aman sampai matang, tapi kami malas melakukannya. Yaah, anggap saja sedang sedekah kepada orang lewat… Sering kami berseloroh, gak punya banyak harta ya sedekahnya mangga… haha…
Namun, bahkan di saat pohon mangga kami sedang demo seperti itu, tak berarti kami tak pernah merasakan manisnya mangga. Tak harus membeli meskipun di pasar banyak mangga. Karena, ada sahabat kami yang mempunyai berbagai jenis pohon mangga yang rajin berbuah bergantian dan selalu ingat untuk membaginya kepada kami. Belum lagi kalau Mangga Kelapa yg di Jogja lagi panen, pasti kami kebagian juga.. Alhamdulillah… ora melu nandur tapi bisa melu ngrasakke 🙂
Alhamdulillah, musim buah kali ini, demo ‘mogok’ berbuah itu sudah selesai rupanya. Pohon di sudut halaman itu akhir-akhir ini kembali sarat dengan buah, tak hanya di cabang-cabang yang di luar pagar saja. Jadinya kami bisa kembali merasakan manisnya mangga milik sendiri, sambil tetap sedekah mangga bagi yg menginginkannya… 🙂
Alhamdulillah… pohon ini tak ‘mogok berbuah’ lagi…
Pulang kantor sore tadi, rasa lelah yang terasa tiba-tiba menguap ketika adik menyodorkan sekotak paket yang katanya tiba siang tadi.
Kubaca pengirimnya, dan teringat sms yang kuterima siang kemarin, dari seorang sahabat Blogger di Salatiga yang menanyakan alamatku, karena aku merupakan salah satu yang menebak dengan betul nama buah yang hidupnya memeluk erat batang pohonnya itu.
Ketika tahu beliau akan mengirim bingkisan kenang-kenangan pada kami, berseloroh kusebutkan keinginanku mencicipi buah berwarna coklat sekepalan tangan itu. Ya, aku memang sering mendengar nama buah ini dari ibu & swargi simbah, sejak masih kecil dulu, namun baru melihat dengan mata kepala sendiri pada saat berkunjung ke Pemda Sleman beberapa waktu lalu. Saat itu, pengen meminta satu buahnya tapi tak tampak ada tuan rumah yang dapat dimintai, jadilah aku memendam keinginanku untuk mencicipi rasa buah itu.
Dan sore ini, ketika kubuka paket dari ibu cantik pemerhati tanaman dari kota kelahiran.. taraaaa….. ini dia isinya :
Sebuah buku, sepiring Kepel dan selaksa kasih yg menyertainya…
Aku membukanya bersama ibu, dan komentar beliau adalah : ” Wah, iki rak Kepelto? wis suwiii… ora ketemu woh iki…” ( Wah, ini kan buah KEPEL toh? sudah lamaaa… sekali tak menemukan buah ini ). Adikku pun terheran-heran melihat buah ini… maklum memang tak ada pohon KEPEL (Stelechocarpus burahol) yang tumbuh di sekitar kami.. hehe…
Menemani buah langka itu, sebuah buku bertajuk Salatiga – Sketsa Kota Lama buah karya Eddy Supangkat pun menggenapi bahagia itu. Semoga sesekali kangen Salatiga, begitu tulis Bu Prih dalam sms beliau. Ah… leres, Bu… Salatiga akan selalu terkenang dengan kesejukan & keasriannya….
Maturnuwun sanget, Bu Prih… Begitupun sepaket kasih dari ibu ini, akan terkenang selalu… 🙂