Menjelang Ulang Tahun Mayang

[Fiksi] Lalang Ungu.  Malam terasa sepi, meski belum begitu larut. Suara hujan di luar terdengar samar, ditingkah suara penyiar televisi yang sedang memberitakan dimulainya pemberian vaksin baru kepada beberapa pejabat dan tokoh masyarakat. Setelah menyimak berita itu beberapa saat, wanita yang sebelumnya bersandar nyaman sambil menonton televisi itu beranjak dari sofa, mematikan televisi, lalu melangkah menuju kamar terdekat.

Perlahan diketuknya pintu kamar itu, menunggu sejenak, lalu membukanya masih dengan perlahan. Di dalam, lampu kamar masih menyala terang, sehingga mudah baginya menemukan sosok mungil yang duduk di depan meja belajar, yang hanya menoleh sebentar menyambut kedatangannya, lalu kembali bertopang dagu dan menatap ke dinding kosong di depannya.

“Kenapa, Sayang? Bunda kira kau buru-buru masuk kamar setelah makan malam tadi karena ada PR atau sudah mengantuk..” tanya wanita itu sambil mendekat lalu mengelus lembut rambut putrinya.

Nggak papa kok, Bun.. Lagi suntuk saja,” jawab gadis kecil itu enteng. Sejenak kemudian dia berdiri dan menggandeng bundanya ke arah tempat tidur. “Temani aku sebentar, ya Bun..” pintanya.

Sang ibu mengangguk, sambil tersenyum kecil menuruti permintaan putrinya, berdua mereka kemudian merebahkan diri di atas tempat tidur berseprei bunga-bunga nuansa merah muda khas kesukaan sang gadis.

“Bun, punya hari ultah yang paling berkesan nggak?”

“Hmm, ada banyak lah…”

“Yang paling, Buuun.. Cuma satu laaah,” jari-jari mungil gadis itu menggelitik pinggang ibunya.

“Yeey, jangan sewot dong, Yang. Ni bunda lagi mengingat-ingat nih..” jawab si bunda sambil tertawa kegelian. “Hari ultah sweet seventeen tuh yang paling berkesan, Yang..” tuturnya kemudian.

“Naah..sudah kutebak loh, Bun. Pasti itu jawabannya. Mainstream banget tuh..”

“Halaaah, gayamu itu lho, Yang. Memang mainstream itu apaan coba?” tanya Bunda yang merasa geli dengan gaya bicara gadis kecil menjelang remajanya.

“Yaa..biasa-biasa saja, begitu kan? Aku sering kok baca kata itu di sosmed, hehe..”

“Hehe..iyaa.. Memang rata-rata gadis merasa ulang tahunnya ke-17 itu spesial. Tapi, coba tebak lagi alasan lainnya. Yang anti mainstream yaa..”

“Hmm, kalau alasannya karena mulai masuk masa dewasa, itu umum ya? Atau, karena mulai boleh pacaran? Ah..itu umum juga… Nah, pasti karena punya KTP baru, ya Bun?” si gadis menerka-nerka dengan gayanya yang khas. Menyebabkan ibunya tertawa lepas dan mengacak-acak rambut putrinya.

“Salah semuaaa… Itu semua masih masuk kategori umum menurut Bunda, Mayang..”

“Lalu…apa alasannya, Bun?” rupanya si gadis makin penasaran.

“Hmm, Bunda merasa saat itu spesial, karena itu ultah pertama Bunda yang tidak dirayakan bersama”

“Maksudnya, Bunda sedih karena saat itu tidak mengundang teman-teman sekelas di perayaan ultah 17 Bunda?”

“Eh..sebentar… Yang Bunda maksud perayaan itu, bukan mengadakan pesta mengundang teman-teman begitu lho, Mayang.. Sejak kecil kami terbiasa merayakan ulang tahun secara sederhana, makan bersama seluruh keluarga lengkap : nenek, bapak, ibu, kakak dan adik. Wis, gitu aja, tapi sangat membahagiakan.”

“Iya Bun, seperti yang selama ini kita lakukan. Merayakan ultah bersama ayah dan bunda, keluarga nenek dan juga sahabat Mayang, sangat membahagiakan. Tapi, apa yang terjadi saat itu?” tanya Mayang yang merasa makin penasaran.

“Jadi, itu pertama kalinya Bunda tidak bisa merayakan ultah tepat di harinya, bersama keluarga secara lengkap. Saat itu Tatung*mu dinas luar kota, hingga beberapa hari setelah tanggal ultah Bunda. Yangti**mu sih sudah merencanakan tetap memasak makanan-makanan kesukaan Bunda untuk acara makan bersama keluarga tepat di tanggal itu, tapi Bunda menolak.”

“Jadi, akhirnya tak ada perayaan sweet seventeen buat Bunda?”

“Ada sih.. Acara tumpengan dan syukuran bersama keluarga itu akhirnya bisa terlaksana menunggu Tatung  pulang..”

“Oh..syukurlah.. Bunda jadi tetap punya kenangan manis sweet seventeen..” kata Mayang sambil tersenyum.

“Iya, Alhamdulillah.. Semoga nanti saat kamu sweet seventeen akan punya kenangan yang lebih indah, Sayang..”

“Aamiin.. Tapi sayangnya, ultahku bulan depan saja tak akan sebahagia sebelumnya, Bun” suara Mayang lirih.

“Lho, kenapa tidak? Oh, karena pandemi sehingga kita tak bisa mengundang keluarga, juga Lana dan sahabat-sahabat dekatmu?”

“Itu juga.. Tapi yang paling bikin sedih karena ayah tak ada di sini pas aku ultah. Tanggal 10 bulan depan itu kan hari Rabu, Bun.. Ayah baru bisa pulang setiap Jumat sore kan.. Ah, sejarah Bunda terulang padaku, meski bukan di ultah ke-17 ku..” ujar si gadis sambil manyun.

“Tidak hanya kejadian itu yang akan berulang, tapi perkataan Yangti pada Bunda saat itu juga akan Bunda ulang untukmu, Mayang..”

“Apa itu, Bun?”

“Tuhan sedang mengajarkan padamu, bahwa dalam hidup ini tidak semua yang kita inginkan dapat terpenuhi, namun itu tidak boleh menjadi penghalang bahagia kita. Juga bahwa kasih sayang sejatinya tidak akan terpisahkan oleh jarak. Meski tidak hadir secara nyata di sisi kita, orang-orang yang menyayangi kita akan tetap hadir melalui doa-doa mereka.”

Sejenak hening tercipta di antara mereka. Mereka berbaring miring saling berhadapan, dan keduanya bertatapan dalam diam. Tangan sang ibu menepuk-nepuk lembut lengan putrinya yang sedang termangu.

“Jangan lupa, Sayang.. Kita tetap bisa merayakannya di tanggal 12 atau 13, setelah ayah bersama kita. Dan Bunda yakin, Eyang, Pakdhe-Budhe, Oom-Tante, mas-mbakmu, juga Lana dan sahabat-sahabatmu lainnya pas hari H itu akan menyibukkanmu dengan video call sepanjaaang hari. Kita juga bisa mengirim kue / tumpeng mungil untuk berbagi bahagia dengan mereka,” ujar Bunda kemudian.

Seulas senyum terbentuk di bibir Mayang, ada rona bahagia dan matanya berbinar cantik. “Kalau boleh, Bunda buatkan juga kue atau tumpeng kecil untuk adik-adik panti juga ya?” pintanya kemudian.

Sang ibu tersenyum lebar, lalu memeluk putri kecilnya yang beranjak remaja dengan tubuh mungil namun berhati besar itu. “Iya sayang, kita tentu tak akan melupakan adik-adik panti yang diasuh Tante Rima.”

“Terima kasih, Bunda. Aku nggak akan sedih lagi. Aku bahagia, punya kalian semua yang sangaaaat menyayangiku…” bisiknya sambil menghujani pipi bundanya dengan ciuman. Keduanya tergelak bersama kemudian.

“Sudah malam…kita tidur yuk.. Berani tidur sendiri, atau harus Bunda keloni?”

“Berani sendiri laaah… Selamat malam, Bunda..”

“Selamat malam, sayang…”

Foto : pixabay

***

*Tatung : panggilan sayang (di keluarga penulis) dari cucu kepada Kakek, berasal dari kata ‘Eyang Kakung’

*Yangti : panggilang sayang cucu kepada Nenek, berasal dari kata ‘Eyang Putri’

Cerita ini adalah fiksi yang diikutsertakan dalam Lomba Blog Menulis Fiksi “Ulang Tahun” yang diselenggarakan oleh Komunitas Blogger Semarang Gandjel Rel

57 thoughts on “Menjelang Ulang Tahun Mayang”

  1. waktu kecil sih yang paling ditunggu kadonya hahaha, kalau sekarang didoaian aja sudah sangat berarti :))

    btw, baru ingat juga kalau mau ikutan lomba ini hehehe

  2. Aku tim yang nggak pernah ngrayain ultah mbak hahaha karena dari kecil memang nggak dikenalin sih, tapi aku suka sama pesan yg disampaikan ibunya Mayang

  3. Makan bersama keluarga besar, memang selalu menyenangkan.
    Semoga Mayang juga mendapatkan momen tersebut dan menjadi kenangan perayaan ultah terbaiknya juga ^^

  4. Bagi anak usia remaja, aku masih ingat juga sangat menantikan pergantian usia 17 tahun. Sampai-sampai, aku inget betul siapa orang yang pertama kali mengucapkan waktu itu.
    Duuh, jadi malu.

    Baca cerita kak Tanti, jadi ingat zaman remaja duluuuu…kala.

  5. Cerpennya bukan makanan sih, tapi abis baca ini, di kepalaku muncul kata ‘manis’. Aku suka karakter Mayang yang cerdas dan lucu. Rasanya gemes baca dialog antar anak dan ibu yang lagi curhat-curhatan kayak gini. Perayaan ulang tahun tanpa kehadiran orang tersayang emang rasanya agak kurang ya, tapi ya diberkahi umur yang panjang rasanya sudah lebih dari cukup juga, hihi. Selamat ulang tahun, Mayang.

    Oh ya, ini hadiah lombanya ternyata cukup menggiurkan. Aku jadi pengen bisa nulis cerpen kayak gini juga biar bisa ikutan huhu.

    Semoga menang ya, Kak! Best of luck.

  6. Huhu berhasil bikin aku ngenak. Selaamat ulang tahun, Mayang.
    Gpp sih yaa telat yang penting masih berkesan.

    Dan quotesnya setuju banget, jangan jadikan ketidakhadiran mereka membuat kita tidak bahagia, masih ada hari esok. Nice!

  7. Menginspirasi sekali mba, saya suka penjelasan yang ini “Tuhan sedang mengajarkan padamu, bahwa dalam hidup ini tidak semua yang kita inginkan dapat terpenuhi, namun itu tidak boleh menjadi penghalang bahagia kita. Juga bahwa kasih sayang sejatinya tidak akan terpisahkan oleh jarak. Meski tidak hadir secara nyata di sisi kita, orang-orang yang menyayangi kita akan tetap hadir melalui doa-doa mereka.”

    Ceritanya bagus dan inti sarinya dapet. Mantap

  8. Suka dengan pesan Bunda Ke Mayang bahwa “dalam hidup ini tidak semua yang kita inginkan dapat terpenuhi, namun itu tidak boleh menjadi penghalang bahagia kita. Juga bahwa kasih sayang sejatinya tidak akan terpisahkan oleh jarak. Meski tidak hadir secara nyata di sisi kita, orang-orang yang menyayangi kita akan tetap hadir melalui doa-doa mereka.”

    Manisssss banget pesannya.

    1. setuju mbak. Pesannya dapet banget nih mama meskipun keinginan ga terpenuhi insyaallah akan selalu ada hikmah dibaliknya. Eh siapa tau justru hadiah dari Allah malah lebih baik dari apa yg kita mau

  9. Aku juga Dari kecil kalo ultah ga ada rame2 cuma makan2 sekeluarga..itu aja udah bahagia bangrt. Sampe skr anak2 juga gitu ga tak biasakan party2 toh yang penting bersyukur ya mbak. 🙂

  10. wah, asik bgt nih gandjel rel bikin lomba cerpen. Blogger sana aktif semua ya mba. seneng lihatnya. btw, ttg ulang tahun emang sering dinantikan anak2. mereka senang dg hari bahagianya yg setahun sekali itu. Aku sih dikasih ucapan aja udah senang. kalau anak2 pasti berharap sesuatu yg membahagiakannya.

  11. aku baru tahu ada istilah tatung, tahunya mbahkung, akung, hehehe. btw makasih sudah ikutan ngefiksi, memang benar harus mengenalkan kepada anak bahwa hidup tidak selalu sesuai keinginan

    1. Hihi..mungkin hanya di kelg kami saja. Harusnya sih Kakung / Akung tapi karena cadel anak2 biasanya nyebutnya Tatung..

Leave a Reply to Hartari Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *